Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 70



Semalaman mereka berada di tempat itu, mereka tidak diberi makan atau minum, apalagi Darrel yang sudah kehilangan darah, lelaki itu hanya bisa pasrah dan tak sanggup lagi melakukan apapun, dia harus segera memunim obatnya jika tak mau berada dalam bahaya, namun mereka akan memanfaatkan kondisinya jika tahu dia sedang sakit.


Luna tertidur karna kelelahan, sementara Radith berusaha untuk mengambil sesuatu yang ada di sepatunya. Ingat kan saat kemarin di geledah? Mereka hanya mengecek baju dan celana Darrel dan Radith, mereka tidak mengecek sepatu Radith, untung saja lelaki itu sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Dia mengambil mata silet yang disimpannya dengan hati – hati agar mereka tak melihat.


" Kak, kak, Lo masih pingsan kak?" tanya Radith berbisik sambil menyenggol Darrel. Radith berani melakukan itu saat memastikan penjaga yang ada di sini sudah memejamkan mata. Pantas saja Pak Indra tak pernah sayang untuk membunuh mereka seperti binatang, nyatanya mereka memang tak dapat diandalkan dan tak bisa memenuhi tugas mereka dengan baik.


" Kenapa?" tanya Darrel dengan lemas, lelaki itu sudah sadar dengan sendirinya, namun dia memilih untuk mengumpulkan tenaga dibanding berusaha untuk melepaskan diri, toh yang mereka lakukan akan sia – sia. Radith yang mengetahui Darrel sudah sadar lantas meminta lelaki itu memperhatikannya.


" Gue udah siapin silet buat potong nih tali, tapi kalau gue potong sendiri, gue takut kalau tangan gue yang kepotong, jadi Lo harus bantuin gue, kalau gue udah berhasil lepas, gue bakal lepasin tali Lo setelah gue lepas, Lo sadar dulu, bertahan sebentar lagi," ujar Radith yang tak dijawab oleh Darrel, lelaki itu terlalu lemas untuk menjawab.


" Kak? Lo masih sadar kan? Kita gak punya banyak waktu, Lo siapin semua tenaga Lo, kita keluar dari sini dan selametin nyawa Lo, gue yakin Tuan Wilkinson udah tahu kita di sini dan dia udah menuju ke sini," ujar Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Darrel, membuat Radith menjadi tak sabar.


" Percuma Lo lakuin itu, mending gLo simpan dan buat senjata kalau kepepet, penjagaan pak Indra, walau Cuma kayak gini, pasti udah keren dan penuh jebakan di luar sana. Kalau ini bukan pak Indra gue pasti udah berusaha dari tadi," ujar Darrel yang langsung menyenderkan kepalanya ke tiang.


" Kenapa Lo jadi pesimis gitu sih? Lo lihat Luna, Lo mau dia dirantai kayak sirkus gitu? Lo tega lihat dia kayak gitu? Kalau kita tunggu besok, belum tentu Luna masih baik – baik aja," ujar Radith yang tak ditanggapi serius oleh Darrel, bukan lelaki itu tak khawatir pada Luna, dia hanya mencoba realistis.


" Gue bukan pesimis, tapi sebelum Lo lakuin kayak gitu, Lo pikir dulu, kalau lo udah lepas, Lo mau ngapain? Kita gak akan bisa keluar dari sini. Kalau kita tertangkap lagi, mereka tahu Lo masih punya senjata dan kesempatan kita buat selamat makin dikit," ujar Darrel dengan sabar menjelaskan pada Radith.


Radith baru menyadari hal itu, dia terlalu gegabah memutuskan di saat dia tak punya rencana untuk langkah berikutnya, dia bisa saja menempatkan mereka semua dalam situasi yang lebih buruk. Namun kenyataan itu membuat Radith makin kesal, dia tak bisa melakukan apapun untuk bisa keluar dari tempat ini.


" Lo gak usah khawatir, mereka gak akan bunuh kita sebelum tujuannya tercapai, gue bahkan belum tanda tangan berkas yang dia minta, Lo gak usah gegabah dan terlalu semangat gitu, gak semua yang kita ingin harus terjadi saat itu juga, kita juga gak bisa selamtin Luna dengan cara itu," ujar Darrel tenang. Radith mengerti hal itu dan akhirnya bisa menenangkan dirinya.


Mereka akhirnya terlelap dengan sendirinya, membiarkan apa yang akan mereka alami besok terungkap dengan sendirinya, mereka sudah pasrah dan menunggu Tuan Wilkinson menjemput mereka, apalagi ada Luna yang menjadi taruhannya, mereka tak bisa melakukannya dengan gegabah.


Pagi menyapa, Darrel merasa enggan untuk membuka mata, begitu juga Radith dan Luna, mereka masih berharap semua yang mereka alami hanyalah mimpi dan mereka akan terbangun di atas tempat tidur mereka yang empuk. Namun hidup tak selalu tentang apa yang mereka inginkan, nyatanya semua yang mereka alami bukanlah mimpi.


Satu persatu dari mereka terbangun karna satu ember berisi air dengan es batu menyiram kepala mereka. Hal itu sangat berbahaya karna bisa membuat mereka mengalami pembekuan otak, namun tampaknya orang – orang itu tak peduli, mereka hanya mau membuat tiga anak malang ini menderita. Darrel yang langsung bangun langsung menggigil dan merasa kepalanya pening.


" Bang*at, mereka keterlaluan, gue baru pertama kali diperlakukan sehina ini, mereka harus bayar pakai nyawa mereka karna udah bikin gue kayak gini," ujar Radith dengan kesal. Darrel terkekeh mendengar Radith yang menggerutu, bahkan tanpa lelaki itu minta, semua orang yang ada di sini akan menderita setelah mereka keluar dari tempat ini.


" Gue udah bilang jangan terlalu bersemangat, anggap aja kita lagi main polisi – polisian dan kita itu masih jadi sandera, kita gak bisa apa – apa kalau polisi gak datang sama sekali. Nanti kalau polisi udah datang, baru kita main tembak – tembakan, anggap itu permainan biar Lo gak tegang dan gak melakukan kesalahan," ujar Darrel dengan tenang.


" Gimana Lo bisa setenang itu di saat kita gak tahu kita masih bisa selamat atau enggak sih? Setidaknya mikir juga tentang gimana caranya kita nyerang setelah polisi itu datang," ujar Radith degan gemas, namun Darrel hanya mengedikkan bahunya.


" Kadang, semua rencana itu gak berjalan semestinya, tapi setiap makhluk hidup yang bergerak itu punya naluri buat bertahan hidup. Naluri itu bakl keluar kalau kita dalam keadaan terdesak, masak pecinta alam gak ada begituannya?" tanya Darrel yang tak dijawab oleh Radith. Radith mengerti kenapa Darrel menjadi orang penting di grub Wilkinson.


Pemikiran lelaki itu sederhana namun penuh dengan pertimbangan, apa yang Darrel katakan memang bisa dibantah oleh Radith, namun pada akhirnya dia tetap akan kalah karna Darrel melihat kenyataan yang ada di hadapan mereka. Meski Radith meleihat begitu, namun Darrel tetap memikirkan apa yang harus mereka lakukan.


Ya, Darrel sengaja melakukan itu agar Radith tidak terburu – buru dan mengambil keputusan yang salah atau malah membuat rencana yang membahayakan. Meski badan Darrel terasa remuk dan tak memiliki tenaga lagi, lelaki itu tetap memikirkan bagaimana mereka bisa ameringankan 'beban' tuan Wilkinson saat beliau datang ke tempat ini untuk mereka.


" Kalian tidak makan dari kemarin, aku tak ingin kalian mati, kalian harus makan sesuatu, karna tangan kalian terikat, kalian akan disuap oleh mereka, jika mereka kasar, kalian boleh berteriak dan aku akan menembak kepala mereka, kalian tenang saja," ujar pak Indra yang membuat penjaga itu takut.


Mereka mulai membawa makanan di hadapan Darrel, Radith dan Luna, meski awalnya ragu, namun akhirnya mereka membuka mulut saat pak Indra mengatakan makanan itu aman untuk dimakan. Mereka tahu meski jahat, orang di hadapan mereka ini tak mungkin menggunakan cara kotor yang rendah, begitulah cara kerja mafia kelas atas, mereka akan menyiksa korban dengan terang – terangan.


" Jika Wilkinson tak datang ke temoat ini sampai tengah hari, mungkin aku harus mengekskusi salah satu di antara kalian. Apa kalian mau mengajukan diri? Atau bagaimana jika kalian memainkan batu gunting kertas untuk menentukan siapa yang terhormat mengambil tempat itu?" tanya pak Indra yang membuat mereka menatap ke arah pak Indra.


" Bahkan kau masih sempat bercanda dengan kami di saat sudah ketahuan kita adalah musuh. Kau sungguh luar biasa pak Indra," ujar Darrel pelan, dia sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya, dia memiliki sedikit tenaga saat ini. Dia tak bisa makan banyak hingga dia memberi instruksi kepada mereka untuk berhenti.


" Kau pikir aku bergurau tuan muda? Baiklah, kau yang akan menjadi orang pertama bila tuan Wilkinson yang terhormat tidak segera datang kee tempat ini, apa kau terkesan dengan hal itu tuan muda?" tanya Pak Indra yang membuat Darrel memutar bola matanya dengan malas, lelaki itu tak menjawab lagi untuk saat ini.


Saat pak Indra keluar, Darrel langsung meminta orang itu mengambil tasnya, orang itu menurut karna jika Darrel berteriak, kepala mereka akan sungguh berlubang. Darrel memanfaatkan situasi ini untuk meminum obatnya tanpa pak Indra ketahui, lelaki itu langsung meminta penjaga membawa lagi tasnya setelah dia selesai meminum obat.


" Kak Darrel minum obat apa? Kak Darrel sakit? Kak Darrel sakit apa?" tanya Luna yang melihat Darrel dan Radith sementara orang di depannya menyuapinya. Luna makan dengan lahap karna dia benar – benar lapar, dia tak peduli jika nanti dia akan mati, yang jelas dia ingin mengenyangkan perutnya untuk saat ini.


" Ini obat kuat, tenang aja," ujar Darrel dengan asal, Radith langsung menatap Darrel dengan jijik, sementara Darrel terekekh ringan dan kembali menyandarkan tubuhnya di tiang. Dia membutuhkan tranfusi darah dan juga proses dialisis secepat mungkin, apalagi dia juga sedikit merasa perutnya nyeri, jika memang ada yang harus dikorbankan hari ini, dia akan mengajukan dirinya.


" Halo, aku sudah menyiapkan berkasnya, kau hanya perlu menandatangani ini dan aku akan menyelamatkan nyawamu hari ini, itu artinya aku akan membunuh lelaki di sebelahmu untuk peringatan kepada tuan Wilkinson jika dia tidak datang," ujar pak Indra yang membuka sembuah map dan menunjukkannya pada Darrel.


" Kau boleh melihatnya dulu, tapi aku tak memberimu pilihan untuk menanda tangani atau tidak, karna kau harus menanda tangani ini," ujar pak Indra yang meembuat Darrel terfokus pada sederet tulisan yang ada di hadapannya. Meski dia tahu dia akan merugi, dia hanya ingin tahu seberapa besar yang dia tanggung.


" Aku harus memberikan seluruh milikku padamu? Apa kau tidak merasa malu merebut permen dari anak kecil dengan cara seperti ini? Bahkan kebanyakan dari hartaku merupakan harta pribadi keluargaku, bagaimana kau bisa memintaku untuk memberikan itu semua?" tanya Darrel setelah membaca isi yang ada di dalam surat perjanjian itu.


" Seharusnya kau hanya meminta saham atas namaku yang ada di keluarga Wilkinson, Kau bahkan mengatakan hal itu kemarin. Kenapa kau meminta terlalu banyak untuk ini?" tanya Darrel dengan kesal, namun pak Indra tak mau ambil pusing dengan permintaan itu, pria itu hanya mengedikkan bahunya dan memberikan pulpen ke Darrel.


" Awalnya begitu, tapi jika aku bisa mendapatkan banyak di situasi ini, kenapa aku tidak melakukannya? Toh kau berada di situasi yang tak bisa memilih," ujar Pak Indra yang membuat Darrel mengeram, lelaki itu tak bisa melakukan apa yang diminta pak Indra, namun jika dia tetap teguh, dia akan membahayakan teman – temannya.


" Kau menggunakan cara yang kotor untuk mendapatkan ini semua. Aku tak pernah menyangka kau sangat licik dan tak memiliki harga diri seperti itu, menyedihkan," ujar Darrel sambil mengambil pulpen yang diberikan pak Indra, dia memilih untuk merelakan smeua harta keluarganya untuk saat ini. Namun tangannya masih terikat hingga dia kesulitan untuk menuliskan tanda tangannya.


" Ah, sepertinya kau sangat kesulitan untuk membuat tanda tangan, tapi tidak mungkin aku melepaskanmu, bis asaja kau langsung menyerangku. Baiklah, mari kita lakukan hal yang lain," ujar pak Indra yang langsung mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Darrel menunggu apa yang akan dilakukan oleh pak Indra dengan was – was.


" Mari kita lakukan dengan cap jari," ujar pak Indra yang mengeluarkan cutter kecil. Darrel langsung tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu, Darrel langsung menyatukan gigi atas dan bawahnya untuk menahan sakit, pria itu tanpa kasihan menggoreskan cutter ke ibu jari Darrel, membuat darah mengalir dari sana.


" Aku membutuhkan DNAmu di cap jari ini untuk membuktikan ini sungguh sidik jarimu. Maaf jika aku harus sdikit menyakitimu," uar pak Indra dengan halus sambil menempelkan ibu jari Darrel ke kertas itu. Darrel sudah geram, ingin rasanya dia menendang kepala orang itu sampai lepas jika memungkinkan.


Pak Indra mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan itu, smenetara mereka hanya menunggu dengan pasrah. Waktu terus berlalu, tak ada tanda – tanda tuan Wilkinson sudah datang ke tempat ini, hal itu tentu membuat ketiga anak yang ada di sana frustasi, bahkan Luna sudah mulai menangis, dia sangat ketakutan salah satu di antara mereka akan terluka lagi.


" OKAY! Waktu kurang lima belas menit sebelum tengah hari. sepertinya tuan Wilkinson akan terlambat. Namun aku bukan orang yang suka menunggu, mari kita tunjukan pada bos besar itu konsekuensi dari membuang waktuku. Silakan kalian pilih siapa yang menjadi orang pertama untuk hari ini." Kehadiran pak Indra yang tiba – tiba dan pernyataannya yang mengejutkan membuat mereka membeku.


Mereka saling pandang satu sama lain, tak mungkin mereka menunjuk yang lain untuk menggantikan posisi mereka, namun mereka juga tak siap menjadi korban yang harus menyerahkan diri mereka.


" Aku akan melakukannya," ujar Darrel setelah beberapa saat terdiam. Hal itu membuat pak Indra takjub dan bertepuk tangan. Lelaki itu memiliki jiwa yang besar, dia selalu ingin melindungi yang lain sebisa mungkin. Radith dan Luna langsung berteriak dan satu persatu dari mereka mengajukan diri untuk menggantikan Darrel.


" Maaf, kalian akan mendapat giliran lain kali. Ah, karna kalian baik hati, aku akan berbaik hati dengan mengeksekusi dia di depan kalian, kalian pasti akan suka itu," ujar pak Indra yang membuat Luna dan Radith melotot. Pak Indra meminta penjaga untuk melepaskan rantai yang mengikat Darrel dan membawa lelaki itu ke tengah.


" Darrel Atmaja, bahkan kau mau mengorbankan nyawamu setelah memberikan segala yang kau punya. Mereka pasti sangat berharga untukmu," ujar pak Indra yang langsung mengeluarkans ebuah pistol, Darrel tak menjawab, lelaki itu hanya memejamkan matanya agar tak terlalu merasakan sakit, begitu juga dengan Luna dan Radith, mereka tak sanggup untuk melihat.


"Satu."


" Dua." Darrel sungguh pasrah, lelaki itu benar – benar memejamkan matanya dengan kepala yang menunduk. Dia bisa mendengar pak Indra sudah menarik pematik yang ada di pistol itu, satu tekanan pada pelatuk sudah bisa membuat kepalanya pecah


" Ti.."


" Kenapa kau mengancam anak – anakku? Bahkan ini belum lewat tengah hari!" suara yang tegas itu membuat pak Indra menghentikan aksinya dan menatap ke arah suara itu berasal.


" Daddy?" pekik Luna dengan lega.