
" Untuk masalah tadi gak usah dibahas lagi, gue gak mau jadi masalah ke depannya, ngerti gak?" Tanya Radith sambil menggendong Luna dan meletakkan gadis itu di kursi Roda yang sudah disiapkan pengawal. Luna mengangguk dan masih terdiam, dia masih tak menyangka kejadian yang sangat langka ini menimpa dirinya, rasanya seperti dia adalah tokoh utama dalam sebuah film romantis.
" Dith, besok kak Darrel ada pemadatan dan gue mau pergi ke suatu tempat. Ka.. kalau.. Lo.. gak.."
" Lo gagap?" tanya Radith memotong apa yang diucapkan Luna.
" Enggak lah! Ish, nyebelin banget sih," ujar Luna dengan pelan, gadis itu memalingkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya. Dia kan merasa malu meminta tolong pada Radith setelh kejadian tadi, mengapa Radith malah mengira dirinya gagap?
" Ya kalau Lo gak gagap, ngomong yang bener dong, gue udah bilang gak usah bahas masalah tadi, gue gak ngomong apa – apa, jadi Lo biasa aja," ujar Radith dengan wajah datarnya.
" Ya gimana bisa gue biasa aja, Lo ngomong Lo juga suka sama gue, selama ini gue gak pertepuk sebelah tangan, Lo gak bakal tahu seberapa bahagianya gue," ujar Luna yang membuat Radith terdiam. Sesaat kemudian dia memalingkan mukanya sambil berdehem beberapa kali.
" Pulang sekolah gue langsung ke sini. Gue balik dulu," ujar Radith yang langsung memberikan kunci pada pengawal dan mengambil kunci motornya lalu langsung pergi dari sana tanpa membantu Luna masuk ke rumahnya. Hal itu membuat Luna menatap kepergian Radith dengan cengo dan tertawa terbahak – bahak setelah itu.
" Dia bisa salting juga ternyata, haha, lucu banget kalau lagi salting gitu," ujar Luna saat pengawa membantunya untuk mendorong kursi Roda dan masuk ke dalam Rumah dan sampai di depan kamarnya. Tubuhnya cukup lelah, namun dia ingin pergi ke suatu tempat besok dan dia tahu Darrel ada pemadatan, tak mungkin Luna meminta Darrel datang karna lelaki itu pasti tetap datang dan membolos untuk pemadataan itu.
Luna berusaha tidak memanggil pelayan dan mengurus dirinya sendiri. Kamarnya langsung di desain ulang oleh papanya saat beliau tahu kondisi Luna yang seperti ini, tentu semua itu lebih memudahkan Luna dan membuat gadis itu bisa mengurus dirinya sendiri. Meski papanya belum bisa menemuinya dalam waktu dekat, Luna tetap bahagia karna beliau tetap peduli pada Luna meski sedang jauh.
" Sampai kapan gue harus kayak gini ya? Ya Tuhan semoga ada keajaiban akhir tahun dan Luna bisa sembuh dengan sendirinya, Luna tahu itu juga permintaan pada readers, semoga author mengabulkan Doa Luna, Tuhan." Gadis itu langsung menutup matanya setelah mengatakan hal itu, berharap esok akan jauh lebih baik dari hari ini.
*
*
" Gue kira waktu gue bangun kaki gue udah bisa gerak lagi, ternyata masih belum, astaga." Luna menggerakkan kakinya menggunakan bantuan tangan agar kakinya bisa ditekuk dan dia bisa makan dengan nyaman. Kakinya tidak cidera, hanya tidak bisa digerakkan saja, makanya dia bisa menekuk kakinya sesuka hati tanpa merasakan sakit lagi.
Gadis itu memakan sarapannya dan segera mandi dengan susah payah pula. Dia langsung merebahkan dirinya di kasur lagi dan menyalakan televisi, rutinitas terbarunya setelah dia keluar dari STM Taruna karna kondisinya yang tak memungkinkan untuk meneruskan sekolah di STM itu.
Luna melakukan aktivitasnya hingga sore, bahkan dia sampai ketiduran lagi dan tidak mengetahui jika Radith sudah sampai dirumahnya dan bahkan masuk ke kamarnya. Gadis itu dibangunkan oleh Radith karna Radith tahu Luna ingin pergi ke suatu tempat atau dia akan mati kebosanan di rumah ini.
" Lo jadi pergi gak? Gue udah susah – susah datang ke tempat ini, malah Lo tidur. Buruan mandi deh, atau mau gue mandiin sekarang? Bahagia nih gue kalau bisa mandiin Lo," ujar Radith yang membuat Luna langsung bangun dan menatap Radith dengan tajam. Gadis itu mengusap matanya dan menampol kepala Radith yang masih dalam jangkauannya.
" Ya udah Lo nunggu di luar dulu, gue mau mandi terus siap – siap, Lo harus antar gue kemana pun gue mau tanpa protes, deal. Silakan keluar," ujar Luna mendorong Radith. Lelaki itu langsung memijat kepalanya dan keluar dari kamar, menuruti apa yang diinginkan oleh gadis itu. Setidaknya dia bisa membuat Luna bahagia di waktu yang sulit ini.
Tak lama kemudian Luna menelponnya dan memintanya masuk, membuat lelaki itu langsung membuka pintu dan melihat Luna yang sudah duduk di kursi roda dengan wajah yang sumringah. Gadis itu memakai rok di bawah Lutut dan kaos santai, mungkin pakaian itu yang mudah dipakai oleh Luna.
" Gimana caranya Lo mandi dan naik ke kursi roda itu? Lo ngesot gitu? Kenapa gak panggil gue sih? Kan gue bisa bantu, kenapa Lo suka banget nyusahin diri Lo sendiri?" Luna langsung memutar bola matanya mendengar Radith yang terus mengomel. Luna menunjuk ke arah skate board yang tak jauh dari dirinya.
" Gua pakai itu kemana – mana, seru kok rasanya. Lo gak perlu ngerasa kasihan atau bertanggung jawab buat segala yang gue alami. Walau gue bahagia Lo jadi peduli dan hangat gini, gue juga rindu Lo yang dingin dan bikin gue jatuh cinta."
Radith kembali terdiam mendengar perkataan Luna. Lelaki itu tak menyangka Luna mengatakan hal itu dengan santai dan tanpa beban. Tapi mengapa jantung lelaki itu jadi berdebar lebih cepat? Apakah dia sudah benar – benar menyukai Luna? Hal yang sangat dilarang untuk saat ini mengingat ada Darrel di hidup Luna, tak mungkin Radith datang dan ada di tengah mereka.
" Gue ngelakuin ini karna Bang Jordan dan Darrel yang minta, mereka sibuk dan gak bisa jagain Lo, makanya minta tolong gue yang nganggur ini buat nemenin Lo, harusnya Lo makasih sama gue, bukan malah kebanyakan ngomel gitu," ujar Radith dengan sedikit menyentak dan mulai mendorong kursi Roda Luna untuk keluar dari kamar.
" Perasaan mah Lo yang dari tadi ngomel mulu, kok malah nyalahin gue sih? Dasar aneh," desis Luna pelan , tak mau membuat Radith lebih memarahinya. Lelaki itu tetap mendengar desisan Luna, lelaki itu tertawa tanpa suara agar tidak menimbulkan perhatian Luna. Radith memang sering berlaku kejam dan galak terhadap gadis bernama Luna.
" Kita mau kemana?" tanya Radith yang sudah duduk tenang di kursi kemudi, sementara Luna duduk di sebelahnya. Luna tampak menimang kemana dulu dia akan pergi. Akhirnya gadis itu memperoleh keputusan yang tepat.
" Gue mau kita ke makam Blenda, setelah itu gue mau ke panti asuhan lagi, Lo mau kan antar gue ke sana?" tanya Luna dengan hati – hati, gadis itu langsung terdiam karna Radith tampak melamun saat mendengar kata Blenda. Gadis itu jadi merasa tak enak karna membuat Radith merasa seperti itu.
" Ke Blendanya lain kali aja boleh gak? Kita langsung ke tempat kedua, boleh gak?" tanya Radith tanpa melihat ke arah luna, lelaki itu mulai menjalankan mobilnya dan menuju ke panti asuhan yang sudah ada di GPS mobil ini. Luna meneytujui saja permintaan Radith, sepertinya lelaki itu memang masih belum bisa jika harus mengunjungi makam Blenda.
" Dith, maaf, gue gak tahu kalau dengan nyebut nama dia Lo jadi keingat, gue Cuma mau main ke makam dia, maafin gue dith," ujar Luna yang membuat Radith menghela napasnya dan menepikan mobilnya. Lelaki itu menenggelamkan kepalanya di stir mobil dan terdiam untuk beberapa saat.
Mereka sampai di panti asuhan dan Radith kembali membantu Luna untuk turun dari mobil. Luna sudah meminta orang – orangnya menyiapkan hadiah dan makanan karna dia tidak mungkin menyiapkan smeua hal itu sendiri. Untung saja mobil orang – orangnya datang tepat waktu dan membuat naak – naak di sana kembali bahagia.
" Luna.. kenapa? Kenapa kamu?" Bunda tak sampai hati untuk melanjutkan kata – katanya saat melihat ke arah Luna. Gadis itu tersenyum dan meminta Bunda agar tak khawatir dan menjelaskan semua tentang kondisinya yang tentu membuat Bunda makin terkejut. Bunda langsung mengucapkan rasa prihatinnya untuk Luna.
" Bunda tenang aja, Luna gak kenapa – napa kok Bun, Luna kan masih bisa sembuh Bun. Oh iya, kenalin Bunda, ini teman Luna, namanya Radith," ujar Luna yang membuat Radith tersenyum dan menyalimi Bunda. Bunda tersenyum dan menatap Luna dengan tatapan menggoda, membuat gadis itu bingung dan balik menatap Bunda.
" Kok udah beda lagi sama yang kemarin, sama – sama ganteng pula. Kamu pilih satu dong, biar yang satu bunda culik di sini buat temenin adik – adik kamu di sini. Boleh kan? Pasti anak – anak senang kalau ada anak ganteng yang ngerawat mereka." Luna tertawa untuk menanggapi candaan khas orang tua yang sebenarnya tak lucu, namun tak mungkin kan dia mengatakan yang sejujurnya?
" Bunda, Luna boleh ketemu sama Karel gak? Luna penasaran sama dia bunda," ujar Luna yang membuat Bunda terkejut.
" Boleh saja, tapi kamu jangan kaget atau sakit hati kalau dicuekin sama dia ya, soalnya emang dia orangnya dingin, sama bunda aja dingin, apalagi sama orang lain."
" Gak papa Bunda, Luna udah biasa sama sikap dingin orang, bahkan udah satu tahun lebih bunda, Luna gaul sama kulkas berjalan," ujar Luna dengan senyum manis sambil melirik Radith yang langsung menatapnya tak enak.
" Ya udah kalau gitu, ayo bunda antar, atau mau diantar sama Radith aja?" tanya Bunda yang membuat Radith berdiri.
" Biar Radith aja Bunda, sekalian Radith mau main sama anak – anak di luar," ujar lelaki itu sambil mendorong kursi roda Luna keluar dari ruangan itu. Banyak anak yang menaymbut mereka dan mengucapkan terima kasih untuk hadiah yang Luna berikan. Mereka juga menanyakan aslaan luna menggunakan kursi roda.
" Kak Luna itu pemalas, dia gak mau jalan sendiri, makanya minta kakak buat dorong kursi untuk dia. Jangan ditiru ya, kita kan gak boleh malas."
Itulaj jawaban yang Radith berikan. Luna tak merasa keberatan dengan jawaban itu, karna dia juga yang akan bingung jika dia memberikan jawaban yang sebenarnya, pasti akan muncul pertanyaan lain yang sebenarnya tak perlu anak – anak itu ketahui, toh mereka tak akan paham juga.
Luna mengamati sekitar dan langsung menemukan gadis penyendiri yang duduk dengan tongkat pembantu di sebelah kanannya, Luna meminta Radith membawanya ke gadis itu dan Radith pergi dari sana agar Luna bisa mengobrol dengan gadis bernama Karel itu.
" Hai, nama aku Lunetta, salam kenal ya, kamu Karel kan?" gadis itu tampak tak suka dan langsung berdiri, bersiap untuk meninggalkan Luna. Namun Luna memegang tangan gadis itu untuk duduk kembali.
" Jangan pergi dulu, kaki aku lumpuh, aku gak bisa kejar kamu. Aku Cuma mau kenalan sama kamu kok." Luna bisa merasakan Karel terkejut dan merasa kasihan padanya, gadis itu kembali duduk di sebalh Luna dengan pandangan yang menyorot ke depan.
" Aku tahu rasanya pasti berat banget, ketika kamu bisa melakukan segalanya, tapi dalam sekejap kamu kehilangan semuanya. Rasnya amrah, sedih, kecewa sama hidup. Tapi kamu tahu kan semua harus dijalani dan disyukuri. Harusnya kamu bersyukur masih diberi kesempatan hidup sama Tuhan."
" Tahu apa kamu? Aku lebih memilih mati dan menysuul kedua orang tuaku dibanding hidup dengan kondisi butaa di sisa hidupku. Kamu gak akan tahu bagaimana aku ketakutan tiap bangun tidur karna dunia yag sangat gelap ini, kamu gak akan pernah tahu rasanya."
" Setidaknya kamu tahu kamu hidup, setidaknya kamu tahu kamu masih berumur panjang. Mau tahu ketakutanku? Aku takut setiap aku mau tidur, aku takut saat itu adalah saat terakhir aku. aku takut gak bisa bangun lagi dan bikin orang di sekitar aku sedih."
" Kenapa kamu takutkan hal itu?"
" Karna aku sakit, sakit yang tidak bisa terobati, bahkan dalam satu malam aku mengalami kelumpuhan, tidak menutup kemungkinan aku meninggal dalam satu malam pula. Kamu tahu? Aku tahu kalau hidup aku singkat dan mungkin tinggal sebentar lagi, tapi aku snagat ingin untuk terus hidup dan menikmati dunia walau aku harus cacat seumur hidup."
" Apa hidup dengan kondisi cacat lebih menyenangkan untukmu?" tanya Karel yang tak mengerti jalan pikiran Luna.
" Setidaknya aku tahu aku masih hidup, aku masih bisa berguna untuk orang lain, dan kau masih bisa membuat orang lain bahagia dengan kehadiranku, meski dalam kondisi secacat apapun."
" Tapi cacat membuat seseorang jadi gak berguna dan selalu merepotkan, bahkan keluargaku tak ada yang mau merawatku dan mmeilih membuangku ke tempat ini. Aku sama sekali tak berguna dan merepotkan bunda setiap harinya."
" Kalau begitu jadilah berguna. Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan dengan kondisi ini. Apa gunanya mengeluh dan menyalahkan keadaan tanpa adanya perubahan? Kamu akan menjadi berguna kalau kamu mau jadi berguna. Kamu harus percaya kalau kamu pasti berguna apapun kondisinya, aku mau kamu percaya hal itu."
Semua percakapan itu tetap di dengar oleh Radith ada di tempat tersembunyi. Kini dia memiliki alasan kuat mengapa dia jatuh hati pada Luna. Gadis itu memiliki hati yang bersih dan suci. Penuh dengan kebaikan dan aura positif bagi orang lain.
" Maaf karna Radith sering kurang bersyukur, Tuhan. Radith mau jadi berguna untuk orang lain setelah ini, bantu Radith ya Tuhan." Lelaki itu memandnag langit sambil terus mendengaran percakapan kedua gadis yang kini semakin terbuka menceritakan masing – masing dari mereka.
" Lo harus berumur panjang dan terus jadi berkat buat semua orang Lun, gue mohon Lo bertahan dan berumur panjang. Gue yakin akan ada keajaiban yang menyembuhkan penyakit Lo itu, gue yakin karna banyak yang sayang dan doain hal yang sama ke Lo."