
Luna menunggu di depan ruang operasi, namun tubuhnya sangat lemas, Jordan sendiri sampai tak tega melihat adiknya seperti ini. Hari sudah sore, gadis itu bahkan belum memasukkan makanan ke mulutnya. Gadis itu tak bisa fokus dan hanya diam dengan pandangan mata mengawang. Tuan Wilkinson yang tak tahan melihat Luna langsung mengode Jordan untuk membawa Luna pulang.
" Kamu pulang dulu aja. Abang antar, kamu gak akan fokuss kalau di sini, abang gak mau kalau kamu yang nanti malah sakit. Kamu ulang dulu aja, mandi, makan terus ke sini lagi," ujar Jordan yang diangguki oleh Luna. Gadis itu bahkan tak memiliki pikiran yang jernih untuk menolak.
" Kalau Luna pulang, kak Darrel bakal selamat gak bang?" tanya Luna dengan polosnya. Jordan langsung menatap papanya, ini yang dia takutkan selama ini, dia takut Luna akan mengalami depresi dan kehilangan kesadarannya. Namun jika sudah seperti ini, tak ada yang bisa disalahkan, lebih baik Jordan mengangguk saja.
" Kita pulang dan waktu kita kembali, Darrel udah baik – baik aja," ujar Jordan yang diangguki oleh Luna. Luna pamit pada papanya. Dia juga pamit pada Lira dan Radith yang memandangnya dengan tatapan sedih, namun mereka masih berusaha untuk tersenyum agar Luna tidak terlalu khawatir. Namun setelah Luna pergi, suasana mendadak menjadi tegang.
" Bagaimana jika benar Darrel gak bisa diselamatkan Om? Bahkan dokter juga udah bilang kemungkinan operasi berhasil dan kemungkinan hidup Darrel setelah operasi sangat tipis," ujar Radith yang tidak dijawab oleh tuan Wilkinson, beliau menyadari hal yang dikatakan Radith juga menganggu pikirannya, namun beliau tak bisa berputus asa untuk saat ini.
" Udah, percaya aja kalau semua bakal baik – baik aja. Dokter udah berusaha yang terbaik. Kalau pun semua gak berjalan dengan baik, kita udah berusaha semaksimal mungkin. Darrel laki – laki yang ajaib, Om yakin keajaiban masih ada di hidupnya," ujar tuan Wilkinson yang membuat Radith mengangguk, dia berharap hal itu menjadi nyata.
Sementara itu di dalam mobil, Jordan masih berusaha berkonsentrasi dalam menyetir, fokusnya terpecah dengan jalanan dan Luna yang masih saja terdiam, gadis itu hanya terdiam tanpa ekspresi, menatap jendela yang memperlihatkan penatnya jalanan ibu kota. Luna yang biasanya bersenandung kini hanya diam, bahkan gadis itu tak tertidur.
" Luna, kamu jangan kayak gini dong. Abang khawatir sama kamu kalau kamu kayak gini," ujar Jordan yang akhirnya tak tahan melihat adiknya jadi sediam ini, namun Luna malah menengok dengan wajah yang bingung, seolah Jordan mengatakan sesuatu yang aneh. Luna tidak merasa yang dilakukan Luna itu salah.
" Mmeang Luna kenapa? Luna gak papa kok. Luna Cuma gak tahu harus ngapain, Luna lagi pingin diam. Bang Jordan gak usah khawatir, Luna gak kenapa – napa," ujar Luna dengan pelan, gadis itu kembali menyenderkan kepalanya dan menatap ke luar Jendela. Jordan menyerah, lelaki itu akhirnya diam dan mempercepat alju mobil agar Luna bisa lekas sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, Jordan membantu Luna untuk masuk, namun lelaki itu mendapat telpon ada masalah di perusahaan dan dia diminta untuk datang. Lelaki itu akhirnya meninggalkan Luna sendiri di rumah karna dia harus membereskan masalah itu agar papanya tidak bertambah pusing setelah semua yang terjadi.
" Kamu gak papa kan abang tinggal? Kamu baik – baik di rumah ya, jangan aneh – aneh dan jangan melakukan sesuatu yang nekat. Janji sama abang ya?" tanya Jordan yang mengulurkan jari kelingkingnya. Luna mengangguk tanpa ekspresi, gadis itu mengulurkan tangannya dan menjabat kelingking Jordan dengan kelingkingnya.
" Luna janji, Luna gak akan melakukan sesuatu yang buruk," ujar Luna yang membuat Jordan melega. Lelaki itu memastikan Luna masuk ke dalam rumahnya dan segera masuk ke mobilnya lalu pergi dari rumah itu agar bisa kembali ke rumah Luna segera. Luna sendiri langsung berjalan menuju salah satu ruang di rumah itu.
Luna masuk ke ruang bermain yang dulu sangat sering dia kunjungi. Luna seringg masuk ke ruang ini saat Darrel, Jordan dan Radith main bersama dan dia bertugas sebagai penganggu abangnya agar Jordan kalah dari Darrel, kekasihnya. Masa dimana dia masih duduk dibangku sekolah dan tidak memikirkan banyak hal.
Masa dimana dia bisa berlaku seenaknya dan tak ada yang memarahinya, ah, Radith bukan salah satu dari orang yang tidak memarahinya karna lelaki itu selalu mengomel untuk apa yang Luna lakukan. Luna sendiri tidak sadar sejak kapan rasa yang dia miliki pada Radith memudar, mungkin ketulusan dan kesabaran Darrel membuatnya melupakan masalah itu.
" dulu, gue nangis – nangis dan frustasi karna Radith. Dulu gue sampai gak bisa terima kalau dia punya pacar setelah semua yang kami alami. Bahkan gue kira Radith itu jodoh gue, tapi ternyata," ujar Luna yang tak melanjutkan kata – katanya. Gadis itu kembali menutup pintu ruang itu dan berjalan ke arah dapur.
Entah mengapa dia sedang ingin mengenang semua ruang yang sering dia datangi bersama Darrel. Bahkans etiap bagian dari rumah ini tak berubah sama sekali, membuat Luna bisa membayangkan saat Darrel dengan hebatnya memasak banyak menu untuknya dan semua lezat. Luna langsung merasa sedih setelah mengingat semua itu.
Gadis itu bergegas meninggalkan dapur dan langsung berjalan ke arah kamar yang ada di lantai satu itu. Kamar yang ditinggali oleh Darrel jika lelaki itu menginap di rumah Luna. Gadis itu masuk ke dalam kamar dan langsung disambut aroma parfume Darrel yang khas, gadis itu duduk di kasur dan menatap ruangan itu.
Pandangan Luna langsung teralihkan pada sebuah foto yang sangat besar, foto yang memperlihatkan Luna merangkul leher Darrel dan mereka tampak tersenyum lebar, Luna ikut tersenyum melihat hal itu. Luna langsung merebahkan dirinya dan menatap langit – langit yang berhiaskan bintang. Dia sangat suka merebahkan diri di kasur milik Darrel.
" Dulu, kalau Luna tidur di sini, kak Darrel bakal ikutan tidur dan bikin Luna geli sampai Luna gak jadi tidur di sini. Dulu kalau Luna memang ketiduran di sini, kak Darrel milih buat tidur di sofa. Terlalu banyak kesempatan kak Darrel buat bikin Luna terikat, tapi kak Darrel milih buat ngelindungin Luna."
Luna nyaris memejamkan matanya, namun seseorang menelpon ke saluran yang terbubung dengan semua telpon yang ada di rumah ini. Luna langsung membuka matanya dan mengangkat telpon itu. Gadis itu mengernyitkan keningnya saat tahu yang menelpon adalah bagian keamanan dari rumah Luna. Gadis itu langsung menutup telponnya dan beranjak dari tempat itu.
" Nona, ini adalah kiriman hadiah dari kurir. Kami sudah memeriksa dan tidak ada sesuatu yang berbahaya di boneka ini. Ini kiriman dari tuan Darrel nona," ujar petugas itu yang membuat Luna terkejut. Apakah kali ini mereka kembali mengerjai Luna untuk ulang tahun gadis itu.
" Luna lupa, Luna hari ini ulang tahun. Apa ini hadiah ulang tahun dari kak Darrel buat Luna? Apa ini Cuma prank dan kak Darrel nanti muncul terus bawa kejutan buat Luna? Iya kan semoga begitu ya kak?" tanya Luna pada boneka itu dan memeluknya. Petugas keamanan itu juga memberikan sepucuk surat untuk Luna.
Gadis itu membawa masuk boneka yang dibawanya dan duduk di sofa. Gadis itu menghapus air mata yang sudah meleleh di pipinya. Dia masih berharap jika sakitnya Darrel, jika kritisnya Darrel dan semua yang terjadi hanya bohong dalam rangka ulang tahunnya. Luna memeluk boneka itu dengan erat.
Luna membaca surat yang tadi diberikan. Luna membaca surat itu dengan hati – hati, ternyata isinya adalah suart petunjuk dari boneka itu. Boneka yang berukuran anak umur tujuh tahun itu ternyata bukan boneka biasa. Luna membaca satu persatu isi perintah itu dengan seksama dan meraba boneka itu dengan pelan. Luna merasakan sebuah tombol pada bagian yang disebutkan dalam surat.
" Tekan tangan sebelah kanan untuk pertama kali, itu adalah ungkapan yang tepat untuk hari ini," ujar Luna menirukan isi surat itu dan menekan tangan sebelah kanan pada boneka itu. Betapa terkejutnya Luna saat mata boneka itu berubah warna menjadi biru dan boneka itu mengeluarkan suara.
" Saeng-il chughahee hamnida, Saeng-il chughahee hamnida, saranghaneun uri Luna, Saeng-il chughahee hamnida."( lagu selamat ulang tahundalam bahasa Korea) Luna langsung terpaku dan langsung tak bisa melakukan apapun saat dia mendengar suara Darrel yang sangat bersusah payah menyanyikan lagu asal Korea itu.
" Kak Darrel, kenapa kak Darre harus bersusah payah kayak gini kak? Kenapa kak Darre; gak lansgung aja datang ke Luna dan kita nyanyi lagu itu sama – sama. Luna gak butuh nyanyian pakai bahasa Korea, Luna Cuma butuh kak Darrel di sini sekarang," ujar Luna sambil mengelap air mata yang kembali membasahi pipinya. Gadis itu menatap tangan kiri boneka itu.
" Pencet tangan kiri untuk tahu bagaimana perasaan aku sama kamu selama ini," ujar Luna yang yang langsung memencet tangan kiri boneka itu, apa yang diucapkan boneka itu membuat Luna makin menangis karna boneka itu berbunyi " Lunetta Azura Wilkinson, aku sayang kamu, sekarang dan selamanya."
" Te.. tekan kaki kanan ka… kalau kamu kangen sama aku. Kali ini apa kak? Luna, Luna takut," ujar Luna dengan tangan yang gemetar, bahkan gadis itu sudah terisak karna serangkaian suara indah yang sungguh sangat dia rindukan. Entah kenapa baru kali ini dia merindukan suara Darrel.
" Hello? Miss me? Don't be sad, here I miss you more. I'll be back, waiting for me." Kali ini Luna tak hanya terisak. Gadis itu sudah menangis, gadis itu tak sanggup untuk melanjutkan ke langkah berikutnya. Gadis itu masih ingat intruksi dalam surat itu, dia harus mengikutinya sampai selesai.
" Pastikan tekan kaki kiri sebelum tidur," ujar Luna yang langsung menekan kaki kiri boneka itu. Boneka itu mengubah matanya menjadi pink, bahkan kini hidungnya juga menyala. Gemas sekali, namun entah mengapa Luna tak bisa merasakan keimutan boneka itu untuk saat ini.
" Selamat tidur kekasihku. Patikan ada aku di setiap mimpi Indahmu," ujar boneka itu yang membuat Luna sedikit tersenyum kali ini. Entah sudah berapa lama lelaki itu menyiapkan boneka ini, namun Luna juga memiliki pemikiran yang buruk terhadap boneka ini. Luna berusaha menghilangkan pikiran buruk itu, namun nyatanya pikiran tersebut tak bisa hilang saat perintah di surat itu memintanya memeluk boneka itu.
" Peluk aku saat kamu rindu. Aku selalu ada di sini untuk kamu." Gadis itu langsungmemeluk boneka itu dengan erat. Boneka itu tak berbunyi lagi, mungkin sensornya akan menyala jika Luna melepaskan pelukan itu dan memeluknya kembali. Luna pun melakukan itu, dan ternyata benar, boneka itu kembali bersuara.
" Kak Darrel kejam. Kenapa kak Darrel kirirm boneka ini untuk menghapus kerinduan Luna? Kenapa bukan kak Darrel yang hadir di sini dan peluk Luna? Kenapa kak?" tanya Luna yang langsung meletakkan boneka itu di sofa dan dia beranjak untuk kembali ke kamarnya sendiri. Namun baru beberapa langkah, gadis itu kembali dan membawa boneka itu dengan menarik leher boneka itu dan menyeretnya.
" Bonekanya kegedean, susah bawanya," rengek Luna karna merasa bone aitu sangat berat. Mungkin karna banyak tertempel tombol, kabel, sensor dan alat untuk mengeluarkan suara. Luna tak menyangka Darrel menyiapkan smeua ini utnuk hadiah ulang tahunnya. Mentang – mentang lelaki itu lulusan jurusan Elektro.
Luna membawa boneka itu masuk ke dalam lift dan mereka segera menuju kamar Luna. Gadis itu sedikit takut namun juga penasaran. Apakah ini merupakan serangkaian kejutan untuknya? Atau ini adalah tanda dari Darrel untuk perpisahan mereka?
" Kak Darrel sengaja siapin ini untuk Luna biar Luna gak kangen waktu kak Darrel pergi. Semoga gak kayak gitu. Iya kan kak? Gak kayak gitu kan kak?" tanya Luna pada boneka yang jika bisa berteriak pasti sudah berteriak karna Luna mencekik lehernya sepanjang perjalanan.