Hopeless

Hopeless
Chapter 128



Radith berjalan santai menuju ruang WaKa dan masuk setelah mengetuk pintu utama. Lelaki itu berjalan menuju WaKa dua sesuai instruksi yang diberikan oleh pemanggil lewat speaker.


" Permisi mohon ijin masuk," ujar Radith dengan soapn sambil mengetuk pintu. Radith langsung membuka pintu ruang itu dan masuk ke dalamnya. Ternyata di dalam sana sudah ada Darrel yang berbincang pad WaKa. Mereka langsung menatap ke arah Radith yang sepertinya bingung dengan paa yang terjadi.


" Silakan masuk Radith, nih udah ada Darrel juga, kalian sudah saling kenal?" tanya WaKa itu dengan senyum ramahnya, untung saja Radith di oanggil ke ruang ini bukan ruang sebelah, jika ruang sebelah, Radith akan berhadapan dengan WaKa yang galak dan seram.


" Kalian bingung ya kenapa dibawa ke ruang ini?" tanya guru itu yang membuat Radith mengangguk tanpa sadar sementara Darrel tersenyum tipis melihat wajah Radith yang cengo seakan telah diberi kejutan ulang tahun oleh WaKa. Meski Darrel tak tahu tujuan dia dipanggil di tempat ini, dia sudah menebak alasannya, ya, hanya menebak.


" Radithya, setelah melihat hasil tes teori, kamu ternyata lolos dengan nilai tertinggi dibanding teman teman satu jurusan kamu, dan berdasarkan guru pengajar, kamu memang berpotensi dan masuk kualifikasi untuk hal ini," ujar WaKa itu yang membuat Radith semakin bingung. Tidak bisakah orang itu hanya menyampaikan intinya saja?


" Hal ini apa ya bu ?" tanya Radith dengan sopan, dia masuk mencoba untuk sopan agar tidak diusir disini dengan tak hormat.


" Kamu terpiih untuk mengikuti LKS bidang Elektronika, dan tutor kamu disini Darrel karna dia juga pernah mengikuti lomba ini tahun lalu. Untuk materi lomba akan disampaikan oleh guru pembimbing kalian, saya yakin kalian bisa menjadi tim yang hebat dan bisa memenangkan lomba ini seperti Darrel tahun lalu."


Radith langsung menatap Darrel yang memasang wajah sombongnya, lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya karena enggan menatap Darrel yang sengaja pamer padanya karna dia adalah juara LKS tahun lalu. Darrel langsung mengubah ekspresi wajahnya saat Radith tidak menatapnya, lelaki itu menatap guru di hadapannya dengan ragu.


" Ada apa Darrel? Kenapa wajah kamu tampak bingung begitu? Kamu keberatan untuk menjadi tutor Radith? Kamu enggan menyalurkan ilmu kamu ke Radith?" tanya WaKa itu yang membuat Darrel langsung memasang wajah datar dan malas.


" Saya belum bilang apa – apa, kenapa ibu judge dan berpikir saya senegatif itu, kebiasaan deh," ujar Darrel dengan santai dan tenang, membuat Radith terkejut karna Darrel berani sekurang ajar itu pada WaKa II yang notabene pengurus kesiswaan.


" Hahahaha, wajah kamu gak meyakinkan soalnya, memang ada apa?" tanya guru itu kembali. Radith tentu dibuat terkejut dua kali karna guru itu seakan sudah berteman baik dengan Darrel, mereka bisa berbicara santai satu sama lain, Radith merasa menjadi kambing congek disini.


" Bukannya nilai tes Angga lebih tinggi ya bu? Kok saya yang terpilih jadi tutor?" tanya Darrel yang kembali memasang wajah serius, guru itu tampak menghela napasnya karna ternyata Darrel sudah tahu hasil ts untuk kelas sebelas yang akan mengikuti LKS.


" Angga gak mau kalau harus ke luar kota selama dua bulan, dan dia milih mengundurkan diri, nah di peringkat kedua ada kamu, kebetulan juga kamu kan pernah menjuarai event ini, jadi kami memilih kamu untuk menjadi tutor, kamu bersedia kan? Kamu harus bersedia loh demi mempertahankan gelar juara."


" Maaf bu, ke luar kota dua bulan? Itu untuk apa ya Bu?" tanya Radith dengan bingung, lelak iitu tak mengetahui apapun tentang LKS karna dia juga termasuk siswa baru. Apalagi ini sudah memasuki semester dua, dimana siswa siswi akan disibukkan oleh ulangan dan tes, Radith tak mau akhirnya dia tinggal kelas karna harus ke luar kota selama dua bulan.


" Iya, kalian berdua akan di karantina dan fokus untuk Lomba, jika karantina sudah selesaisebelum dua bulan, ya kalian diberi pilihan untuk tinggal dan berlibur atau memilih pulang ke kota ini dulu sebelum hari H lomba dan itu semua tergantung pada kecepatan kalian menyerap dan memahami semua materi Lomba."


" Kok kalian bu? Kan yang Lomba Radith, ya tergantung Radith lah," ujar Darrel yang tak terima juga diberi tanggung jawab besar itu. Dia sudah merasakan beratnya tanggung jawab itu tahun lalu, tentu dia sudah tak ingin merasakannya lagi tahun ini.


" Karna akamu tutornya, kamu bertanggung jawab penuh untuk keberhasilan Radith, kalau dia cepat menangkap materi ya berarti cara kamu mentutor sudah berhasil dan kamu juga mendapat jatah liburnya, tapi kalau Radith gagal ya kamu juga gagal," ujar guru itu dengan santai, membuar Darrel metatap Radith dengan mulut yang terbuka.


" Terus kalau dia lemot dan gak bisa nangkap? Saya juga kena imbasnya gitu bu? Astaga, gak mau aja deh saya bu," ujar Darrel menggelengkan kepalanya cepat karna dia sungguh tak setuju dengan ide itu. Guru dihadapannya langsung terkekeh saat Darrel mengatakan hal itu. Bukan karna Darrel, namun karna dia melihat ekspresi tidak terima yang dia tunjukkan.


" Saya gak selemot itu ya kak, nyatanya saya bisa lollos sampai ke tahap ini, kenapa kak Darrel kesannya meremehkan saya begitu?" tanya Radith dengan tak terima, tak peduli lagi jika guru dihadapaannya akan marah atau apapun.


" Bagus, kalau begitu buktikan pada saya, saya anggap yang kamu ucapkan adalah komitmen, saya tunggu hasil baiknya," ujar Darrel tersenyum puas, bahkan guru dihadapannya juga tersenyum puas karna Darrel berhasil memancing Radith, lelaki itu memang mengesankan, wajar jika Darrel terpilih menjadi ketua OSIS.


" Kalau begitu saya anggap kalian semua setuju, silakan kalian bersiap karna karantina akan dimulai minggu depan, silakan kalian persiapkan diri kalian dan agak usah berpikir tentang uang skau karna smeua sudah di tanggung oleh pihak sekolah." mereka mengangguk dan pamit untuk pergi dari sana. Guru itu tersenyum dan mengijinkan mereka untuk keluar.


Setelah berjalan keluar dari ruang guru, Radith langsung menahan lengan Darrel, membuat lelaki itu berhenti berjalan dan melihat ke arah Radith dengan tatapan bertanya.


" Gue gak bisa kalau di karantina lama kak, kondisi Blenda gak stabil, gue takut gak bisa ada di sisi dia kalau dia kambuh lagi, gue bakal ngerasa bersalah banget. Apalagi karantina ini di luar kota, gimana dong nih?" Darrel dapat melihat wajah khawatir yang terpampang nyata, lelaki itu juga abru mengingat ada Blenda di hidup Radith.


" Memang Blenda sakit apa? Sudah separah itu kah?" tanya Darrel dengan hati – hati. Radith menghela napasnya dan mengangguk lemah. Baru pertama kali Darrel melihat Radith yang seperti ini, jiwa kakak Darrel tentu bergerk dan melihat Radith seperti adiknya yang butuh tempat untuk menumpahkan keluh kesahnya.


" Blenda sakit kanker tulang belakang dan memang kondisinya udah parah, kemarin dia kambuh makanya gue buru – buru [ulang dari acara pertunangan Lo, gue takut kalau dia kambuh dan gue lagi ke luar kota, karna orang tuanya udah terlanjur berpikiran kalau Blenda bakal tenang disaat ada gue, padahal bagi gue smeua hanya kebetulan aja."


Darrel menyimak apa yang Radith katakan, sepertinya kondisi Radith cukup sulit karna sudah ada orang yang bertopang padanya, tak mungkin Radith biarkan orang itu terjatuh dengan meninggalkan orang itu sendiri.


" Semua keputusan ada di tangan Lo, kalau saran gue, mending Lo omongin dulu sama keluarga Lo dan keluarga Blenda, tapi kalau Lo memang gak mau ikut lomba ini, gue bisa bantu omongin ke WaKa biar diganti. Gue gak mau nantinya bakal jadi beban buat Lo," ujar Darrel dengan bijaknya. Radith mengangguk paham.


" Makasih sarannya kak, gue minta tolong ke Lo gak perlu cerita semua ini ke orang lain, apalagi ke Lunetta. Pusing gue dengar suara cempreng dia kalau lagi kepo, heran sama Lo yang bisa tahan itu semua," ujar Radith dengan wajah kesal saat membayangkan Lunetta, sementara Darrel tertawa renyah mendengar keluhan itu.


" Justru karna gue udah biasa dengar dia kayak gitu, makanya gue gak ada masalah sama sekali," jawab Darrel yang malah ikut menghina Lunetta, bukannya membela gadis itu dihadapan Radith. Mereka kembali tertawa dan melanjutkan langkah mereka sampai akhirnya berpisah karna arah yang berbeda.


*


*


*


" Radith, Lo serius kepilih buat ikut LKS? Wah, Lo bakal dikarantina gitu? Lo bakal ninggalin gue dong? Yah, gue kesepian dong kalau gini," ujar Luna yang terus saja mengomel di hadapan Radith, membuat lelaki itu pusing sendiri karna harus menghadapi Luna.


" Gak usah brisik Lun, asli, gue makin pusing kalau dengar Lo ngomong, mending kita ke kantin aja yuk daripada disini, udah pusing, laper, ntar Lo yang gue makan," ujar Radith yang langsung berdiri dari sana. Radith merogoh kantongnya dan tak mendapati benda persegi miliknya.


" Nih, gue simpen tadi, Lo nyari ini kan?" tanya Luna dengan wajah kesal mengulurkan ponsel milik Radith ke hadapan lelaki itu. Radith melihat wajah Luna dan menghela napas lega. Gadis itu pasti belum melihat isi private galeri di ponsel Radith karna ekspresi wajahnya kesal.


" Lo pasti udah buka galeri sama Whatsapp, terus Lo ngerasa sakit hati ngelihat isinya. Makanya gak usah kepo sama barang orang, kesel sendiri kan Lo," ujar Radith yang tak keberatan sama sekali, dia malah geli melihat Luna yang nampak sebal. Ternyata Luna masih menyukainya meski sudah jelas bertunangan kembali dengan Darrel.


" Lo mau ikut gue ke kantin atau Lo mau membusuk disini sampai tahun depan?" tanya Radith yang membuat Luna tersadar dan langsung berdiri mengikuti Radith yang sudah mulai berjalan keluar kelas.


Mereka duduk tenang di meja kantin dan menyantap makanan mereka dengan tenang. Radith yang tenang maksudnya, sementara Luna terus mengoceh tak jelas sampai Radith merasa pening dan ingin mengunyah Luna bersama dengan makanan di mulutnya.


" Noh disana noh," ujar Radith yang membantu Luna menemukan Darrel yang belum menyadari keberadaan Luna di tempat itu. Luna mengambil ponselnya dan menelpon Darrel, memberi instruksi ke Darrel untuk bergabung dengan dirinya dan Radith.


Darrel melihat Radith dan Luna makan berdua di kantin, meski sebenarnya bukan berdua sih, kan kantin ramai. Entahlah, pokoknya seperti itu, hahahaha. Darrel sudah terbiasa dengan pemandangan itu dan menganggapnya enteng saja.


" Kak Darrel duduk sini, Luna mau tanya banyak hal," ujar Luna dengan galak dan tegas, membuat Darrel langsung menengok ke arah Radith, namun lelaki itu mengedikkan bahunya sambil menahan tawanya. Biarlah Darrel yang merasakan omelan Luna, kuping Radith sudah panas mendengarnya.


" Iya, apa? Kenapa?" tanya Darrel dengan lembut dan langsung duduk di kursi sebelah Radith yang berhadapan dengan Luna.


Kok kak Darrel gak ngasih tahu Luna kalau kak Darrel kepilih jadi tutor sih?" Tanya Luna dengan kesal. Darrel tentu bingung dengan protes yang dilayangkan Luna.


" Gimana caranya aku tahu kalau aku kepilih jadi tutor? Orang mereka juga gak bilang apa apa sama sekali, ya kalik aku nanya nanya atau nolak, aku aja gak tahu kalau anak tutornya itu Radith," ujar Darrel mengedikkan bahunya.


" Bukannya kata kak Darrel kak Angga yang lebih cocok dan lebih pinter? Kenapa malah kak Darrel yang ditunjuk? Kak Darrel mengajukan diri ya?" Tuduh Luna sambil menunjuk ke arah Darrel, lelaki itu menggeleng polos dan pelan. Kan memang dia tidak merencanakan hal ini sama sekali.


" Angga mengundurkan diri dari pekerjaan karna dia susah bagi waktu antara tutor sama masalah di rumahnya, gak paham aku. Intinya dia gak sanggup kalau harus ninggalin kota ini buat dua bulan ke depan," jelas Darrel berdasarkan yang dia tahu.


" Hah? Dua bulan? Berarti bakal LDR selama dua bulan dong? Yaaah, gak asik, berarti bakal LDR selama dua bulan dong. Kalau Luna gak tahan buat selingkuh, hahahaha."


Darrel hanya tertawa melihat Luna yang memang sepolos itu. Lelaki itu memasukkan ponselnya ke dalam kantong dan duduk di sebelah Radith untuk memberi tahu Luna bahwa LDR aku akan sesedih itu. Darrel bahkan memberikan contoh yang menyenangkan bagi Luna.


" Gue berasa jadi obat nyamuk kalau gini. Lo minta traktir sama kak Darrel aja ya Lun, gue balik ke kelas," ujar Radith bangun dari kursinya dan menyalimi Darrel sambil mengucapkan terimakasih.


" Kenapa Lo??" Tanya Darrel pada Radith yang bertingkah aneh. Sejak kapan lelaki itu suka melakukan hal seperti ini.


" Makasih udah bayarin makan gue kak, emang Lo pacar Luna yang paling best," ujar Radith meniuop kepala Darrel sambil bangkit berdiri dan pergi dari sana begitu saja, bagaimana lelaki itu bisa memiliki hidup yang santai dan tak memiliki beban sama sekali?


" Hahahaha udah lah kak gakpapa, hitung-hitung ngumpulin semua anggota keluarga orang stres," ujar Luna tanpa beban secara langsung di depan Radith.


" Iya deh, hitung hitung nanam pahala aku," ujar Darrel yang langsung bangkit untuk memesan minum dan makan untuknya.


*


*


*


WaKa : Wakil Kepala ( wakilnya Kepsek)


*


*


*


Hello Hai kalian semua yang masih menyempatkan waktu untuk membaca sampai part iniiiii


Terimakasih yaaaaaa supportnya.


mohon untuk kritik, saran dan dukungannya.


MAU TANYA DOOONGGG


Tokoh Favorit kalian siapa dan apa alasannya?


Tokoh yang bikin kalian sebel apa? alasannya apa?


Jangan lupa untuk mampir ke lapak aku yang lain


Adella


T(w)o : Heart


Ex lover


Miss galak, I Love you


I Luffy duffy all of you


salam,


Eliz