Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 16



~ gubrak


~ glabuk


~ pyaarrr


Radith membuka matanya dengan paksa dan langsung heran ada kegaduhan apa di apartemennya. Apakah ada tikus? Dia akan mmebuat pengelola gedung ini menyesal seumur hidup jika sampai hewan itu berhasil masuk ke apartemennya. Radith sangat membenci tikus, seperti Luna yang membenci kucing. Mereka tidak berani jika berhadapan dengan dua hewan itu.


Lelaki itu turun dari kasur dan memakai sandalnya lalu berjalan ke arah pintu, membuka pintu itu dan melihat tikus besar yang sedang duduk. Tikus raksasa itu memakai baju warna biru dan memakai celana panjang. Menatap Radith dengan cengiran yang lebar. Radith memandang tikus raksana itu dengan wajah datar.


" Tadinya gue mau bikin susu terus kasih kejutan gitu ke Lo. Eh gue nabrak lemari kecil ini terus gelasnya jatoh. Maaf ya dith," ujar tikus itu dengan wajah memelas. Radith masih memasang wajah datarnya membuat tikus berwujud manusia itu kehilangan senyumnya dan menunduk takut.


" Gue beresin deh Dith, gue beresin semuanya," ujar orang itu yang membuat Radtih berjalan cepat dan mengangkat tangan gadis itu. Membuat gadis itu langsung berdiri. Radith menarik tangan gadis itu cukup kasar, membuat gadis itu terpelanting dan jatuh di pelukan Radith. Gadis itu memejamkan matanya karna kaget dengan ap yang dilakukan Radith.


" Kalau Lo yang beresin, pasti nanti ceritanya tangan Lo kena beling, terus gue panik, terus gue obatin tangan Lo pakai adegan romantis. Jadi mending gak usah, gue aja yang beresin semua," ujar lelaki itu datar. Luna tak merespon, gadis itu masih terdiam sampai mereka tetap berada di posisi itu untuk waktu yang lama.


" Emm, Lo bisa lepasin gue sekarang dith, gue udah jauh dari belingnya kok," ujar Luna yang membuat Radith terkaget dan langsung menegakkan tubuh Luna yang sedari tadi ada di pelukannya. Lelaki itu tak sadar karna dia fokus melihat kamarnya berantakan karna Luna. Dia sampai lupa jika Luna masih di pelukannya.


" sorry, gak sengaja. Lo duduk dulu deh, gue berein dulu. Lagian Lo tuh pagi – pagi udah masuk rumah orang sembarangan. Kalau gue masih tidur sama cewek dan cewek gue keganggu gimana?" tanya Radith yang membuat Luna memicingkan matanya. Radith mengatakannya dengan santai, apakah lelaki itu sudah memiliki kekasih? Atau orang itu adalah Karin?


" Lo udah biasa ngajak cewek tidur di rumah ini? Makanya Lo kesal banget gue main ke sini? Astaga dith, gue kira Lo polos dan baik – baik, gue gak nyangka ternyata Lo itu, Lo itu.." Luna menggeleng dramatis dan tak melanjutkan kata – katanya.


" Ya emag kenapa loh kalau gue bawa cewek? Gue kan ada di usia yang legal untuk melakukan itu. Lo aja yang terlalu nyangka kalau gue polos. Besok lagi kalau mau main ngabarin dulu, atau gue langsung ganti password apartemen gue," ujar Radith yang setengah mengancam gadis itu, membuat gadis itu terdiam dan meresapi kata – kata Radith.


" Lo serius kayak gitu Dith? Ya emang Lo legal, tapi Lo ingat sama Tuhan dong Dith, zina itu dosa, Lo gak boleh begituan sama yang bukan istri Lo. Apalagi kalau sering ganti – ganti, ntar kena penyakit Lo yang ada. Mau Lo?" tanya Luna yang malah menasehati Radith, lelaki itu memutar bola matanya, mulai malas dengan obrolan ini.


" Otak Lo tuh isinya apa sih Lun? Kalau gue kayak gitu, kenapa gak dari dulu gue kunciin Lo di dalem terus gue praktekin langsung ke Lo? Mending Lo diam biar gue konsen nyari belingnya," ujar Radith yang sudah berjongkok dan mulai memungut beling – beling yang ada di sana. Luna memandang Radith yang telaten mengambil beling - beling itu.


" Radith hati – hati, itu kenapa Lo gak pakai sarung tangan atau apa gitu sih? Nanti kalau tangan Lo kena beling gimana? Dah gitu malah diraba – raba lantainya," ujar Luna yang terus berisik melihat cara kerja Radith yang berantakan, dia menjadi gemas karna hal itu.


" Aiiisshhhh." Benar saja, belum ada satu menit Luna menutup mulutnya. Radith sudah mengaduh dan tangan lelaki itu mulai mengucurkan darah. Luna langsung bangkti dari duduknya dan meraih tissue, lalu berjalan ke arah Radith.


" Gak usah ke sini, gue gak papa." Radith langsung mencegah Luna saat tahu gadis itu akan berjalan ke arahnya. Luna tak mendengarkan perkataan Radith, gadis itu tetap saja berjalan mendekat dan akhirnya tergeletak di lantai sambil memegangi kakinya yang mulai mengucurkan cairan merah. Radith langsung memejit pelipisnya dengan tangan yang tak terluka.


" Kan gue udah bilang gak usah mendekat. Di situ banyak cipratan beling. Lo tuh gak pernah bisa diajak omong pakai bahasa manusia ya? Kenapaa sih Lo nyebelin banget?" tanya Radith dengan galak, membuat Luna makin menangis sambil memegangi kakinya.


" Huuaaa, kaki Luna sakit, kaki Luna berdarah, Radith, Radith galak. Huaa, sakit," ujar gadis itu sambil membuka mulutnya lebar – lebar. Ingin sekali Radith memasukkan sampah beling yang dia kumpulkan ke dalam mulut yang terbuka lebar itu. Namun dia masih sadar bahwa Luna memang selalu seperti itu, dia yang harus banyak – banyak bersabar dalam menghadapi Luna.


" Diam, gue mau ambil beling yang ada di kaki Lo," ujar Radith yang langsung mendorong tubuh Luna pelan, membuat gadis itu terjengkang dan tidur dengan posisi menatap langit – langit rumah Radith. Luna yang pasrah membuat Radith sedikit geli, namun dia harus segera mengambil beling yang tertancap di kaki gadis itu.


Setelah beling tersebut berhasil lepas dari kaki Luna diiringi teriakan kesakitan dari gadis itu, Radith membersihkan kaki Luna dengan tissue yang ada di dekatnya. Luna sendiri mulai mereda. Untung saja kebanyakan yang membeli apartemen di sini orang sibuk, jadi tak ada yang protes saat Luna berteriak seperti orang utan.


" udah selesai diobatin. Lo udah bisa berhenti nangis. Gak usah lebay, lukanya kecil banget, Cuma darahnya aja yang banyak," ujar Radith yang melihat kaki Luna sekali lagi. Gadis itu bangkit dari posisinya menjadi posisi duduk, menatap kakinya yang sudah tidak berdarah lagi. Gadis itu lalu menatap tangan Radith yang masih terluka.


" Sini gantian. Tangan kanan Lo masih berdarah, biar dokter Luna yang obati," ujar gadis itu dengan sombong dan menarik tangan Radith dengan paksa. Radith diam saja dan mmebiarkan Luna melakukan sesukanya, yang penting pecahan beling yang ada di tangannya sudah dia keluarkan agar tidak berbahaya.


" Lo kenapa sih pagi – pagi ke rumah gue? Bukannya Darrel lagi di Indonesia ya? Kenapa gak sama dia malah kemari?" tanya Radith saat berhasil membungus lukanya sendiri dengan plester menggunakan tangan kiri. Lelaki itu membiarkan bekas beling lainnya, biarlah nanti orang suruhannya yang membersihkannya, dia memilih untuk duduk di sofa yang ada di sebelah Luna.


" Kak Darrel pergi lagi ke luar Negeri, terus kak Key main ke rumah orang tuanya, jadi dia bakal pergi lama, gue gak tahu mau ngapain di rumah, ya udah gue main ke sini. Eh ternyata Lo masih tidur, ya udah gue bikin susu," ujar Luna menjelaskan bagaimana dia bisa sampai ke tempat ini.


" Lo bikin susu pakai susu yang di dapur? Yah, padahal gue lebih suka yang murni dan langsung dari sumbernya, lebih enak dan menyegarkan," ujar Radith yang membuat Luna berpikir. Gadis itu tak tahu jika Radith menyukai susu murni, Luna sendiri malah tidak suka karna rasanya plain, tidak berasa.


" gak usah Lo pikirin, gue tahu otak Lo udah lama gak dipakai, kasihan malah kalau kaget tahu – tahu disuruh mikir. Lo gak ada tujuan lain tiba – tiba main ke rumah gue?" tanya Radith saat melihat Luna yang tak fokus sendiri, entah apa yang gadis itu pikirkan. Luna sendiri ragu ingin memberitahu Radith atau tidak mengenai pernikahan yang papa dan Darrel katakan padanya.


" Sebenernya kemarin itu gue.." Luna tak jadi melanjutkan kata – katanya karna Radith mengode dirinya untuk diam sementara lelaki itu mengangkat panggilan telpon dan fokus pada panggilan yang ada di sana. Luna menunggu Radith menyelesaikan obrolan. Lelaki itu tampak tersenyum puas setelah panggilan telpon selesai.


" Lo mau ikut gue gak? Gue mau ke kantor polisi," ujar Radith yang membuat Luna kaget. Kantor polisi? Tapi mengapa wajah lelaki itu tampak bahagia? Apakah dia berhasil menangkap seorang koruptor? Ah entahlah, lebih baik Luna ikut saja, dari pada dia sendirian di tempat ini.


" Beberapa hari lalu gue tuh mungut pengemis gitu, masih anak – anak. Ternyata anak itu buan dari pulau Jawa. Dia diculik dan dipaksa jadi pengemis gitu. Nah sekarang pelaku eksploitasinya udah ketangkap dan gue mau ke sana, mau ngeledekin dia sampai puas," ujar Radith dengan bahagia. Luna sendiri sampai membuka mulutnya karna takjub pada Radith.


" Parah Lo, bukannya prihatin nasib tuh bapak bentar lagi dipenjara, malah mau ngetawain, dimana hati nurani Lo dith? Stop, jangan potong gue, gak usah ngomong, gue mau lihat jalan." Radith yang sudah membuka mulut sontak membatalkan niatnya. Entah mengapa dia jadi kesal dan tak ada mood untuk meladeni Luna. Sejak kapan mereka yang jahat malah dikasihani dan diberi rasa prihatin? Aneh sekali.


Mereka sampai di sebuah gedung bertuliskan 'police station'. Radith memarkirkan mobilnya dan meminta Luna untuk turun. Mereka masuk dan menyalami beberapa polisi yang lewat di depan mereka. Radith sendiri langsung berjalan ke kantor kepala untuk melihat pelakunya. Luna sedari tadi hanya diam karna dia takut melihat banyak polisi yang membawa pistol.


" Jadi dia yang menculik anak – anak itu?" tanya Radith dengan serius dan menyeramkan, Luna bahkan sampai kaget melihat wajah yang dingin itu, padahal tadi Radith bilang ingin mengejek penjata itu sampai puas, tapi nyatanya wajah Radith terlihat dingin dan menakutkan.


" Benar pak. Kami juga sudah menelpon orang tua dari anak – anak dan mereka sedang dijemput oleh pihak kepolisian untuk sampai kemari. Terima kasih banyak atas bantuan bapak, kami bisa menangkap sindikat penculikan anak yang sangat licin. Mereka ternyata dihasut oleh orang ini agar lari saat melihat polisi sehingga kami tidak mengetahui kejadian ini."


" Terima kasih atas kerja keras bapak, sehingga sindikat ini dapat ditangkap dan anak – anak bisa kembali ke orang tuanya. Oh ya, anak – anak dimana ya pak? Boleh kami bertemu mereka?" tanya Radith dengan sopan. Polisi itu mengantarkan Luna dan Radith untuk masuk ke sebuah ruangan ber AC dimana ada sekitar lima belas anak duduk di sana.


" Om baik!!" seru salah seorang anak saat menyadari keberadaan Radith. Radith tersenyum dan mengelus kepala anak yang kini memeluk kakinya erat. Mereka mengucapkan terima kasih bergantian pada Radith yang sudah menolong mereka.


" Kenalin, ini tante baik. Dia teman Om." Luna langsung menunduk dan menatap satu persatu anak – anak kecil yang ada di sana. Mereka masih sangat kecil, namun harus dipisahkan dan dipaksa bekerja kasar. Mereka bahkan terlihat sangat kurus dan lusuh meski sudah dimandikan dan memakai baju yang layak.


" Karna ini pertemuan pertama kita, tante bakal kasih banyak hadiah perkenalan untuk kalian semua. Sebentar lagi hadiahnya datang, kalian tunggu ya," ujar Luna yang berdiri dan langsung menelpon orang – orangnya untuk membeli hadiah anak lelaki secepatnya. Untung saja orang – orangnya dapat diandalkan, dia bisa membagikan hadiah – hadiah itu setelah satu jam menunggu.


" Waaah mainan, bagus sekali. Aku mau yang ini!" mereka semua mengambil mainan dengan rapi, Luna memberikan seorang sebuah robot dan sebuah mobil mainan yang menggunakan remot. Jadi satu anak mendapat dua hadiah. Mereka sangat senang dan bermain bersama seolah beban mereka yang lalu telah hilang.


" Terima kasih tante baik. Tante menikah saja dengan om baik, kalian kan sama - sama baik, kalian pasti cocok," celetuk salah seorang anak yang membuat Luna dan Radith terdiam dan salig berpandangan. Luna yang tampak langsung salah tingkah, gadis itu tak bisa menahan rasa gugupnya.


" Wah, kalian ini masih kecil kok sudah ngomongin menikah. Kalian harus belajar giat, kalau sudah pulang jangan pernah lupa sama Om ya. Kalau kalian sudah besar, jangan lupa main lagi bertemu sama Om, nanti Om kasih kalian banyak hadiah," ujar Radith dengan bahagia, mengalihkan pembicaraan agar suasana antara dia dan Luna tak canggung setelah ini.


" Kami gak akan lupa sama Om baik, kami gak akan lupa sama tante baik. Kami akan giat belajar dan membalas kebalikan kalian. Terima kasih banyak," ujar salah seorang yang paling besar dibanding yang lain.


Baik Radith maupun Luna langsung terharu mendengar hal itu. Memang setiap kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Radith dan Luna melakukan beberapa hal untuk orang lain. Tapi kebahagiaan yang di dapat jauh lebih besar dibanding menghabiskan rejeki itu untuk diri sendiri.


" Gue selalu dapat pelajaran baru saat gue sama Lo dith, makasih karna hari ini Lo ajak gue ke sini dan bertemu mereka, gue jadi jauh lebih mengerti makna bersyukur. Makasih ya Om baik," ujar Luna tepat di telinga Radith yang sedang melihat anak – anak bermain.