
Luna melangkahkan kakinya dengan senang sementara beberapa orang di belakang Luna membantu gadis itu untuk membawa koper dan juga menjaga gadis itu. sontak saja Luna menjadi perhatian dan semua orang yang ada di sana melihat Luna dengan aneh, membuat gadis itu meminta pengawal sedikit memundurkan langkah mereka agar Luna bisa bergerak lebih leluasa.
" Where we will to going now?" tanya Luna pada pengawalnya. Gadis itu harus membisakan dirinya untuk berbahasa Inggris selama berada di tempat ini, meski basaha Inggrisnya masih sering beelepotan dan tidak sesuai kaidah, yang penting ia bisa mengerti dan bisa berkomunikasi dengan mereka yang ada di sini.
" We're going to Wilkinson's home. But Nona, You didn't need you speak in English because we have translator for you there," ujar pengawal itu yang membuat Luna menganggukkan kepalanya paham. Gadis itu mengikuti pengawal yang berjalan ke sebuah mobil dan membukakan pintu mobil untuk Luna. Gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk tenang di sana.
" Lah, gue belum beli simcard, gue gak bisa telpon siapa – siapa dong di sini?" tanya Luna memandang ponselnya yang tidak memiliki sinyal sama sekali. Gadis itu terlihat bingung, membuat pengawal yang ada di depan bersama supir langsung terkekeh sedikit dan mengulurkan sebuah ponsel untuk Luna. Gadis itu memanadang ponsel tersebut dengan bingung.
" Kami sudah menyiapkan ponsel untuk nona, nona bisa gunakan ponsel ini selama di sini. Isi kontaknya juga sama persis dengan kontak yang ada di ponsel nona sehingga nona tak perlu khawatir," ujar pengawal itu yang membuat Luna mengangguk dan menerima ponsel itu dengan gembira.
Pertama, gadis itu segera mencari nomor Darrel dan mnghubungi lelaki itu, tapi sepertinya lelaki itu sedang tak bisa diganggu sampai tak mengangkat panggilannya. Gadis itu mengetikkan pesan untuk Darrel dan beralih pada kontak Adel, gadis itu meminta Adel memasukkan nomor barunya ke grub mereka.
Luna langsung terkekeh melihat kehebohan teman – temannya itu, gadis itu tak menjawab pertanyaan mereka, dia hanya memencet tombol video call agar mereka bisa melihat wajah mereka semua. Mereka berempat sudah join dan langsung terjadi kehebohan di video call itu, Luna bahkan sampai tertawa karna Lucy masih memejamkan mata saat menatap ke layar ponselnya.
" Wiihhh, Lo lagi di British ya? Sejak kapan Lo di sana? Segala ganti nomor ponsel Lo bakal lama ya di sana?" tanya Key dengan hebohnya. Luna langsung menjaab pertanyaan itu, namun jawaban Luna tak memebuat mereka puas, mereka yakin ada alasan tersendiri, namun Luna tak mau memberi tahu mereka, padahal Luna sendiri tak tahu alasannya.
" tega bener Lo pergi ke luar negeri gak ngabarin kita semua. Lo anggap kita ini apa? Sedih gue kalau diginiin tuh," ujar Key yang membuat Adel merasa risih dan memeinta gadis itu untuk diam. Lucy tak merespon sama sekali, gadis itu masih mengusap – usap wajahnya yang masih mengantuk. Efek dia menonton drama korea sampai dini hari tadi.
" Eh mumpung kita lagi ngobrol gini guys, gue juga mau bilang kalau sebentar lagi gue pindah ke paris dan berencana pindah kewarganegaraan jadi warga sana karna suami gue minta begitu, kerjaan dia kan ada di sana. Gue minta restu kalian semua biar semua berjalan lancar ya," ujar Key dengan serius sekaligus merasa mellow.
" Serius sampai pindah kewarganegaraan? Yah, kita jadi makin susah buat ketemu dong, kalau gitu gue masu cari suami orang amerika aja deh biar gue bisa pindah kewarganegaraan jadi orang sana. Biar Adel sendirian di Indonesia," ujar Lucy yang membuat mereka semua tertawa dan mengangguk setuju.
" Nona, kita sudah sampai di rumah keluarga Wilkinson," ujar supir dengan sopan, Luna mengangguk dan berpamitan dengan teman – temannya, meski singkat setidaknya video call tadi sudah bisa menjadi bukti jika mereka bisa menjaga persahabatan selama bertahun – tahun dengan baik dan tak ada satupun dari mereka yang kehilangan kontak.
Luna turun dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya ke rumah bak istana itu. angat besar dan mewah, serta menjagaannya yang ketat. Bahkan Luna harus melewati serangkaian tes seperti tes pendeteksi virus, tes dengan alat pendeteksi logm, dan gadis itu juga diperiksa takut jika seseorang menempelkan alat mata – mata di tubuh gadis itu.
Semua prosedur itu dilakukan oleh petugaas wanita agar Luna merasa nyaman. Setelah selesai, gadis itu segera masuk dikawal oleh salah seorang petugas yang ada di sana. Keamanan di sini cukup membuat Luna merasa tak aman. Dia hanya pulang ke rumah papanya, tapi dia dijaga ketat seakan dia sedang pergi ke istana untuk bertemu sang ratu.
" Lo pasti gak nyaman kan sama penjagaan di tepan? Hahah, muka Lo kelihatan banget asli," ujar seseorang yang sudah menunggu Luna di teras. Orang itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Luna, bedanya orang itu terlihat lebih modis dibanding Luna. Jelaslah, profesinya sebagai seorang model.
" Emang harus gitu banget ya prosedurnya? Gilak, ini rumah bokap gue sendiri, serasa gue divcurigain bakal ngebom rumah ini atau bakal ngerampok isinya," ujar Luna yang membuat Danesya terkekeh. Gadis itu meminta Luna untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang ada di sana.
" Makanya gue kalau gak perlu – perlu banget mending di rumah aja. Atau sekalian tidur di apartemen kalau harus pergi setiap hari," ujar Danesya yang membuat Luna gagal paham. Gadis itu menaikkan alisnya dan mencerna apa yang Danesya katakan.
" Maksud Lo itu gak Cuma sekali gitu? Tiap kita mau masuk ke rumah ini kita harus di tes kayak gitu terus? Gilak, ribet banget hidup di rumah ini," ujar Luna yang mendapat culture shock dengan keamanan di rumahnya sendiri. Daneysa mengangguk dan tertawa melihat respon Luna yang sama persis dengan responnya saat papanya memutuskan untuk menambah sistem keamanan di rumah ini.
" Lama – lama Lo juga terbiasa kok, yanag gk di cek di sini Cuma papa, jadi enak kalau Lo pulang ke rumah pas bareng papa, gak ada pemeriksaan kayak gitu. Tapi papa sendiri juga jarang ada di rumah ini, hahaha," ujar Danesya yang membuat Luna emmbulatkan mulutnya.
" Lah? Kalau gitu kak Key sering sendirian dong di rumah ini? Kasihan banget dia," ujar Luna yang dijawab gelengan kepala oleh Danesya, Luna diam dan menunggu gadis itu menjelaskan pada Luna. Danesya mengambil sbeuah toples berisi coklat dan mulai memakannya.
" Sebelum hamil dia selalu ikut bang Jordan kemanapun bang Jordan pergi, tapi setelah hamil, dia ikut sama gue. Tinggal di apartemen gue dan kalau gue pergi peotretan ya dia sekalian ikut jalan – jalan. Ini dia di sini karna emang dapat kaar kalau Lo mau ke sini biar Lo gak mati bosan di tempat ini," ujar Danesya yang membuat Luna mengangguk paham.
" Di rumah ini ada segalanya. Lo cari apa? Ayam cepat saji? Play ground? Atau yang semacam Virtual virtual gitu? Ada, bahkan di halaman belakang ada roller coaster mini tuh, tapi gak pernah ada yang mainin itu semua karna di rumah ini rasanya dingin," ujar Danesya dnegan pelan dan wajah yang sedih. Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dan mengubah raut wajahnya.
" Dah lah, mending Lo pilih kamar yang kosong, terus Lo mandi, bau banget Lo. Jalan – jalannya besok aja, daripada Lo nanti kecapekan dan rewel minta pulang," ujar Danesya yang membuat Luna berdecih, namun gadis itu segera mengubah air mukanya.
Luna menuruti apa yang Daneysa kataka, gadis itu langsung mandi dan membereskan barangnya. Dia masuk ke kamar yang disiapkan agar gadis itu tak perlu menyiapkan baju lagi. Gadis itu menelpon pelayan agar mengantar makanan di kamarnya dan setelah itu dia meminum obat rutinnya dan menidurkan dirinya di kasur.
" Pantas aja tuh orang bilang gue gak perlu belajar bahasa Inggris, ternyata dari satpam, pelayan bahkan tukang kebun semua orang Indonesia. Kalau gini mah gue gak akan dapat suasana baru. Orang di Indonesia apa kabar ya? Duh, baru sampe udah kangen gue," ujar Luna yang akhirnya menutup matanya agar bisa tertidur.
*
*
*
Luna menggerakkan tubuhnya tak nyaman saat suara ponselnya berdering nyaring di kamarnya itu. gadis itu bangun dan mengambil ponselnya, mendapati nama Danesya di sana, gadis itu berdecak dan mengangkat panggilan itu dengan malas.
" Apa sih? Kenapa? Mau apa? Gue capek banget, gue ngantuk, gak usah ganggu gue dulu," ujar Luna yang membuat Daneysa meradang di sbeerang sana. Danesya berkata akan meninggalkan Luna untuk jalan – jalan jika gadis itu tak segera bersiap, akhirnya Luna mau tak mau bangkit dari tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Bahkan saat pergi ke mall dengan memakai celana pndek saja orang – orang memandanganya dengan pandangan tak enak seakan yang dilakukan Luna adalah hal yang salah. Memang tak semua begitu, tapi kebanyakan seperti itu. banyak tak tak bisa mengurusi urusannya sendiri tanpa harus mengusik urusan orang lain.
" Kita mau kemana dulu?" tanya Luna dengan antusias.
" Kita ke Madame Tussauds London aja, tahu kan Lo tempat apa itu?" tanya Danesya yang membuat Luna mengerutkan dahiny. Gadis itu langsung mngambil ponselnya dan melakukan pencarian terhadap tempat yang disebutkan oleh Danesya. Luna lagsung setuju saat mengetahui tempat yang akan mereka datangi.
" Ck. Tahu gitu tadi bawa kamera dulu, kan keren kalau ke sana bisa foto – foto sama banyak artis terkenal di nudia," ujar Luna yang membuat Danesya memutar bola matanya dengan malas.
" Gak usah norak, kamera ponsel Lo itu tiga dan itu udah bagus banget kalau buat foto. Kalau kurang tuh pakai kamera ponselnya kak Key, udah beli ponsel tiga puluh empat juta masak gak dipake sih," ujar Danesya yang membuat Luna terkekeh. Luna langsung menatap ponsel yang dibawa oleh Key. Ponsel keluaran terbaru dari perusahaan itu.
" Ini yang bisa dilipat itu kan kak? Langsung beli aja sih kak, keren banget," ujar Luna yang langsung mengambil ponsel Key dan membolak – balik ponsel itu lalu mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan membayangkan benda seperti itu akan langsung rusak jika dipakai olehnya.
( gambar diambil dari google)
Tanpa terasa perjalanan mereka selesai karna mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud oleh Danesya. Gadis itu mengajak Luna dan Keysha untuk turun dan membeli tiket masuk. Luna langsung menganga karna banyaknya tokoh – tokoh legendaris dunia yang mengisi ruangan itu. Gadis itu langsung mengajak Danesya untuk berfoto di sana.
" Gue mau foto sama Ratu Elizabet, kesempatan langka nih," ujar Luna yang langsung menarik Danesya dan berdiri di sebelah Ratu Inggris itu lalu mengambil gambar dengan beliau. Luna langsung pergi ke tempat lain dan mengambil beberapa foto dengan tokoh – tokoh yang dia gemari.
Ya, tempat ini penuh dengan replika tokoh – tokoh dunia yang dibuat dari lilin. Mereka sangat memperhatikan detail sehingga sangat mirip dengan tokoh aslinya. Tentu saja Luna merasa senang dan takjub, dia pernah melihat sesekali di berita, namun saat melihatnya langsung, dia seakan melihat orang asli di sana. Danesya dan Key pun turut senang karna Luna merasa puas berada di tempat itu.
( gambar diambil dari google)
" Hello Ladies, May I help you?" Luna langsung menegok ke belakang dan menatap heran orang yang tiba – tiba datang ke tempatnya. Gadis itu langsung menatap ke arah Danesya yang juga menggelengkan kepalanya. Lelaki itu tersenyum sedikit nakal ke arah Luna. Membuat Key langsung maju dan membisiki sesuatu pada lelaki itu, membuat lelaki itu langsung pergi dari sana.
" Lah? Orang tadi siapa kak Key? Kok langsung pergi? Kak Key bisikin dia apa?" tanya Luna dengan heran, begitu juga Danesya, mereka menunggu Keysha menjawab, sementara Keysha tertawa mengingat apa yang dia katakan pada lelaki tadi, karna lelaki itu langsung menatap Luna dengan aneh saat Key selesai berkata.
" Dia tuh cowok – cowok jomblo yang butuh kasih sayang. Dia lihat yang bening – bening ya langsung minat lah, nah kak Key udh hafal sama cowok yng modelan begitu, jadi tadi kak Key langsung aja bisikin ke dia biar dia gak godain kamu atau nanti jadi modus ke kamu," ujar Keysha yang masih membuat Luna dan Danesya bingung.
" Emang kak Key bisikin orang itu apaan?" tanya Danesya yang membuat Keysha tersenyum.
" Kak Key tadi bilang kalau Luna itu lagi hamil dan ditinggal suaminya, dia lagi cari suami, kalau cowok tadi mau dia bisa jadi bapaknya," ujar Keysha yang membuat Luna dan Danesya melongo, tak menyangka Ky memiliki pikiran yang seperti itu.
" Kak Key parah banget! Hahahahha!" ujar Danesya dengan riang, pantas saja orang itu tampak keki dan langsung meninggalkan Luna. Mana mau dia harus 'bertanggung jawab' terdahap orang yang bahkan belum dikenalnya.
Sementara Luna yang menjadi 'korban' pun hanya diam dan memajukan bibirnya. Gadis itu tahu dia tak bisa protes karna apapun itu, Keysha sudah mengatakannya pada lelaki itu dan lelaki itu telah pergi. Luna memilih untuk mengabaikan masalah tadi dan mencari spot foto yang bagus untuk dipamerkan ke teman – temannya yang ada di Indonesia.
*
*
*
*
Note : Halooooooo, Ini Intermezo dulu yaaa, pusing kalian terbelah menjadi dua antara tim Radith dan Tim Darrel. Ah iya, Authornya juga merasa sedih sama mereka yang bilang "Aku baca karna ada A, maaf thor, sampai di sini aja aku baca ceritamu."
Padahal Authornya ebrharap kalian bisa tetap support apapun alur dan bagaimanapun nanti endingnya :(
Untuk kalian yang masih bertahan di cerita ini, terima kasih banyak. Meski hanya ada satu orang yang berdiri dan menunggu cerita dari saya, saya akan tetap terus menulis untuk orang itu.
Love,
Author