
Mereka yang sudah meluncur dikumpulkan jadi satu, mereka menantikan pengumuman apa yang diberikan oleh pelatih sebelum membubarkan mereka.
" Kalian sudah mengikuti serangkaian kegiatan pada hari ini, apa kesan yang kalian dapat dari kegiatan outbound pada hari ini?" tanya tentara itu dengan wajah serius
" Bau kolam yang dua belas tahun gak dikuras pak," celetuk seorang siswa yang membuat semuanya melihat ke arah orang itu dan tertawa ngakak, merusak suasana yang sudah dibentuk serius.
" Ya, benar, kamu benar. Tapi maksud saya yang lain, masak cuma bau kolam aja," jawab pelatih itu yang tidak masalah dengan siswa nyeleneh itu. Tentara itu melihat satu persatu siswa yang berdiri dihadapannya.
" Kekompakan dalam tim pak," sahut salah seorang siswa lain yang membuat pelatih itu mengangguk.
" Ya benar, salah satunya adalah kekompakan, tapi tadi kamu panggil saya pak, ayo nak push up dulu," ujar pelatih itu dengan lembut dan mempersilakan siswa itu untuk push up, membuat suasana kembali mencair dan diselingi tawa.
Orang itu dengan senang hati push up sampai sepuluh kali dan kembali berdiri dengan tegak, membuat pelatih itu mengangguk puas.
" Selain kekompakan, apalagi yang bisa dipetik dari kegiatan ini?" tanya Pelatih itu memandang satu persatu siswa yang ada di depannya. Luna tampak berpikir dan akhirnya menemukan jawaban yang dirasa pas.
" Percaya pada satu pemimpin pelatih, " ujar Luna yang menyeletuk membuat beberapa siswa lain mengangguk setuju.
" Ya, itu juga benar. Dalam satu koloni, tidak semua orang bisa memberi perintah, harus ada satu kepala yang mengambil keputusan untuk bersama, namun bukan berarti satu kepala itu mendominasi jalannya kerja tim, karna semua memiliki peran penting dalam tegaknya organisasi yang terbentuk."
" Saya rasa kalian sudah mengerti apa pesan dari setiap permainan yang dimainkan disini, saya harap kalian bisa menerapkan pelajaran yang kalian dapat di kehidupan yang akan datang."
" Siap Pelatih," ujar beberapa siswa bebarengan diiringi dengan tepuk tangan sebagai tanda apresiasi untuk pelatih.
" Setelah ini kalian silakan mandi dan bersiap untuk makan sore, karena siangnya sudah lewat, saya beri bocoran, setelah ini tidak ada sesi lagi, jadi kalian bisa bersantai dan mungkin berjalan - jalan di area Kodim ini," ujar Pelatih itu yang disambut gembira oleh peserta.
Pelatih langsung membubarkan mereka dan merekapun segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri dari lumpur dan bau amis dari kolam keramat itu. Luna awalnys bingung bagaimana dia bisa masuk dan berjalan sampai pojok jika tubuhnya kotor seperti ini, namun akhirnya dia bisa berjalan dengan santai karena ternyata semua penghuni kamar berlalu lalang begitu saja.
Luna mengambil perlengkapan mandinya dan berjalan menuju kamar mandi dengan bilik sempit dan ember kecilnya. Gadis itu merasa akan memerlukan waktu lama untuk mandi karena harus benar benar membersihkan tubuhnya, membilas bajunya dan mencuci sepatunya.
" Lun, sini aja mandi bareng bareng, sekalian nyuci baju sama sepatu."
Gadis itu menengok dan mendapati teman temannya tinggal memakai baju dan sibuk mencuci baju mereka dengan bantuan air yang mengalir.
" Demi apa Loh kalian sampai kayak gitu," ujar Luna menggeleng takjub, dia tidak pernah membayangkan akan menyaksikan hal seperti ini.
" Sini aja sih, dibilang. Seru tahu kayak gini," ujar Sheila dengan riang, gadis itu tampak berjongkok dan mengucek bajunya meski tanpa bantuan sabun.
Luna yang awalnya ragu pun akhirnya mendekat dan mulai melepas bajunya, untung saja gadis itu membawa kain jarik yang memang digunakan untuk mandi karena ada karet kencangnya agar tidak melorot.
Mereka tertawa bersama sama dan bermain air, Luna yang baru merasakan moment seperti ini tentu bahagia dan dialah yang paling Exiced dari yang lain, bagi kalian yang belum pernah merasakan mandi bersama di suatu tempat, cobalah. Karna jujur saja ini sangat menyenangkan.
Luna menyelesaikan mandi sekaligus cuci baju dan sepatunya, gadis itu mencari tempat terik untuk menjemur pakaian dan sepatunya, berdoa malam ini tidak hujan agar dia tak perlu membawa pakaian basah yang tentunya akan menambah beban.
Gadis itu mengambil kaca dan mulai merapikan rambutnya sekaligus memakai berbagai rangkaian skincare yang biasa dia pakai saat masih rajin, apalagi seharian dis berpanas panasan.
Luna mematung seketika saat ada seseorang yang nampak dari kacanya, orang itu duduk di pojok ranjang yang di tempati Ghea, orang ( atau mungkin hanya sosok) itu tampak menyisir rambut panjangnya menggunakan jari. Luna menengok dan tak mendapati siappun di tempat itu, namun bayangannya masih ada di kaca milik Luna.
Gadis itu seperti terhipnotis dan tetap melihat ke arah sosok yang kini mulai mengangkat kepalanya dan memandang Luna. Wajah cantik nan rupawan langsung nampak di cermin itu.
" Boleh pinjam sisirnya?" tanya bayangan itu sambil tersenyum, senyum yang sangat manis. Nakun tiba tiba saja bayangan itu menengok dan tampak lehernya patah seketika ke arah kanan.
" HUAAA!!" Seru Luna melempar cermin yang dia pegang dan menengok ke arah bayangan itu duduk. Apakah arwah yang ada di kuburan kemarin mengikutinya sampai kesini?
Ada dendam apa arwah itu pada Luna sampai mengganggu Luna? Mengapa arwah itu meminjam sisir? Apakah ri alam baka tidak ada yang berjualan sisir? Semua pikiran itu memenuhi kepala Luna, gadis itu sampai gemetar dan memilih untuk menghampiri tempat tidur temannya yang lain.
Wajah pucat Luna rupanya disadari oleh teman Luna yang lain. Mereka memandang Luna yang baru hadir dengan tatapan aneh. Menerka apw yang terjadi pada gadis itu.
" Lun? Lo kenapa?" tanya Sheila yang tampak Khawatir karna Luna menengok ke arah belakang namun menggeleng takut dengan cepat.
" Gue.. gue.. gue.. Gue lihat kecoa, geli gue sama kecoa," ujar Luna dengan gugup, semoga saja teman temannya tidak curiga.
" Yaelah kirain apaan, masak STM takut kecoa sih? Hahahaha," ujar Farisa yang menjadi geli karna Luna tampak sangat ketakutan, padahal hanya kecoa
" Hehehe, gue dari kecil gak pernah ada kecoa sampai berani ngedekat gitu, jadi geli aja kalau lihat kecoa." Luna sebenarnya bisa saja menyombongkan diri dan mengatakan jika sampai ada kecoa, sudah pasti pembantunya akan dipecat.
" Haha, yaudah yang penting kecoanya gak ikut kesini," ujar Sheila yang menutup pembicaraan mengenai kecoa.
Mereka membuka obrolan baru dan membahas apapun yang bisa dibahas, Luna sedikit bisa melupakan kejadian tadi. Kini justru pikirannya terfokus pada Darrel, sudah tiga hari Luna tidak berkomunikasi dengan lelaki itu, entah mengapa tiba tiba saja Luna merasakan sesuatu yang buruk. Semoga saja itu semua hanya pikiran Luna.
" Lun!! Luna!!" Luna tersadar dan menyadari teman temannya sudah cukup jauh, untunglah Farisa menyadari Luna melamun dan memanggil gadis itu.
" Buruan! Kita sudah di sirine buat makan!" Seru Farisa yang membuat Luna langsung berdiri dan menyusul gadis itu. Mungkin untuk saat ini Luna lebih baik tidak memikirkan hal buruk dan yakin bahwa semua hanya pikirannya saja.
*
*
*
Luna tidak berani kembali ke tempat tidurnya, dia memilih untuk bersantai di kursi yang terdapat di serambi. Lebih baik seperti ini karna dia tidak mau memikirkan atau melihat hal yang aneh lagi.
" Luna, Lo dicari Radith tuh," ujar Resya yang membawa satu cup mie instan. Resya tampak menatap Luna dengan bingung, membuat yang di tatap merasa risih sendiri.
" Heran aja, Lo udah tunangan sama kak Darrel, tapi masih dekat sama Radith, kalau gue gak kenal pasti udah gue panggil murahan sih," ujar Resya tanpa sungkan dan masuk begitu saja tanpa mau mendengar penjelasan Luna. Luna langsung menghela napas saat Resya sudah berlalu.
" Lo gak tahu ceritanya, gak tahu keadaannya, tapi bisa judge orang kayak gitu, kayak nitizen aja," ujar Luna sambil menggelengkan kepalanya pelan, gadis itu tak menyangka teman pertamanya di sekolah ini bisa mengatakan hal seperti itu padanya.
Luna bangkit dan berjalan menuju kantin, mungkin Radith sudah menunggunya disana, entah apa yang dilakukan lelaki itu dan apa yang ingin dibicarakan sampai memanggil Luna melalui orang lain.
" Radith, Lo ngapain panggil gue?" Tanya Luna saat melihat Radith dari jauh, lelaki itu menengok dan menggeleng seketika. Luna makin bingung dengan respon Radith.
" Gue gak manggil Lo njir," ujar Radith yang ternyata sedang berkumpul dengan Arka, Firman dan Satria. Mereka pun juga menatap Radith dan Luna secara bergantian.
“ Kata Resya Lo nyariin gue?” Tanya Luna dengan wajah bingungnya, semakin bingung lagi karna Radith memasang wajah polos tak mengerti.
“ Gue gak nyariin yang sampai minta Lo kesini njir, gue Cuma nanya Luna dimana? Terus dia jawab Lo di kamar, yaudah,” ujar Radith yang mengerti dengan jalan pembicaraan Luna.
“ Anjir, udah gue dikata katain, ternyata dia yang salah paham. Lagian Lo ngapain pakai nanyain gue sih?” Tanya Luna dengan kesal, kalau sudah seperti ini, dia tidak terima dikatai oleh Resya meski dia juga tidak bisa membalas gadis itu.
“ Lah? Gue iseng aja nyariin Lo, lagian emang Resya ngatain apa?” Tanya Radith dengan wajah bingung, namun Luna hanya menggeleng karena enggan menambah masalah, gadis itu memilih duduk di sebelah Arka yang meminum Es kopinya, dengan tenang dan santai Luna mencomot e situ dan meminumnya.
“ Mau kesel tapi gimana, untung Lo cantiK njir,” ujar Arka dengan kesal sambil meminum sisa kopi dalam plastik tersebut, Luna hanya tersenyum dan menelan air yang ada di dalam mulutnya lalu terkekeh.
“ Hehehehe, Makasih Arka, baik banget,” ujar Luna tanpa dosanya, namun karna wajah manisnya, Arka tentu tidak bisa marah, Arka hanya mengangguk dan tersenyum kecut.
“ Lo gak kenapa napa kan Lun?” Tanya Radith dengan serius, namun Luna malah terheran karenanya.
“ Memang gue kenapa?” sahut Luna yang malah balik bertanya.
“ Kali aja Lo nabrak semut terus kesandung,” jawab Radith dengan asal, membuat Luna memutar bola matanya dengan malas dan enggan menjawab lelaki itu. Tanpa sepengetahuan Luna, Radith tampak mendesah lega, entah apa yang ada dipikiran lelaki itu.
Mereka berbincang hingga tapa terasa hari semakin gelap dan mereka memilih untuk membubarkan diri dan beristirahat karena besok akan diadakan upacara penutup di tengah lapangan yang panas, jika tak ingin mengantuk atau pingsan, ada baiknya mereka beristirahat dengan cukup.
Luna berjalan menuju kasurnya dan menelan salivanya dengan susah payah, semoga yang tadi siang dia lihat sudah tak ada lagi entah apa yang terjadi di tempat ini pada masa lalu hingga muncul arwah cantic dengan leher putus seperti itu.
“ Ghea, Lo tidur disini lagi aja, gak usah tidur di Kasur Lo,” ujar Luna memperingati Ghea yang merebahkan diri di kasurnya. Luna langsung teringat pada sosok itu.
“ Memang kenapa?” Tanya Ghea yang tampak bingung dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Luna. Luna tidak mungkin memberitahu Ghea yang sebenarnya saat ini, jika sosok itu mendengar, bisa saja Luna yang terancam.
“ Gue lihat ada kecoa disana, banyak, lo gak geli gitu, nanti Lo tidur ada kecoa lewat wajah Lo,” ujar Luna bergidik jijik, namun Ghea malah mengernyitkan dahinya dan bingung.
“ Kalau disini banyak kecoa, mereka gampang kesana dong, gimana sih Lo,” ujar Ghea yang cenderung sewot, Luna bingung harus menjawab apa, akhirnya dia pasrah dan membiarkan Ghea tidur di tempatnya, sembari berdoa semoga Ghea tak mengalami hal yang dialaminya.
Luna tidur menghadap Farisa yang juga sudah terlelap. Gadis itu akhirnya memaksa untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya karena besok harus berada di dalam bus selama 8 jam ( menurut estimasi google), tentu akan sangat melelahkan dan membosankan.
***
Semua siswa dibangunkan pukul 6 pagi dan diminta untuk segera mandi dan sarapan pada pukul setengah tujuh. Luna yang masih malas memilih untuk sikat gigi dan mencuci wajahnya, urusan mandi biarlah nanti dia akan mandi di rumah, toh percuma saja habis ini mereka akan berpanas – panasan dan berlama – lama di dalam bus.
Mereka sarapan dengan khidmat, sudah terbiasa dan mengetahui tradisi makan di tempat ini. Setelah itu mereka diminta untuk berbaris di lapangan sesuai kompi masing – masing.
Luna berjinjit – jinjit untuk mencari Radith yang entah ada dimana, namun dari sekian banyaknya orang, Luna tak dapat menemukan tanda tanda lelaki itu. Luna akhirnya berdiri dengan tenng di tempatnya dan bersiap untuk mengikuti upacara.
Sementara di tempat yang lain Radith sedikit terkekeh karena melihat Luna yang sampai sebegitunya mencari seseorang yang entah mengapa dia yakin Luna mencari dirinya. Bahkan Radith langsung bisa menemukan dan melihat Luna, namun gadis itu harus kesulitan dan bahkan gagal menemukannya, radarnya untuk mencari Luna memang patut dikagumi.
Upacara berjalan dengan baik dan lancar. Sangat berbeda dengan suasana upacara yang biasa dilaksanakan di sekolah. disini mereka sangat tennang dan mengikuti upacara dalam diam, mungkin juga karna amanat yang disampaikan tidak bertele – tele dan berisi motivasi, membuat siswa siswi minat mengikuti upacara, sepertinya cara seperti ini harus diterapkan di STM Taruna agar upacara bendera dapat berjalan dengan tenang dan lancar.
“ Setelah ini kalian silakan membereskan kamar kalian dan kembali ke aula dengan membawa semua barang kalian, kami beri waktu tiga puluh menit.”
Siswa siswi membubarkan diri dan menuju kamar untuk membereskan tempat tidur mereka, betapa terkejutnya mereka karna disetiap Kasur mereka terdapat tanah kering yang sepertinya sengaja disebar, padahal Luna sudah bersusah untuk membereskan kasurnya sebelum upacara agar dapat beristirahat nantinya.
“ Gilak nih, masak disebarin tanah kayak gini, kurang kerjaan amat. Nambahin kerjaan kita aja,” ujar Farisa dengan jengkel dan menarik sprei Kasur itu sampai terlepas, mengibaskannya di lantai dan kembali memasang sprei itu dengan rapi.
“ Cerda Lo sa, gue aja gak kepikiran kayak gitu,” ujar Luna dengan kagum sambil meniru apa yang dilakukan Farisa. Mereka lalu menyapu kea rah luar dan siswi lain yang bertugas untuk menyapu sisanya, mereka segera memasukkan barang barang mereka yang ada di lemari ke dalam tas.
“ Yok, buruan kita ke Aula, daripada nanti masuk bareng – bareng terus jadinya desak – desakan,” ajak Ghea yang diangguki oleh Luna, siswi kelas Luna segera beranjak dari tempat itu dan menuju aula yang ternyata sudah cukup ramai dengan siswa.
Tak lama ruangan itu dipenuhi oleh siswa siswi STM Taruna dan kemudian beberapa terntara berbaris untuk melakukan sayonara pada umumnya. Luna melega akhirnya kegiatan ini berakhir dan Luna bisa pulang tanpa luka hingga tak perlu mendengar omelan Jordan yang akan menyakiti telinganya.
Mereka mengambil foto bersama sembari menunggu bus yang akan mengangkut mereka masuk ke kawasan ini hingga mereka tak perlu berjalan jauh. Huh, andai saja saat berangkat mereka juga seperti ini.
Luna masuk ke dalam bus saat bus itu sudah berhenti sempurna, dia duduk di tempatnya semula dan meletakkan tas kecilnya di pelukannya, tak lama Radith pun duduk di sebalahnya dengan earphone yang menempel di kedua telinganya.
“ Gue kangen sama kak Darrel,” ujar Luna pada Radith, lelaki itu melirik Luna sekilas sebelum akhirnya berkata.
“ Telpon lah,” jawab lelaki itu dengan enteng, Luna mengangguk dan mengambil ponselnya, menelpon Darrel yang entah bagaimana kabarnya.
Saat sedang asyik bertelepon, kaki Luna diinjak cukup keras oleh Radith, membuat gadis itu menjerit dan menoleh galak pada lelaki itu.
“ Sakit bego dith, parah Lo, ganggu orang lagi tepon aja,” ujar Luna dengan kesal, sedangankan di telinganya masih terdapat ponsel yang menyambungkan telpon dengan Darrel.
“ Ya maaf gak sengaja,” ujar Radith mengedikkan bahunya dan melengos begitu saja. Namun setelah tak menengok kea rah Luna, lelaki itu tersenyum puas dan mulai memejamkan matanya, dia bisa tidur dengan nyenyak setelah ini.