Hopeless

Hopeless
Hancur



^^^•Mau sampai kapan kamu menghindar dari Abang? ^^^


^^^•Kinan, kita perlu bicara. Tolong balas pesan Abang. ^^^


^^^•Sayang, please.^^^


^^^•Kinan, Abang ada masalah. Tidak tahu mau cerita pada siapa?^^^


^^^•Ini sudah sudah hampir tiga minggu, Sayang, kamu kemana?^^^


^^^•Tolong, Kinan, tolong jangan seperti ini.^^^


^^^•Kamu dimana, Sayang, tidak ada di rumah, tidak masuk kampus juga. Sayang, baik-baik saja 'kan?^^^


^^^•Abang dipecat, satu minggu tidak masuk kerja.^^^


^^^•Kinanti Anggraini, ini Abang, Beni Samudera teramat merindukanmu.^^^


^^^•Kinan ingin melihat Abang mati?^^^


^^^•Abang mohon dengan sangat, jangan seperti ini.^^^


Tidak satu pun dari ratusan pesannya dijawab oleh Kinan. Dibaca juga tidak. Ya, nomor kekasihnya itu memang tidak aktif sama sekali. Beni menebak jika Kinan sedang bersembunyi di rumah salah satu kerabatnya yang tidak diketahui Beni di mana alamatnya. Beni mendatangi Nuri, berharap mendapat informasi tentang Kinan, tapi nyatanya Nuri tidak tahu apa-apa. Kemudian Beni menemui Bintang dan wanita itu pun tidak bisa menebak dimana Kinan. Kinan benar-benar menghilang. Membuat hidup Beni semakin kacau. Beni sadar tindakan Kinan memilih untuk bersembunyi pasti karena ulahnya yang tetap bersikukuh untuk datang setiap hari ke rumah Kinan.


Tetapi, bagaimana jika Kinan memilih untuk tidak kembali? Beni diserang rasa takut yang luar bisa. Matanya sudah dibutakan oleh cinta terhadap Kinan. Sungguh ia juga tidak menyangka jika perasaannya akan sebesar ini kepada Kinan, sampai-sampai ia hampir gila rasanya. Tepatnya sudah setengah gila.


Sudah dua minggu ia tidak pulang ke rumah. Mengabaikan panggilan keluarganya. Sekarang, ia sedang menikmati minuman keras bersama teman SD-nya yang tidak sengaja bertemu satu minggu yang lalu. Namanya, Jefri (Nama pemberian si Hania😑). Anak berandalan yang selalu berbuat ulah. Keluar masuk penjara dengan berbagai kasus kriminal, seperti mencuri motor, berkelahi, menghisap ganja dan bahkan sabu.


Jefri menawarkan barang-barang haram tersebut kepada Beni dengan iming-iming, pikirannya yang kacau akan tenang seketika.


Awalnya Beni menolak, tapi tidak dengan minuman keras. Ia kerap mabuk. Namun, Jefri tak gentar untuk menghasutnya, dan pada akhirnya ia menang. Beni mulai terpengaruh. Ia mencoba menghisap apa yang disodorkan Jefri kepadanya. Rasa pening yang luar biasa menyerang kepalanya. Mula-mula ia kapok, tapi lambat laun ia mulai ketagihan. Apa yang dikatakan Jefri benar adanya, pikirannya mulai terasa tenang. Pemberian Jefri yang mulanya hanya cuma-cuma alias gratis, Beni mulai membelinya kepada pria itu. Ya, ternyata Jefri seorang kurir.


Kehidupannya semakin kacau. Mandi tidak mandi, makan tidak teratur, tidur pun tidak jelas. Yang ia tahu, hanya bermain judi bersama Jefri dan teman-temannya jika malam sudah tiba, karena siangnya ia sibuk mencari keberadaan Kinan.


Sementara Kinan yang memang memilih pergi ke kampung Ibunya, akhirnya memutuskan pulang karena sudah tiga minggu ia tidak masuk ke kampus. Kehadiran akan mempengaruhi nilai. Suasana hatinya juga sudah sedikit tenang.


"Kemana saja kamu? Ya ampun, liburan tak ngajak-ngajak." Bintang dan Novi mengunjunginya ke rumah.


"Ada acara keluarga di kampung Ibu." Kinan berbohong. Ia tidak ingin membagi kisahnya dengan siapa pun. Membahas masalahnya hanya akan membuat suasana hatinya tidak mood.


"Kamu ada masalah dengan Beni?"


"Tidak," sahut Kinan berpura-pura tidak acuh. Ia menyembunyikan raut wajahnya dengan berpura-pura sibuk melipat kain, memindahkan barang-barangnya dari tas. "Aku pinjam catatanmu, ya." Kinan mengubah topik sebelum pembahasan Beni semakin berlanjut.


"Ya, aku sudah menyalinnya tadi. Beni datang terus ke kampus, bahkan pernah datang ke rumah. Dia kira aku menyembunyikanmu di sana. Kamu ada masalah, ya, sama dia?"


"Kita sudah putus," Akhirnya Kinan mengatakan yang sejujurnya dengan harapan agar temannya tidak membahas hal itu lagi.


"Hah, putus, kenapa?" Kali ini Novi yang bersuara. Kinan tidak langsung menjawab. Dia beranjak dari tempatnya, memindahkan pakaian yang ia lipat ke dalam lemari.


"Beda agama."


"Ya, pantas saja Novi mengatakan kenal dekat. Satu gereja ternyata." Kinan tersenyum samar.


"Ya ampun, bukannya kamu sudah tahu sejak awal bahwa kamu dan Beni berbeda keyakinan?" Novi bertanya dengan mimik bingung.


"Aku tidak tahu." Kinan tertawa kecil, matanya menyorotkan kesedihan. "Naif, ya?"


"Ya ampun, kok bisa?" Bintang benar-benar terkejut, tidak menyangka dengan problema yang dihadapi oleh temannya itu.


"Ya, begitulah."


"Kalau memang beda agama memang tidak ada solusi kecuali ada yang mengalah," cicit Bintang. Tidak enak melanjutkan kalimatnya yang hendak mengatakan kepada Kinan agar jangan mau berkorban karena ada Novi di sana. Bisa-bisa Novi salah faham dan menganggap mereka egois.


"Aku dan dia sudah berakhir. Tidak akan ada yang berkorban dan menggadaikan Tuhannya." Ucap Kinan dengan bijak. "Lebih baik berpisah karena Tuhan, daripada bersama tapi meninggalkan Tuhan," imbuhnya kemudian.


"Ya, kamu benar," sahut Novi singkat.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa tahu?" Bintang masih saja penasaran.


"Aku diajak ke rumahnya, bertemu emak, bapaknya."


"Terus? Bagaimana respon orang tuanya mengetahui fakta bahwa kamu dan Beni berbeda."


Bintang sudah seperti wartawan yang mewawancarainya secara detail. Benar-benar sangat kepo.


"Ya begitulah," Kinan menjawab sekenanya saja. Masalah orang tua Beni, ia tidak akan membahasnya dengan siapa pun. Itu momen paling menyakitkan di dalam kisah ceritanya bersama Beni. Kata-kata orang tuanya yang jelas meremehkan Ayahnya.


"Ya sudah, kamu jangan sedih-sedih terus, dong. Kampus sepi tanpa kamu." Novi mengusap lengannya, memberi semangat dan dukungan.


"Kamu kangen aku, ya?" Kinan menggoda seraya mengerling.


"Ya, kangen lah. Aku dan Bintang malas mengikuti mata kuliah. Sering bolos kami."


"Besok aku akan masuk. Dan hari ini aku mesti kerja rodi menyalin ketinggalan selama tiga minggu. Dimohon pengertiannya untuk kedua temanku yang baik hati agar segera pulang dan memberikan waktu kepadaku untuk mengejar ketinggalanku."


"Kami diusir?" Protes Bintang dengan wajah cemberut. "Tega amat sama kita."


"Aku harus fokus," Kinan beralasan, padahal ia hanya ingin sendiri dulu.


"Ya sudah, kami pamit pulang, ya. Sampai bertemu besok di kampus." Novi segera berdiri dan memaksa Bintang agar ikut beranjak.


"Makasih, ya, atas kunjungannya." Kinan mengantar kedua temannya hingga ke depan gang sampai keduanya masuk ke dalam angkot.


Saat Kinan hendak berbalik, sebuah motor berhenti di hadapannya.


"Akhirnya kamu muncul juga di permukaan."


Kinan terkejut, jantungnya berdegup tidak karuan melihat sosok Beni yang tidak ia pungkiri ia rindukan. Hatinya juga berdenyut nyeri melihat penampilan Beni yang kacau. Rambut berantakan, wajah mulai ditumbuhi cambang-cambang halus. Maniknya merah menunjukkan keletihan yang luar biasa. Wajahnya lesu, pucat, menatap Kina dengan tatapan memohon dan memelas.


Suara Beni terdengar serak."Kita perlu bicara. Terserah mau di mana. Di sini, di rumahmu atau di tempat lain."