Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 45



Darrel mengusap wajahnya yang terasa dan terlihat lelah. Lelaki itu tak mau pekerjaannya jadi menumpuk dan dia harus menghabiskan akhir pekannya menghadapi setumpukan berkas ini. Lelaki itu merangkan tubuhnya dan meminum sedikit air yang ada di hadapannya. Lelaki itu harus puas dengan hidup seperti ini, padahal biasanya dia masih meminum kopi untuk obat mengantuk.


" Kerja lembur bagai pangeran biar disayang banyak orang lalu menikah dengan Luna seorang, semangat abang Darrel," ujar lelaki itu menyemangati diri sendiri. Lelaki itu kembali mengurusi berkas – berkas yang masih ada setengah, stelah ini dia harus pergi lagi ke panti asuhan untuk survey tempat yang sempat tertunda beberapa saat karna berbagai macam alasan.


Tiba – tiba saja lelaki itu mendapat telpon dari nomor yang jarang mengabari ponselnya, lelaki itu bahkan baru sadar jika selama ini dia mengabaikan ponsel pribadinya. Dia mengabaikan panggilan itu dan memilih untuk melihat pesan – pesan yang dikirim oleh Luna dengan nomor asing. Padahal dia sendiri yang meeminta Luna untuk mengabari dirinya, namun malah dia yang tak bisa dikabari.


Darrel hendak membalas pesan Luna, namun nomor yang sama kembali menelponnya. Lelaki itu akhirnya menajwab, takut sesuatu yang penting sudah terjadi. Lelaki itu mengucapkan salaam dan disambut oleh sesuatu yang tak terduga. Lelaki itu langsung mematikan ponselnya dan pergi dari kantornya, meninggalkan semua berkas dan masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.


*


*


" Begitulah presentasi dari bagian pemasaran, apabila ada yang ditanyakan, atau memberi kritik saran dipersilakan," ujar seseorang yang mengakhiri presentasi ide pemasaran yang akan dia lakukan jika sudah mendapat ijin dari bagian tertinggi.


" Pak Darrel mungkin bisa memberi saran?" tanya seseorang yang membuat mereka semua termasuk Karin yang direktur menatap ke arah lelaki itu. Darrel yang dipanggil tak menyahut sedikitpun. Raganya memang ada di sini, namun pikirannya melayang ke arah lain, lelaki itu bahkan hanya menatap ke arah meja yang ada gelasnya.


" Pak Darrel?" panggil orang itu lagi untuk memastikan Darrel mendengar panggilannya, lelaki itu menengok dan menatap dia yang sedang presentasi. Darrel mengangguk dan langsung membenarkan dasinya, membereskan kertas yang ada di hadapannya dan langsung bangkit berdiri dari rumah rapat itu. membuat mereka semua menatap Darrel dengan hening, tentu saja mereka merasa bingung dengan sikap Darrel.


" Silakan kalian lanjutkan sendiri. Saya akan menerima apapun hasilnya annti, tolong untuk Karin, kamu bisa menggantikan saya memimpin rapat, saya ada hal lain yang perlu dikerjakan. Taruh berkas hasil rapat di meja saya, saya akan memeriksanya besok. Mengerti?" tanya Darrel yang membuat mereka loading untuk beberapa saat.


" Siap pak, saya akan melakukan yang terbaik dan tidak mengecewakan anda," ujar Karin karna yang lain hanya diam, dia takut akan membuat Darrel semakin marah dan akhirnya malah mengamuk, Darrel tersenyum tipis dan langsung pergi dari ruangan itu, menyisakan tanda tanya bagi mereka yang masih ada di dalam ruangan itu.


Darrel berjalan cepat ke dalam ruangannya, lelaki itu tampak gelisah dan seakan memiki beban yang sangat berat. Lelaki itu mengambil ponselnya dan langsung mnghubungi seseorang yang sejak kemarin tanpa sengaja dia abaikan. Saat dering pertama, orang itu langsung mengangkat panggilan dari Darrel dan langsung emngomel, membuat Darrel terkekeh mendengar suara orang itu.


" Aduh, gimana ini, aku udah kangen banget sama kamu. Aku kangen sama suara kamu dan aku kangen ketemu sama kamu," ujar Darrel yang membuat Luna berhenti mengoceh, gadis itu langsung memarahi Darrel karna gombal padanya, membuat Darrel memayangkan wajah Luna yang bersemu, pasti sangat lucu.


" Kamu di sana baik – baik aja kan? gak aneh – aneh kan? Udah ketemu sama cowok ganteng belum? Kok gak kirim fotonya ke aku?" tanya Darrel yang membuat Luna menghembuskan napasnya dengan panjang, lelaki itu langsung tahu jika liburan yang dilakukan Luna tak sepenuhnya menjadi liburan yang menyenangkan.


" Sebenernya ada kak tadi waktu Luna pergi ke itu tempatnya yang ada patung – patung lilin tuh lho kak, Luna lupa namanya, nah tadi dia tuh kayak mau bantuin Luna, niatnya sih modus gitu," ujar Luna yang mulai mengadu pada Darrel, gadis itu menggunakan kata – kata yang lucu, membuat pikiran Darrel makin campur aduk karna rindu.


" Terus dia godain kamu gitu? Mana fotonya? Biar aku bisa silahturahmi gitu, terus tanya dia mau peti mati atau di kremasi? Dia mau pilih lahan rumah masa depan dua kali satu di daerah mana?" tanya Darrel yang membuat Luna berdecak.


" Ih bukan gitu, dia belum jadi godain Luna karna kak Key, masak kak Key bilang kalau Luna udah hamil dan gak ada bapaknya dan Luna lagi cari bapak buat anak Luna, kan ngawur banget kak," ujar Luna dengan kesal, Darrel langsung terdiam mendengar perkataan Luna, membuat gadis itu juga terdiam beberapa saat untuk menunggu respon lelaki itu.


" Ih kak, kenapa diam aja ih? Marah kek sama kak Key, kan kayak ngedoain gitu, Luna kan gak mau kak. Luna juga bentar lagi kan nikah sama kak Darrel, Luna gak mungkin lah hamil gak ada bapaknya," ujar Luna menggelengkan kepalanya dan mengelus perutnya sambil mengatakan 'amit – amit' berulang kali agar hal seperti itu tak terjadi padanya.


" Aku habis ini mau terbang ke Inggris, aku kangen banget sama kamu. Kalau udah sampai aku bakal kabarin kamu. See you there," ujar Darrel yang dijawab sorakan girang dari Luna.


" Oke deh, kak Darrel hati – hati ya, kak Darrel kalau capek tidurnya di pesawat aja biar sampai sini bisa main sama Luna gak Cuma tidur aja. Oke kak? Oke. Take care ya, Love you," ujar Luna yang langsung memutuskan sambungan telpon karna merasa malu dan tak siap mendengar respon Darrel. Gadis itu menatap wajahnya yang terpantul di kaca.


" iiihh bahagia banget calon suami bakal ke sini. Apa gue harus ganti kewarganegaraan juga? Haduh, haduh, ngawur deh ngawur, kalau gue ada di sini, ntar mama malah kesepian dong, ngawur Lo Lun," ujar Luna yang menggelengkan kepalanya dan memilih untuk memeluk bonekanya satu persatu karna bahagia seakan yang dilakukan Darrel adalah hal besar.


Sementara itu Darrel langsung berdiri dan meminta pengawalnya menyiapkan tiket pesawat paling cepat dan pesan beberapa untuk pengawal yang akan dia bawa. Lelaki itu langsung menyiapkan ponsel dan dompet serta passport dan visa lalu segera pergi ke bandara.


" Segila ini gue, pergi ke Inggris kayak mau pergi ke rumah tetangga. Gak bawa baju, gak ada persiapan. Lo emang anak yang hebat Rel, bisa bertahan hidup dengan modal nekat," ujar Darrel yang langsung membuka tas yang dia bawa. Lelaki itu memakan sedikit nasi dan sayur serta telur setengah potong dan memakannya selama perjalanan ke bandara. Setelah itu dia langsung meminum obatnya agar dia tak kambuh.


Ponsel Darrel berbunyi sesaat setelah dia sampai di bandara dan dia mendapati nama Radith ada diponselnya. Sepertinya Radith sudah mendapatkan informasi lagi mengenai kasus yang mereka selesaikan bersama, namun Darrel tak sedang ada di waktu luang untuk itu semua.


" Gue ini lagi di bandara mau berangkat ke England, gue percaya ke Lo aja ya. Ntar Lo kabarin aja apa yang harus gue lakuin, sisanya Lo urus dulu aja. Oke oke, Lo emang sahabat gue yang baik. Oke sip, I Love You. Hahahahah." Darrel menutup panggilannya saat mendengar Radith yang mengomel jijik.


Setelah berada di udara selama lebih dari enam belas jam, akhirnya Darrel bisa meregangkan tubuhnya lagi dan menghela napas panjang. Meskipun dia hanya tidur, menonton film dan makan, tetap saja rasanya ellah harus berada dalam pesawat selama itu. Rasanya sangat berbeda dengan pesawat pribadi yang biasa dia gunakan untuk bepergian dalam urusan bisnis.


Darrel tak menyangka gadis itu akan melakukan hal ini, jika dia tahu, dia pasti akan melarang Luna. Mereka bisa saja betemu langsung di rumah Luna agar gadis itu tak perlu repot, namun Luna sendiri ingin langsung menghabiskan waktu bersama Darrel, meski terdengar egois, Darrel tetap menyetujuinya.


" Kita ke London Eye aja yuk kak, kalau malam bagus banget ke sana romantis juga, sebenernya Luna mau ajak ke Sungai Thames, tapi kalau jam segini udah tutup, percuma," ujar Luna yang membuat Darrel mengerutkan keningnya, lelaki itu langsung mengambil tangan Luna dan menggandengnya lalu mengajak Luna pergi dari sana.


" Memang kamu di sini udah dari jam berapa? Sampai udah searching – searching gitu?" tanya Darrel yang membuat Luna mengamati ponselnya. Luna di sini dari satu jam yang lalu sih kak, Luna kira perjalanannya cuma lima belas jam, ternyata sampai enam belas jam lebih," ujar Luna yang mengedikkan bahunya.


" Astaga, maaf ya, padahal aku gak minta dijemput loh, aku kan banyak pengawal di sini, tinggal ngabarin juga pasti dijemput," ujar Darrel yang merasa tak enak hanya menggandeng Luna, lelaki itu melepaskan gandengannya dan memilih untuk merangkul gadis itu sementara Luna memeluk pinggangnya.


" Gak papa kok kak, Luna juga bingung mau ngapain di rumah. Danesya lagi sibuk pemotretan, kak Key ikut dia, lah Luna mager kalau mau ikut kayak gitu, Luna Cuma rebahan aja dari tadi. Makanya ini sekalian mau main sama kak Darrel," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa. Lelaki itu mengajak Luna untuk masuk ke dalam mobil dan mereka segera pergi dari tempat itu.


Mereka sampai di London Eye dan Luna langsung memelototkan matanya karna pemandangan di tempat ini jauh dan jauh lebih indah dari tadi siang saat dia ada di tempat ini. Gadis itu tak henti – hentinya berdecak kagum dan langsung mengajak Darrel untuk mengantre.



( sumber gambar dari Google)


" Tadi siang Luna ke sini kan kak, nah Luna tuh ngantre panjang banget kak, tapi malam ini jauh lebih panjang. Ternyata orang orang lebih suka lihat waktu malam," ujar Luna yang membuat lelaki itu terkekeh. Darrel sendiri baru pertama kali ke tempat ini, dia sering pergi ke London, namun tak memiliki waktu untuk berlibur.


Saat mereka sudah ada di dalam sana bersama beberapa orng Lain, Luna tak henti mngambil gambar pemandangan yang sangat indah karna lampu – lampu kota menghiasi kota London dengan sangat cantik. Luna juga mengambil banyak selca dengan Darrel, lelaki itu tampak bahagia melihat wajah Luna yang sangat cerah.


" Kamu nanti lama di sini jangan jadi gendut loh ya, isinya Cuma rebahan, liburan, makan, begitu terus diulang – ulang," ujar Darrel sambil mencubit pelan pipi Luna yang cukup chubby. Gadis itu seakan bertambah bongsor setelah mereka lulus dari sekolah mereka, mungkin setelah lulus Luna merasa lebih bebas dan tak memiliki beban.


" Gak papa gendut, nanti makin enak dipeuk," ujar Luna yang langsung memeluk Darrel erat, membuat lelaki itu tertawa dan langsung memeluk tubuh Luna tak kalah erat. Mereka tak peduli dengan sekitar, karna mereka tahu orang – orang ini tak mungkin mengurusi urusan orang lain yang tak penting untuk mereka.


" Kak, Danesya sama Roy ternyata mau nikah Loh kak. Kebetulan banget kan kak? Apa itu naluri kalau orang kembar ya kak? Nikahnya bisa mirip gitu," ujar Luna yang membuat Darrel yang tersenyum langsung kehilangan senyumnya. Luna pun langsung terheran dan sampai mencubit pipi lelaki itu dengan gemas.


" Serius sama Roy? Kok bisa sampai sama Roy sih?" tanay Darrel setelah sadar. Luna langsung menghela napas dan mengedikkan bahunya dia juga menjelaskan pernyataan Danesya secara rinci dan akhirnya Darrel mengerti lalu menganggukkan kepalanya. Lelaki itu masih tampak memikirkan sesuatu yang lain, membuat Luna jadi tak sabar sendiri.


" Luna, aku pernah bilang kan sama kamu kalau kamu harus percaya sama aku apapun yang terjadi?" tanya Darrel dengan wajah serius. Luna bahkan kaget karna lelaki itu mengubah topik jadi seserius ini. Luna menganggukan kepalanya pelan Darrel menghela napas dan langsung memeluk gadis itu dengan erat.


" Aku harap kamu bakal terus percaya sama aku, apapun alasannya apapun yang terjadi. Aku bakal punya alasan apapun yang terjadi, aku harap kamu bakal maafin aku ya," ujar Darrel dengan lirih. Gadis itu segera melepas pelukan Darrel, namun Darrel tak mau melepaskan pelukannya dan mejilih untuk memeluk Luna.


" Kak Darrel kenapa tiba – tiba kayak gini? Kak Darrel kenapa?" tanya Luna dengan heran. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Luna bisa merasakan kulit pundaknya basah karna dia memakai baju dengan bahu yang terbuka. Gadis itu langsung panik dan membalas pelukan Darrel dengan cukup erat juga.


" Kak Darrel jangan sedih, Luna bakal percaya sama kak Darrel. Kak Darrel kalau ada apa – apa cerita sama Luna, Luna gak akan tinggalin kak Darrel, Luna gak akan biarin kak Darrel sedih sendirian kak," ujar Luna yang tak dijawab oleh lelaki itu.


Lelaki itu hanya diam dan mengusal – usal leher Luna dan membersihkan air itu saat mereka sudah sampai di bawah.


" Gak usah dibahas ya," ujar Darrel lirih yang dijawab anggukan oleh Luna. Gadis itu memilih diam dan menungg uwaktu yang tepat agar Darrel bisa menceritakan semua pada Luna.


*


*


*


*


Note : Kenapa Darrel sampai Sedih kayak gitu ya?:"(