Hopeless

Hopeless
chapter 71



Luna berlari menghampiri Radith yang menatapnya dengan santai, lelaki itu bahkan sudah duduk tenang di emperan toko kelontong yang tutup. Luna langsung duduk di sebelah Radith dan menampakkan wajah kesalnya karena ditinggal oleh lelaki itu.


“ Lo kok ninggalin gue sih dith? Jadi kehujanan nih gue,” ujar Luna menggosok – gosokkan tangan ke lengannya sendiri.


“ Lo tadi masih ngelamun, gak tega gue kalau harus ganggu, ya jadi gue tinggal lah,” ujar Radith tanpa dosa, membuat Luna semakin kesal dibuatnya.


“ Yakan Lo bisa manggil gue dith, basah semua kan jadinya,” sahut Luna dengan kesal, sepertinya Radith sengaja membuatnya kebasahan seperti ini.


“ Ya mana gue tahu, gue kan gak bisa baca pikiran Lo, siapa tahu Lo emang suka hujan hujanan ,” jawab Radith tanpa dosa, membuat Luna kesal dan enggan menjawab perkataan Radith lagi.


Suasana menjadi hening, Hujan deras disertai angin yang tiba – tiba bahkan tanpa gerimis cukup membuat Luna basah kuyup. Gadis itu berusaha menghangatkan tubuhnya, tampak wajahnya menggigil bahkan bibirnya sudah memutih, beberapa kali Luna meniup tangannya agar lebih hangat.


Radith yang melihat itu tentu menjadi tidak tega, lelaki itu langsung melepas jaket yang dia kenakan dan mengulurkan jaket tebal itu kepada Luna. Radith tahu Luna tidak akan membawa jaket karena dia selalu menaiki mobil setiap berangkat dan pulang.


Luna menatap jaket yang diulurkan Radith dengan bingung, melihat itu tentu Radith menjadi geram, tidak bisakah Luna peka dan tidak lemah otak disaat seperti ini? Radith sedang malas bicara, tapi Luna tidak bisa diajak kompromi.


“ Pakai jaket gue biar gak kedinginan,” ujar Radith yang masih mempertahankan posisinya meski lengannya sudah mulai pegal.


Jaketnya cukup berat, dia harus mengulurkan tangan cukup lama menunggu otak Luna menyambung pada servernya.


Luna menggeleng pelan dan mendorong jaket itu kearah Radith, membuat lelaki itu menatap Luna dengan bingung. Bukankah gadis itu sedang sangat kedinginan? Entah apa seumur hidupnya pernah kehujanan sebelumnya. Ah Radith lupa, Luna kan pernah hujan – hujanan, saat dia ‘diculik’ oleh Syifa.


“ Buat Lo aja, kan itu punya LO,” ujar Luna menolak penawaran Radith, gadis itu merasa tidak enak harus terus merepotkan Radith.


Tidak Luna sangka, Radith mengangguk dan memakai kembali jaketnya, tidak berniat membujuk, memaksa bahkan menawari Luna sekali lagi. Luna kan hanya berbasa – basi, dia sungguh kedinginan dan membutuhkan jaket itu.


Luna menekuk lututnya dan mengerucutkan bibirnya. Apakah lelaki sedingin Radith memperlakukan kekasihnya dengan baik? Sepertinya tidak, nyatanya kini Luna dibiarkan kedinginan sampai seperti ini.


Radith melirik Luna tanpa gadis itu ketahui, dia terkekeh melihat wajah kesal Luna saat dia sengaja tidak menawari jaket kembali kepada gadis itu.


Luna merasakan sesuatu menutupi bahunya dan rasanya sedikit hangat, rupanya Radith langsung memakaikan jaket itu untuk Luna tanpa bicara terlebih dahulu, membuat jantung Luna berdegup cukup keras karenanya.


“ Kalau kedinginan gak usah sok sok an nolak bantuan orang, Lo bisa mati kedinginan kalau gengsi,” ujar Radith santai saat kembali ke posisinya, Radith tampak menghela nafas melihat motor maticnya yang kedinginan.


“ Makasih ya dith,” ujar Luna tersenyum lebar, ternyata Radith peka juga kepadanya.


“ Sorry gue Cuma punya jaket satu,” ujar Radith tanpa sadar, membuat Luna menengok ke arahya dan menatap lelaki itu dengan bingung.


“ Lo ngomong sama siapa dith? Bukan sama gue kan?” Tanya gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


“ Gue ngomong sendiri,” ujar Radith saat merasa Luna terus menatapnya, mendengar itu Luna langsung melengos dan menatap kembali jalanan yang masih diguyur hujan.


Gadis itu mengulurkan tangannya agar terbasahi oleh air hujan, membiarkan tangannya sampai memutih dan bergaris – garis, membuat Radith menatap Luna dengan tatapan risih, apakah Luna tidak pernah bermain hujan saat kecil dulu?


“ Lo kok jorok sih? Itu kan air dari genting,” ujar Radith yang akhirnya tidak tahan melihat Luna dengan gembira memainkan air hujan itu.


“ Ya terus kenapa?” Tanya Luna dengan heran, mengapa Radith sampai serisih itu?


“ kalau udah sampai genting bisa aja diatas itu ada tai burung, ada tai kucing, kalau airnya lewattai itu dulu baru sampai ke tangan Lo gimana?” Tanya Radith dengan gidikan geli.


Luna menatap tangannya yang terguyur air, seketika dia tersadar dan menarik tangannya, mengibas – ibaskan tangan itu agar kering dari air tersebut.


“ Lo gak ngingetin gue dari tadi, gue kan gak tahu,” ujar Luna dengan kesal dan mengelap tangannya menggunakan jaket milik Radith tanpa sadar.


“ Lo nya yang jorok kok gue yang disalahin dan satu lagi ya, kenapa jaket gue yang Lo pake buat lap? Kotor dong jaket gue, gimana sih,” protes Radith yang tidak terima jaketnya digunakan sebagai lap.


“ Bodo amat,” ujar Luna dengan tidak peduli, membuat Radith pasrah merelakan jaketnya menjadi korban kekejaman Luna.


Tiba – tiba Luna berdiri dan teringat sesuatu, gadis itu tampak menengok kanan dan kiri, namun tidak menemukan apapaun. Radith yang melihat itu tentu menjadi bingung, apakah ada seseorang yang Luna cari?


“ Pak, Pak dimana pak? Keluar Pak, Luna butuh bantuan!” Teriak Luna dengan keras. Radith merasa Luna sudah gila, jelas – jelas disini tidak ada orang, Luna berteriak dengan siapa?


“ Lun, Lo gak usah gila, disini tuh Cuma ada kita sama pengawal rahasia yang dikirim.….”


“ ASTAGA! Kenapa gak kepikiran dari tadi?” Seru Radith sambil menepuk jidatnya dengan reflek.


Luna terkekeh melihat ekspresi terkejut Radith, untung saja dia kepikiran dua orang yang bertugas menjaga mereka, kalau tidak mereka pasti terjebak di tempat ini lebih lama lagi.


Apalagi hari sudah gelap, waktunya Preman dan Wanita setengah jadi akan keluar mencari rejeki.


Daerah yang sepi seperti ini tentu rawan dengan mereka yang memang mencari uang dengan cara yang tidak baik. Bukan Luna tak rela jika dia dibegal atau uangnya diambil paksa, dia sesungguhnya juga kasihan pada mereka yang tidak tahu dan membegal Luna, mereka akan berakhir dengan mengenaskan.


Luna bahkan tak mendengar kabar dari Pak Begal yang tempo lalu ingin merampoknya, mungkin sudah dibawa ke kantor polisi? Atau mungkin dibawa ke kantor Jordan? Luna yakin pilihan pertama jauh lebih baik untuk mereka.


Ah iya, bicara soal begal, bahkan sampai saat ini Darrel belum menepati janjinya untuk mengajaknya menjadi begal. Mohon maaf dan jangan herankan isi kepala Luna, mungkin sebagian besar hanya berisi air yang mengalir sampai jauh.


Akhirnya muncul dua orang yang entah darimana.


" Pak, kenapa gak keluar daritadi sih?" tanya Luna dengan kesal menatap dua orang itu bergantian. Orang itu berpandangan satu sama lain sebelum akhirnya menjawab.


" Maaf Nona, kmi tidak boleh keluar kecuali keadaan darurat atau kalian yang memanggil kami," ujar salah seorang dari mereka dengan sopan.


Luna berdecak dan tidak menjawab saat mengetahui mereka sudah benar karena mengikuti SOP yang ada. Toh memang begitu aturannya untuk menjaga kenyamanan Lunetta.


" Pak ada ponsel kan? Ada pulsa kan? Tolong telpon supir disuruh jemput kita dong, terus telpon orang bengkel buat bawa motor Radith," ujar Luna meminta tolong.


Mereka mengangguk dan membagi tugas, seorang menelpon supid, seorang lagi menelpon orang bengkel. Namun ada satu hal yang membuat Luna penasaran.


" Kalian kan selalu ngikutin kita, terus gimana cara kalian ngikutin kita kalu lagi naik mobil? Kalian naik apa?" tanya Luna dengan wajah keponya.


Kedua orang itu saling berpandangan, seakan enggan memberitahu Luna yang sebenarnya, namun karena Luna tuan mereka, mereka tidak boleh bohong pada Luna.


" Kami menaiki motor masing masing nona," ujar orang itu dengan sopan, membuat Luna menepuk jidatnya dengan gemas.


" Kenapa gak pulang sama kalian? Kenapa harus telpon supir?" Tanya Luna dengan gemas.


" Ya bener, bener kalian, yaudah, makasih ya," ujar Luna dengan dongkol, Namun berusaha untuk tersenyum.


" Udah sih, yang penting bisa pulang, " ujar Radith menenangkan Luna. Gadis itu akhirnya hanya mengangguk dan duduk kembali untuk menunggu supir.


Tak butuh waktu lama, dua orang dari bengkel dan sebuah mobil dstang bersamaan ke arah mereka, membuat Luna dan Radith langsung bangun dan berjalan ke arah mobil.


" Ke rumah Lo dulu aja, takutnya Lo keburu dicariin," ujar Radith saat Luna membuka mulutnya namun belum mengeluarkan suara.


Mobil tersebut segera melaju menuju rumah Luna, Luna tampak kedinginan dan tak nyaman dengan AC yang dinyalakan.


" Pak, suhunya tolong dinaikkan, Lunetta kedinginan," ujar Radith pada supir yang ada di depan. Supir itu mengangguk dan mematikan AC mobil itu, menggantikannya dengan penghangat ruangan, membuat Luna mulai duduk dengan nyaman bahkan memejamkan matanya.


Radith yang melihat wajah mengantuk Luna entah mengapa menjadi geli dan terkekeh, gadis itu tampak lebih lugu dan damai, enak untuk dipandang.


Luna tampak tak nyaman dalam tidurnya, membuat Radith berinisiatif untuk memindahkan kepala Luna ke bahunya, membuat napas Luna jauh lebih teratur tanda nyaman dalam tidurnya.


Radith mulai mengelus kepala Luna dengan penuh sayang, mungkin hanya ini yang dapat Radith lakukan untuk Luna.


" Gue gak bisa kasih hati buat Lo karna akan nyakitin banyak orang, Lo juga gak seharusnya ngasih hati ke gue, ada Darrel yang tulus sama Lo, " Ujar Radith saat tahu Luna terlelap dengan nyenyak.


" Blenda jauh lebih butuh gue saat ini, gue harus ada buat dia, maafin gue ya, jangan suka sama gue, tapi jangan benci sama gue," ujar Radith tersenyum manis.


Radith melirik supir yang fokus pada jalanan, Radith tahu pria itu mendengar semua yang Radith katakan.


" Pak, jangan mendengar dan bilang apapun ya, saya gak pingin ada masalah baru setelah ini," ujar Radith memperingati supir itu. Tampak pria itu mengangguk patuh tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Radith mengagguk lega dan kembali menatap wajah Luna, gadis itu menggeliat karena tak nyaman, membuat Radith mengelus kepala Luna untuk menenangkan gadis itu.


" Seandainya Blenda gak sakit, mungkin gue udah nembak Lo, tapi sekarang keadaannya udah jauh berbeda," ujar Radith tersenyum miris.


Takdir, Radith pria yang percaya adanya takdir, jika saja Kondisi Blenda tidak memburuk kala itu, Radith berencana memutuskan hubungan dengan Bleda dan menembak Lunetta, namun ternyata kondisi gadis itu memburuk, bahkan tidak membaik sampai saat ini.


Radith takut, dia terlalu takut akan kehilangan Blenda jika Radith memilih Lunetta, Radith tidak mau itu terjadi.


" Sekarang kita harus hadapi takdir masing masing mulai dari sekarang, gue tahu Lo bisa, Lo kuat dan Lo punya Darrel disamping Lo. Setidaknya gue tenang kalau dia yang jaga Lo."


Mobil berhenti, membuat Radith menengok dan menyadari mereka sudah sampai di rumah Luna, Radith segera membangunkan Luna dengan lembut.


" Luna, bangun, " ujar Radith membangunkan Luna dengan pelan sambil menggoyangkan bahunya.


Luna bergerak tak nyaman dan membuka matanya perlahan, dia membuka jaket yang membungkus tubuhnya dan memberikan jaket itu pada Radith lalu kembali menutup matanya.


Radith memutar bola matanya dan beruasaha membangunkan Luna, namun sepertinya gadis itu tidak berniat bangun sama sekali.


"Luna dicari sama Darrel Lun," ujar Radith tepat di telinga Luna, membuat gadis itu membuka matanya sempurna dan melihat sekitar.


" Nyebelin Lo, ngagetin aja," ujar Luna memegang kepalanya yang pusing karena kaget.


" gue gak bohong, tuh lihat ke arah pintu, ada Darrel disana," ujar Radith menunjuk ke arah Darrel berada.


" gue naik motor aja sama pengawal gue, biar supir Lo gak bolak balik, gue balik dulu," ujar Radith yang keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah Luar.


Semua yang dilakukan Radith tak lepas dari pandangan Darrel, lelaki itu menunggu Luna keluar dari mobil dan menjelaskan sendiri padanya.


" Pergi kemana gak pamit, pulang larut gak ngabarin, bareng sama dia pula, mau kamu apa sih Lun?" tanya Darrel yang tidak bisa menahan lagi amarahnya.


" Aku ngerjain tugas KWU kak, terus rantai motor Radith putus jadinya pulang larut, terus Radith kan satu kelompok sama aku, ya bareng lah, gimana sih," ujar Luna yang juga tak santai.


" Tapi harusnya kamu ngabarin aku, aku masih pacar kamu, " ujar Darrel yang sudah menurunkan nada bicaranya, tak ingin memperkeruh situasi.


" Ponsel aku mati kak, aku juga udah berusaha ngabarin, kalau gak keinget ada pengawal juga sampai sekarang Luna gak bisa pulang," jawab Luna dengan lelah


" Lagian ksk Darrel gak usah sok bilang pacar Luna pacar Luna, nyatanya aja kak Darrel berduaan sama cewek lain," ujar Luna melirik sinis ke arah Darrel.


" MAKSUD KAMU APA?"


" MAKSUD AKU CEWEK YANG JAJAN BARENG KAK DARREL DI GERBANG BELAKANG"


" ITU KAN TEMEN AKU, KAMU GAK USAH CEMBURU BUTA DONG."


" YA UDAH KAK DARREL GAK USAH CEMBURU JUGA SAMA RADITH"


" YA BEDA DONG, KAMU GAK BISA SAMA SAMAIN DIA SAMA RADITH."


" SAMA AJA LAH, KAK DARREL MELEBIH LEBIHKAN."


" YAUDAH GAK USAH NGEGAS DONG LUN."


" SIAPA YANG NGEGAS? ORANG LUNA NGOMONG BIASA DARITADI."


" LAH ITU KAMU PAKAI HURUF BESAR SEMUA, NGEGAS BANGET."


" TANYA AUTHORNYA LAH, SENGAJA NULIS CAPSLOCK SEMUA BIAR YANG BACA JADI ENGAP."


" UDAH GUYS, GAK USAH NGEGAS BACANYA, INI DARITADI KITA NGOMONG BIASA, AUTHORNYA AJA YANG RESEK."


" Udah Sana kak Darrel pulang, udah malem kak," ujar Luna menguap dan mendorong Darrel untuk pulang.


" Yaudah, aku pulang, kamu istirahat, mandi dulu pakai ait hangat," ujar Darrel memberi pesan dan berjalan menjauh.


" Oke siap, Hati hati kak," ujar Luna melambaikan tangan menunggu Darrel pergi dari rumahnya.


Luna masuk ke dalam rumah setelah Darrel benar benar pergi dari sana, ingin segera mandi dan segera tidur, menjemput mimpi Indahnya yang