Hopeless

Hopeless
Chapter 129



Luna menunggu Darrel di depan rumahnya, sudah lima belas menit namun Darrel belum juda datang, gadis itu memainkan kakinya karna bosan. Tadinya dia menunggu Darrel di dalam kamarnya, lalu turun ke ruang tamu, sampai akhirnya dia sampai di tempat ini. Luna mengecek ponselnya berkali – kali, siapa tahu Darrel mengabarinya atau membatalkan janji mereka.


Tiga puluh menit berlau namun Darrel tak kunjung datang, bahkan ponsel lelaki itu tak aktif. Luna mulai khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Darrel di jalan? Semua pikiran buruk mulai menghantui Luna, gadis itu hendak masuk ke dalam rumah dan melacak ponsel Darrel, mana tahu memang terjadi sesuatu pada lelaki itu.


" Kak Darrel tuh kemana?" tanya Luna dnegan kahwatir pada ponselnya, meski tak ada yang mendengar keluh kesahnya. Kenapa Darrel tiba – tiba menghilang seperti ini? Padahal tadi siang mereka masih bertemu dan membuat janji untuk pergi malam ini, sebagai tanda perpisahan selama dua bulan yang akan segera terjadi.


" Pak Indra, bisa minta tolong lacak ponsel Darrel gak? Soalnya Kak Darrel gak bisa dihubungin sama sekali, bisa tolongin Luna kan pak?" tanya una setelah berkeliling rumah untuk mencari pak Indra, padahal bisa saja dia menelpon, namun karna panik dia tak kepikiran untuk melakukan itu, dia lebih fokus mencari pak Indra dan meminta tolong pada pria itu.


" tentu saja bisa nona, silakan Luna masuk ke dalam ruangan saya karna alatnya ada di dalam. Nona bisa berikan saya nomor ponsel tuan Darrel kan?" tanya Pak Indra sambil mengajak Luna masuk ke dalam ruangan pak Indra. Luna langsung masuk ke dalam sana dan menyerahkan ponselnya ke pak Indra.


" Nona tunggu sebentar ya," ujar Pak Indra mengambil ponsel Luna dan mulai memasukkan serta mengetik beberapa kode di dalam mesin itu. Luna menunggu dengan tak sabar, namun dia tak akan menganggu pak Indra agar prosesnya segera selesai. Pak Indra berdiri, membuat Luna melihat ke arah pak Indra dengan cemas dan tatapan tanya.


" Ponsel tuan muda ada di rumahnya nona, namun dalam keadaan mti, apakah nona mau cobaa mengecek ke rumah tuan muda Darrel? Saya akan mengutus pengawal dan supir untuk mengantar nona muda," ujar pak Indra memberi penawaran yang tentu langsung disetujui oleh Luna. Gadis itu langsung berjalan ke pintu utama dan ternyata sudah ada mobil beserta supit yang disiapkan oleh pak Indra.


Tanpa membuang waktu Luna langsung masuk ke dalam sana dan supir segera melajukan mobil ke rumah Darrel. Selama perjalanan Luna berusaha menelpon Darrel, berharap ponsel lelaki itu sudah aktif, namun ternyata zonk. Kenapa lelaki itu meninggalkan ponselnya di rumah? Kemana lelaki itu pergi? Kenapa Luna sampai merasa sekhawatir Ini pada Darrel? Tak biasanya Darrel terlambat saat mereka membuat janji, wajar kan jika Luna khawatir?


Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah Darrel, tak ada yang mencegah atau melarangnya, karna mereka semua tahu bahwa Luna adalah calon nyonya rumah di sini, mana berani mereka main main pada Luna? Lebih baik mereka mencari jalan aman. Langkah gadis itu berjalan menuju kamar Darrel yang memang selalu terkunci. Gadis itu mengetuk dengan keras pintu di depannya, berharap pintu itu akan terbuka.


" KAK DARREL!!" Seru Luna yang sudah menangis sambil terus mengetuk pintu kamar itu, bahkan Luna tak peduli tangannya terasa sakit karna memukul pintu dengan keras. Namun tak ada respon, Luna sudah bingung kemana Darrel? Atau lelaki itu sedang tak baik di dalam sana? Luna sudah memikirkan semua kemungkinan terburuk yang memang mungkin saja terjadi.


" DARREL?!" Seru Luna dengan keras karna dia sudah sungguh frustasi dengan Darrel yang tak ada kabar. Tak lama pintu terbuka dan menampakkan wajah Darrel yang sedang mengucek matanya. Luna langsung memeluk lelaki itu dengan erat, membuat lelaki itu terhuyung dan bingung karna dia belum sepenuhnya sadar apa yang sudah terjadi.


" Kamu kenapa?" tanya Darrel dengan bingung karna Luna tiba tiba saja memeluknya sambil menangis, lelaki itu masih berusaha menyadarkan dirinya karna matanya belum terbuka sempurna. Lelaki itu mengucek matanya berkali kali.


" Kak Darrel lupa ada janji sama Luna? Luna nungguin lama, ponsel kak Darrel gak aktif, waktu Luna lacak ponsel kak Darrel ada di sini, Luna pikir kak Darrel kenapa napa," ujar Luna terbata bata karna diselingi senggukan dari tangisnya.


" ASTAGA!" Seru Darrel yang baru mengingat hal itu. Tadi Darrel memang ada urusan dengan pihak sekolah mengenai dirinya yang terpilih menjadi tutor, namun dia masih memiliki tanggung jawab dengan kepengurusan OSIS yang segera berakhir.


Darrel seketika tak ingat jika membuat janji dengan Luna, bahkan lelaki itu tertidur dengan posisi ponsel yang kehabisan baterai karna tidak dia cek atau charge sama sekali. Rasa lelah dan pegal sudah medominasi hingga dia sudah tepar.


" Maaf ya, aku ketiduran, ponsel aku mati, maaf udah bikin kamu khawatir," ujar Darrel dengan lembut sambil memegang dan mengelus rambut Luna, tak lupa membalas pelukan gadis itu untuk menenangkannya.


" Jahat! Kak Darrel jahat!" Ujar Luna memukul - mukul pundak Darrel namun tak melepaskan pelukannya, lelaki itu pasrah saja dan membiarkan Luna melakukan sesukanya. Luna menghentikan aksinya dan mengatur napasnya.


Gadis itu melepaskan pelukannya dan memegang pipi Darrel, menggelengkan kepala lelaki itu ke kiri dan ke kanan, lalu memutarkan badan lelaki itu perlahan untuk memastikan lelaki itu tidak terluka. Luna mendesah lega saat menemukan kekasihnya masih utuh dan baik baik saja.


" Maaf ya udah buat kamu khawatir, pacar aku sampai ketakutan gini, takut banget aku kenapa napa ya?" Tanya Darrel yang malah menggoda Luna, tidak mengerti bahwa saat ini Luna sedang dalam mode mengamuk karna dia tidak bisa dihubungi.


" Hehehe, maaf maaf, bercanda sayang, gak usah cemberut gitu, bisa buat gantungan kunci loh ini, Udah ah nangisnya," ujar Darrel menghapus jejak air mata di wajah Luna.


" Kak Darrel sakit ya? Kok hangat gini badannya? Ngaku!" Ujar Luna memegang dahi dan leher lelaki itu, Darrel sendiri tidak menyadari dirinya sakit atau tidak hingga dia tak menjawab tapi ikut memegang dahi dan lehernya.


" Ck, disini ada chef gak?" Tanya Luna dengan wajah galaknya, namun Darrel menggeleng sebagai jawaban. Untuk apa ada chef jika bahkan mereka tak pernah ada waktu untuk makan bersama, apalagi Darrel bisa masak sendiri.


" Kak Darrel masuk kamar, nanti Luna bikinin makan sekalian sama obat. Gak ada protes gak ada bantah," ujar Luna mendorong Darrel untuk masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dari luar.


Luna langsung semangat menuju dapur untuk memasak sesuatu. Gadis itu terdiam di depan kompor listrik yang masih mati. Dia tidak pernah memegang alat masak apapun, dia bahkan tak tahu fungsi fungsi dari alat alat di depannya.


Gadis itu mengambil sebuah teflon kecil dan meletakkannya di atas kompor, gadis itu membuka kulkas dan melihat isinya, dilihatnya banyak bahan makanan yang entah apa namanya, yang dia tahu adalah telur.


Luna mengambil dua butir telur yang ada di depannya dan sebuah kaleng yang berisi mentega. Gadis itu mulai menyalakan kompor dengan takut, saat kompor menyala, gadis itu mulai memasukkan mentega ke dalam teflon.


" Yeeyyy," ujar Luna saat berhasil melakukan tahap pertama dengan baik. Gadis itu memecah telur dengan memukulkannya di pinggiran teflon, membuat telur itu remuk, sebagian kecil masuk ke dalam teflon, dan sisanya tumpah di atas kompor, ada pula yang tumpah di tangannya hingga berbau amis.


" Yah, tumpah," ujar Luna dengan sedih dan bingung karna tangannya yang bau dan dapur yang berantakan seketika.


Gadis itu membuka telur kedua, sebagian telur itu masuk ke dalam teflon, se kulit kulitnya, hmmm, sepertinya ini akan menjadi pertama dan terakhir. Luna mengaduk telur itu dan mencari saos untuk campuran. Gadis itu menuang saos tomat dan saos pedas dengan porsi asal.


" Gak berani nyobaain deh gue, udah ah kayaknya enak dan tidak mengandung racun, yang penting menyajikannya pakai cinta," ujar Luna yang mematikan kompor dan langsung memindahkan telur dari wajan ke piring. Gadis itu memindahkannya tanpa bantuan sendok atau apapun, dia langsung menuangkannya.


Luna berjalan menuju kulkas dan mengambil jus buah dalam kemasan dan memindahkannya ke gelas. Gadis itu membawa dua hasil karyanya menuju kamar Darrel untuk menunjukkan pada Darrel bahwa dia juga bisa memasak seperti Darrel, bahkan sangat baik untuk pemula.


" Kak Darrel, Luna udah masak nih, nih cobain hasil karya chef Lunetta yanag cantik dan budiman." Luna menyodorkan masakannya tanpa dosa, membuat Darrel melongo tak percaya. Lunetta memasak apa?


" Telur orak – arik pedas asam ala Chef Lunetta, mohon beri kritik dan sarannya," ujar Luna dengan riang, Darrel tersenyum senang dan langsung mencoba satu sendok penuh, memakan makanan tanpa nasi itu dengan wajah yang berharap tinggi. Namun tanpa dia sadari ekspresinya berubah aneh, membuat Luna meringis tak enak hati.


" gak enak ya? Maaf ya kalau gak enak, gak usah dimakan kak, gak layak makan ini," ujar Luna yang berusaha merebut piring Darrel dari orangnya. Lelaki itu menjauhkan piringnya dan makan lagi sesuap dengan pelan dan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.


" I.. itu, Kulit telurnya kak, tadi gak sengaja jatuh, yaudah Luna aduk sekalian biar kecampur jadi satu," ujar Luna dengan pelan, dia takut Darrel memarahinya karna tak becus memasak, memang dia bukanlah istri yang baik, bukan istri idaman atau apapun itu.


" Aku ajarin masak yuk," ujar Darrel yang tak melanjutkan makannya dan meletakkan piring itu di atas nakas. Darrel bangkit berdiri dan menggenggam tangan Luna untuk ikut bersamanya. Luna menahan tangan Darrel agar tak melanjutkan langkahnya dan menarik Darrel untuk duduk kembali.


" kak Darrel kan masih sakit, kita pesan makanan aja ya kak, aku gak mau kak Darrel malah kecapekan dan malah tambah sakit, ya kak ya?" bujuk Luna pada Darrel. Lagi – lagi lelaki itu tersenyum dan kali ini menempelkan kedua telapak tangannya yang hangat ke pipi Luna sampai pipi itu tertekan.


" Di sini panas Lun, aku takut kalau gak bisa nahan terus nanti malah buka baju dan apa apa in kamu, kan kita Cuma berdua di kamar. Jadi mensing kita keluar dan masak, aku ajarin kamu masak, oke?" tawar Darrel dengan senyum nakalnya. Luna tentu langsung mengangguk setuju dan bangkit untuk berjalan keluar dari kamar, bahkan sebelum Darrel berjalan.


" Gimana gak sayang coba?" tanya Darrel pada foto Luna dan dirinya saat berada di pantai yang dia letakkan di atas nakas, lelaki itu keluar dari kamar dan menguncinya lalu berjalan santai menyusul Luna ke dapur dengan celana boxer pink bergambar hati dan kaos putih polos.


Darrel dibuat terkejut dua kali saat melihat kondisi Dapurnya yang sudah seperti dirampok, lelaki itu menunduk dan seakan mencari sesuatu, membuat Luna terheran dan langsung menghampiri lelaki itu.


" Kenaoa sih kak? Ada yang hilang?" tanya Luna sambil ikut membungkuk dan mencari sesuatu meski dia tak tahu apa yang dicari, pokoknya menengok saja lah.


" Kucing atau tikus, kok dapurnya berantakan gini? Pasti ada tikus masuk nih, gak beres pembantu di sini! MBAKK!" Seru Darrel dengan marah dan berdiri seketika. Dia tak suka rumahnya berantakan, lelaki itu terlalu cinta pada kerapian, tapi kerapian ada di urutan kedua setelah Luna. Hahaha, If you know what I mean aja ya.


" Itu Luna kak, Luna yang udah berantakin semua, maaf ya tingkah Luna udah kaayk kucing atau tikus, Luna bakal beresin semua kok," ujar Luna dengan sedih dan mulai mengambil lap untuk membersihkan telur yang berceceran disana.


Darrel terkejut lagi karna dia baru ingat Luna memasak untuk memberinya makan, namun ternyata tak hanya rasnaya yang mengerikan, cara kerja Luna juga sangat mengerikan baginya. Namun apa boleh buat, Darrel lebih menyayangi Luna dibandingkan dapurnya.


" udah, gak usah, biar pembantu yang bersihin, kita masak yang baru aja disitu," ujar Darrel menunjuk sisi lain dapur dan mengambil peralatan yang diperlukan. Luna mengangguk meski masih merasa sedih, gadis itu mengikuti Darrel kemanapun lelaki itu pergi, seakan sengaja mengekor padanya.


" Kamu bantu aku kocok telurnya ya," ujar Darrel dengan lembut sambil mengambil telur di dalam kulkas. Luna mengangguk dan melihat Darrel mendekatkantelur itu ke atas mangkok.


" Kalau kamu kesusahan pakai tangan satu atau mecah telur ini di mangkok, kamu pakai sendok atau garpu, lebih aman jadinya," ujar lelaki itu sambil memperagakannya di depan Luna. Gadis itu mengangguk paham dan emngambil alih telur dalam mangkok itu, Luna mulai mengocoknya pelan.


" pinter ngocok ya ternyata kamu," ujar Darrel tersenyum senang dan puas. Lelaki itu mengambil wadah garam dan menaburkan sejumput garam ke dalam adonan telur itu sementara Luna terus mengocok dengan senang dan tenang.


Darrel melanjutkan pekerjaannya dengan mengambil daging kalengan dan menungkan daging itu ke dalam mangkok yang berisi telur kocok tadi. Luna kembali mengaduknya pelan dan kemudian Darrel mengambil alih mangkok itu.


Una kembali mengintili Darrel yang berjalan ke arah kompor, lelaki itu mengambil teflon baru dan mulai menyalakan kompor. Mengambil minyak goreng dan mentega lalu menuangkan adonan telur itu ke atasnya. Luna menunggu saja apa yang Darrel kerjakan.


Llaki itu membalik telur tersebut dan tak lama kemudian mematikan kompornya. Memberikan instruksi pada Luna untuk mengambil piring dan memindahkan omelette daging tersebut ke atas piring. Luna memekik gembira dengan hasil karya keduanya, yah meski lebih pantas dibilang hasil karya Darrel sih.


" Sama – sama telur, tapi kok kayaknya ini lebih enak ya," ujar Luna menatap ingin telur yang ada dihadapannya.


" Bentar dulu, kita ambil nasi dulu terus nih makan bareng – bareng," ujar Darrel mencegah tanagan Luna yang hendak mencuil telur tersebut. Luna meringis sambil tertawa ringan dan langsung membawa telur tesebut keluar dari dapur sementara Darrel mengambil dua porsi nasi untuk mereka.


*


*


*


Hai manusia baik, maaf ya telat Up, kali ini authornya ketiduran dan waktu author up ini udah jam 3 pagi 😂


Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain.


Adella


T(w)o Heart


Miss galak, Iove you


Ex lover


Soulmate


Thank you....


Love,


Eliz