Hopeless

Hopeless
Chapter 67



Jordan menatap langit malam dari dalam ruangannya, seketika bayangan masa lalu itu mendominasi pandangannya, entah mengapa tiba - tiba dia merindukan Nayshila.


Pria itu masih mencintai Nayshila, namun dia sadar dia harus menemukan hati yang baru, dan kini Jordan menemukannya. Namun di saat Jordan merasa gadis itu pilihannya, Jordan baru mengetahui gadis itu mantan kekasih sahabatnya yang bahkan Jordan tidak bisa mempercayai fakta penyebab mereka berakhir.


Haruskah Jordan menyerah saat ternyata gadis itu mungkin bukan gadis yang baik? Meski Jordan tahu penyebab gadis itu menjadi jahat, namun dia tidak ingin Luna atau orang sekitarnya dalam bahaya.


" Astaga, kenapa gue jadi pusing gini? Ini karna kamu Nay, bikin aku jomblo 9 tahun, jadi pusing kan waktu ketemu cewek lain."


" Nay, aku bukan gak cinta lagi sama kamu, aku harap kamu gak marah ya kalau aku pacaran sama dia nantinya, kamu tetap punya tempat di hatiku. Jangan cemburu."


Jordan tersenyum saat salah satu bintang di atas sana bersinar terang, seakan Nayshila sedang melihatnya dan tersenyum padanya.


" Aku tahu kamu bakal restuin aku, kamu kan baik, hahahaha."


~ Ting


Jordan membuka ponselnya dan mendapati pesan dari Darrel. Entah apa tujuan Darrel mencarinya, namun mungkin dia memang membutuhkan teman pria untuk bicara dibanding bicara dengan angin.


Tak lama pintu pun diketuk dan Darrel masuk ke dalam ruangan kaca yang langsung melihat ke arah langit, meski ruangannya di lantai 2, rumah ini di desain agar tiap lantai bisa menikmati pemandangan yang sama.


" Lo tahu aja gue butuh temen, Luna cerita ke Lo ya?" tebak Jordan tanpa melihat ke arah Darrel. Darrel hanya diam dan mendekat ke arah Jordan, memberi lelaki itu sebotol soda yang baru dibuka.


Jordan meneguk air dalam botol itu dan menunggu Darrel membuka suara, Darrel tampak menghela nafas dan menatap ke arah Jordan.


" Bang, kok abang bisa segalau ini sih bang? Padahal abang kece loh kalau sok ganteng," ujar Darrel masih dengan nada sopan, membuat Darrel berdecak kesal mendengarnya.


" Kita cuma berdua, gue minta sama Lo jangsn terlalu formal, geli gue dengernya. Kalau lagi sama gue doang panggil aja Lo - Gue."


" Oke, tapi jangan anggap gue kurang ajar sama calon kakak sendiri," ujar Darrel yang langsung mengikuti perintah Jordan.


" Najis calon kakak ipar," ujar Jordan dengan malas sambil memalingkan wajahnya.


" Gue baru pertama kali lihat Lo galau gini bang," ujar Darrel yang memposisikan diri ada di sebelah Jordan.


" Lo gak tahu rasanya ditolak sama orang yang bener bener lo sayang, Lo enak bisa dapetin Luna waktu Lo nembak dia."


Darrel tertawa mendengar perkataan Jordan, seperti itukah kelihatannya? Bagus jika orang lain melihat seperti itu.


" Apa bedanya dia nerima gue tapi hatinya masih ada di Radith?" tanya Darrel dengan nada yang tenang, membuat Jordan menengok ke arah Darrel dan menatapnya bingung.


" Selama ini adek gue masih suka Radith? Lah bukannya kalian udah kayak permen karet di bawah kursi? Nempel banget."


" Hahaha, tapi sampai sekarang pun Luna masih ragu sama gue bang, di hatinya masih ada Radith, mungkin malah gak akan pernah," ujar Darrel tertawa hambar.


" Jadi Lo jangan nyerah selagi cewek yang Lo taksir gak suka sama cowok lain bang, Emang Lo ditolak karna apa sih?" tanya Darrel yang tak ingin curhat pada Jordan yang butuh teman curhat.


" Dia gak suka yang boros - boros, tapi gue malah nembak dia pakai keborosan yang super. Tanpa pikir panjang dia nolak gue," ujar Jordan sambil menghela nafas.


" Lah kalau tahu dia gak suka boros kenapa Lo nembak dia pakai keborosan?" tanya Darrel yang tak paham.


" Gue juga baru tahu waktu dia nolak, terus gue selidikin latar belakang dia, ternyata dia mantannya sahabat gue," ujar Jordan yang membuat Darrel terkejut.


" Gila sih Lo," ujar Darrel menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.


" Gak kayak yang Lo pikir, tapi gue gak bisa cerita, intinya gue frustasi karna dia nolak gue."


" Ya kalau gue sih bakal gue kejar dan gue tembak terus sampai akhirnya dia frustasi karna nolak gue, terus nerima gue deh. Tapi harus dipastiin dia suka gak sama gue."


Jordan menatap Darrel serius, seakan mendapat ilham dari perkataan lelaki itu. Mengapa Jordan tidak memikirkannya dari tadi? Saran Darrel memang bisa dicoba.


" Kalau dia malah benci sama gue gimana?" tanya lelaki itu sebelum meyakinkan dirinya.


" Kalau Lo tahu dia suka sama Lo, gak mungkin dia tahan molak Lo terus," jawab Darrel sambil mengedikkan bahunya.


" Makasih Bro, Lo emang terbaik," jawan Jordan dengan semangat, membuat Darrel terkekeh karenanya.




*


" Dith, Traktir gue yah, uang gue habis buat beli skincare," ujar Luna yang merengek pada Radith, membuat lelaki itu tak tahan karena sedari tadi diganggu oleh Luna.


" Lun, gue lagi push rank, nanti lah, atau nih bawa dompet gue Lo pergi sendiri," ujar Radith dengan sabar. Menghadapi Luna memang harus memiliki kantong sabar cadangan.


" Lun, gak usah rewel, sana gih jauh jauh dari gue."


Luna berdecak dan meninggalkan Radith, gadis itu duduk di kursinya dan menjatuhkan kepalanya di meja dengan keras, namun gadis itu tidak mengaduh, dia malah menidurkan dirinya.


Radith yang melihat itu tentu bertambah kesal, Luna sengaja melakukan itu agar Radith merasa kasihan dan menghampirinya.


Lelaki itu berusaha mengabaikan Luna, namun sepertinya hatinya memang melemah, dia mematikan ponselnya dan bangkit menghampiri gadis itu.


" Buruan," ujar Radith yang menarik lengan Luna meski gadis itu masih tertidur. Luna yang ditarik hanya pasrah mengikuti langkah kaki Radith.


Lelaki itu membawanya ke kantin langganan mereka dan memesankan Luna makanan yang gadis itu doyan.


Luna memakan makanan yang dipesankan Radith dengan lahap, membuat lelaki itu menggeleng dramatis.


" Anak orang kaya, tapi kayak gak pernah makan aja," ujar Radith secara terang terangan di depan Luna.


" Orang kaya juga manusia," jawab Luna dengan santai.


Dari kejauhan tampak Darrel yang melihat keduanya begitu akrab. Entah mengapa suasana hatinys langsung memburuk. Lelaki itu menghampiri Luna tanpa berpikir panjang lagi.


" Luna," panggil Darrel yang membuat Luna mendongak, gadis itu langsung tersenyum riang dan melambaikan tangannya.


" Ayo kak makan, ditraktir sama Radith," ujar Luna sambil menyengir, namun Darrel tidak menanggapi hal itu dengan baik, lelaki itu bahkan tidak tersenyum sama sekali.


" Kenapa kak?" tanya Luna yang masih belum paham arah pembicaraan Darrel.


" Oke kalau kamu mau sama dia," jawab Darrel yang pergi begitu saja, membuat Luna sedikit tersedak dan menatap kepergian Darrel.


Gadis itu menyadari sesuatu dan segera bangkit untuk mengejar Darrel, bahkan tak mempedulikan Radith yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Luna mengejar Darrel yang melangkah dengan kaki panjanganya, lelaki itu berjalan ke arah taman belakang sekolah, nasib baik Luna melihatnya saat berbelok.


" Kak Darrel, hosh hosh, Kak Darrel kenapa?" tanya Luna dengan napas pendek karena berlari untuk menyamai langkah Darrel.


Lelaki itu tampak membenarkan rambutnya dan mendesah frustasi, dia sedang mengendalikan emosinya sendiri.


" Sebegitu sukanya kah kamu sama dia? Bahkan ke kantin pun kamu ngajak dia dan bukan aku Lun?" tanya Darrel dengan blak - blakan. Mungkinkah pertahanan lelaki itu runtuh? Mungkinkah kesabaran lelaki itu habis?


" Kak Darrel, gak, gak gitu kak," jawab Luna dengan gagap, gadis itu bahkan tidak mengerti mengapa Darrel semarah ini.


Darrel sering melihatnya pergi bersama Radith, dan lelaki itu baik - baik saja. Namun mengapa hari ini Darrel jadi marah besar?


" Kak, kalau aku sama Radith juga pasti ijin kak Darrel, kak Darrel selalu tahu, tapi kenapa baru sekarang dipermasalahkan?" tanya Luna yang tidak mengerti, membuat Darrel berdecih dan terkekeh sinis.


" Kalau selama ini aku diam bukan berarti aku terima Lun, aku udah sabar, tapi kamu nya gak pernah sadar, kamu gak pernah peka, kamu pikir aku gak bisa ngerasain sakit?" tanya Darrel yang mengeluarkan semua uneg - unegnya


Luna langsung meneteskan air mata saat Mendengar pengakuan Darrel, apakah selama ini Luna seegois itu? Apakah Darrel sangat terluka?


" Kenapa kak Darrel gak bilang dari awal kalau kak Darrel gak terkma atau ngerasa terluka?" tanya Luna yang masih tidak mengerti jalan pikiran Darrel.


" Aku cuma pingin kamu bahagia, aku udah kasih semuanya biar kamu bahagia, tapi ternyata hati kamu masih buat dia, aku bisa apalagi Lun?" tanya Darrel yang akhirnya menampakkan wajah frustasinya.


" Kak Darrel," lirih Luna yang merasa sangat bersalah.


Luna hanya merasa nyaman dan aman saat bersama Radith, Luna pun tidak bisa mengendalikan perasaannya. Namun disisi lain Luna memang mengakui dia juga tidak ingin kehilangan Darrel, tidak sedikitpun.


" Kalau kamu memang suka banget sama dia, Aku bisa lepasin kamu sekarang," ujar Darrel saat Luna tidak menjawabnya, mungkin lebih baik seperti ini. Mungkin Darrel memang terlalu memaksa Luna.


Luna menggeleng sebagai jawaban, dia tidak ingin berakhir seperti ini. Tidak dengan Darrel yang merasakan sakit hati, tidak dengan melukai perasaan lelaki itu.


" Kak Darrel kasih Luna kesempatan, Luna masih bingung sama perasaan Luna, Luna gak tahu kak," ujar Luna sambil terduduk di tanah, kakinya lemas sampai tidak kuat menopang tubuhnya.


" Aku gak mau semua karna terpaksa Luna, aku tahu kamu masih sayang sama dia, padahal kamu tahu dia punya pacar. Sebegitu sulitkah sayang sepenuhnya sama aku Lun?"


Luna tidak tahu harus mengatakan apa, dia hanya bisa menangis, seolah ikut merasakan sesak yang Darrel rasakan.


" Kamu mau kita putus aja atau gimana?" tanya Darrel setelah menghela nafas beberapa kali. Ingin rasanya dia memeluk Luna, namun hatinya juga sedang dalam keadaan buruk.


Luna menggeleng beberapa kali sebagai jawaban. Dia tidak mau mengakhiri hubungan ini, apalagi dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Darrel.


" Aku gak bisa paksa kamu, tapi maaf, mungkin aku bakal beda mulai dari sekarang," ujar Darrel yang melangkah meninggalkan Luna.


" Aku udah cukup sabar dan nunggu kamu selama ini, mungkin aku bisa bertahan sebentar lagi, tapi aku gak bisa tahu sampai kapan hati aku kust dicabik terus menerus."


Lelaki itu melangkah begitu saja, meski melihat Luna menangis sesenggukan di tanah yang kotor, jika biasanya lelaki itu akan membantu Luna untuk bangkit, kini dia memilih mengabaikan Luna.


Gadis itu terpaksa berdiri dan mengelap wajahnya saat mendengar bel berbunyi, dia harus segera bergegas menuju kelas, tidak peduli dengan matanya yang sembab.


Luna berjalan cepat menuju kelas, tidak ingin jadi pusat perhatian bagi siswa lain, apalagi dirinya sudah cukup sering jadi topik pembicaraan di sekolah ini.


" Lo kenapa?" tanya Radith yang berpapasan dengan Luna saat gadis itu hendak masuk.


" Kak Darrel marah sama gue, kak Darrel salah paham, hiks hiks," Ujar Luna yang akhirnya tidak tahan lagi, padahal gadis itu sudah menahan agar tidak menangis.


" Maksudnya gimana? Lo kalau cerita yang lengkap," ujar Radith sambil menaril Luna masuk ke dalam kelas dan mengajak gadis itu menuju bagian belakang kelas untuk berbicara.


" Dia lihat kita makan, dia, dia marah, dia gak suka lihat kita bareng dith," ujar Luna secara rancu.


" Lo masih suka sama gue?" tanya Radith tiba - tiba, membuat Luna menjadi kelu untuk menjawab.


Radith yang melihat respon Luna tentu langsung peka, jika tahu begini, Radith tidak akan merespon Luna. Lelaki itu kira Luna sudah bahahia bersama Darrel.


" Lo harusnya berhenti suka sama gue di saat Lo memutuskan buat pacaran sama Kak Darrel," ujar Radith dengan lirih, dia juga jadi merasa tidak enak dengan Darrel.


" Kalau gue bisa milih, gue pasti udah milih buat berhenti dith, tapi nyatanya gue gak bisa, gue masih suka sama Lo, gue harus apa dith? Gue harus apa biar benci sama Lo?" tanya Luna sambil terisak.


Pernahkah kalian menyukai seseorang yang jelas tidak menyukai kalian? Namun saat kalian ingin berhenti, hati kalian masih bersama orang itu, seakan orang itu mengikat langkah kalian hingga kalian terpaku pada satu hati.


" Gue bukan orang yang tepat buat Lo, Lo juga tahu gue punya pacar, gue sayang sama dia Lun, dan gue gak akan korbanin dia buat Lo," ujar Radith secara gamblang agar Luna segera sadar.


" Gue harus gimana dith? Gue mau bisa suka sepenuhnya sama kak Darrel," tanya Luna dengan frustasi.


" Lo harus belakar terima kenyataan kalau gue emang bukan buat Lo, Lo harus bisa lupain gue Lun," ujar Radith dengan pelan.


Radith lelah 'mengusir' Luna agar gadis itu berhenti menyukainya, mungkin dengan cara halus Luna bisa tersadar.


" Lo harusnya bersyukur karna laki laki seperfect Darrel udah cinta mati sama Lo, dia bahkan rela korbanin apa aja buat Lo."


" Lo harus tahu Lun, kalau Lo kehilangan dia, Lo gak akan mungkin bisa sama gue."


Radith menghela napasnya, jika kala itu Radith tega mengatakan kalimat yang menusuk, kali ini hati kecil Radith menolak untuk itu.


" Kalau Lo serakah suka sama keduanya, Lo bakal kehilangan semuanya, percaya atau engga."


Radith langsung bangkit berdiri dan kembali ke tempat duduknya, sementara Luna terdiam dengan pikiran menerawang.


" Apa ini akhir buat gue sama kak Darrel?"


" Apa pada akhirnya gue kehilangan semuanya?" Tanya Luna pada dirinya sendiri dengan lirih.