Hopeless

Hopeless
Chapter 63



Seminggu berlalu, entah Ilmu apa yang bisa Luna dapatkan, bahkan gadis itu mengikuti jejak Radith yang tidak mengerjakan apapun. Rasanya otak 'cerdas' miliknya sedikit berkarat sejak masuk sekolah ini.


Pikirannya pun terbagi antara Sekolah, kegiatan OSIS dimana dia menjadi seksi acara serta cara menangkap basah Syifa yang terus mengirim teror kecil untuknya.


Bahkan Luna sudah mulai terbiasa dengan Teror tidak bermutu itu, coretan di papan tulis, pesan teror dari nomor tak dikenal, atau 'hadiah' kecil yang disimpan di laci kelasnya.


Luna memilih fokus untuk mengerjakan tugasnya sebagai divisi Kreativitas, meski harus bekerja sama dengan musuhnya sendiri, setidaknya dia harus selesaikan tugas ini, apalagi kegiatan itu semakin dekat.


Kegiatan itu akan di selenggarakan akhir minggu ini, tidak semewah kegiatan dies natalis, hanya seperti refreshing untuk siswa sebelum menghadapi ujian akhir semester.


Yah, seperti sebuah jebakan. Membuat dirimu terlena serta berleha- leha, dan bila saatnya tiba, Boom!! Kau tidak bisa mengerjakan soal yang ada. Hebat sekali bukan?


" Luna, kamu sudah koordinasi bagian Dekorasi?" tanya Syifa yang sibuk mencatat hal yang diperlukan untuk kegiatan ' STEMTA mencari bakat.'


Yah, setidaknya di tempat ini Syifa tampak profesional dan tidak berani menyakitinya. Akting gadis itu patut diapresiasi.


" Sudah, urusan konsumsi udah, cuma tunggal sound system sama meja kursi aja," jawab Luna sambil memakan cilok yang dia bawa.


Sedari pagi dia tidak makan apapun, hanya meminum segelas susu, tentu tidak dapat mengganjal perutnya. Gadis itu sibuk dari pagi sampai sore untuk mempersiapkan pentas seni.


Darrel sendiri sibuk mengurusi perihal lain untuk acara ini, karena divisi mereka berbeda, tentu mereka hanya bertemu saat rapat. Itupun Darrel sungguh berubah jadi menyeramkan.


Seperti kemarin, Luna disentak habis - habisan karena dia belum sampai persiapan 90 persen padahal acara tinggal menghitung hari. Meski pada akhirnya lelaki itu meminta maaf pada Luna saat mereka sedang berdua, yah, memang Profesionalitas tidak memandang siapapun bukan?


" Oke sip, persiapan kita udah 95 persen, akhirnya bisa agak tenang dan gak diomelin sama kak Darrel lagi," ujar Syifa dengan senang sambil menutup bukunya. Gadis itu melakukan sedikit peregangan untuk menghilangkan pegal di tubuhnya.


" Aku mau beli minum dulu, mau ikut atau titip gak?" tanya Luna setelah menghabiskan potongan terakhir ciloknya. Syifa tampak diam dan berpikir, sebelum gadis itu akhirnya mengangguk.


" Teh dalam kemasan botol aja, yang dingin ya kalau aja," ujar Syifa sambil membereskan meja yang dia pakai untuk menulis.


" Okedeh, tunggu ya," ujar Luna riang meninggalkan Syifa yang menatap kepergian Luna tanpa melepaskan pandangannya.


" Sorry Lun," ujar Syifa pelan sambil tersenyum sinis, setelah itu dia kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda.




*


" Sampai dimana persiapan lomba pensinya?" tanya Darrel yang tadi sudah mulai membuka rapat.


" Sudah 95 persen, tinggal menunggu info sound system dari perkap dan memindah meja juri ke lapangan, nanti menggunakan meja dari kelas saja," jawab Syifa menanggapi pertanyaan Darrel. Tampak lelaki itu mengangguk dan tersenyum puas atas kerja timnya.


Mereka yang melihat Darrel tersenyum tentu merasa melting, mereka berbisik satu sama lain untuk memuji ketampanan Darrel saat tersenyum.


" Gilak, senyumnya bikin rahim gue menghangat," ujar salah seorang teman Darrel yang membuat Luna sontak melihat kearah orang itu. Tampak orang itu sednag mengelus perutnya, Luna langsung bergidik geli karena tingkah orang itu.


" Gue gakpapa Jomblo sampai nikah kalau nikahnya sama dia, nabung bibit dulu juga boleh kalau dia mau mah," ujar gadis di sebelah orang itu. Astaga, apa mereka sudah lupa martabat perempuan? Menjijikan sekali.


" Tapi dia gak mau sama Lo Bego," sentak orang yang tadi mengelus perutnya. Luna tersenyum mendengar hal itu. Benar, Darrel tak akan mau dengan gadis seperti itu.


Darrel membubarkan mereka setelah rapat usai, lelaki itu mengirimi Luna pesan untuk menunggunya di Gerbang belakang.


Luna menurut dan berjalan menuju gerbang belakang seorang diri, mungkin berdua dengan pengawal 'tak terlihat' yang Jordan kirimkan


Gadis itu berdiri disamping gerbang, entah mengapa menunggu terasa lama, Luna berjalan mondar - mandir untuk mengusir kebosanan. Tiba - tiba datang dua orang memakai motor menodongkan clurit di depannya, membuat Lunetta memundurkan kepalanya meski kakinya tak bergerak.


" Serahkan semua uang kamu kalau gak mau leher mulus itu putus karena ini!" ujar Orang itu mendekatkan Clurit yang dia pegang.


Luna memandang orang itu bingung, dia minta uang? Pengemis jaman sekarang seram begini kah? Dalam hidup Luna tidak pernah mengetahui ada profesi yang disebut Begal.


Tak butuh waktu lama, orang yang menodongkan Clurit tersebut mengaduh kesakitan. Tampak dia memegang kakinya yang berdarah dan terdapat sebuah Shuriken disana.


Muncul seorang memakai kaos hitam mendatangi mereka dan memiting leher orang yang menodong Luna. membuat orang itu kesulitan bernapas dan melepaskan Clurit yang dia pegang.


Ditariknya orang itu sampai terjatuh dari motor, sementara saat temannya hendak kabur meninggalkannya, orang berkaos hitam itu mengeluarkan semacam paku panjang dan melemparkannya ke Ban orang itu, membuat motornya tak imbang dan jatuh seketika.


Lunetta ingin bertepuk tangan karena melihat secara langsung adegan film laga yang sering ditontonnya, ternyata melihat secara langsung lebih seru dibanding hanya membayangkannya.


Tak lama Darrel keluar dari dalam sekolah menggunakan motornya, Lelaki itu bingung dan melepas helmnya untuk bertanya mengapa pengawal Luna memiting seorang itu.


" Kenapa Lun?" tanya Darrel saat sudah turun dari motor.


" Ah kak Darrel telat, seru tahu kak nonton Film laga," ujar Luna tersenyum senang dengan mata ysng berbinar, membuat Darrel melongo seketika.


" Memang dia siapa?" tanya Darrel lagi.


" Bukan dia, tapi mereka. Tuh satunya," ujar Luna menunjuk orang yang tertimpa motornya.


" Iya, mereka siapa?" tanya Darrel mengulangi pertanyaannya.


" Mereka pengemis kak, cuma seram bawa clurit," ujar Luna menunjuk Clurit yang tergeletak di tanah.


" Kok pengemis?" tanya Darrel yang semakin bingung dengan jawaban Luna.


" Iyalah pengemis, mereka datang - datang minta uang sama Luna sambil nodongin Clurit, kalau minta - minta gitu kan namanya pengemis," ujar Luna dengan memiringkan kepala menghadap Darrel.


Darrel mengerti maksud Luna, dia menjadi gagal paham karena Luna menyebut mereka pengemis, gadis itu tinggal di goa mana selama ini?


" Namanya Begal Lun, bukan pengemis," ujar Darrel masih sabar menghadapi polosnya Luna.


" Begal itu apa?" tanya Luna dengan bingung, ekspresi wajahnya yang polos membuat Darrel gemas karenanya.


" Ya mereka itu begal," ujar Darrel menunjuk orang yang masih diamankan oleh pengawal Luna.


" Dekil, item, jahat, hidup, urakan?" Tanya Luna yang mendeskripsikan Begal sesuai yang dia lihat dari orang itu. Darrel mengusap wajahnya karena gemas dengan Luna, jika buksn di sekolah, Darrel pasti sudah memeluk Luna dengan erat sampai gadis itu teremas.


" Bukan gitu, begal itu orang jahat uang maksa buat minta sesuatu dari kamu," ujar Darrel sambil menarik Luna untuk menjauh.


" Eh eh eh, mau kemana? Itu begalnya belum dibunuh," ujar Luna menolak untuk ditarik oleh Darrel, membuat lelaki itu menghentikan langkah dan menatap Luna dengan tatapan tidak percaya.


" Ya ngapain dibunuh? Udah biar pengawal kamu yang urus, kita pulang aja, ada pengawal aku yang ngikutin kita."


Luna sedikit sedih mendengar perkataan Darrel, dengan lesu gadis itu naik ke motor Darrel dan menyaksikan Pak Begal yang kesal karena tertangkap.


" Kak Kita mau kemana?" tanya Luna saat Darrel membelokkan motor ke arah yang berbeda.


" Ke Resto," jawab Darrel singkat karena fokus menyetir.


" Ngapain?" tanya Luna dengan bingung.


" Jadi Begal!" Seru Darrel dengan gemas. Luna pun hanya mengangguk percaya sambil membulatkan bibirnya membentuk huruf O.




*


" Kita ngapain makan di luar kak? Kan tadi siang udah. Kak Darrel juga kesini kok gak ngabarin sama sekali sih?" tanya Luna yang memakai baju tidur bergambar kartun miliknya.


" Hehehe, namanya juga kejutan. Buruan kamu ganti baju, atau mau aku gantiin nih?" tanya Darrel dengan tatapan menggoda.


" Gak mau ah, ngapain juga udah malem malah makan di luar. Bukannya dari tadi," ujar Luna dengan enggan sambil menutup wajahnya dengan boneka besar.


" Serius gak mau? Yah, kejutannya batal dong," ujar Darrel dengan kecewa, membuat Luna jadi penasaran. Kejutan apalagi yang Darrel siapkan untuk Luna?


" Mau kasih kejutan apa kak? Kasih tahu Luna dulu, siapa tahu Luna berubah pikiran."


" Mana ada Kejutan dikasih tahu dulu?" tanya Darrel memutar bola matanya, membuat Luna terkekeh sambil menggaruk lehernya.


" Yaudah kak Darrel keluar dulu, Luna mau ganti baju," ujar Luna menarik Darrel dari sofa dan mendorong lelaki itu untuk keluar.


Luna memilih rok beberapa senti diatas Lutut berwarna putih, baju berwarna merah serta sepatu berwarna putih, dia mengambil tas berwarna merah dan memoles bibirnya dengan lipsgloss tipis.


Gadis itu keluar dari kamar dan mendapati Darrel yang memainkan ponselnya, sepertinya sedang membuka aplikasi berisi konten kreator.


" Ayo kak," ujar Luna yang membuat Darrel mendongak dan menatap Luna dari atas sampai bawah.


" Untung naik mobil," ujar Darrel tanpa sadar. Membuat Luna menatap penampilannya sendiri, apakah ada yang aneh?


" Memang kenapa kalau naik motor?" tanya Luna dengan bingung.


" Nanti dikira orang aku lagi ngibarin bendera," ujar Darrel sambil terkekeh, membuat Luna menggembungkan bibirnya karena merasa diledek oleh lelaki itu.


" Kak, kita mau jadi begal ya? Kan tadi malem belum jadi," tanya Luna dengan polos membuat Darrel mendesah frustasi.


" Udah ikut aku aja," jawab Darrel yang enggan berdebat lebih lanjut.


Mereka berjalan keluar dan menuju mobil, beberapa orang masuk kedalam sebuah mobil dan mengikuti mereka. Hari sudah malam, untuk mrngantisipasi hal buruk, lebih baik Darrel menyiapkan bantuan ekstra.


Darrel membelokkan mobilnya menuju tempat yang tidak asing bsgi Luna, Luna mengingat jelas tempat itu, mengapa Darrel membawanya kemari?


" Ayo turun," ujar Darrel yang ternyata sudah membukakan pintu untuk Luna. Gadis itu melangkah mengikuti Darrel dan duduk di meja yang sengaja disiapkan oleh lelaki itu.


" Kamu ingat tempat ini kan?" Bagaimana Luna bisa Lupa tempat ini? Disinilah pertama kali dirinya diberi kejutan oleh Darrel, kejutan manis yang membekas di hatinya.


" Waktu itu kita nulis di lampion yang sama, dulu aku tulis 'Lunetta' dan sekarang harapan di lampion itu terkabul, kamu ada disini sama aku, dengan status yang lain," ujar Darrel sambil tersenyum manis, senyum berbeda dan langka. Senyum yang hanya dia tunjukkan untuk Lunetta.


" Dulu aku cuma gambar Love sih, aku bingung mau tulis apa," ujar Luna tidak enak sambil menggaruk lehernya.


" Haha bagus dong, nyatanya kamu bisa dapat cinta sku sekarang," ujar Darrel memainkan alisnya, membuat Luna menjadi bersemu karena malu.


" Kamu pegang ini," ujar Darrel memberikan sebuah kembang api kepada Luna, gadis itu menerima kembang api tersebut meski masih bingung apa yang hendak dilakukan oleh Darrel.


Lelaki itu berdiri dan mengajak Lunetta untuk berdiri di pinggir danau, Lunetta mengerutkan dahinya dengan bingung. Tidak ada lampion atau lampu kecil indah ysng menghiasi tempat ini.


" Kamu pegang erat - erat, aku nyalain kembang apinya," ujar Darrel mengeluarkan korek dari sakunya. Luna menggeleng enggan karena takut, dia takut melakukan kesalahan dan akhirnya berbahaya bagi dirinya.


" Yaudah, kita pegang bareng - bareng," ujar Darrel mengalah dan berdiri di belakang Luna, memegang kembang api itu dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang lain menyalakan kembang api itu.


Sumbu mulai terbakar, Darrel pun menggenggam tangan Luna dan memegang kembang api tersebut. Luna memejamkan mata saat kembang api mulai menyala dan mengeluarkan suara keras. Namun akhirnya dia membuks mata dan terkagum dengan keindahannya.


Ternyata rasanya berbeda bila kita menyalakannya sendiri, seakan ada sensasi tersendiri. Kembang api tersebut berhenti menyala di semburan yang ke sepuluh, membuat Luna sedikit kecewa.


Darrel sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi Luna, lelaki itu membuang bungkus kembang api yang sudsh tidak ada isinya dan mengalungkan tangannya di perut Luna yang rata, sementara dagunya dia letakkan di kepala Luna.


" Terimakasih sudah mulai membuka hati buat aku," ujar Darrel lirih sambil menatap danau yang terasa sepi. Luna hanya tersenyum dan mengangguk lalu memejamkan matanya menikmati hawa semilir yang menembus kulitnya. Tangannya dia letakkan di atas tangan Darrel yang berada di perutnya.


" I Love You more than you Lunetta," ujar Darrel dengan tulus. Lelaki itu mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Lunetta.


Diciumnya lamat - lamat rambut itu, wanginya seakan menjadi candu, memang cinta membuat Luna terasa sempurna di mata Darrel.


~ Duar Duar


Luna membuka mata dan memelototkan mata melihat pemandangan di depannya. Gadis itu menengok ke belakang dan menatap Darrel yang juga menatapnya dengan tersenyum.


Darrel mendekat dan mencium sebelah mata Luna, membuat mata gadis itu terpejam sebelah. Lelaki itu hanya terkekeh melihat respon terkejut Luna. Darrel memberi kode pada Luna untuk melihat ke arah depan.


Di depan mereka terdapat serangkaian kembang api yang menyala bersautan seperti saat tahun baru, Luna tidak melunturkan senyumnya sama sekali, dia merasa bahagia dan merasa beruntung memiliki Darrel dalam hidupnya.


Luna melongo dan menutup mulutnya saat kembang Api tersebut menembakkan kata 'Lunetta'. Bagaimana bisa kembang api tersebut membentuk namanya? Bahkan sangat besar dan terlihat jelas.


Gadis itu masih terkejut, namun Darrel menambah kejutan itu saat sebuah kembang api menembakkan kalimat ' I Love You 3000'


Luna tidak bisa berkata - kata, entah berapa Rupiah yang dikeluarkan Darrel untuk membuat kejutan ini. Entah mengapa mata Luna memanas, Darrel yang melihat itu langsung menutup mata Luna dengan tangannya, mengusap mata itu agar tidak menjatuhkan air.


" Jangan nangis, aku siapin ini semua buat kamu bahagia bukan malah nangis," ujar Darrel pelan di telinga Lunetta.


" Aku kan nangis bahagia, Kak Darrel, makasih," ujar Luna yang juga berbisik di telinga Darrel, membuat lelaki itu tersenyum sebagai jawaban.


Mereka menikmati pertunjukan kembang api kurang lebih sepuluh menit tanpa henti, bisa dibayangkan seberapa banyak kembang api yang dibutuhkan?


" Semua yang aku keluarin untuk kamu gak ada artinya, karna kamu jauh lebih berharga dari itu semua. I Love You 3000 Lunetta Azura."


Darrel kembali mencium kepala Luna dan memeluknya erat. Menyalurkan kehangatan untuk gadis itu.


Sekali lagi, Luna melewatkan malam romantis yang sangat indah, bersama Darrel disisinya.