Hopeless

Hopeless
Jomblo moon



Suasana meriah terlihat di kediaman Ayah Alex. Para orang tua sibuk menyiapkan segala keperluan untuk acara pernikahan Nezia dan Faris besok sore. Sementara anak-anak bermain, berlarian dan berkejaran di rumah yang luas tersebut.


Di taman samping, nampak Nezia dan Faris baru saja duduk di sebuah ayunan yang berhadapan. Tak ada yang memulai pembicaraan, keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Keheningan pun tercipta di sana. Hanya terdengar suara gemericik air dari pancuran yang berada di kolam ikan, serta kicau burung piaraan Ayah Alex, dan sesekali suara canda tawa anak-anak yang sekilas melintas di dekat mereka.


Gadis cantik itu menunduk, sementara pemuda yang duduk di hadapannya, terus saja menatap Nezia seraya tersenyum. Faris seolah tak bosan memandangi gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Kang, jangan lihatin terus, ah!" protes Nezia yang menyadari bahwa dirinya diperhatikan semenjak tadi.


Faris tersenyum lebar. "Habisnya, kamu cantik banget, Neng," pujinya dengan tulus.


"Sudah berani merayu ya, sekarang," ucap Nezia. Gadis itu kemudian buru-buru membuang pandangan ke arah lain karena khawatir, Faris akan melihat warna pipinya yang merona merah.


Hati Nezia membuncah bahagia. Entahlah ... hanya dengan mendengar rayuan receh yang keluar dari mulut Faris, putri bungsu Ayah Alex tersebut sudah merasa sangat tersanjung.


"Merayu calon istri sendiri 'kan, enggak apa-apa, Neng," balas Faris yang masih terus memperhatikan Nezia. "Dan aku akan merayumu setiap hari, jika kita sudah menikah nanti. Kuharap, kamu tidak bosan mendengarnya, Neng," lanjutnya.


'Tentu saja aku tidak akan pernah bosan, Kang,' balas Nezia, tetapi hanya dalam hati karena gadis cantik itu masih malu mengakui perasaan yang tiba-tiba saja bersemayam di hatinya, untuk Faris.


"Aku ingin kita pacaran dan saling mengenal dulu setelah menikah nanti, Neng, karena aku tak mau Neng Ganis seperti terpaksa menjalani pernikahan ini," imbuh Faris.


Nezia langsung menatap Faris. "Aku enggak terpaksa, Kang," protesnya, membuat Faris mengerutkan dahi dan sedetik kemudian tersenyum lebar seraya menatap Nezia.


'Apa itu artinya, kamu sudah benar-benar bisa menerimaku dan mulai mencintaiku, Neng?' batin Faris, bertanya.


Menyadari arti tatapan Faris, buru-buru Nezia meralat ucapannya barusan. "Ya, meskipun ini terlalu cepat, sih, menurutku."


"Karena itu, Neng. Aku ingin, kita jalani ini seperti air mengalir. Jangan terburu-buru, tetapi jangan pula berhenti di tempat. Kita akan sama-sama belajar untuk saling menerima, saling memberi, dan tentunya, belajar untuk saling menyayangi dan mencintai," ucap Faris seraya menatap Nezia dengan tatapan dalam.


Nezia mengangguk seraya tersenyum. "InsyaAllah, Kang. Ingatkan Inez ya, jika Inez egois," pintanya.


"Ingatkan aku juga, Neng, jika aku melakukan kesalahan dan membuatmu merasa tersakiti," pinta Faris. "Aku tidak mau melihatmu bersedih, apalagi sampai menangis, Neng. Hatiku pasti akan ikut sakit," lanjut pemuda ganteng tersebut, yang lagi-lagi berhasil membuat hati Nezia berbunga-bunga.


Gadis cantik itu tersenyum, tersipu malu.


"Yaelah ... dicariin dari tadi, ternyata lagi pacaran di sini." Suara Om Ilham yang baru saja datang, mengejutkan kedua sejoli yang sedang mencoba untuk saling mendekatkan diri tersebut.


"Enggak pacaran, Om," kilah Nezia.


"Pacaran juga enggak apa-apa, tetapi menurutku pacarannya mulai besok aja," timpal Mirza, yang tahu-tahu juga muncul bersama sang istri tercinta.


"Kenapa harus nunggu besok?" Om Ilham menatap keponakannya itu, dengan dahi berkerut.


"Kalau besok 'kan, sudah ada label halal di setiap lekuk tubuh pasangan. Jadi, kalau mau pegang-pegang sudah halal," balas Mirza seraya terkekeh.


Om Ilham juga ikut terkekeh. "Bisa aja kamu, Bang."


Faris tersenyum, dalam hati membenarkan ucapan Mirza dan pemuda itu jadi tak sabar menunggu hari esok, di mana dia akan dapat melihat dan menikmati keindahan yang sudah memiliki label halal tersebut.


Sementara Nezia melirik Faris, gadis itu tersenyum tersipu malu.


Wanita cantik yang bersama Mirza mengerucutkan bibir, dia kemudian mencubit pinggang sang suami dengan gemas. "Masih aja, ya, sembarangan kalau bicara," protes Lila, berbisik.


"Sembarangan gimana, Sayang. Semua yang di sini sudah dewasa," balas Mirza. "Apa kamu mau, kita mengenang kembali saat berpacaran dulu?" tawar Mirza dengan tersenyum penuh arti.


"Ck ... selalu deh, pikiran Bang Mirza ke arah sana. Dasar, mesum!" Nezia berdecak kesal karena Mirza sering meracuni pikirannya dengan hal-hal romantis terhadap pasangan yang belum dapat dilakukan oleh gadis cantik tersebut.


"Heem, kebiasaan memang dia!" timpal Attar yang ikut menyusul ke taman di halaman samping kediaman Ayah Alex.


"Nikah, Bang, nikah!" protes Attar.


Om Ilham kembali terkekeh. "Iya, nikah. Terus kawin, kan? Biar enak?"


"Benar Bang Attar. Selain enak, enggak tersiksa juga saat berdekatan sama doi," timpal Mirza.


"Kayak kami dulu itu lho, Om, Bang, pacarannya setelah nikah. Jadi bebas ... ya 'kan, Sayang?" Mirza mengerling pada sang istri.


Lila tersenyum dengan wajah yang merona.


"Pacarannya memang setelah menikah, tetapi deketnya 'kan, sejak masih orok," sahut Nezia.


"Deket tapi 'kan enggak pacaran, Nez," sanggah Mirza. "Mana ada coba, masih orok pacaran," lanjutnya, tersenyum nyengir.


"Enggak pacaran memang, tetapi nempel melulu," cibir Nezia.


"Enak yang nempel-nempel sih, Nez," balas Mirza.


"Za, stop! Bahas yang lain, napa!" protes Attar, kebakaran jenggot karena hanya dia sendiri yang masih belum jelas kemana arah hubungannya dengan sang kekasih.


"Santai, Bro. Nanti aku bantu bilang sama Om Vian agar segera melamar gemoy," ucap Om Ilham.


"Ham!" seru Opa Alvia yang tiba-tiba muncul bersama Daddy Rehan. "Disuruh manggil Faris malah ikut nimbrung di sini!" protesnya pada sang keponakan.


"Mereka lagi ngobrol seru, Om. Sayang 'kan, kalau dilewatkan," kilah ayah dua anak tersebut, terkekeh.


"Nak Faris, ada yang mau kami bicarakan," ajak Daddy Rehan, agar Faris mengikuti langkahnya.


"Baik," balas Faris yang langsung beranjak.


"Neng, aku masuk dulu, ya," pamit Faris.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Nezia dengan anggukan kepala, Faris segera mengikuti langkah Daddy Rehan dan Opa Alvian, masuk ke dalam rumah besar tersebut yang dibarengi oleh Om Ilham.


Sementara Nezia masih berada di sana, bersama saudara sekaligus sahabatnya.


"Nez, liburan bareng, yuk, sama Lili juga," ajak Lila.


"Mau-mau, kemana?" Calon istri Faris itu terlihat sangat antusias.


"Kita pergi kemana, Bang?" tanya Lila pada sang suami.


"Ke hatimu, Sayang," balas Mirza dengan asal, membuat Lila cemberut.


"Maksud abang, terserah kamu, cantik," lanjut Mirza.


"Enaknya kemana ya, Nez? Yang asyik untuk tema honeymoon & babymoon gitu?" tanya Lila.


Nezia mengerutkan dahi. "Aku 'kan belum isi, Lil," protesnya.


"Kamu honeymoon, Inez. Aku sama Lili yang babymoon. Aku babymoon anak pertama dan Lili anak kedua," terang istri Mirza yang semakin terlihat cantik tersebut.


"Lah, kalau kalian pada pergi liburan tema honeymoon, babymoon. Aku, temanya apaan?" tanya Attar.


"Jomblo moon!" balas Mirza, terkekeh senang.


☕☕☕☕☕ bersambung ...