
Luna membuka matanya. Gadis itu meregangkan tubuhnya dan menatap ke arah cermin. Kantong mata mulai menghiasi wajah gadis itu karna dia harus berada di rumah sakit sampai larut dan kembali ke hotel untuk beristirahat. Bahkan gadis itu tak pernah tenang dalam tidurnya dan harus bangun pagi agar bisa kembali menemani Darrel di rumah sakit.
Meski begitu, Luna melakukannya dengan senang hati dan tanpa paksaaan. Dia bahkan kesal dengan dirinya sendiri yang begitu lemah, baru begini saja kantung matanya sudah menghitam, apalagi jika dia menjadi nyonya besar keluarga Atmaja? Jelas dia akan jauh lebih sibuk karna harus menemani Darrel untuk pergi ke berbagai negara.
Gadis itu langsung melompat dari kasur dan mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia bersyukur karna terlahir dari keluarga berada hingga dia mudah saja mencari hotel terdekat dari rumah sakit tempat Darrel dirawat, perkara biaya, biarlah papanya yang mengurus semua, dia hanya tinggal tidur dengan nyaman.
Luna duduk di depan cermin dan mulai mengoleskan Concelar di bawah matanya agar warna hitam itu sedikit memudar. Luna memakai make up yang terlihat natural dan membuat wajahnya menjadi fresh. Gadis itu mengakhiri kegiatannya setelah memoles lip tint berwarna natural ke bibirnya. Dia mengambil tas yang sudah berisi lengkap dan segera keluar dari kamar hotel.
" Selamat pagi nona. Saya akan membersihkan kamar nona," ujar salah seorang yang Luna yakin pegawai hotel ini. Luna mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu pergi dari sana. Luna tak perlu khawatir orang itu 'merusuh' di kamarnya karna dia tak membawa sesuatu yang berharga kecuali pakaian.
Luna mampir ke minimarket untuk membeli roti tawar dan juga roti isi coklat serta beberapa minuman dingin. Gadis itu kembali ke dalam mobil dan meminta supir untuk bergegas ke rumah sakit. Gadis itu masih mengecek ponsel karna sedari kemarin dia menunggu kabar dari papanya mengenai donor ginjal yang tak kunjung didapatkan.
Kaki gadis itu melangkah dan menyapa setiap petugas maupun perawat yang ada di sana. Gadis itu menuju lantai atas dimana paviliun pasien VVIP berada. Namun sesampainya di sana, gadis itu langsung terdiam karna di depan pintu rawat itu ada papa dan abangnya, juga ada Radith dan Lira di sana. Luna langsung mempercepat langkahnya dan menghampiri mereka.
" Kalian kok udah ada di sini pagi – pagi? Kenapa gak masuk? Kak Darrel masih mandi?" tanya Luna yang dijawab tatapan menyedihkan gadis itu langsung meletakkan plastik yang dia bawa ke kursi tunggu dan mendekat ke arah pintu untuk membukanya, namun Jordan menahan tangan Luna.
" Kondisi Darrel tiba – tiba drop tadi pagi, dokter di dalam lagi berusaha bikin kondisinya stabil. Kalau dia gak cepat stabil, dokter harus bawa dia bali kke ICU. Kamu jangan masuk dulu, nanti dokternya gak konsen," ujar Jordan yang membuat tangan Luna melemas dan terlepas dari gagang pintu kamar itu. Luna langsung terduduk di kursi dengan tatapan mata kosong.
" Tadi malam, tadi malam kak Darrel baik – baik aja. Tadi malam kita masih bisa bercandaan, tapi, tapi kenapa tiba – tiba kondisinya memburuk? Kak Darrel? Bagaimana bisa?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Jordan mendekat dan mengusap kepala Luna untuk menenangkan gadis itu, sementara Radith hanya menatap Luna dengan tatapan sedih.
" Gue udah berusaha cari donor buat kak Darrel Lun, tapi yang gue dapat dari data kecocokan, gak ada yang lebih dari tiga puluh persen, itu terlalu beresiko dan gak mungkin dipaksain buat operasi, yang ada malah tambah memperburuk kondisinya karna tubuhnya bakal nolak tuh donor," ujar Radith dengan sedih dan penuh penyesalan.
" Gue juga udah contact teman – teman dan kenalan gue, tapi gue gak dapat. Maaf karna gue gak bisa lakuin apa – apa buat bantu Darrel," ujar Lira menimpali. Luna mendongak dan menatap ke arah Lira yang memandang Luna dengan sedih.
" Gak kok. Lo gak perlu minta maaf, ini bukan salah Lo. Gue malah makasih banget karna kalian mau bantuin buat cari donor, tapi memang belum rejeki aja. Gue Cuma berharap kak Darrel bisa bertahan lebih lama lagi sampai donor itu datang, gue sangat berharap untuk hal itu."
" Dia udah janji sama gue, dia udah janji bakal selalu kuat dan bakal hadepin masalah ini dengan bahagia dan optimis. Gue yakin dia gak akan ingkar janji kali ini. Gue yakin dia bakal bertahan buat gue. Luna benar kan Dad? Kak Darrel akan bertahan kan Dad?" tanya Luna pada daddynya.
Tuan Wilkinson mendekat dan berjongkok di hadapan Luna. Ayah Luna itu menggenggam erat tangan anaknya dan mencium tangan itu. beliau tak mau memberi harapan palsu pada anaknya, namun beliau juga tak mau Luna hilang harapan akan keselamatan Darrel. Lebih baik dia tak mengatakan apapun untuk saat ini.
Lira yang melihat Luna begitu ling – lung sekaligus terpukul langsung menundukkan kepalanya dan menghembuskan napas berkali – kali, berusaha agar tidak menangis. Gadis itu sudah hidup cukup lama bersama Luna, sedikit banyak dia bisa merasakan apa yang Luna rasakan. Bahkan Lira tidak yakin akan bertahan jika dia ada di posisi Luna.
" Kok Lo kayak yang terpukul dan berat banget tahu Darrel drop gini? Lo suka sama Darrel? Jangan macam – macam, dia udah sama Lunetta," ujar Radith yang membisiki Lira dengan wajah yang serius, Lira tentu langsung menengok dan menatap Radith dengan tatapan aneh sekaligus kesal. Bagaimana bisa lelaki itu berpikiran sempit di saat seperti ini?
" Bukannya Lo yang selama ini suka sama Luna padahal dia udah jadi tunangan orang? Kenapa Lo malah lempar itu ke gue? Dasar!" ujar Lira dengan gusar. Radith langsung menatap Lira dengan tajam, dia tak suka dengan pernyataan yang sepenuhnya bukan kebohongan karna memang dia melakukan hal itu.
" Itu kan dulu, kenapa Lo bahas – bahas lagi sekarang?" tanya Radith yang mulai sedikit naik tensi. Lira hanya mengedikkan bahunya dan kembali menatap ruang rawat yang tak kunjung terbuka. Apakah Darrel akan dibawa ke ruang ICU? Itu artinya semakin kecil kemungkinan lelaki itu akan bertahan.
" Om, saya dan Lira permisi sebentar," ujar Radith yang langsung menarik tangan Lira. Gadis itu hendak memberontak, namun dia mengurungkan niatnya agar Radith tidak mendapatkan rasa malu dari perbuatannya. Akhirnya gadis itu hanya mengikuti saja kemana Radith membawanya, toh lelaki itu tak akan menyakitinya. Apalagi Radith yang membawa Lira ke tempat ini dengan alasan menemani Luna.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka, namun hanya ada dua perawat yang terburu – buru pergi dan sesaat kemudian perawat itu kembali membawa brankar, membuat Luna makin lemas karna Darrel harus dirawat kembali di ICU, itu artinya kondisi lelaki itu tak membaik dan bahkan makin mengkhawatirkan.
" Kamu tenang dulu, Abang yakin dia Cuma drop dikit, bentar lagi dia pasti pulih dan bisa balik ke ruang rawat biasa, bahkan nati dia bisa rawat jalan dan bisa pulang ke rumah," ujar Jordan yang merangkul pundak Luna karna gadis itu tampak tak bisa menopang tubuhnya sendiri.
Ketiga orang itu berjalan menuju ruang ICU mengikuti Darrel yang masih taak sadarkan diri. Bahkan Luna lupa dengan kresek yang tadi dia bawa, gadis itu hanya meninggalkan kresek tersebut di kursi. Luna masih menatap lorong rumah sakit ini dengan tatapan yang kosong.
" Abang, bagaimana kalau tadi malam itu moment terakhir Luna sama kak Darrel? Gimana kalau kak Darrel sengaja bikin Luna ketawa biar Luna gak sedih waktu ditinggal sama kak Darrel? Kenapa Luna tiba – tiba kepikiran kayak gini ya bang?" tanya Luna pelan pada Jordan. Lelaki itu hanya diam dan menghela napasnya.
" Kamu harus percaya sama Darrel. Dia lagi berjuang sama hidupnya, kita di sini harus berjuang juga mendoakan dia. Kamu gak mau kan dia sedih karna kamu gak percaya dia bisa sembuh?" tanya Jordan yang dijawab gelengan kepala oleh Luna, gadis itu tak mau Darrel merasa sedih, dia menuruti Jordan dan mulai berdoa untuk kesembuhan Darrel.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang ICU dan membuka maske ryang menutupi wajahnya, dokter itu melihat ked\=tiga orang dengan wajah cemas yang tak mengatakan apapun dan menunggu dokter itu bicara. Dokter itu menghela napasnya dan menatap langsung ke arah tuan Wilkinson.
" Apakah anda perwakailan dari pihak keluarganya? Jika ya, saya ingin mengatakan bahwa pasien tidak dapat bertahan lebih lama lagi,apakah pihak keluarga tidak bisa menemukan donor yang cocok sampai sekarang ini? harap pihak keluarga segera mencari donor yang cocok agar nyawa pasien bisa diselamatkan," ujar dokter yang membuat Luna terdiam.
" Tapi dok, kami sudah mencari ke banyak tempat, kami bahkan udah cari ke luar negeri, Cuma kondisi pasien yang gak bisa cocok sama ginjal – ginjal itu dok, kami harus bagaimana? Kami harus cari kemana lagi dokter?" tanya Luna dengan frustasi, Jordan sampai harus memegang pundak gadis itu agar sedikit tenang.
" Berapa lama waktu yang dimiliki pasien untuk bertahan dok?" tanya Jordan yang dijawab gelengan kepala oleh dokter, namun dokter tersebut tak mau membuat pihak keluarga patah semangat, dokter itu menyebutkan perkiraan waktu yang dimiliki Darrel dan meminta pasien banyak berdoa sembari mencari donor yang tepat.
" Satu hari? Bagaimana bisa dapat donor ginjal dalam waktu satu hari? Ba.. bagaimana bisa? Kita harus apa? Dad? Luna bakal coba tes buat kecocokan Dad, Luna bakal donorin ginjal Luna buat kak Darrel, Luna boleh kan Dad?" tanya Luna yang langsung memegang tangan papanya, tuan Wilkinson menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
" Ginjal kamu gak akan cocok buat Darrel dan daddy tahu itu. Daddy, bang Jordan, bahkan Danesya sudah melakukan tes dan hasilnya negatif, hasil kamu gak akan berbeda," ujar tuan Wilkinson dengan lirih, namun hal itu tak membuat Luna puas, dia memandang ke arah abangnya yang juga menggelengkan kepala.
" Tapi bagaimana kita bisa dapat donor ginjal dalam waktu satu hari? bahkan Daddy udah nyari selama berbulan – bulan, Luna gak bisa buat kak Darrel dalam bahaya, Luna mohon Dad, Luna mohon ijinkan Luna buat donor ke kak Darrel," ujar Luna yang masih tak disejutui oleh tuan Wilkinson. Akan menjadi sia – sia karna lelaki itu akan menolak ginjal Luna.
" Om, Radith dapat kabar dari rumah sakit yang Radith minta buat cari donor, di sana ada beberapa donor yang memiliki sedikit kecocokan sama Darrel, tapi yang paling tinggi hanya sekitar empat puluh persen. Bahkan gak ada yang lebih dari lima puluh Om," ujar Radith yang datang bersama Lira ke ruang itu setelah menanyakan posisi mereka pada Jordan.
" Empat puluh persen? Itu kecocokan yang paling besar yang kita punya. Kita harus donorkan ginjal itu untuk Darrel dan berharap lelaki itu tidak menolak ginjal yang dicangkok ke tubuhnya," ujar tuan Wilkinson yang membuat Radith terkejut. Terlalu beresiko untuk dilakukan.
" Tapi Om.."
" Kita tidak punya banyak waktu. Bahkan dokter sudah mempresiksi Darrel tidak bisa bertahan lebih dari satu hari dengan kondisi ginjalnya sekarang. Melakukan cuci darah pun percuma. Kita harus ambil resiko itu untuk menyelamatkan nyawanya," ujar Tuan Wilkinson yang langsung membuka ponselnya dan memberikan pada Radith agar Radith menghubungi rumah sakit itu.
" Tapi dad, kemungkinan berhasilnya bahkan gak lebih dari separuh, Luna takut kalau semua bakal sia – sia Dad, Luna takut, Luna takut kalau hal itu malah membuat kak Darrel kehilangan nyawanya Dad," ujar Luna dengan air mata yang sudah membanjir. Tuan Wilkinson langsung berhadapan dengan Luna dan memegang pundak gadis itu.
" Kamu dengar Daddy, kita gak punya waktu lagi dan kita gak mungkin cari donor lain dengan kondisi panik kayak gini. Empat puluh persen membang bukan angka yang tinggi, namun itu cukup tinggi dengan kondisi kelainan Darrel," ujar tuan Wilkinson yang masih tak bisa diterima oleh Lunetta.
" Kamu lihat Daddy, kita Cuma punya dua pilihan. Nol persen atau empat puluh persen. Kamu bakal pilih yang maana kalau kamu dihadapkan sama pilihan ini?" tanya tuan Wilkinson yang membuat Luna sesenggukan, gadis itu tak menjawab dan malah melihat ke arah pintu ruang ICU dengan sedih.
" Lekas bawa pendonor itu kemari, kita lakukan operasi secepatnya sebelum kondisi Darrel memburuk," ujar Tuan Wilkinson yang membuat Jordan dan Raadith mengangguk. Dua orang itu langsung pergi dari hadapan mereka, sementara Luna yang masih ketakutan hanya memegang pintu ruang ICU dengan tangan yang bergetar.
" Luna kuat, Luna harus kuat dan kasih kak Darrel kekuatan buat jalanin operasinya. Kalau perlu Luna marah dan paksa tubuh kak Darrel buat terima ginjal itu," ujar Lira yang berusaha menenangkan Lunetta.
" Kak Darrel, Luna mohon tetap hidup, Luna mohon," ujar Luna dengan lirih.