
" Wah, Daebak, Lo beneran mau pakai kostum kayak gini? Apa gak berlebihan?" tanya Lira saat Luna memakai kostum lengkap dengan sayapnya. Luna terkekeh dan terus menatap ke arah cermin untuk melihat kostum yang sangat pas di tubuhnya ini. Luna cukup puas dan bangga dengan kostum buatan ahli yag dipesan secara khusus oleh papanya.
" Bagus kan? Keren kan? Katanya tuh di akhir acara bakal kayak ada kategori buat kostum terbaik, gue yakin sih gue bakal menang kalau pakai kostum ini," ujar Luna memegang sayap yang kaku di badannya. Sayap itu sangat besar dan tentu sangat berat, Luna bahkan langsung merasa sakit padahal sayap itu baru menempel sebentar di tubuhnya.
" Nah, kan, kan, sakit pan pundaknya. Udah gak usah dipakai tuh sayap sayap ribet. Gak pakai sayapnya juga udah bagus kok di badan Lo," ujar Lira yang membuat Luna menggeleng, gadis itu tetap ingin memakai kostum ini dengan lengkap, akhirnya Lira yang mengalah dan membiarkan Luna.
" Lo yakin mau dandan kayak zombie gitu? Serem tahu," ujar Luna saat Lira kembali fokus pada riasan wajahnya. Gadis itu memang pandai merias, entah itu menjadi cantik atau menjadi seram, namun mengapa gadis itu memiih menjadi Zombie? Luna saja ingin tampil cantik di acara ini, apa Lira tak mau menjadi pusat perhatian?
" Karna gue suka nonton film Train To Busan, makanya gue pingin pakai kostum zombie, apalagi tahun ini bakal ada series kedua dari Train To Busan itu, Lo harus nonton," ujar Lira yang membuat Luna meringis, menonton seri satu saja sudah membuat Luna tidak selera makan sekaligus merasa kasihan pada tokoh yang ada di sana.
" Eh? Lo cosplay Train to Busan kan? Kenapa Lo gak jadi Ibu hamil aja? Kan tokoh di sana ada tuh yang hamil tapi bisa lari lari jumpalitan sambil salto di udara," ujar Luna dengan asal, dia mengingat potongan film itu, dimana seorang wanita hamil yang terus berlari karna dikejar oleh Zombie, bagian itu pula yang membuat Luna merasa kasihan sekaligus ngeri.
Coba saja bayangkan saat seseorang sedang hamil tua dan dikejar oleh Zombie, lalu tiba – tiba dia kontraksi dan harus melahirkan di tengah kondisi tersebut, siapa yang akan menolong? Bahkan perawat di sana mungkin sudah menjadi zombie. Baiklah, pikiran ini terlalu jauh untuk sebuah film fiksi.
" Lo gila? Yang ada gue dipesenin Ambulance biar bisa melahirkan dengan tenang. Udah gih sana keluar dulu biar gue konsentrasi, lagian Lo gak pakai make up apa – apa? Maleficent kan cakep banget make up nya," tanya Lira yang membuat Luna beerpikir, namun dia merasa sudah cukup dengan kostum itu.
" Kalau gue make up tebel terus keringetan, malah ntar kayak emak – emak lagi kondangan yang make upnya tinggal pipi sama hidung, gak ah, gue gini aja," ujar Luna yang langsung keluar dari dalam kamar Lira dan memegang sayap yang sudah dia lepas dengan hati – hati.
Gadis itu menunggu kedatangan Leo yang sudah memberinya pesan akan datang satu jam lagi. Luna menunggu sambil menonton televisi, sampai akhirnya dia mendengar suara mobil yang berhenti, dia sudah menebak itu Leo, membuatnya sedikit berlari ke depan pintu agar Leo tak menunggu lama.
" Ah, kau sudah datang? Aku harus menunggu temanku, apa tak apa dia ikut?" tanya Luna yang baru ingat dia tak bilang pada Leo jika Lira ikut dengan mereka, untung saja Leo tak keberatan, dan untungnya lelaki itu membawa mobil yang muat untuk banyak orang.
" Kau sungguh memakai kostum ini! Aku sangat menyukainya, kau masih terlihat cantik dan elegan," ujar Leo dengan kagum, bahkan lelaki itu hanya memakai robin hood karna dia suka karakter tokoh tersebut. Luna yang dipuji pun hanya tersenyum malu dan menyentuh pipinya yang memanas, gadis itu meminta Leo untuk masuk dan menunggu di dalam.
" Ra! Buruan! Leo udah dateng, Lo lama banget sih!" seru Luna di depan kamar Lira. Leo tak tahu apa yang dikatakan oleh Luna, namun dia terkejut karna ini kali pertama dia mendengar Luna berteriak dan ternyata suaranya sangat nyaring, Leo sampai terkikik mendengar suara cempreng Luna.
" Apa kau tertawa? Maafkan aku, aku lupa ada kau di sini, aku ke dapur dulu, menyiapkanmu minuman," ujar Luna yang diangguki oleh Leo. Lelaki itu membuka ponselnya dan langsung serius karna ada banyak hal yang harus dilakukan olehnya. Lelaki itu menolak panggilan yang masuk, tidak mau orang di rumah ini mendnegar apa yang dia bicarakan dengan lawan bicara.
" Ah, kau sudah datang? Maafkan aku, aku harus menambahkan detail untuk luka di bagian wajah," ujar Lira nemunjuk bagian wajahnya, Leo bahkan sampai membuka mulutnya dan kagum dengan keahlian Lira, mereka mulai mengobrol sambil menunggu Luna menyiapkan minuman.
Luna datang dan meletakkan tiga gelas sirup di hadapan mereka. Mereka masih memiliki banyak waktu sebelum acara, daripada menunggu di sana, lebih baik mereka menghabiskan waktu di tempat ini. Lira dan Leo masih sibuk mengobrol menggunakan bahasa Korea, membuat Luna yang tak paham menjadi kesal karna dia tak bisa ikut masuk dalam obrolan mereka.
" Ah Mianhe, aku lupa kau tidak bisa berbahasa korea," ujar Leo menggunakan bahasa Inggris, sementara Lira langsung memutar bola matanya mendengar rengekan Luna, gaids itu mendengus dan mengambil salah satu gelas yang ada di sana dan meminumnya, lalu menawari Leo untuk minum, tentu masih menggunakan bahasa Korea.
" Makanya kalau tinggal di negara orang tuh belajar bahasa mereka biar ngerti kalau diajak ngobrol, ini Lo masih ketemu yang bisa bahasa Inggris, kalau Lo ilang terus gak ada yang bisa nolong gimana? Nangis Lo di pojokan gang," ujar Lira yang malah mengomeli Luna, Luna langung cemberut dan menatap Leo dengan melas, padahal Leo tak mengerti apa yang dikatakan oleh Lira.
" Apa yang dia katakan sampai wajahmu sedih? Ah, apapun itu, ayo kita segera pergi saja, kita bisa mencari tempat duduk yang enak untuk menikmati serangkaian acara," ujar Leo setelah melihat arloji yang ada di tangannya, Luna mengangguk dan menghabiskan cairan yang ada di gelasnya lalu berdiri.
Mereka segera pergi dari rumah Luna dan menempuh waktu cukup lama untuk sampai ke tempat tujuan. Leo banyak mengobrol dengan Lira di kursi depan, sementara Luna yang tak mengerti memilih untuk memejamkan mata, dia terlalu sibuk memikirkan malam ini sampai tak tidur tadi malam.
" Ah, kenapa sudah ramai sekali? Kostum mereka sangat bagus, aku tak yakin bisa menang," ujar Luna dengan sedih, hal itu tentu membuat Leo dan lira saling berpandangan, Leo langsung terkekeh melihat respon itu, Luna sangat ingin menang dan bahkan mengeluarkan banyak uang untuk event ini.
" Mari kita hanya bersenang – senang dan tak memikirkan hal itu, apalagi menurutku kau yang terbaik, kostummu sangat mewah dan snagat bagus, mari kita lakukan saja," ujar Leo yang membuat Luna mengangguk, mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke tempat itu. Luna sangat terkagum dengan desain yang ada di dalam sana.
" Ayo kita mencari tempat duduk dulu, kau harus perhatikan langkahmu agar sayapmu itu tak menampar orang di sekitarmu," ujar Leo sambil menunjuk sayap yang dipakai oleh Luna, gadis itu terkekeh dan melindungi sayapnya agar tak mengenai orang lain, mereka mencari tempat duduk paling pojok dan mengobrol untuk membunuh waktu.
" Gue haus, gue mau cari minum dulu. Lo sama Leo tunggu di sini aja," ujar Lira yang membuat Luna mengangguk, gadis itu melepaskan sayap yang dia pakai dan duduk dengan nyaman, Leo sendiri tampak melihat ke arah kiri dan kanan, dia melambaikan tangan ke arah salah satu orang yang ada di sana.
" Aku harus menemui temanku dulu, apa kau tak apa aku tinggal? Kau harus menunggu Lira, jangan pergi kemanapun," ujar Leo saat Luna memperbolehkan Leo untuk pergi, lelaki itu sedikit berlari untuk menemui seseorang yang dia cari, seorang wanita dengan kostum serba hitam, Leo tampak memeluk wanita itu dan berseda gurau.
" Apa itu Pacarnya? Apakah orang di negara ini selalu menyukai dia yang lebih tua darinya? Wanita itu kelihatan tua banget Leo," ujar Luna menggelengkan kepalanya dan berdecak, gadis itu langsung mengalihkan pandangannya saat dia melihat Leo mendekat dan hendak mencium orang itu.
" Emang sejak awal mah dia gak suka sama gue, gue nya aja yang kegeeran, udah seintim itu mereka," ujar Luna menggelengkan kepalanya dan menggetarkan bahunya karna merinding, gadis itu merasa bosan, acara sepertinya akan molor dan tak akan mulai tepat waktu sementara Lira tak kunjung kembali, membuat gadis itu memilih untuk berdiri dan mencari Lira.
Gaids itu melihat banyak minuman yang ada di sana dan ingin mencobanya, dia sudah mengambil satu gelas, namun saat hendak meminumnya, gadis itu teringat kejadian terakhir dia meminum minuman sembarangan, membuat gadis itu akhirnya meletakkan kembali minuman yang dia pegang.
" Kalau dulu gue mabuk ada kak Darrel yang bakal jagain gue, mulai sekarang gue harus jaga diri gue sendiri, ah, kenapa di saat kayak gini gue keingat sama dia ya?" tanya Luna yang langsung memukul pelan kepalanya, gadis itu mencari minuman yang tidak berbahaya, air putih. Dia mengambil satu gelas berisi air putih dan mencium aromanya, memastikan yang di dalam gelas itu benar air putih.
" Gadis dewasa sepertimu hanya meminum air putih? Ah, kau harus mencoba Soju atau minuman beralkohol lain, ini sangat lexat." Seseorang tiba – tiba datang dan mengulurkan sebuah gelas ke hadapan Luna, Luna tak paham apa yang dikatakan oleh orang itu, Luna hanya memandangnya dengan aneh.
" Sorry bang, gue gak paham bahasa Korea, Lo minum ja sendiri," ujar Luna dengan bahasa Indonesia dan tersenyum sopan lalu segera pergi dari hadapan lelaki yang kini menatapnya dengan bingung, tentu saja dia bingung karna Luna tak mengatakannya daam bahasa Korea.
Sementara itu Lira yang kembali ke tempat duduknya dengan dua gelas sirup tak beralkohol langsung mendecakkan mulutnya karna Luna dan Leo tak ada di sana. Lira harusnya tahu jika alasan Leo mengajaknya ke tempat ini unutk mendekati Luna, entah tujuan mendekati itu untuk apa., Lira juga masih berusaha menyelidinya, namun sejauh ini yang dia temukan, Leo bersih dari perilaku jahat.
" Baru ditinggal bentar juga udah ngelayap mereka berdua. Semoga aja tuh laki gak aneh – aneh sama Luna," ujar Lira yang akhirnya meminum minuman yang dia pegang dan meletakkan salah satu gelas ke meja yang ada di sana. Lira duduk di kursinya dan menunggu Luna untuk kembali.
" Ah, kau sudah kembali? Dimana Lunetta?" tanya Leo saat susuk di samping Lira membawa seorang wanita yang tersenyum manis ke arah Lira. Lira tak menanggapi senyuman itu dan menatap Leo dengan kaget. Dia kira Luna pergi bersama Leo, namun lelaki itu malah pergi dengan orang lain.
" Ak ukira kau pergi bersama Lunetta. Aku usdah bilang pada kalian untuk menungguku, apa kau tidak melakukannya? Apa kau tahu Luna ada di mana?" tanya Lira dengan panik, Leo dan wanita yang menjadi kekasihnya itu langsung menatap Lira dengan kaget. Terutama wanita yang tak tahu menahu tentang Luna.
" Aku pergi ke tempat ini bersama dua orang gadis, yang satu adalah modelku dan dia ini temannya. Sekarang wanita yang menjadi modelku itu menghilang entah kemana, sdangkan orang itu tak bisa bahasa korea," ujar Leo menjelaskan pada kekasihnya, kekasihnya itu langsung menunjukkan wajah kaget dan khawatir.
" Itu akan menjadi bahaya jika kalian tak segera menemukannya, kalian lekas cari dia dan aku akan menunggu di sini, aku akan memberi kabar jika dia sudah kembali," ujar wanita itu yang membuat Lira teringat dan mengambil ponsel untuk menelpon Luna, namun gadis itu kembali berdecak karna Luna meninggalkan tasnya di kursi.
" Pabo-ya. (idiot / bodoh)," ujar Lira dengan kesal dan langsung berdiri untuk mencari Luna, hal itu juga dilakukan oleh Leo sementara wanita yang menjadi kekasih Leo menengok ke kiri kanand engan kahwatir, dia mencari gadis asing itu, namun dia tak yakin karna dia sendiri tak tahu gadis yang dicari Leo memakai kostum apa.
Sementara Itu Luna di tempat lain masih mencari camilan yang enak dan memakannya, dia juga masih mencari minuman non alkohol yang bukan air putih. Dia juga ingin merasakan sirup atau paling tidak minuman bersoda, meski dia masih memiliki trauma dengan minuman asing.
" Kenapa perasaan gue tiba – tiba gak enak sih?" tanya Luna yang melepas tanduk di kepalanya, gadis itu mulai merasa berat pada kepalanya, dia memilih untuk melepas tanduk itu dan berjalan ke arah balkon untuk mencari udara segar, ruangan itu sangat pengap karna banyaknya orang di sana.
Tanpa Luna sadari, seseorang datang mengikutinya dan langsung berdiri di belakangnya. Luna langsung berbalik dan memeelotorkan matanya, namun belum sempat Luna berteriak, orang itu membekap mulut Luna dengan kain. Luna meronta dan berusaha untuk berteriak, namun lama kelamaan dia merasa pusing dan pandangannya mengabur.
" Gue dibius?" tanya Luna pelan, sesaat setelah itu Luna memejamkan matanya dan tangannya langsung melemas, gadis itu kehilangan kesadaran dengan cepat dan setelah itu, tak ada satupun yang tahu apa yang terjadi padanya.