Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 20



Luna dan Radith sampai di Sekolah dan langsung berjalan ke arah panggung hiburan, berbicara dengan MC dan guru – guru yang ada di sana. Mereka mulai membicarakan prestasi Radith yang menjadi juara LKS nasional bilang Elektronika Industri. Wajar saja dia sangat diagung – agungkan oleh guru – guru itu. Sementara Luna yang murid biasa – biasa saja hanya bisa diam dan menyimak. Ah menyebalkan.


Satu persatu siswa yang tadi mengikuti jalan santai sudah kembali ke sekolah dan duduk di pinggir lapangan sambil memakan snack yang dibagikan. Pembawa acara melanjutkan acara dengan penuh keceriaan, membuat suasana menjadi hidup. Ah, saat seperti ini memang harus diperbanyak agar siswa siswi tidak stres selama sekolah.


" Kalian ingat gak sama mas – mas ganteng yang tadi pagi kasih sambutan di sini? Masnya itu suaranya bagus banget loh, kalian mau dengar suaranya gak?" Radith langsung terkaget saat pembawa acara itu mengatakan hal tersebut. Radith yakin guru – guru lah yang meminta orang itu agar Radith mau menyanyi di atas panggung.


Mau tidak mau Radith naik ke atas panggung dan mulai membisikkan sesuatu kepada pemain keyboard yang ada di sana. Orang itu mengangguk dan menyiapkan nada dasar untuk Radith. Sementara Luna yang ada di bawah sana hanya terdiam dan memandang Radith yang tampak serius dengan penampilannya. Lelaki itu menolak, namun tetap mempersiapkan dengan baik, khas Radith sekali.


" Ku harap semua ini bukan sekedar harapan."


" Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan."


" Biarkan 'ku menjaganya sampai berkerut."


" Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya."


" Tak main – main hatiku. Apapun rintangannya kuingin bersama dia."


Radith tampak menghayati lagu tersebut, membuat anak – anak yang ada di sana bertepuk tangan meriah menyaksikan dan mendengarkan suara Radith yang memang layak untuk diapresiasi tinggi. Luna sendiri hanya diam dan menikmati suara yang sudah lama tidak dia dengar. Mungkin kala dia berduet dengan Radith adalah kali terakhir Luna bisa mendengar suara Radith. Itu sudah lama sekali.


" Ku mau dia, tak mau yang lain."


" Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku."


" Ku mau dia, walau banyak perbedaan. Ku ingin dia bahagia hanyalah denganku."


Radith melanjutkan bait demi bait lagu tersebut. Entah pada siapa pesan ini dia sampaikan, yang jelas dia seakan meminta pada Tuhan untuk mengabulkan isi dari lagu tersebut. Luna sendiri sampai terhanyut dan tersenyum tiada henti mendengar lagu tersebut, walau sebenarnya Luna tidak tahu lagu apa yang Radith nyanyikan.


" Bukan ku memaksa, oh Tuhan."


" Tapi kucinta Dia."


" Kumau dia."


" Hanyalah dia, Tuhan."


" Kucinta dia."


Semua orang yang ada di sana sontak saja bertepuk tangan melihat Radith. Radith turun dari panggung diiringi tatapan yang memuja oleh semua orang yang ada di sana. Bahkan banyak siswa lelaki yang kagum dengan pesona Radith. Sudahlah orang itu kaya, pandai menyanyi, tampan pula. Siapa lelaki di dunia ini yang tak ingin seperti Radith?


" Lo nyanyinya menghayati banget loh Dith, emang buat siapa sih lagunya?" tanya Luna saat Radith sudah duduk di sebelahnya. Kehadiran Radith langsung membuat banyak hati gadis menjadi patah, mereka langsung menyimpulkan bahwa Radith sudah bersama Luna, tidak dengan yang lain, pupus sudah harapan mereka bisa memiliki kekasih seorang Radith.


" Buat Tuhan lah! Itu kan lagunya berdoa ke Tuhan," jawab Radith yang membuat Luna membulatkan mulutnya dan mengangguk setuju. Padahal bukan itu maksud Luna, namun dia tak bisa membantaah perkataan Radith, biarlah Radith melakukan sesuka hatinya.


" Gue mau beli jajanan yang ada di sana. Lo mau ikut gak?" tanya Luna yang menunjuk stan sotong yang ada di sana. Radith hanya menggelengkan kepala, membuat Luna mengerti dan langsung bangkit berdiri. Gadis itu segera berjalan menuju stan sotong bakar yang memiliki antrean cukup panjang. Gadis itu langsung mengantre untuk mendapatkan makanan yang dia suka.


" Lah? Katanya Lo gak mau ikut? Ngapain Lo di sini?" tanya Luna saat Radith tiba – tiba saja sudah berada di belakangnya dan menepuk pundaknya pelan. Lelaki itu mengulurkan tangannya, membuat Luna mengerutkan keningnya karna Radith tak mengatakan apapun, memang apa yang lelaki itu inginkan?


" Ponsel gue, kan ada di Lo tadi," ujar Radith yang membuat Luna membulatkan mulutnya dan merogoh ponsel Radith yang ada di dalamnya. Luna langsung menyerahkan ponsel itu pada Radith dan Radith langsung pergi dari sana setelah mengatakan dia juga mau dibelikan oleh Luna. Dasar lelaki tak tahu malu, dia meminta Luna untuk mengantre makanan yang dia inginkan, bahkan tak memberikan uang untuk membayarnya.


Luna mengantre dengan sabar. Fokusnya hanya pada anak – anak SMK yang mengolah sotong – sotong itu sambil bergaya, melakukan pertunjukan kecil selama memasak. Luna tak sadar seseorang sedang bergurau sambil membawa satu gelas jus yang tidak ditutup. Sontak jus itu tumpah karna mereka saling dorong. Naasnya, jus itu langsung menyiram Luna yang tak berdosa.


" Ma.. maaf kak, ka.. kami gak sengaja. Lo sih dorong – dorong gue, kena ke kakaknya kan," ujar anak yang membawa gelas tersebut. Luna ingin sekali marah dan mengomeli mereka, namun dia sadar dia harus menjaga image Radith dan dirinya sendiri di tempat ini. Akhirnya Luna hany tersenyum masam dan tak mengatakan apapun.


Kedua anak tadi mengucapkan maaf sekali lagi dan langsung pergi dari hadapan Luna. Sementara Luna yang sudah mendapat dua porsi sotong bakar langsung berjalan ke arah Radith. Dia akan berganti baju agar badannya tak lengket dan bau buah seperti ini. Luna mengulurkan kedua wadah sotong itu di hadapan Radith.


" Nih bawain dulu, gue mau ganti baju dulu," ujar Luna yang langsung pergi dari sana setelah meminta kunci mobil Radith. Untung saja baik di mobil Radith maupun di mobil Darrel, gadis itu memiliki satu tas kecil berisi baju darurat jika sesuatu seperti ini terjadi, dia tak akan kesusahan untuk berganti pakaian.


"Mereka sengaja melakukannya, karna mereka kira Lo ada sesuatu sama gue. Mereka iri dan mau ngerjain Lo," ujar Radith dengan santai. Namun tidak bagi Luna, hal ini tentu berpengaruh bagi Luna. Gadis itu tak menyangka bahwa orang – orang tengil tadi sengaja melakukan hal ini padanya.


" Dari mana Lo tahu? Lo aja kalik yang kepedean. Orang mereka tadi gak sengaja kok, gue tahu sendiri mereka kayak ketakutan gitu," ujar Luna yang tadi melihat sendiri ekspresi ketakutan dari anak - anak itu. Radith langsung tertawa melihat Luna yang terlalu polos dan berpikir positif ke orang lain, memang gadis itu seperti belum cukup siap melihat dunia.


" Mereka tadi langsung cekikikan setelah agak jauh dari Lo. Kalau dengan wajah yang penuh dosa itu, bisa aja kan mereka anak teater? Jadi udah biasa berakting sok jadi victim gitu? Lo jangan terlalu naif di dunia ini Lun," ujar Radith yang masih santai saja. Sementara Luna sudah mengepalkan tangannya tanpa diminta.


" Gak usah dendam. Toh yang disiram ke Lo itu airnya dingin, kalau panasa baru tadi gue bertindak. Mending Lo duduk manis, nonton tuh pensi sambil makan sotong. Enak banget loh sotongnya," ujar Radith yang menyumpal mulut Luna dengan sotong yang sedari tadi dia jaga.


Luna akhirnya menurut dan langsung memakan sotong tersebut. Luna menganggukkan kepalanya melihat setiap penamapilan yang berubah semakin baik setiap tahunnya. Mungkin memang bakat anak – anak ini bukan di mata pelajaran tapi di dunia hiburan. Sayang sekali pendidikan dalam bidang ini kurang diminati dibanding bidang lain yang memungkinkan mereka jadi pegawai negeri.


" Lo mau makan yang lain gak? Gantian gue yang antre," ujar Radith saat sotong yang dia makan sudah habis. Luna langsung melihat sekitar dan matanya berbinar seakan melihat harta karun yang tersembunyi. Gadis itu langsung menunjuk ke arah stan yang menjual gula kapas. Sahabat Luna yang paling manis.


" Gak pernah berubah memang," sindir Radith yang lansung berdiri dan membeli dua wadah gula kapas berukuran cukup besar itu. Dia tahu Luna tak akan puas jika hanya memakan satu. Sementara itu dia juga mengantre ke stan minuman dan mmebeli sosis bakar untuknya sebelum kembali ke kursinya dimana Luna sudah menunggu.


" Yeayy gula kapas! Come to mama!!" Luna langsung antusias mengambil dua wadah gula kapas sekaligus dan muali membukanya. Radith tampak seperti seorang ayah yang menjaga anaknya, bahkan banyak orang di sekitar mereka yang juga berpikir seperti itu, mereka melihat Luna dengan tatapan aneh.


" Habis ini Lo mau gue antar pulang, ke rumah Keyla, atau ikut gue? Tapi gue bakal meeting – meeting, jadi gak bisa ada di kantor." Radith memakan sosis jumbo yang dia beli sambil berbicara, Luna sendiri mencomot gula kapas yang ada di hadapannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


" Gue pulang aja deh, mau lanjut nonton Drakor aja, daripada gue bosen juga di kantor gak ada Lo. Tapi Lo buru – buru banet ya? Gue ekan belum coba semua makanan yang ada di sini. Belum lagi gue mau lihat waktu bagi – bagi doorprise, siapa yanag bakal dapat sepeda gitu loh," ujar Luna yang membuat Radith mengerutkan keningnya.


" Lo masih tertarik sama hal begitu? Kalau Lo nungguin, itu selesainya bisa nanti sore. Gue gak bisa temenin, Lo nanti diantar sama supir aja kalau memang mau nunggu sampai sore," ujar Radith yang membuat Luna cemberut. Gadis itu tak mungkin ada di tempat seperti ini sendirian tanpa teman ngobrol.


" Ya udah iya, gue ikut Lo aja, Lo mau pulang kapan juga gue ngikut," ujar Luna pada akhirnya, membuat Radith mengangguk puas dan kembali memakan sosisnya yang belum habis. Mereka mulai mencicip satu persatu makanan yang ada di sana. Cukup memuaskan dan rasanya pun lezat, meski harganya lebih mahal, mungkin karna mereka harus membayar stan yang mahal.


" Udah puas belum? Kalau udah puas kita pulang sekarang," ujar Radith yang membuat Luna menengok sekitar. Tak ada lagi yang ingin dia makan. Lebih baik mereka pulang sekarang. Luna juga sudah tak tahan dengan tubuhnya yang bergetar karna bersentuhan dengan banyak orang hari ini.


" Pak, Bu, kami mohon ijin dulu untuk pulang. Terima kasih sudah mengundang dan menyiapkan acara yang megah seperti ini. Kami pamit dulu." Radith yang menemui kepala sekolah langsung menyaliminya, diikuti Luna yang tak mengatakan apapun, hanyaa tersenyum sambil menyalimi guru – guru itu.


Mereka langsung pergi meninggalkan sekolah. Radith tampak mengerutkan keningnya saat merasa mobilnya tak beres. Lelaki itu menjalankan mobilnya pelan dan mencoba rem pada mobil itu. Ternyata masih berfungsi dengan baik, mungkin hanya perasaannya saja. Lelaki itu langsung menjalankan mobilnya keluar dari sekolah menuju rumah Luna.


" Tuan muda, mobil tuan muda diikuti. Saya rasa targetnya adalah tuan dan nona. Jika kalian langsung pulang ke rumah, saya takut mereka akan membahayakan Nona." Pesan dari radio mobil khusus ini membuat Luna memandang Radith dengan panik. Lelaki itu mengangguk pada Luna dan meminta Luna untuk tenang agar dia bisa konsentrasi.


" Kirim bantuan, saya akan lewat jalan lain agar merek kehilangan jejak."


" Tuan, kami mendapat radar kalau jumlah mereka sangat banyak. Ada lebih dari sepuluh mobil sudah tersebar dan siap untuk mengikuti jejak tuan. Mohon berhati – hati, kami sudah panggil bantuan dan mereka akan datang sebentar lagi."


Radith menatap Luna yang sangat ketakutan, lelaki itu menggenggam tangan Luna dan meminta Luna percaya padanya. Setelah Luna mengangguk, Radith langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kota tersebut. Tidak baik bagi mereka untuk pulang ke rumah. Meski keamanannya ketat, tak menutup kemungkinan mereka bisa mencelakai Luna saat berada di rumah.


Luna tak berkomentar apapun, namun gadis itu bisa melihat beberapa mobil mengejar Radith dan jarak mereka semakin dekat. Bahkan mereka berani menabrakkan mobil mereka ke mobil Radith. Seperti de javu, Radith menatap Luna dengan khawatir. Dia tak bisa membiarkan gadis itu terluka dan mengalami hal yang sama seperti dia dulu.


" Lun, buka pintunya," ujar Radith yang membuat Luna bingung. Namun gadis itu tetap menuruti apa yang diinginkan oleh Radith. Lelaki itu memelankan mobilnya dan memepetkan mobilnya ke rumput – rumput yang ada di sana. Radith langsung menendang Luna sampai gadis itu keluar dari mobil, lalu Radith langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Orang – orang itu tak mempedulikan Luna, menandakan target mereka adalah Radith. Luna yang ditendang pun berguling dan mengalami lecet pada sekujur tubuhnya. Gadis itu ingin mengumpat, namun rasa khawatir lebih mendominasi hatinya. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil pengawal yang sudah datang.


Mereka datang beramai – ramai dan salah satunya menolong Luna, sementara yang lain langsung melesat dengan kecepatan tinggi untuk membantu Radith. Luna panik, gadis itu bisa mendengar keluhan Radith yang terus didesak oleh mobil – mobil itu dari radio yang ada di mobil ini.


" Aarrrggghhh." Itu adalah suara teriakan Radith yang terakhir sebelum saluran Radio dari pihak Radith terputus dan Luna bisa mendengar ledakan besar beberapa saat kemudian. Gadis itu tentu langsung menangis kencang dan meminta mereka untuk lebih cepat ke posisi Radith.


Banyak pengawal yang mengerubungi mobil yang sudah terbakar hebat tersebut. Luna yang ada di dalam mobil tak mampu menggerakkan kakinya. Gadis itu hanya diam mematung dan menatap mobil yang sudah hancur menabrak pohon. Luna menangis sejadi – jadinya.


Gadis itu keluar dari dalam mobil dn berjalan pelan ditemani banyak pengawal yang melindunginya. Gadis itu langsung berteriak histeris saat orang – orang yang ada di sana membawa Radith dengan menggotongnya. Luna berlari ke arah Radith, membuat orang – orang itu berhenti berjalan dan membiarkan Radith ada di pangkuan Luna.


" Kami berhasil mengeluarkan tuan muda sebelum percikan api itu membuat mobil meledak. Beberapa dari kami sudah mengejar pelakunya. Tuan muda selamat dari ledakan, namun kami menemukan tuan muda dalam posisi kaki yang terjepit dan kepala yang berdarah – darah.


" Lekas bawa Radith ke rumah sakit. Dia harus selamat! Nyawanya harus diselamatkan atau kalian harus membayarnya dengan kepala kalian! LEKAS!!!" Teriak Luna dengan keras, membuat orang – orang itu langsung membopong Radith untuk pergi dari sana dan menuju ke rumah sakit segera.