
Akhirnya, sah! Kinan dan Beni resmi menikah di tahun 2013! Karena perbedaan agama, bukan Kinan yang dibawa ke rumah mertua, melainkan Beni yang tinggal di rumah Kinan untuk sementara sebelum keduanya menemukan rumah kontrakan untuk ditinggali.
"Istriku... " Ciyeee, panggilannya sudah istriku niyeeee. Saat ini keduanya sedang berada di kamar. Kamar yang biasa ditempati Kinan.
Beni memendarkan pandangan, ke ruangan yang bisa dikatakan kecil. Hanya ada ranjang dan lemari pakaian kecil serta cermin yang menggantung di dinding. Kamar yang sangat sederhana tapi sangat rapi. Aroma Kinan memenuhi semua ruangan itu. Beni bahkan berulang kali menghirup bantal untuk menyerap wangi Kinan dari sana. Tindakannya itu justru membawa masalah padanya. Gairahnya berkobar seketika.
Tidak ada penghalang lagi diantara keduanya. Kinan halal baginya dan Kinan tidak akan bisa menolak kali ini. Selama ini, meski ilmu agama yang masih cetek, Kinan selalu menjaga batasan di dalam hubungan mereka meski hubungan itu berjalan cukup lama. Dengan berpacaran saja Kinan tahu ia sudah melakukan dosa, ia tidak ingin melipatgandakan dosanya dengan melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan sebelum ada ikatan janji suci.
Kembali ke pada Beni yang merasakan cenat cenut pada organ intimnya hanya karena ia mencium aroma Kinan di mana-mana.
"Kinan, Istriku..."
"Ya, Abang..." Kinan berdehem. Jangan tanya jantung Kinan, jedag jedug tidak karuan. Saat Beni berbaring santai di atas ranjang, Kinan justru mematung di dekat pintu meski kakinya sudah sangat pegal. Ia khawatir saat memilih duduk di tepi ranjang, Beni langsung menyergap dan langsung mengeksekusinya. Sungguh ia belum siap! Dari yang ia dengar dari beberapa temannya yang gaya pacarannya menyerupai dajjal. (Yassalam, di sini pun dajjal di fitnah. Apakah ada riwayat yang mengatakan dajjal pernah pacaran?). Teman-temannya mengatakan enak dan mantap (Nah 'kan, ini iblis yang ngomong.) Sementara beberapa temannya yang sudah menikah, mengatakan rasanya sakit jika masih perawan. Alhamdulillah, dia masih perawan dong.
"Kok di situ? Sini dong..." Beni menepuk sisi tempat tidur yang kosong. Beni sudah menanggalkan jas juga kemejanya. Pria itu kini hanya mengenakan celana dan kaos polos berwarna putih.
"Kinan belum mandi. Masih pakai kebaya juga. Gerah."
"Mandinya nanti saja. Kebayanya diganti dulu."
Kinan mengangguk dan bergegas mengambil pakaian rumah. Pakaian rumah sudah di tangan, Kinan berniat membawanya ke kamar mandi. Risih rasanya berganti pakaian di depan seorang laki-laki meski laki-laki tersebut sudah berstatus suaminya. Membayangkan tubuhnya disaksikan Beni, ia merasa malu luar biasa.
"Lho, mau kemana?" Beni praktis duduk, dahinya mengernyit bingung melihat Kinan yang hendak keluar.
"Ga-ganti baju."
"Kemana ganti bajunya? Ke pasar?"
"Kamar mandi, Abang. Masa ke pasar."
"Kenapa mesti ke luar. Di sini saja."
Kinan langsung menggelengkan kepala. Pikirannya sudah traveling saja. Berprasangka buruk kepada Beni yang pasti ingin mengintip. Tapi, tidak ada yang salah dengan itu. Hatinya berbisik. Beni berhak atas dirinya.
Bukannya munafik, Kinan hanya bingung ingin memulainya dari mana. Tidak ada yang memberikan edukasi tentang malam pertama kepadanya. Ia dan mendiang ibunya tidak pernah membahas hal semacam ini dulu. Kinan juga memikirkan bagaimana reaksi Beni saat melihat tubuhnya yang bergelambir. Belum lagi keteknya... Tunggu dulu, apakah bulu keteknya sudah dicabut? Maklum, Kinan belum mengenal metode tweezing. Proses menghilangkan bulu ketiak yang tidak diinginkan hingga ke akarnya. Kinan masih menggunakan pencabutan secara manual yang menggunakan pinset.
Ya Tuhan, kenapa mesti memikirkan ketek?! Ada yang lebih penting dari itu!!
"Lah, kok malah bengong?"
"Memangnya Abang mau ngapain?" Beni mengullum senyum, tatapannya mengerling nakal membuat Kinan semakin panas dingin. "Abang cuma minta ganti bajunya di sini saja. Tidak usah keluar. Dosa lho, tak patuh sama suami."
Skak!
Kinan tidak punya alasan lagi untuk mengelak. Perkara ganti baju tidak seharusnya dipersulit.
Perlahan Kinan berbalik memunggungi Beni. Nasib baik ia masih mengenakan dalaman juga leging. Jadi tidak malu-malu amat meski ia bisa merasakan di balik punggungnya Beni memperhatikannya dengan seksama.
Dugaan Kinan tidak salah sama sekali. Melihat lengan Kinan yang bisa dikatakan putih bersih sudah membuatnya meneguk saliva. Ia hanya menciptakan masalah pada dirinya sendiri. Ada sesuatu di dalam dirinya yang memaksa ingin keluar. Tapi ia tahu untuk mendapatkan pelepasan yang sempurna, ia harus bertempur dan kenyataannya ia belum siap bertempur setidaknya satu minggu lagi.
"Selesai," Kinan tersenyum dan berbaik ke arahnya kembali. "Abang lapar? Kinan siapin makan malam ya?"
Oh, indahnya menikah. Ada yang ngingatin makan juga menyiapkannya secara suka rela. Bonus disuapin. Cosplay jadi bayi besar.
"Makannya nanti saja. Sini dulu, Sayang. Abang mau peluk. Rebahan sini."
Tidak, Kinan! Selamatkan dirimu! Rebahan bisa menjadi awal semuanya. Kinan berbincang dengan hatinya.
"Dih, bandel. Tidak mau mendengarkan suami."
Perlahan Kinan beranjak dari tempatnya. Bukannya takut digrepe-***** suami. Ia justru lebih khawatir dirinya ketagihan dan berubah liar. Duh, serba salah.
Dengan langkah malu-malu tapi mau, Kinan naik ke atas ranjang. Tindakannya itu justru membuat Beni semakin lapar dan ingin melahapnya. Benar saja, Beni langsung menarik tangan Kinan hingga Kinan langsung berbaring.
Beni menarik Kinan ke dalam dekapannya. Dipeluknya dengan kuat hingga Kinan hampir kehabisan napas.
"Ya Tuhan, benar-benar tidak sanggup nahan," Ucap Beni dengan gigi bergemeretak.
"Sabar, Abang, sembuh dulu."
"Yang lain boleh, ya, Sayang."
"Yang lain apa?" Kinan berpura-pura polos, jelas ia tahu "Kita belajar dulu," Kinan mendorong tubuh Beni agar pelukannya lepas. Pun Kinan segera berguling dan mengambil buku yang masih dibungkus plastik. Tuntunan sholat. "Ilmu agama Kinan masih tipis. Kita sama-sama belajar ya. Dasar-dasarnya dulu. Rukun islam. Abang 'kan sudah syahadat. Itu rukun pertama. Sekarang, kita belajar sholat. Baca-bacaan sholat ada di sini. Abang muallaf karena kemauan sendiri, bukan karena paksaan oleh siapa pun. Jadi, pelan-pelan Abang harus belajar islam itu seperti apa. Adab dalam berhubungan suami istri itu juga ada aturannya. Kita sama-sama belajar, ya, Sayang, biar kelak anak kita tidak macam Samiri dajjal, cukup kita yang pernah sesat, pacaran sebelum hal. Nyebut yuk."
"Nyebut apa?" Beni membeo dengan wajah tanpa dosa.
"Istighfar. Astaghfirullah." Menikah dengan muallaf mendadak membuat Kinan mulai terbuka akalnya untuk membenahi diri dan belajar tentang agama.