
Luna tampak melamun di dalam kelas, entah apa yang dipikirkan gadis itu, mungkin karna kemarin Darrel tiba - tiba marah dan pergi meninggalkannya.
Astaga, lelaki itu masih saja salah paham. Apakah semua lelaki yang sedang cemburu buta melakukan hal itu? Menyebalkan sekali.
Seharian pembelajaran terasa membosankan, Luna hanya duduk tanpa menulis atau mendengarkan apapun, padahal Ujian akhir semester akan dilaksanakan sebentar lagi.
" Gak tahu kenapa feeling gue gak enak hari ini, kok tiba - tiba males kumpul OSIS ya?" tanya Luna pelan pada dirinya sendiri.
Gadis itu melangkahkan kaki menuju ruang OSIS yang ternyata masih terkunci. Dia mencari kursi terdekat dan duduk diatasnya, menunggu pengurus yang membawa kunci datang.
Sepertinya kelas XI sedang ada kelas tambahan, nyatanya mereka belum hadir meski bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi.
Luna mendongak saat mendengar suara pintu yang dibuka kuncinya, tampak dua orang yang membuat perasaan Luna memburuk. Mengapa dia harus melihat ini?
" Masih belum ada orang," ujar orang pertama kepada yang lain.
" Bagus, bisa manfaatin waktu berdua," ujar Darrel dengan santai, tidak memikirkan perasaan Luna sama sekali.
" Bertiga kalik kita, tuh," ujar orang itu sambil menunjuk Luna dengan dagunya, membuat Luna merasa tak nyaman.
Darrel menengok ke arah Luna dan terkejut, Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Luna sebelumnya, saat tahu keberadaan Luna, Darrel langsung melepas rangkulannya.
Tingkah gugup lelaki itu terekam jelas di dalam benak Luna, membuat senyum sinis di bibir gadis itu terkembang sempurna, ternyata begini rasanya memergoki pacar yang selingkuh dan pacar itu tampak gugup. Lucu juga ternyata.
" Eeemm, Permisi kak, saya mau ijin ke kamar mandi dulu," ujar Luna tanpa memandang Darrel dan langsung pergi meski tak mendapat jawaban.
" Kamu gak keterlaluan ya sama dia?" tanya seorang gadis yang ada di sebelah Darrel.
" Gak ada pilihan, selama dia gak tahu hubungan kita sih gak masalah buat Aku," ujar Darrel sambil menghela napasnya dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tak lama ruangan penuh dengan pengurus OSIS yang tadi masih mengikuti kelas tambahan. Mereka mulai bersenda gurau menunggu rapat OSIS dimulai, berbeda dengan Luna yang sedari tadi hanya diam, tidak berniat mengikuti obrolan yang mereka katakan.
" Baiklah, mari kita mulai rapat pada hari ini."
Semua langsung hening saat Darrel mulai memimpin rapat, karna artinya Darrel akan berubah menjadi galak dan menyeramkan. Siapapun tidak berani membut gaduh dan mengusik Darrel yang sedang serius.
" Pertama saya akan membahas lagi mengenai etika jika ijin tidak mengikuti Rapat. Flo, bisa kamu jelaskan lagi apa isinya?" tanya Darrel tiba - tiba pada Flo yang ada di sebelahnya.
Flo mengangguk gugup dan menelan salivanya, berharap jawaban yang dia berikan benar dan memuaskan Darrel.
" Kita harus datang dan ijin kepada ketua OSIS dengan menyertakan alasan tidak dapat mengikuti rapat dan pamit kepada pengurus OSIS lain yang sudah hadir."
A qqqqqqt yg di mengangguk puas dan tersenyum tipis, membuat Flo menghela napas lega, tidak menjadi santapan sore Ketua OSIS tampan.
" Sudah jelas kan apa yang disampaikan oleh Flo? Atau masih harus saya jelaskan lagi?"
Semua mengangguk paham, tidak mengerti arah pembicaraan Darrel, sementara Luna yang sedari tadi memiliki feeling tidak enak langsung mengerti mengapa perasaannya buruk saat berjalan ke ruang ini.
" Siapapun yang ijin, silakan datang ke ruang rapat, jangan menyepelekan dan hanya mengirim pesan! Semua itu ada etikanya."
Semua bertanya - tanya siapa yang dimaksud oleh Darrel, banyaknya pengurus membuat Mereka tidak akan sadar siapa saja yang tidak hadir.
" Cuma itu pesan saya untuk saat ini, mari kita lanjutkan pokok bahasan kemarin."
Lelaki itu langsung menunjuk per bidang untuk menyampaikan laporan dan program kerja di waktu mendatang.
Luna mengikuti rapat seakan tidak tahu dia yang sedang dibicarakan oleh Darrel. Gadis itu berusaha profesional meski perasaannya dongkol, disindir oleh pacar sendiri di dalam forum, menyedihkan sekali.
*
Rapat selesai pukul 5 sore, cukup lama karena banyak yang perlu dibahas. Luna sendiri sampai letih harus duduk dalam posisi tak nyaman selama berjam jam.
Gadis itu berjalan menuju gerbang sekolah, berharap Darrel yang akan mengantarkannya pulang. Entah mengapa Luna sangat merindukan lelaki itu.
Benar kata orang, seseorang akan terasa berharga jika sudah tidak kita miliki lagi. Bahkan Darrel masih milik Luna meski belakangan terasa sangat jauh.
Luna menunggu Darrel dengan sabar, memainkan kakinya untuk menghilangkan kebosanan.
Tak lama seseorang datang dan menghampiri Luna, membuat gadis itu mendongak dan mendesah kecewa.
Semarah itu kah Darrel padanya? Bahkan lelaki itu tak mau menjemputnya, malah mengirimkan supir pribadinya untuk menjemput Luna.
Dengan lemas Luna berjalan menuju mobil tersebut dan duduk dengan tenang. Sudah cukup lelah untuk hari ini, lebih baik dia nikmati macetnya Ibu Kota di sore hari.
Luna menatap ke luar jendela dan melihat motor berlalu lalang, pengendaranya sendiri banyak yang tak santai dan banyak mengomel. Cukup lucu bagi Luna, mungkin ini bisa menjadi hiburan baginya.
Mata Luna menajam saat melihat seseorang yang sangat dia kenali, menaiki motor dengan membonceng seorang gadis. Hati Luna mencelos melihat hal itu, memilih mengantar gadis itu pulang dibanding Luna? Beginikah rasanya di nomor duakan?
" Pak ikuti motor kak Darrel ya Pak," ujar Luna memberi instrusi pada supir Darrel.
" Maaf nona, saya diberi instruksi untuk langsung mengantar nona pulang, saya tidak berani melanggar perintah tuan muda."
" Yaudah saya pergi sendiri," jawab Luna dengan tiba - tiba dan keluar dari mobil begitu saja.
Supir Darrel tentu kaget dan kelimpungan melihat Luna yang sungguh berjalan mengikuti motor Darrel yang masih terjebak lampu merah.
" Cantik, tapi bodoh. Apakah dia akan berlari mengejar motor itu saat motor itu melaju kencang?" Tanya supir itu pelan sambil melihat Luna dari dalam mobil.
Supir itu menimbang baik buruknya situasi yang ada sekarang, mungkin mengikuti permintaan Luna jauh lebih aman, dia juga bisa memakai Luna sebagai alasan. Namun jika Luna terluka, tidak ada alasan baginya untuk bertahan.
" Nona, masuk ke dalam mobil, kita ikuti tuan muda Darrel," ujar supir itu membuka kaca dan menengok ke arah Luna.
" Saya bisa buat anda dipecat dengn mudah kalau berani main - main dengan saya," ujar Luna dengan galak saat sudah masuk ke dalam mobil.
Supir itu mengangguk takut dan segera melajukan mobilnya untuk mengikuti Darrel, entah pergi kemana lelaki itu, bisa jadi hanya mengantar gadis itu pulang.
Tampak motor Darrel memasuki area rumah makan favoritnya, membuat Luna semakin sedih karna bukan dirinya yang dibaw Darrel ke tempat itu.
Luna harus menunggu sekitar satu jam sebelum akhirnya mereka keluar dan Darrel melajukan lagi motornya entah kemana.
Dengan gelisah Luna terus berharap Darrel tidak pergi kemanapun setelah ini. Namun harapan hanyalah harapan, nyatanya Darrel malah berbelok menuju toko perihasan.
" Ngapain dia kesini?" Tanya Luna sambil menatap ke luar jendela.
" Tidak tahu nona," sahut supir itu tanpa dosa, membuat Luna memandangnya aneh. Supir itu hanya menggeleng dan meminta maaf, ternyata Luna tidak bicara padanya. Dasar gadis yang aneh.
Luna segera keluar dan masuk ke pusat toko perihasan yang terkenal. Untuk apa Darrel membawa gadis itu ke tempat ini?
Dan yang lebih penting lagi, mengapa Luna harus bertindak seperti seorang istri yang sedang memergoki suaminya selingkuh
Luna memilih tak peduli dengan pikirannya dan tetap mengawasi Darrel dari kejauhan. Tampak lelaki itu tertawa - tawa sambil menunggu.
Tak butuh waktu lama, lelaki itu mengangkat sebuah kalung liontin berlian yang sangat indah, tak perlu bahas harga kan?
Lelaki itu mendekatkan kalung tersebut pada gadis itu dan mengangguk puas, meminta pegawai melakukan sesuatu pada kalung itu. Darrel tampak bahagia sementara gadis di sampingnya bicara dan menatap Darrel dengan tatapan kagum.
Pegawai itu kembali dengan dua buah kotak perihasan, Darrel tampak berbicara sekejap dan membuka kotak tesebut. Ternyata isinya sepasang cincin yang sangat indah.
Cincin itu berkilau, meski Luna tidak bisa melihat secara jelas, dia cukup mengerti bahwa itu cincin berlian. Siapa sebenarnya gadis itu? Apa hubungannya dengan Darrel? Mengapa dekat sekali?
Darrel tampak memasangkan cincin itu di jari manis gadis itu, dan mengangkat jari itu seakan menilai, sementara gadis itu memakaikan cincin satunya di jari Darrel.
Luna cukup merasa sesak melihat itu, secepat itu Darrel berpaling darinya? Bahkan lelaki itu langsung bertukar cincin dengan gadis lain?
Bodoh sekali Luna mengira Darrel akan terus menunggunya agar dapat mencintai lelaki itu, nyatanya Darrel tidak sesabar itu dalam hatinya. Sekali lagi, sifat naifnya membuat dia terluka sangat dalam.
Luna meneteskan air mata dan segera keluar dari tempat itu, masuk ke dalam mobil dan menangis sesenggukan.
" Jalan pak," ujar Luna memberi perintah, namun mobil tak kunjung jalan, membuat Luna semakin kesal pada supir Darrel.
" Pak, ayo jalan!" Seru Luna yang masih menutup wajahnya, ingin menghentikan tangisnya meski susah.
" Kemana mba?" tanya supir itu yang membuat Luna tertegun. Mengapa suaranya supir itu jadi berbeda? Merasa aneh, Luna segera mengangkat wajahnya dan terkejut setengah mati.
" Anda siapa?" Tanya Luna saat mendapati seorang pria asing dalam mobil ini.
" Harusnya saya yang bertanya, ini kam mobil saya."
Luna makin terkejut dan melihat sekitarnya, ternyat memang benar bukan mobil yang tadi dia tumpangi, Luna sangat malu sekarang.
Mengapa disaat dia kesal, sedang menangis sampai sesenggukan, dia malah salah masuk mobil orang? Hari apa ini? Mengapa Luna sial sekali?
Gadis itu segera meminta maaf dan keluar dari mobil, dia menuju mobil milik Darrel dan duduk dengan tenang.
" Saya kira Nona akan pulang bersama mobil yang di depan," ujar Supir itu membuka suara sambil menyalakan mesin mobil.
" Akan jadi masalah untukmu jika aku melakukannya, " ujar Luna dengan cuek, padahal dia berusaha mati matian menahan rasa malu.
" Kalau boleh tahu, mobil di depan itu siapa nona?" tanya supir itu dengan heran.
" hanya teman lama, bisakah kita pergi dari sini sekarang?" tanya Luna sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Supir itu mengangguk percaya dan mengiyakan perkataan Luna, membuat gadis itu melega karena supir Darrel percaya padanya.
Tidak mungkin kan Luna menceritakan kejadian sebenarnya? Mau ditaruh dimana muka cantik ini?
" baiklah nona, tapi apakah kita langsung pulang?" tanya supir itu sambil menjalankan mobil tersebut.
" Jangan langsung pulang, aku ingin berjalan - jalan, bawa aku pergi keliling kota," ujar Luna sambil mentap ke luar.
Supir itu mengangguk dan menuruti permintaan Luna dengan membaw gadis itu berputar keliling kota, setidaknya rasa sakit Luna sedikit berkurang dengan melihat ramainya kota ini.
Sesekali lelehan air mata masih terjatuh bila megingat kejadian tadi. Mungkinkah Darrel tak pernah mencintainya? Atau dia hanya simpanan selagi kekasih aslinya marah padanya?
Pikiran buruk itu terus berputar di kepala Luna Seperti kaset rusak, membuat Luna geram dan menjambaki rambutnya sendiri agar pikiran buruk itu segera pergi dari kepala Luna.
" Nona? Nona kenapa?" tanya supir itu dengan panik, tidak pernah menghadapi majikan seperti Luna.
Luna malah menangis dengan keras sampai berteriak, membuat supir itu semakin bingung harus melakukan apa, tidak mungkin dia menelpon Darrel karena dia yakin Luna Seperti ini karena ulah Darrel.
Supir itu akhirnya memutuskan untuk membawa Luna pulang ke rumahnya, setidaknya gadis itu bisa menangis sepuasnya.
" Kenapa Darrel brengsek pak? Kenapa lelaki itu brengsek sekali?" tanya Luna dengan kesal sambil memukul mukul dadanya sendiri.
supir tersebut tidak mengerti ada masalah apa, sehingga dia memilih diam dibanding salah bicara.
Perlu waktu satu jam untuk sampai ke rumah Luna karna jalur ganjil genap yang membuat mobil harus berputar putar mencari jalan lain.
Luna langsung turun dan berlari masuk ke rumahnya, membuat supir itu menggelengkan kepalanya dan memundurka mobilnya untuk kembali ke rumah Darrel.
*
Darrel mengeringkan rambutya yang basah menggunakan handuk, dia keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya
( Tolong jangan bayangan perutnya yang sudah berbentuk roti sobek, jangan juga bayangkan dada basahnya yang sudah berbentuk oh ya tolong lupakan juga lengan berototnya yang sempurna)
Lelaki itu mengambil pakaian dan memakainya, pilihannya jatuh pada kaos putih polos dan celana boxer warna hitam, sangat santai karna memang dia sudah siap untuk tidur.
Baru saja Darrel hendak menjatuhkan dirinya ke kasur, seseorang mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, membuat lelaki itu berdecak dan memandang iba kasurnya.
" Kasurku, gulingku, tunggu sebentar, aku akan segera kembali dan memelukmu," ujar Darrel kemudian.
Lelaki itu berjalan menuju pintu dengan kesal, sudah malam, mengapa masih ada yang berani mengusiknya?
" Ah kau, mengganggu malam ku saja, ada apa?" tanya Darrel dengan galak saat mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
" Nona Lunetta sudah kembali ke rumah dengan selamat tuan muda," ujar supir itu dengan sopan
" Dia baru kembali? Kemana saja kalian? Bukankah ku minta ksu segera mengantarkan dia pulang?" Tanya Darrel dengan nada tinggi.
" Nona Lunetta memaksa untuk mengikuti tuan Darrel, karena nona tadi memaksa dan mengancam, saya tidak ada pilihan lain. Maafkan saya tuan," ujar supir itu sambil menunduk.
" Ya sudah, terimakasih, kamu boleh kembali," ujar Darrel sambil memijat pelipisnya.
Darrel menutup pintu dan segera merebahkan dirinya, memeluk guling kesayangannya. ( Bahagia sekali guling itu bisa merasakan tubuh atletis Darrel.)
" Matilah gue, dia lihat semua, semoga rahasia gue gak kebongkar, tapi pasti dia udah curiga," ujar Darrel dengan frustasi.
Lelaki itu akhirnya terlelap dan enggan memikirkansemua hal itu untuk saat ini.