Hopeless

Hopeless
Chapter 134



#QuotesAcak


Percaya pada kesempatan kedua, karna setiap orang berhak mendapatkannya, tinggal mereka yang menentukan, mampukah mereka memanfaatkan kesempatan itu. Tinggal mereka yang menentukan jalan hidup mereka ke depannya. .


*


*


*


Suasana ramai nyata terasa di sebuah ruangan yang berisi peserta Lomba Keterampilan Siswa atau yanag biasa disebut LKS. Darrel pun tampak sibuk karena memberikan pengarahan pada Radith sebelum selama dua puluh empat jam lelaki itu akan merakit sendiri panel dan robot otomatis yang akan dilombakan.


" Baiklah, seluruh peserta dari berbagai bidang silakan berbaris sesuai bidang Lombanya untuk mendengarkan pengarahan yang akan diberikan oleh panitia Lomba. Silakan untuk bidang lomba Teknik gambar bangunan, kalian pindah ke lapangan dan mendengarkan pengarahan disana," ujar salah seorang panitia dengan pengeras suara.


Mereka semua membubarkan diri dan menuju ke arah yang ditunjukan oleh panitia. Darrel mengikuti Radith dengan ekor matanya, lelaki itu ikut mendengarkan apa yang menjadi arahan dari pihak panitia. Lelaki itu langsung terkejut karna ternyata ada peraturan yang sangat tak menguntungkan bagi mereka, yang tak sesuai dengan apa yang mereka latihkan.


Radith tampak diam saja mendengarkan arahan sejelas – jelasnya, entah mengapa peraturan dan sistem lomba tiba – tiba berubah, dan tampak seorang tutor dari sekolah lain tersenyum puas dan mengangguk pada siswa yang mengikuti lomba itu. Darrel berdecak melihat hal itu, bahkan lomba umum kejuruan seperti ini bisa dibeli oleh pihak tertentu. Miris sekali.


" Lo bisa kan improve sendiri? Kalau berdasarkan pengarahan, nanti Lo harus ubah dikit isi panelnya," ujar Darrel saat Radith kembali ke arahnya. Radith mengangguk dan melihat gambar rangkaian yang dia pegang. Mereka langsung mengubah bagian tertentu agar sesuai dengan peraturan yang baru.


" Gue percaya Lo bisa diandalkan, Lo pasti bisa selesaiin ini dan jadi juara. Kalau Lo gak jadi juara, yah, berarti Lo cupu, gak bisa ngalahin gue, gue tahun lalu juara satu loh," ujar Darrel yang malah mengompori Radith, namun Radith terkekeh mendengar hal itu, karna dia tahu Darrel hanya ingin memotivasi dirinya.


" Jangan Panggil gue Radith kalau gak bisa selesaiin masalah kayak gini, gak mungkin Luna lebih suka sama gue selama ii kalau gue kalah sama Lo kak," jawab Radith tanpa takut dan wajah yang penuh dengan ketengilan. Darrel menjitak kepala itu penuh nikmat, membuat Radith mengaduh kesakitan karenanya.


" Tengil ya Lo, pada akhirnya kan gue yang jadi tunangannya, Lo juga udah ada pacar cantik kek Blenda masih aja maruk," ujar Darrel dengan kesal wan wajah yang tak enak dipandang. Radith terkekeh dan menggelengkan kepalanay mendengar hal itu. Untung saja dia berhadapannya dengan Darrel yang tidak baperan dan tidak pendendam.


" Kalian kok malah bertengkar tuh gimana, sudah selesai improve rangkaiannya? Saya kok baru tahu kalau sistemnya berubah, dan kenapa kok baru diberitahunya persis sebelum lomba dimulai ya?" tanya Pak Komang yang muncul dari belakang dan bergabung dengan mereka. Darrel mendekat dan tampak berbisik untuk berbicara dengan guru itu. Pak Komang mengangguk dan menatap ke arah pembimbing yang bersebrangan dengannya.


" Saya bisa mengandalkan kamu kan Radith?" tanya Pak Komang pada Radith dengan wajah serius. Radith mengangguk yakin sambil melihat kembali gambar rangkaian yang dia pegang. Lelaki itu memandang panel besar dihadapannya yang nantinya akan mengaktifkan sensor benda yang akan ditabrak oleh robot.


Lomba dimulai, Radith memasuki area sementara Darrel hanya mengamati cara kerja lelaki itu. Radith mulai merangkai kabel dnegan cekatan, sangat berbeda kala dia berlatih, Darrel bisa melihat hal itu. Darrel kira akan sulit bagi Radith, namun ternyata lelaki itu sengaja menyimpan tenaga dan kecepatannya pada saat Lomba.


Tanpa sadar Darrel tersenyum dan mulai paham mengapa Luna sangat dan mungkin masih menyukai Radith. Lelaki itu bisa menempatkan diri dan tahu situasi, seakan tak memiliki beban dalam hidupnya dan selalu menjadi diri sendiri dengan segala pedas mulutnya. Namun Radith selalu peduli dengan sekitar.


" Hai, kamu dari STM Taruna ya? Kayaknya tahun kemarin kamu yang ikut lomba ya? Elektro kan?" tanya seorang gadis yang tahu – tahu sudah ada di sebelah Darrel, entah Darrel yang terlalu asyik melamun, atau gadis itu yang tanpa suara berjalan mendkeat ke arahnya, namun karna gadis itu sudah sampai di sebelahnya, lelaki itu tetap tersenyum ramah demi menjaga nama baik sekolah.


" Iya mba, bener," jawab Darrel dengan sopan. Dia harus menjaga wibawanya akrna dia masaih berstatus ketua OSIS, namun lelaki itu tak mau lama menatap mata gadis di sebelahnya, dia kembali mengontrol Radith dan mendapati lelaki itu meliriknya tak suka.


" Aku pikir gak akan ketemu kamu lagi, dulu aku juga peserta, tapi jurusan Mekatronika, sekarang sih Cuma jadi tutor," ujar gadis itu yang hanya dijawab senyuman oleh Darrel. Ingin rasanya menendang gadis itu jauh – jauh dari sini, namun tak mungkin hal itu dia lakukan.


" Nama aku Vita, dari STM di kota B, sekaligus wakil ketua OSIS STM itu," ujar gadis itu yang mengulurkan tangannya, mau tak mau Darrel menyambut tangan itu. Darrel heran, kenapa beberapa orang sangat bangga dan memamerkan status mereka pada orang asing? Kala itu lelaki yang dekat dengan Adel juga memperkenalkan diri sebagai wakil ketua OSIS.


" Darrel," jawab lelaki itu singkat dan melepaskan tautan tangan mereka. Gadis itu mulai mengeluarkan topik pembicaraan yang sebenarnya membuat Darrel tak nyaman, namun lelaki itu merasa tak enak jika harus mengabaikan gadis itu, apalagi gdis itu merasa antusias dan tampak bahagia sekali bisa ebrbincang dengan Darrel.


Untunglah ponsel Darrel berbunyi, seakan menyelamatkannya dari gadis itu, Darrel melihat nama yang tertera di sana, membuat senyumnya merekah sempurna, bahkan membuat gadis di sampingnya itu melongo karna Darrel ternyata bisa tersenyum dan menjai sangat menawan. Gadis itu jadi penasaran siapa yang melakukan panggilan dengannya.


Darrel mengangkat permintaan panggilan Video itu dan langsung melihat wajah gadisnya yang terlihat baru bangun tidur, bahkan wajah bantal dnegan mata yang masih sayu, tak lupa dengan rambut singanya. Namun entah mengapa Darrel masih merasakan daya tarik dari gadis itu. Gadis yang ada di sebelahnya tampak tersenyum kecut, meski gadis itu merasa lebih unggul dari Luna. Yah, gadis itu memang tak kalah cantik sih sebenarnya.


" Baru bangun ya say?" tanya Darrel dengan sengaja, membuat gadis di sampingnya menngok kaget karna Darrel berubah riang dan seakan tak menganggapnya ada saat bertelpon ria dengan gadis itu. Gadis yang ada di di layar ponsel itu mengangguk dan mengucek matanya.


" Loh? Udah mulai lombanya?" tanya gadis itu saat melihat Darrel yag rapi dan merasa suasana di sana ramai. Darrel mengangguk dan memindahkan kamera agar terhubung dengan kamera belakang. Luna tampak memfokuskan matanya dan melihat Radith yang sedang melakukans sesuatu dipisahkan tali pembatas dari Darrel.


" Wih, keren amat tuh anak kalau lagi serius gitu, hahahah," ujar Luna santai dan tanpa beban. Jangan disangka Darrel sakit hati, lelaki itu sudah merasa biasa dan sangat biasa dengan keadaan ini, dia menganggap Luna hanya bercanda, yah setidaknya itu yang bisa dilakukannya untuk menjaga keutuhan hatinya.


" keren aku apa dia say? Kayaknya masih keren aku deh, lebih bule aku, gagah aku, ye kan? Apalagi kalau aku lagi topless, masih ganteng aku kan?" tanya Darrel yang sudah membalik lagi kameranya dan merapikan rambutnya di depan kameraa, membuat Luna tersipu dan merasa malu karna perkataan Darrel yang terdengar vulgar.


" Kok Kak Darrel tumbenan sih manggilnya say say say? Geli tah ukak dengernya, lagi kesambet apa coba sampai kayak gitu?" tanya Luna yang memang tak tahu Darrel sedang bersebelahan dengan seorang gadis dan sengaja melakukan itu agar gadis yang ada di sampingnya tahu bahwa Darrel sudah memiliki hati untuk dijaga.


" Kalau gitu mulai hari ini dan seterusnya kamu harus terbiasa sama panggilan itu, kan kamu tahu kalau aku sayang kamu," ujar Darrel dengan nada yang alay, Luna bahkan sampai bergidik jijik dan terus menggeleng menolak keputusan itu. Darrel tertawa mlihat ekspresi Luna yang memang terlihat lugu, gadis itu memang tak nyaman dengan gaya pacaran yang terlalu vulgar seperti ini, meski sebenarnya Darrel sering memanjakan Luna.


" Kalau gituaku balik dulu ke tempat sana ya Darrel, moga kita bisa ketemu lagi, makasih nomor telponnya," ujar gadis yang ada di sebelah Darrel, membuat Luna melotot kaget, bahkan Darrel juga kaget dnegan pernyataan tersebut. Kapan Darrel memberikan nomor telponnya ke gadis itu? Gadis itu halu?


" Bangke tuh cewek," ujar Darrel ddengan kesal dan memandang gadis yang tampak tersenyum mengejeknya. Jika bukan seorang gadis, pasti Darrel sudah menendang empedu orang itu sampai sekarat, berani – beraninya mengusik hubungan Darrel dan Luna yang baru saja membaik.


Radith tampak memanggil Darrel untuk mendekat, membuat lelaki itu langsung buru – buru mendekat agar dapat mendengar apa yang akan dikatakan oleh Radith, mungkin Radith merasa kesulitan dalam memasang atau mengerti gambar rangkaian baru, atau malah bisa saja rangkaian yang baru mereka buat eror dan tak sesuai jika di terapkan di dalam panel.


" Makanya gak usah gatel kak, dikerjain sama tuh cewek kan jadinya, coba kalau dari awal Lo gak senyam – senyum gitu ke dia, pasti dia gak kegatelan sama Lo kak," ujar Radith dengan senyum sinis dan kekehan, lalu langsung meninggalkan Darrel yang berdiri dengan dongkol, sementara Radith kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Darrel langsung meninggalkan ruangan itu karna kesal, biar Radith pusing dengan pekerjaannya, lebih baik dia mencari makan untuk mengisi perutnya.


*


*


*


" Lun, kok Lo kelihatan bete banget sih? Gimana mau kita ketemu Lucy kalau Lo kayak gitu? Ini udah susah payh buat minta ijin ke bokap Lo loh," ujar Key yang melihat Luna tampak tak minat saat mereka masuk ke dalam mobil.


Luna, Key, Adel ditambah Agatha memang sudah mengagendakan hari ini sampai tiga hari ke depan mereka akan datang dan melihat kondisi Lucy di tempat 'pengasingan'. Susah payah Luna meminta ijin pada papanya, akhirnya papanya memberikan iin dengan syarat pengawalan ketat dikirim oleh papanya itu.


" Gimana gue gak bete coba, tadi pagi gue VC sama kak Darrel, masak ada cewek tiba – tiba ngomong ' makasih nomor telponnya' kalau Lo jadi gue, Lo pada bakal bete gak?" tanya Luna meminta pendapat mereka dengan wajah dan suasana hati yang kesal.


" HAH? Serius? Yah kalau gue jadi kak Darrel juga bakal gitu sih, dia kan ganteng, tajir, jauh dari Lo pula. Kan enak tuh kalau punya cewek cadangan buat beberapa hari," jawab Key yag malah mengompori Luna dengan sengaja, Adel langsung menghela napas dan memijit hidungnya, belum ada setengah jam mereka berangkat, Key sudah berulah dan mencari masalah.


" Itu kan Lo, kalau kak Darrel kan setia, dia gak bakal mungkin kayak gitu di belakang gue, udah kapok gue di adu domba sama si Fera," jawab Luna yang tanpa sadar membela Darrel, membuat Key tersenyum puas memandang gadis itu.


" Nah, tuh Lo bisa jawab sendiri, kenapa Lo masih kesel?" tanya Key yang ternyata sengaja menjebak Luna, Luna tampak merenung dan menyadai ucapan taak disengajanya, memang dia tidak ykin Darrel melakukan hal itu, tapi mengapa gadis tadi mengatakan hal itu? Ah entahlah, lebih baik dia membuat moodnya naik dulu baru menyalakan ponselnya lagi.


Hari ini sampai seminggu ke depan mereka memang diliburkan karna kelas dua belas melaksanakan ujian. Kakak kelas Luna melaksanakan ujian sekolah hari ini, smeentara kakak kelas tiga gadis lainnya melaksanakan ujian nasional. Memang antara SMA dan SMK memiliki jadwal ujian yang berbeda.


Mereka sampai di bandara dan langsung menunggu keberangkatan mereka ke daerah dimana Lucy berada. Mereka tak tahu dan tak pernah mendengar bagaimana kabar Lucy, entah gadis itu dalam kondisi sehat dan sudah bertobat, atau malah bertambah jahat, entahlah, yang jelas sebagai sahabat mereka harus terus memberi dukungan moril pada Lucy yang memang sedang dalam titik terendahnya.


" Aku salaut sama persahabatan kalian, bahkan kalian tetap mau mengunjungi orang yang sudah mengkhianati persahabatan kalian. Hebat ya," ujar Agatha saat mereka sudah ada di dalam pesawat dan duduk nyaman di VIP Class. Mereka yang dipuji terkekeh mendengar hal itu keluar dari mulut Agatha yang biasanya hanya diam dan menyimak. Agatha sudah mendengar semua kisah mereka sampai Lucy yang 'diasingkan' dari Adel.


" Kalau kita langsung marah sama seorang sahabat yang menyalah gunakan kepercayaan kita, orang itu gak akan pernah merasakan adanya kesempatan kedua, padahal semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua," jawab Luna dengan tenang dan santai, membuat Agatha mengangguk paham.


" Cuma Luna yang bisa kayak gitu, gak tahu deh nih anak sebenrnya bego atau terlalu baik, kalau bukan karna Luna juga gue sama Key udah gak mau ada hubungan lagi sama Lucy. Tapi Luna bener, setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua," sahut Adel yang membuat posisinya nyaman dan memejamkan matanya untuk tidur.


*


*


*


Nantikan Kelanjutan kisahnyaaaaaaa


Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.


Adella


T(w)o Heart


Miss galak, Iove you


Ex lover


Soulmate


Thank you....


Love,


Eliz