Hopeless

Hopeless
Chapt. 114



" Kalian itu kenapa?" Tanya Luna dengan gemas menatap kedua pria tampan itu, yang ditatap tidak berani menengok dan membalas tatapan Adel, mereka hanya diam dan menunduk, seperti anak SD yang dimarahi oleh Ibu mereka karna ketahuan berkelahi.


" Gak ada yang berani jawab kah?" Tanya Luna dengan galak, dua orang itu menggelengkan kepalanya, imut sekali. Hampir saja Luna terlena atas ke imutan mereka, gadis itu menggelengkan kepalanya agar fokus dan tetap memasang wajah garang.


" Ck, udah besar masih suka bertengkar, gak dewasa," ujar Luna mendekati Angga dan memegang pipi lelaki itu membuat Darrel berdecih dan memegang pipinya seakan dia yang paling kesakitan.


" Orang Angga yang mukul aku duluan," ujaf Darrel dengan kesal karna aktingnya tidak berhasil memenangkan perhatian Luna. Gadis itu menatap Darrel dengan tajam, membuat nyali lelaki itu menciut seketika. Gadisnya yang imut kini berubah menjadi garang, entah apa yang Angga ajarkan pada gadis ini.


" Udah salah gak usah ngejawab aja," ujar Luna dengan galak membuat Darrel cemberut seketika.


" Tadi nanyain, giliran dijawab malah kayak gitu," gerutu Darrel pelan, tak ingin Luna mendengar dia mengomel.


" Heh!" Sentak Luna yang membuat Darrel dan Angga terkejut, nyatanya melawan perempuan yang sedang marah memang tak akan menemukan titik temu, tidak akan menang meski argumen terdasyat sudah keluarkan.


Luna menghela napasnya dan berjalan menuju kotak P3K dan mengambil obat merah, obat untuk memar dan kassa serta plesternya untuk perekat, tak lupa gunting kecil yang ada di sana.


" Ini terakhir kali Luna tahu kalian bertengkar, kalau kalian masih bertengkar mending sekalian bunuh bunuhan, nanti tinggal Luna kasih sepuluh ribu buat duit bela sungkawa kalo anak OSIS narikin duit ke anak – anak," ujar Luna santai dan mendekat ke arah Angga, gadis itu mulai mengeluarkan antiseptik dan kassa yang sudah terpotong dari kemasannya.


" Tahan ya kak," ujar Luna pelan dan langsung menekan antiseptik itu ke pelipis Angga dengan keras seakan memiliki dendam pribadi pada lelaki itu. Luna menahan tawanya melihat ekspresi kesatikan yang ditunjukkan oleh Angga, lelaki itu bahkan terus berkata 'sshhh' saat Luna menambah tekanannya.


" Sakit sakit sakit sakit sakit, pelan – pelan dong, pakai perasaan kek, ini luka manusia Loh, anak kucing diginiin juga nangis loh Lun," ujar Angga menghentikan gerakan tangan Luna dan menggenggam tangan gadis itu, padahal di sana ada Darrel dan Radith yang sama sama memandang ke arah mereka.


" Waktu berantem aja gak mikirin bakal sakit kok, kenapa sekarang harus sok sok an ngerasa sakit?" tanya Luna cuek dan menarik tangannya kembali dan kembali mengobati luka Angga, namun kali ini Luna berusaha lebih lembut karna memang niatnya tadi hanya mengerjai Angga.


" Ya kan aku pukul dia demi kamu, masak aku diem aja kamu digituin sama dia sampai kamu kemarin ppffttt." Luna langsung membekap mulut Angga meski tangannya masih memegang kassa berlumuran obat merah. Baik Radith maupun Darrel tak tahu apa yang Luna alami kemarin dan gadis itu tak mau mereka tahu.


" Ya udah gak usah modus gitu juga dong," sindir Radith yang merasaa jijik menonton adegan di hadapannya, sementara Darrel diam seperti memikirkan sesuatu. Luna yang ditegur Radith langsung melepaskan tangannya dari mulut Angga.


" bueehh, hueek, Parah kamu kasih obat merah ke mulut aku, yang luka kan pelipis, mana rasanya gak enak banget pula."


" suruh siapa mulutnya kayak ember bocor, nyinyir banget kayak rantai yang baru dikasih Oli," ujar Luna membuang kassa yang dia pegang dan kembali menuangkan obat merah ke kassa yang baru.


" Sejak kapan kamu tahu rantai dikasih Oli? Diajarin kah? Kok aku enggak," ujar Angga tampak berpikir, Luna menggelengkan kepala dan sedikit terkekeh, mana mungkin jurusan elektronika belajar tentang hal itu dalam amta pelajaran? Tentu saja tidak.


" Lihat caption di instagram, kayaknya bagus aja dipakai waktu kayak gini," ujar Luna dengan polos dan menempelkan kasa itu ke pelipis Angga dan mengeratkannya dengan plester.


" Sejak kapan Lo aku kamu an sama Luna? Gak usah sok akrab Lo," ujar Darrel sewot sambil memegang bibirnya yang terasa linu, namun Angga malah memandangnya dengan alis yang terangkat sebelah.


" Apa urusannya sama Lo? Lo itu Cuma mantannya, gak usah sok berhak memiliki atau ngatur dia harus gimana sama siapa," ujar Angga ketus.


" Hah? Putus?!" Teriak Radith tak tahu situasi, bahkan orang – orang di depan pintu UKS bisa mendengar itu dan mereka langsung riuh. Ada yang bahagia, ada yang julid, bahkan ada yang merasa sedih mengingat perjuangan Darrel.


Mereka mulai ribut satu sama lain, membuat Luna pusing sendiri dibuatnya. Namun gadis itu mencoba mengabaikan mereka dan mendekat pada Darrel, mulai mengobati Darrel dengan sangat hati – hati seakan Darrel adalah benda rapuh yang akan hancur bila dia kasar sedikit saja.


" Maaf," bisik Darrel pelan saat Luna mulai mengoleskan obat merah dengan cutton bath karna bibir Darrel sobek. Luna terdiam seketika dengan cutton bath yang masih menekan bibir Darrel.


" sshhh." Darrel sedikit mendesah karna merasakan sakit pada bibirnya, namun dia menyadari bahwa sakit yang dirasakannya tak sebanding dengan sakit yang dirasakan Luna karnanya, namun dia juga menaydari dia tak bisa melepaskan Fera begitu saja, ya, karna Fera cinta pertamanya.


" Maaf buat apa?" tanya Luna sedikit bergetar dan menggigit bibirnya, gadis itu memotong kassa menjadi potongan kecil dan plester menjadi kecil, gadis itu menempelkan dua benda itu di ujung mulut Darrel.


" Maaf buat semuanya, aku udah nyakitin kamu, maaf," ujar Darrel menggenggam tangan Luna yang kini mulai mengalirkan air mata, sakit kembali menjalar ke hatinya. Sakit yang membuatnya nyaris depresi kemarin.


Baik Angga maupun Radith tak bergeming, mereka tak melakukan apa – apa, namun sesaat kemudian Radith berjalan ke arah pintu untuk menutupi celah agar Luna dan Darrel bisa melakukan apapun yang perlu dilakukan tanpa takut gosip menyebar.


" Kakak nyakitin aku apa? Selama ini kan aku yang nyakitin kak Darrel, kita sama – sama tahu kalau Luna tetap suka sama Radith walau pacaran sama kak Darrel," ujar Luna dengan sedih, gadis itu melepastan tangan Darrel yang menggenggam tangannya.


Radith yang namanya disebut tentu tak menyangka, dia mengira Luna sudah sepenuhnya menyerahkan hatinya untuk Darrel hingga dia biasa saja bersikap manis pada Luna, meski sebenarnya hatinya masih berdegup kencang sih, namun dia tak merasa canggung lagi.


Namun siapa sangka Radith langsung mendekat dan menarik Luna, membawa gadis itu pergi dari dua lelaki di sana dan langsung keluar dari UKS. Luna dicecar banyak pertanyaan dan bahkan banyak yang berusaha menyakitinya, tapi Radith melindungi Luna semampunya dan menyelamatkan gadis itu dari amukan massa pendukung Darrel.


Radith tak membawa Luna ke kelas lagi, namun lelaki itu mmebawa Luna atap sekolah dimana dulu mereka sering pergi berdua ke tempat itu. Dalam UKS Darrel masih menunduk dan tak berniat mengejar Luna, sementara menatap kepergian Luna dengan cengo. Dia kalah cepat dengan adik kelas coy.


" Lo gak ada niat buat ngejar Luna?" tanya Angga yang sedikit terkejut dengan respon Darrel, lelaki itu terkekeh tanpa mengangkat kepalanya. Dirogohnya kantong celana dan dikeluarkannya gelang kaki yang kala itu dia temukan.


" Ngejar dia? Dan buat dia terluka lagi? Gue gak seegois dan sejahat itu, selama gue belum tahu hati gue buat siapa, gue bakal jaga jarak dulu sama Luna, setidaknya dia gak akan lebih terluka lagi," ujar Darrel memandang dan menggenggam erat gelang kaki itu.


" Goblok, Lo pengecut banget, heran gue kenapa mau jadi sahabat Lo," ujar Angga dengan wajah kecewa dan langsung keluar dari UKS, membelah lautan manusia yang kini tampak sedih karna Darrel terlihat murung.


Dalam sekejap STM Taruna heboh dengan gosip dan julitan yang semua ditujukan kepada Luna, mereka semua menyalahkan Luna secara sepihak atas berakhirnya hubungan Luna dan Darrel. Bahkan mulai muncul konspirasi dan berbagai versi penyebab Darrel dan Luna putus.


Ada yang bilang Luna tidak bisa melupakan Radith, ada yang bilang Luna menggoda Angga, ada yang bilang Luna berselingkuh dengan Angga, ada yang bilang Luna hanya memanfaatkan popularitas Darrel dan mencampakkan lelaki itu saat bosan. Yah, banyak versi, namun semua menyalahkan Lunetta.


" Lo boleh nangis sepuasnya, gue pakai headset, gue gk dengar apa yang Lo omongin," ujar Radith mendudukkan Luna di bawah sofa sementara dia rebahan di sofa itu dengan headset yang dia tancapkan di telinga.


Luna berdecih atas ketegaan Radith yang memang konsisten dan tak setengah – setengah, meski dia juga bersyukur Radith membawanya kemari karn adia sungguh tidak ingi menemui, melihat atau mendengar siapapun saat ini.


" Dith," panggil Luna dengan pandangan yang menatap ke gedung tinggi yang seakan mngepung sekolah ini.


" Dith," panggil Luna sekali lagi karna Radith tak menyahut sedikitpun. Luna sebal langsung mencubit paha Radith membuat lelaki itu mengaduh kesakitan dan bangun dari tidurnya, menatap Luna garang karna tak terima Luna setega itu padanya.


" Apa sih? Rese banget deh perasaan, udah untung gak gue umpanin Lo ke pendukungnya Darrel, malah Lo ganggu gue meraih mimpi."


" Ya kan gue mau mastiin Lo gak dengar gue, soalnya gue mau curhat tapi gue gak mau Lo dengar, jadi Lo gak boleh dengar," ujar Luna tak mau disalahkan meski jelas dia mencubit Radith dengan cukup keras.


" Bodo amat gue gak dengar Lo ngomong apa, tapi tolong jangan ganggu hibernasi gue, oke? Thank you!" ujar Radith kembali tidur dengan headset yang tak dia lepas dari kupingnya.


" Dith, Lo tahu gak awal kita ketemu gue benci banget sama Lo, harga baju yang Lo pakai berapa sih dith? Kok Lo sombong banget?" Luna berceloteh sementara Radith tetap memejamkan matanya, bahkan nafasnya sudah teratur pertanda dia sudah berjalan – jalan ke alam yang lain.


" Terus waktu kedua kali kita ketemu, sebenernya gue gak mau nagih es krim gue ke Lo, yakalik Cuma es krim doang. Tapi waktu itu gue tengsin ketemu Lo, apalagi posisinya gue lagi berantakan, kucel, nabrak pohon pula, makanya deh gue milih buat marah – marah sama Lo. Eh aktu itu Lo hampir aja ditmbak mati sama Pak Indra loh."


" Lo harus berterima kasih sama gue karna gue selametin nyawa Lo, walau setelah itu berkali kali Lo selametin nyawa gue, makasih ya dith." Luna mendongak dan menatap Radith yang kini menutup matanya dengan tangan, mungkin lelaki itu merasa silau.


" lama kelamaan Lo jadi candu dith, gue selalu suka apapun yang Lo lakuin, apapun itu. Perlahan gue sadar kalau gue bener – bener suka sama Lo. Gue kira rasa gue berbalas, eh ternyata Cuma gue yang rasain itu semua, dan Lo? Lo udah pacaran sama Blenda sejak lama, emang gue aja yang kebaperan, hahaha."


" Emmm kalau dipikir – pikir, cewek yang waktu itu di mall juga Blenda ya dith? Gak tahu deh, gak begitu ngeh juga."


Luna tertawa geli jika mengingat setiap momentnya bersama Radith, memang tak pernah berjalan mulus, namun mereka selalu berhasil melewati itu, seakan mereka adalah malaikat penjaga bagi yang lain. Namun apa daya mereka tak ditakdirkan bersama hingga sampai kapanpun juga mereka tak mungkin bersama.


" waktu gue bener – bener terpuruk karna Lo, kak Darrel hadir dith, kak Darrel yang mau pastiin bikin gue bahagia, dan dia berhasil," ujar Luna terkekeh sejenak.


Radith mengepalkan tangannya meski matanya tetap terpejam. Memang dia berjanji memakai headset, namun dia tak mengatakan headset itu menancap pada ponselnya hingga rasanya sah sah saja dia tidak melakukan itu, al hasil dia bisa mendengar Luna dengan jelas.


" Gue bener bener bahagia waktu sama kak Darrel, memang salah sih dia terlalu manjain gue, tapi gue ngerasa nyaman gitu. Gue kira dia yang paling baik dan mungkin memang gue harus buka hati. Lo tahu dith? Susah banget loh, karna gue selalu kebayang sama Lo, kampret emang."


Radith mulai bisa melemaskan tangannya lagi mendengar itu, dia kembali santai dan menunggu Luna melanjutkan ceritanya, meski dalam hati dia sangat merasa bersalah membuat Luna harus merasakan itu semua, rasanya tak adil.


" Akhirnya, gue bisa ngerasaian gue bisa pastiin kalau gue jatuh cinta sama dia, iya dith, ternyata semua Cuma karna waktu. Tapi kenapa yah waktu gue udah taruh hati ke dia malah dia kayak gitu ke gue? Apa emang gue gak boleh mencintai biar orang itu gak pergi dith?" Luna terkekeh lagi dan mulai mencari posisi nyaman.


Dia menyender pada sofa dekat dengan bahu kiri Radith, tak lama kemudian dia memejamkan matanya karna rasa pusing itu kembali menjalar ke kepalanya. Radith membuka mata beberapa saatkemudian, memastikan Luna sungguh terlelap.


Lelaki itu turun dari sofa perlahan dan mengangkat tubuh Luna untuk tidur di sofa, dia menarik headsetnya dan mengantongi benda itu, mengelus kepala Luna dengan lembut, seakan mencurahkan semua sesak yang juga dia rasa, namun dia menaydari dia tak akan bisa mendapatkan Luna lagi.


" Bahagia terus ya Lun, gue bakal usahain biar Lo bahagia, tunggu ya," ujar Radith sambil mengecup