
" Pak, menu makan hari ini apa ya?" tanya Luna pada chef yang ada di dapur, chef itu tampak berpikir karna dia sendiri tak tahu apa yang diinginkan Luna hari ini hingga dia belum memasak apapun untuk makan siang Luna. Gadis itu pulang lebih awal dan merasa lapar.
" Nona mau memakan apa? Akan saya siapkan dengan cepat apapun yang nona inginkan," ujar chef itu dengan senyum yang ramah, jika saja iman Luna tak kuat, gadis itu akan jatuh cinta pada pesona chef di rumahnya. Mungkin novel ini akan berjudul ' pesona om chef yang menawan.', hahah, sangat menggelikan bagi Luna.
Luna tampak berpikir dan melihat ke arah kompor yang brsih, ke arah kulkas dan tertutup dan ke arah chef yang menunggu instruksinya. Gadis itu tidak tahu apa yang saat ini dia inginkan, makanya dia sendiri menjadi bingung menentukan menu makan siangnya yang menyehatkan dan menambah tenaga.
" Mie instan aja deh pak, Luna lagi pengen banget," ujar Luna dengan polosnya yang membuat chef itu menatap Luna dengan wajah terkejutnya. Bahkan orang itu bisa memasakkan banyak hal lain yang jauh lebih nikmat. Gadis itu memilih mie instan? Seketika ahrga dirinya sebagai chef menjadi hancur, namun apa boleh buat, aapapun yang Luna inginkan adalah perintah untuknya, mau tidak mau dia menuruti apapaun yang Luna mau.
" Nona tunggu sebentar, akan segera saya siapkan. Nona mau yang tingkat matangnya seberapa?" tanya Chef itu yang membuat Luna kembali berpikir. Dia hampir tidak pernah memakan mie instan, namun entah mengapa saat ini dia ingin sekali memakan makanan yang tidak ada gizinya itu. Mungkin dia ingin membuat Darrel datang dan memarahinya akrna hal ini.
" Matangnya yang enak aja gimana chef, Luna gak paham yang enak yang seberapa, Luna tunggu di meja makan ya ya Chef, semangat masaknya, makasih ya chef," ujar Luna yang diangguki oleh chef muda itu dan beralih pada mie instan yang dia bilang, orang itu muai menyiapkan panci kecil dan mengisinya dengan air lalu merebus mie yang sudah dia siapkan.
" Entah aku harus bersyukur atau malah sedih karna aku bekeja di tempat ini hanya membuat makanan caterig untuk pelayan, bahkan nona muda hanya memintaku untuk memasak mie Instan, astaga, keluarga kaya yang aneh," ujar orang itu pelan dambil mengaduk mie yang masih berupa sebuah mie kering berwarna kuning dengan bentuk kotak.
Tak butuh waktu sepuluh menit, orang itu menghidangkan mie instan untuk Luna, tadi dia juga sudah merebus udang dan telur, chef itu menata udang dan telur yang sudah dibersihkan lalu menghidangkannya ke hadaoab Luna. Gadis itu menatap mie instan di depannya dengan liur yang nyaris menetes.
" Gilak sih, gue minta mie instan aja dikasihnya yang kayak gini ya njir. Makasih ya chef, udah cakep, baik lagi," ujar Luna yang tak pernah puas memuji chef itu. Tak hanya tampang wajah, orang itu juga pintar memasak dan ramah, sangat idaman. Namun tetap saja Luna memilih Darrel yang sudah lebih dari semua itu.
Luna memakan semua mie beserta lauk yang ada di mangkok itu dengan lahap dan cepat, sementara chef itu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang bagi pelayan yang ada di sana. Luna mengecek keberadaan ponselnya. Dia baru ingat kalau ponsel itu dia tinggalkan di kamarnya, membuatnya semakin cepat menghabiskan makannya.
Gadis itu menghabiskan semua mie yang ada di sana dan segera membawa mangkok kotor itu ke tempat mencuci piring. Dia meletakkan piring di sana dan membuka kulkas untuk mengambil jus buaah kemasan yang ada di sana, melihat tanggal kadaluarsa dan menuangkan jus itu ke dalam gelas.
Luna membawa gelas berisi jus serta kotak jus itu ke kamarnya, heran juga kenapa dia mengambil semua itu di area dapur, di kamarnya kan ada kulkas kecil yang berisi banyak jus dan susu, kenapa tidak mengambil dari situ saja? Memang kurang kerjaan Luna.
" Nah loh, gue mau ngapain nih sekarang? Kacau nih, mau gangguin kak Darrel atau gangguin Radith ya?" tanya Luna pada gelas jus yang dia pegang. Gadis itu membuka laptopnya dan menghubungi Darrel. Namun lelaki itu sama sekali tak menjawab, mungkin lelaki itu masih sibuk dengan urusannya. Kasihan sekali, padahal sangat tampak Darrel lelah, namun lelaki itu masih memaksakan diri.
Bahkan Luna bisa melihat kantung mata yang berwarna hitam. Menurut dokter yang dia kenal, kantung maat berwarna hitam berarti ada sesuatu yang salah dalam tubuhmu, bukan tanda seseorang itu kekurangan tidur. Fakta yang bahkan Luna baru tahu. Apakah ada sesuatu yang salah di tubuh Darrel? Atau lelaki itu hanya kelelahan hingga sistem tubuhnya sedikit bermasalah?
Tak ingin memikirkan Darrel lebih dalam, Luna memilih untuk menghubungi Radith lewat ponselnya. Satu kali, Radih masih me reject panggilannya, dua kali, lelaki itu masih keukeuh tak mau menjawab panggilan Luna. Pada panggilan ketiga barulah lelaki itu menjawabnya, namaun hanya ada langit – langit kamar yang ada di ponsel Luna.
" Radith? Lo dimana? Radith? Lo dimakan cicak ya? Radith? WOYYY!!!" Luna berteriak kencang dan ponsel pun bergerak, menampakkan Radith yang memejamkan mata tanpa memakai baju. Kenapa melihat Radith Luna merasa biasa saja ya?
Apa mungkin karna pstur tubuh Radith yang biasa saja? Tak terlalu kurus, tak terlalu gemuk, namun tak juga ideal, astaga, bagaimana mngungkapkannya? Lelaki itu memiliki perut yang sedikit buncit, lengan yang kenyal dan tak berotot, khas sekali dengan mereka yang tak pernah berolah raga.
" Apaan sih Lo Lun? Kalau mau ganggu mending nanti – nanti aja deh, gue capek banget Lun, asli deh, Lo mending mandi, pergi jauh – jauh, atau malah tidur aja sana gih, capek gue," ujar Radith dengan nada khas bangun tidur tanpa mau melihat ke arah Luna. Luna yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
" gue gak bisa tidur dith, kalau bisa tidur mah dari tadi juga gue mau tidur. Nih, author ngetik ini aja sambil merem – merem tuh, pantes aja selalu banyak typonya, ngetiknyaa sambil tutup mata," ujar Luna dengan galak dan malas, membuat Radith maupun author menjadi terkejut karnanya.
" Minta dibuat wafat nih anak," ujar Author yang kembali menulis naskah karna selama ini dia malas melanjutkan cerita ini, namun karna deadline, dia terpaksa menulis paling tidak 6 ribu kata dalam sehari, meski setelah itu dia kembali tak melanjutkan novel ini sih, hahaha, maafkan author yang masih egois dan semaunya sendiri.
" Lo parah sih Lun, ngomel Lo gak jelas, udah ah kalau gak penting mending dimatiin, biar gue bisa istirahat, tidur dengan tenang, meraih mimpi, gitu pokoknya, Lo masak gak kasihan sama gue sih?" tanya Radith yang sengaja memelas agar Luna segera mematikan panggilan tak bertujuan ini.
" Halah, gaya Lo capek, gaya Lo sibuk, Lo gak ngapa – ngapain juga seharian ini di sekolah, Cuma mainan Laptop gak jelas, mana ada capeknya," ujar Luna dengan ekspresi tak terima yang membuat Radith kembali gemas sekaligus kesal. Gadis itu tak tahu apa – apa namun suka sekali berkomentar.
" Jutaan orang tidak menyadari bahwa dia bisa menghasilkan ratusan juta dollar tanpa harus keluar rumah. Lo termasuk dari jutaan itu Lun," ujar Radith yang kemudian mematikan sambungan telpon dengan segera tanpa menunggu gadis itu menjawab. Biarlah Luna amrah atau mengomel padanya besok, dia hanya perlu tidur siang yang nyenyak dan menyenangkan.
Luna berguling – guling di tempat tidurnya dengan bosan, apakah teman – temannya masih sibuk? Mengapa rasanya sudah lama sekali mereka tak bertemu? Sepertinya Luna harus menghubungi mereka satu – satu untuk main ke rumahnya, entah apa yang akan mereka lakukan.
" Halo Del? Lo sibuk gak? Kalian semua sibuk gak? Main ke rumah gue yok, kita main basket atau apapun lah yang bisa dipakai buat mainan. Mau ya? Gue gabut banget soalnya disini, bantu gue keluar dari segala kegabutan ini," ujar Luna dengan nada yang menjijikkan bagi Adel, namun gadis itu masih saja mengiyakan Luna dan mematikan sambungkan telpon.
Bicara soal Lucy, Luna berhasil membujuk Mr. Smith untuk memaafkan Lucy dan memberikan kesempatan untuk Lucy dengan ancaman daari Mr. Wilkinson jika gadis itu melukai Luna lagi, Mr. Smith tak akan pernah memberi ampun lagi pada Luna dan Lucy. Ya, keduanya, karna keduanya adalah sumber masalah jika salah satu dari mereka melakukan sesuatu yang salah.
Gadis itu tinggal di apartemen yang sengaja dibeli oleh Mr. Wilkinson untuknya. Sementara untuk sekolah, gadis itu dipanggilkan guru khusus karna dia harus mengulang tahun ajaran baru sebagai siswa kelas sepuluh, lebih baik dia percaya pada guru home schooling dan mengambil kejar paket untuk ijazah SMA nya.
Terlalu baik memang keluarga Wilkinson ini. Namun jika mempertimbangkan usia dan penyebab Lucy menjadi jahat, terlalu kejam rasnaya jika tak memberi kesempatan kedua. Terlepas dari apa yang sudah Lucy lakukan, benar kata Luna, mereka adalah sahabat dan tentu Luna tak mau sahabatnya menderita lebih lama.
Luna kembali mematikan sambungkan telpon dan mencari bola basket di ruang olah raga miliknya. Gadis itu mengabim dua bola basket erwarna merah dan mencoba untuk memantulkannya lalu kembali keluar dari kamar itu menuju lift. Gadis itu segera berjalan menuju halaman depan dimana terdapat lapangan serba guna di sana.
Dikatakan lapangan serba guna karna digambar banyak bentuk lapangan sesuai ukurannya masing – masing dalam satu bidang tanah. Garis yang berwarna biru adalah batas jika mereka bermain badminton. Garis yang berwarna putih untuk basket dan garis berwarna hujau untuk bola tembak. Sebenarnya ada juga sebidang tanah kecil yang bisa digunakan untuk lempar tangkap bola baseball, namun Luna tak berminat untuk memainkan hal itu saat ini.
Gadis itu menunggu waktu cukup lama untuk mengumpulkan semua temannya, sampai akhirnya semua berkumpul dan mereka membelah menjadi dua tim. Luna dengan Adel dan Key dengaan Lucy, sementara Agatha menjadi tim penonton karna dia tak pernah bisa bermain Basket.
Gadis itu duduk di pinggir lapangan sambil memainkan Ipad yang tadi sempat Luna ambil. Setidaknya kegiatannya tak hanya mengamati kedua tim yang dulunya adalah kebanggaan SMP mereka karna mereka pernah masuk dalam tim inti dengan permainan yang baik, meski setelah itu Luna merasa bosan dan mager hingga memilih keluar dari ekstrakulikuler itu.
Sementara Adel, Lucy dan Key yang entah bagaimana juga mengalami kebosanan setelah Luna keluar menjadi biang masalah karna dalam sekejap tim basket mereka kekurangan personel. Bahkan karna hal itu lah mereka sempat dicap buruk oleh beberapa guru di sana. Guru – guru itu mengira mereka yang sengaja mengotak tak tak mau bergaul dengan lainnya, padahal yang lainnya lah yang tak mau menjadi teman mereka.
Iya lah tak mau, melihat ketatnya penjagaan mereka saja sudah membuat orang – orang itu takut. Apalagi rasa minder dari dalam diri orang itu sendiri yang membuat mereka berempat berakhir dengan terus berempat sampai hari kelulusan. Padahal mereka ebrempat tak pernah memandang status sosial dalam berteman, orang – oraang itu saja yang slaah menyimpulkan.
" Anjir, kalau Luna sama Adel satu tim mending gue ngalah dari sekarang deh, Lucy kan lemot, udah kelihatan gue bakal kalah," ujar Key dengan keras yang membuat Lucy mendengus kesal mendengarnyaa. Memang otaknya sedikit lemot, namun untuk kemampuan basket, jangan diragukan lagi.
" Weh, dia pernah jadi pemain terbaik waktu kit lawan SMP elit waktu itu, Lo mah apaan? Main Cuma beberapa set juga langsung engap gak mau main lagi, untung aja ada Lucy loh, kalau gak pasti kita udah kalah deh," ujar Luna membela Lucy membuat gadis itu tersenyum sombong di depan Key.
Key tertawa mendengar pernyataan yang memang nyata dan fakta, dia bahkan tak bisa memungkiri kemampuan Lucy bila gadis itu sudah bertekat, dia hanya rindu untuk menggoda Lucy yang lemot. Ah, perlu diingat, tak ada satupun dari mereka yang membahas kembali 'luka lama' yang sempat mereka alami.
Mereka menganggap hal itu hanyalah sebah ujian dalam persahabatan mereka, kini mereka sudah menerima Lucy sepenuhnya tanpa melihat masa lalu gadis itu, tanpa melihat kesalahan gadis itu. Paling tidak hal itu mampu membuat Lucy berpikir dua kali jika seandainya dia hanya berpura – pura untuk berubah.
Baik Luna maupun Adel dan Key, mereka ingin menunjukkan pada dunia bahwa tak ada hati yang tak luluh dengan ketulusan. Mereka sudah membuktikan hal itu pada Lucy. Ketulusan mereka dalam memaafkan dan meminta Lucy kembali menjadi sahabat membuat Lucy menjadi sadar dengan sendirinya. Kini tinggal mereka berharap baik Lucy maupun yang lain akan jauh lebih terbuka untuk ke depannya.
Mereka main dengan sengit, poin demi poin diraih, sampai akhirnya terjadi insiden yang menghentikan permainan, bahkan membuat Agatha yang asyik sendiri menjadi tertarik dan mendekat ke arah mereka.
" Lo gimana sih Lun? Udah bertahun – tahun main basket, masak Lo kesandung bola sendiri? Kayak gak profesional Lo ah," ujar Adel dengan geli sambil membantu Luna berdiri, namun gadis itu tak menanggapi perkataan Adel dan memegangi kakinya.
" Gue juga gak tahu njir kenapa kaki gue bisa kesandung sama bolanya. Sakit banget nih, mana kaki gue sering kesemutan kalau udah kayak gini. Kenapa ya?" tanya Luna dengan bingung. Meski pernah mendapat penjelasan dari Radith, rasanya belum puas jika belum mendengar perjelasan dari mereka.
" Mau Menstruasi kalik Lo, gue biasanya juga ngerasain kram kok kalau udah tanggalnya. Wajar lah cewek, udah yok bangun, kita kompres dulu nih biar gak bengkak," ujar Adel yang diangguki oleh Luna. Semoga saja seperti itu.
Luna bangkit dari duduknya dan dibantu oleh Adel ke pinggir lapangan, Key dan Lucy masih melanjutkan permainan berdua, sementara Agatha sudah langsung memanggil pelayan untuk menyiapkan kompres agar kaki Luna tak membengkak.
Dengan telaten Adel mengobati kaki Luna dan meminta Luna untuk berjalan dengan benar meski kakinya sakit. Hal itu dilakukannya agar Luna tak terbiasa untuk jalan pincang.
" Makasih ya Del, gilak, lama – lama remuk deh badan gue kalau jatuh terus kayak gini," ujar Luna dengan sedih sambil menatap kakinya. Adel pun tertarik dengan apa yang Luna bicarakan.
" Jatuh terus? Emang sebelum ini Lo juga sering jatuh?" tanya Adel dengan tatapan curiga dan bingung menjadi catu. Luna mengangguk mengiyakan.
" Iya, beberapa hari ini tuh gue sering jatuh, kesandung kaki gue sendiri, kadang juga gak tahu kenapa gue gak bisa negrasain kaki gue, kayak melayang gitu, terus akhirnya gue jatuh deh. Itu artinya kenapa ya?" tanya Luna dengan bingung. Adel menegak dan menatap Luna dengan tatapan kaget, membuat Luna jadi takut sendiri melihat ekspresi gadis itu.
" Itu artinya Lo bego, udah gede juga masih kesandung kaki sendiri, kan konyol," ujar Adel yang membuat Luna melengos. Harusnya sejak awal dia tak bertanya pada Adel.