
Luna dan Darrel berjalan beriringan menuju halaman depan dimana semua pegawai rumah Luna bersama Mr. Wilkinson dan sabahat Luna berkumpul untuk makan bersama.
Tidak ada yang berani menolak permintaan Mr. Wilkinson sehingga mereka dengan senang hati menerima perintah itu.
“ Ah, ini dia yang sedang berulang tahun, mengapa kau membutuhwan waktu lama sekali untuk sekadar mandi?” Tanya Mr. Wilkinson yang menatap kedua orang itu curiga.
“ Anda tidak perlu khawatir, saya hanay mengajari Lunetta cara berdansa dan mempraktekkannya bersama, tidak ada hal lain yang terjadi,” ujar Darrel dengan jujur meski tak menceritakan semua.
“ Hmmm, aku punya cctv yang dapat mengakses seluruh ruangan. Aku pastikan kau akan kehilangan kepalamu jika berani macam – macam dengan putriku,” ujar Mr. Wilkinson dengan galaknya.
“ Ayolah dad, dad jangan memainkan peran sebagai ayah yang jahat,” ujar Luna memutar bola matanya dengan malas, namun Mr. Wilkinson menatapnya galak.
“ Meski dia cucu Atmaja, aku tak akan lengah mengawasinya, jika dia berani menyakitimu, dia akan tidur di peti milik Jordan,” ancam Mr. Wilkinson dengan tegas.
Luna mengangkat tangan tanda menyerah dan membiarkan ayahnya seenaknya sendiri, toh Darrel tak mungkin melakukan apapun yang akan melukai Luna, pria itu tak mungkin berani.
“ Luna gak lapar kah? Ini abang udah bakar satu ikan buat kamu,” ujar Jordan mengulurkan sebuah piring berisi satu ekor ikan yang utuh.
“ Ah ya, terimakasih abangkuh tercintah. Abang tahu aja Luna laper. Dibisikin sama malaikat maut ya?” Tanya Luna menyindir Jordan, namun Jordan menanggapinya dengan santai dan tanpa beban.
“ hah, terus aja nih hina abang, tau deh yang nangis nangis semaleman ngira abangnya meninggal,” ujar Jordan yang malah menggoda Luna agar gadis itu sebal.
“ Hei, bukan Cuma Luna yang menangis, tapi hampir semua reader yang membaca part itu, itu berarti bukan Luna yang cengeng, tapi abang yang keterlaluan,” ujar Luna memberikan alasan yang dirasanya cukup logis.
“ Bisakah kalian tenang dan tidak bertengkar, kita harusnya manfaatkan waktu ini untuk quality time, Papa harus kembali ke Inggris nanti malam,” ujar Mr. Wilkinson sambil memakan lagi ayam yang sudah dipotong kecil.
“ Kenapa cepat sekali? Harusnya Dad menginap dan pulang besok malam,” ujar Luna yang terdengar merajuk.
“ Banyak yang harus Dad urus, Luna harus tahu kehidupan CEO tidak semudah cerita komik dan novel yang Luna baca. Bahkan lengah sedikit saja Dad bisa kehilangan semua dalam sekejap,” ujar Mr. Wilkinson memberikan penejelasan pada Luna.
Gadis itu mengangguk dan menerima alasan Mr. Wilkinson yang memang demi kebaikan dan kelangsungan hidup perusahaan wilkin yang selama ini memberinya makan.
Pandangan Luna teralihkan pada Adel yang menyendiri dan mendapat panggilan telpon, beberapa kali gadis itu melakukan hal yang sama sampai mencuri perhatian Luna.
“ Lo kenapa sih del? Kok gelisah mulu?” Tanya Luna dengan nada herannya, dia risih melihat Adel yang tampak tak nyaman.
“ eh? Gakpapa kok Lun, gue, gue ijin pamit duluan ya, penting banget nih,” ujar Adel membenarkan tasnya dan menghampiri Mr. Wilkinson
“ Adel pamit pulang dulu ya om,” ujar Adel yang menyalimi M. Wilkinson
“ Kenapa cepat sekali? Tunggu sebentar lagi, nanti biar orang – orang Om yang antar kamu pulang,” ujar Mr. Wilkinson yang mencoba bernegosiasi pada Adel, namun gadis itu menggeleng sopan dan berjalan kearah Darrel untuk berpamitan.
Gadis itu langsung pergi dari sana dnegan masih menempelkan ponselnya di telinganya.
“ Adel kok aneh bangt ya?” Tanya Key pada Lucy yang asyik dengan saos barbeque dan daging domba yang sangat enak.
“ Gak tahu juga, ini enak Key, Lo mau?” Tanya Lucy menyodorkan bekas gigitannya, membuat Key menatapnya sebal dan mendorong kembali daging tersebut kea rah Lucy.
Luna hanya menggeleng melihat kelakuan Lucy yang tidak pernah berbuah, jauh lebih lemot dan tidak bisa diaak berdiskusi. Luna jadi merasa kasihan pada Key, gadis itu satu kelas dengan Lucy, dan mungkin setiap tugas akan menajdi satu kelompok, bagaiaman cara Key yang terus berhadapan dengan Lucy?
“ Klaian kan satu sekolah sama Adel, masak gak tahu Adel kemana dan ngapain?” tanay Lunay nag merasa heran, pasalnya duli saat mereka amsih SMP, Mereka saling tahu dan mengerti satu sama lain, mereka saling memberi kabar satu sama lain
“ Adel udah beda kalik Lun, udah jadi bucin dia, toh dia udah jadi famous gitu karna jadi pacar waketos, tapi dia sok sok an gak mau terima,” ujar Key dengan lesu saat menceritakan masalah Adel.
Luna yang tahu cerita aslinya memilih untuk tidak mengompori, biarlah masalah ini akan memudar sendirinya, toh lelaki itu memang sendang berjuang mendapat cinta Adel.
Luna berjalan menjari kursi yang terbuat dari jarring, dia selalu merasa nyaman bila berada di atas jaring itu, bahkan Luna bisa smapi ketiduran.
Langkah gadis itu berhenti saat menemukan benda yang taka sing baginya. Gadis itu menginjak sebuah gunting kuku dengan gantungan kunci berbentuk tengkroak.
Luna mengambil dan meneliti milik siapa benda itu, akhirnya Luna ingat bahwa itu milik Adel. Ah Adel ini, dia yang paling disiplin dan cerdan, namun nyatanya dia juga menjadi ceroboh.
Gunting kuku tersebut Dimasukkannya ke dalam kantong dan gadis itu melangkahkan kakinya menuju kursi jarin yang ada disana.
“ Sorry, I’ve Late karna pesawatnya tadi delay, papa sih gak maau kirim pesawat pribadi buat Danesya.”
Key an Lucy yang tidak tahu Luna memiliki seseorang yang wajahnya sama persis dengan diriniya, Luna sendiri cukup terkejut melihatnya, dia tidak beretmu Danesya untuk waktu yang sangat lama, sepuluh tahun mungkin?
“ Mengapa kau ada sini?” Tanya Luna ddengan wajah sinisnya, membuat Mr. Wilkinson menengahi dan melerai kedua anaknya yang memang tidak bisa akur selama yang dia thua.
“ Ini kan ulang tahun Danesya juga, dia harus dong rayain ulang tahun bareng kayak gini,” ujar Mr. Wilkinson dengan santai.
Pria itu menarik dan mengajak Danesya untuk mendekat dan memeperkenalkan gadis itu dihadapan orang yang ada disana.
“ Kamu tenang saja, aku akan kembali bersama Dad ke Inggris nanti malam, aku kemari karna Dad memintaku datang,” ujar gadis yang berwajah sama dengan Luna
Kakaknya tu seorang model, penyanyi dnegan suara yang sangat indah serta penari balet yang anggun dan rupawan. Jelas saja gadis itu jauh lebih disayangi dibanding Lunetta.
“ Setiap tahun kamu rayakan ulang tahun bersama Daddy, tidak bisakah untukku saja tahun ini?” Tanya Luna dengan sedih namun masih terdengar sinis. Gadis yang berwajah sama dengan Lunetta pun tertawa mendengar celotehan kembarannya.
“ Selama ini itukah yang ada di pikiranmu? Aku yang lebih disayangi oleh dad dan kamu yang paling nelangsa?” Tanya Gadis itu dengan wajah penuh Luka, membuat Luna sendiri menjadi merasa tidak enak.
Luna mulai menangis lagi, iri? Ya, dia sangat iri. Semua orang pergi meninggalkannya, namun mereka tetap bersama dengan kembarannya. Semua bakat yang dimiliki gadis itu juga tidak dimiliki oleh Lunetta. Wajar saja kan dia iri?
“ Kamu salah, aku bahkan nyaris tak pernah bertemu dad selama 10 tahun ini, dia hanya menghubungi lewat telpon. Merayakan ulang tahun? Hahaha, daddy bahkan hanya mengirim pesan singkat padaku setiap tahun, namun tak pernah lupa menelpon dan memberimu hadiah. Siapa disini yang seharusnya iri?” Tanya Gadis itu dengan wajah sinisnya.
“ Bisakah kalian tenang?” ujar Mr. Wilkinson menginterupsi keduanya untuk diam. Luna masih menangis, bahkan Danesya juga tak kalah terlukanya, namun gadis itu masih bisa menahan air matanya.
“ Semua salah daddy sampai kalian saling membenci seperti itu, maka dari itu daddy dan bang Jordan menyiapkan pesta ini untuk kalian, tidak bisakah kalian saling menyayangi dan menikmati pesta ini? Pesta untuk kalian berdua setelah sekian lama, tidak bisakah kalian hargai usaha Jordan yang membujuk daddy untuk melakukan semua ini?” Tanya Mr. Wilkinson dengan wajah kecewanya, membuat Luna dan saudara kembarnya termenung seketika.
“ Baik daddy maupun bang Jordan, kami sayang kalian, tidak pernah membeda – bedakan kalian. Tapi kalian membutuhkan penerapan kasih sayang dengan cara berbeda. Tidak bisakah kalian rasakan itu?” Tanya Mr. Wilkinson dengan lirih.
Luna langsung mendekat dan memeluk papanya, hal itu dilakukan pula oleh saudara kembarnya. Luna memandang saudara kembarnya itu dan memilih untuk berdamai, setidaknya untuk malam ini saja.
“ Kau, kali ini aku memaafkanmu karna Daddy yang meminta,” ujar Luna mengulurkan tangannya dengan wajah kesalnya. Gadis yang bernama Danesya itu tertawa kecil, merasa geli dengan tingkah Luna yang penuh gengsi, mana wajah mereka sama pula, serasa melihat dirinya yang melakukan itu.
“ Kau, taka pa, aku memaafkanmu,” ujar Danesya di lembut – lembutkan, membuat Luna melotot dan menarik tangannya seketika.
“ Kau!!”
“ Sudahlah, mari kita semua nikmati sisa pesta pada hari ini, dan sepertinya ada seseorang yang ingin bertemu dan berbicara pada Daddy,” ujar Mr. Wilkinson melirik Darrel seketika.
“ Oh yah, saya ingin menyampaikan sesuatu di hari yang berbahagia ini,” ujar Darrel yang membuat beberapa orang disana hening dan melihat ke arahnya.
“ Saya ingin meminta ijin kepada Om untuk melamar Luna untuk menjadi istri kedua saya,” ujar Darrel dengan wajah serius meski ucapannya asal.
“ Kau cari mati ank muda?” Tanya Mr. Wilkinson dengan wajah garangnya.
“ Hahahaha saya bercanda om, oke ini yang serius, ehem!” Darrel berdehem dan membenarkan pita suaranya.
“ Saya, Darrel Atmaja ingin meminta restu kepada Om Smith Wilkinson untuk menjadikan Luna sebagai tunangan saya, di hari yang spesial ini, saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan anak om yang cantic ini..”
“ Tunggu, ada dua anakku yang cantik, bahkan wajah mereka sama, kau pilih yang mana? Ku obral dua gratis satu yang paling besar,” ujar Mr. Wilkinson dengan wajah tengilnya, wajah yang sangat jarang dia tunjukkan.
“ DADDY!” “ PAPA!!” Seru ketiga anak Mr. Wilkinson yang merasa dilecehkan secara bersamaan. Mr. Wilkinson tertawa sampai terbahak mendengar teriakan itu.
“ Hahaha, baiklah, Papa hanya bercanda, lanjutkan anak muda,” ujar beliau kemudian. Darrel menjadi bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa, sungguh pria tua itu telah merusak suasana.
“ Emmm, saya mau minta ijin dan restu Om untuk Luna, boleh kah ?” Tanya Darrel dengan gugup dan bingung, dia sudah menyiapkan kata – kata yang pas, namun semua sirna karna pria tua yang menyebalkan itu.
“ Yah, aku serahkan semua pada Lunetta,” ujar Mr. Wilkinson dengan tersenyum.
Darrel mengangguk dan berjalan mendekati Luna yang tampak gugup dan takut, seperti akan dilamar saja.
“ Lunetta Azura Wilkinson, maukah kamu menjalani hubungan yang lebih serius denganku? Aku ingin menjadikanmu tunanganku, bolehkah aku mendapar kepercayaanmu untuk itu?” Tanya Darrel dengan senyum yang menghipnotis siapapun yang melihatnya.
“ Bukannya kak Darrel udah punya tunangan? Bahkan bukannya kalian sudah bertukar cincin?” Tanya Luna yang membuat semua orang disana terkaget. Namun Darrel tampak tenang dan mempertahankan senyumnya.
Lelaki itu mengambil ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya setelah menekan layar beberapa kali.
“ Masuklah,” ujar Darrel singkat dan kembali menutup ponselnya. Luna merasa bingung dengan Darrel yang masih tampak tenang meski sudah terbongkar bahwa dia memiliki kekasih lain.
“ Dia kah yang kamu maksud?” Tanya Darrel menunjuk kea rah gerbang dimana seorang wanita berjalan mendekat kea rah mereka.
“ Ya! Dia… dia sungguh pacar kak Darrel? Kak Darrel mau mengenalkan dia semua orang disini?” Tanya Luna dengan nada tak percaya. Semakin merasa cengo sangat Darrel hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak butuh waktu lama gadis itu berdiri dohadapan mereka, memamerkan cincinnya pada Luna dan semua orang yang ada disana. Gadis itu mendekat pada Luna dengan senyumnya.
“ Aku rasa sudah waktunya aku memperkenalkan diri,” ujar gadis itu dengan tenang.
“ Hai Luna, perkenalkan Namaku Dara Atmaja,” ujar gadis itu dengan manis dan ramah. Luna tahu nama orang itu Dra, kan dia kakak tingkat Luna di organisasi OSIS. Tapi tunggu, Atmaja?
“ Aku saudara kembar Darrel Atmaja,” ujar orang itu yang membuat seisi taman menatap kaget.
“ sejak kapan Lo punya kembaran? Kok gak kasih tahu gue?” Tanya Jordan yang tampak tak terima dan merasa dibohongi oleh Darrel
“ Bang Jordan gak pernah Tanya, saya ya mana tahu,” ujar Darrel tertawa ringan.
“ Ja.. jadi, ka.. kalian?” Tanya Luna menunjuk Darrel dan Dara secara bergantian.
“ Ya, aku saudara kembar Darrel yang disembunyikan, dia tidak mau identitasku tersebar dan akan menjadi petaka untuk aku sendiri, maka dari itu di arsip sekolah pun nama Atmajaku tidak tertulis, dan untuk pembahasan lengkap bisa tanyakan lagi nanti.”
“ Lunetta Azura, aku dan Darrel sudah terikat sejak lahir, maka dari itu Darrel menitipkan cincin yang membuatmu salah paham itu ke aku sampai dia menemukan tambatan hati yang pas. Dan sekarang Darrel sudah menemukan orang yang pas. Mau gak kmau menggantikan aku buat jadi pemilik sah dari cincin ini?” Tanya Dara dengan senyum manisnya.
Luna tampak bingung harus menjawab apa, gadsi itu melihat kea rah Papanya, Bang Jordan, Sahabatnya, bahkan Danesya selaku kembarannya. Namun ekspresi mereka sama, tersenyum dan mengangguk, seakan sangat merestui hubungan ini.
Akhirnya Luna memantabkan hatinya, gadis itu tersenyum dan kemudian mengangguk dengan tulus.
“ Ya, aku mau.”