
Angga melangkah lebar menuju kelasnya, hari ini dia sengaja untuk berangkat lebih siang karna dia ingin Darrel datang terlebih dahulu. Angga memasuki gerbang lima menit sebelum bel pelajaran dimulai, setelah memastikan Darrel ada di dalam kelas, lelaki itu melakukan peregangan singkat sebelum langkahnya masuk ke dalam kelas itu.
" Ngga, tumben Lo telat? Bantuin nyokap.."
~ Bugh
Angga langsung mendekati Darrel dan memberikan bogem mentah pada lelaki itu, bahkan tak membiarkan Darrel menyelesaikan perkataannya. Emosinya yang sudah memuncak langsung membuat bibir Darrel membiru, bahkan sobek seketika.
" Anjing! Lo kenapa datang datang pukul gue?" Tanya Darrel tak terima sambil mendorong Angga untuk menjauh, Angga tidak peduli, dia mendekat dan memukul Darrel berkali kali, membabi buta lelaki itu seakan Darrel adalah obyek tinjunya.
Darrel yang tak tahu salahnya dimana tentu tak terima diperlakukan seperti itu oleh Angga, lelaki itu menendang Angga sampai Angga terpental ke lantai. Darrel menendang kursi Angga dengan keras hingga kursi itu menghantam tubuh Angga. Semua yang ada disana menyaksikan namun tidak melerai, bahkan beberapa malah memvideokan kejadian itu.
" Gue salah apa hah? Datang – datang bikin rusuh," ujar Darrel mendekat pada Angga. Angga menatap tajam Darrel yang berdiri dihadapannya, bahkan lelaki itu tidak tahu kesalahannya, sungguh membuat siapaun yang tahu masalah ini menjadi geram.
Angga langsung bangkit berdiri dan memandang Darrel dengan amarah, Angga melayangkan tinju lagi ke arah Darrel namun gerakannya sudah dibaca oleh Darrel hingga lelaki itu bisa menangkis dan bahkan malah meninju ke arah pelipis Angga hingga lelaki itu tumbang seketika. Angga merasakan pening yang teramat, bahkan dia tak bisa bangun lagi.
Sementara Darrel tidak bergeak, tidak meninju Angga atau menolong lelaki itu, dia hanya diam dan memandang Angga dengan heran, sengaja melayangkan bogem ke arah pelipis agar lelaki itu tumbang dan tak melanjutkan pertengkaran tidak jelas ini.
" ADA APA INI?" Suara perempuan paruh baya yang melengking membuat Darrel dan seisi kelas menengok seketika, Darrel menghela napasnya karna dia tak bisa berlari lagi, citranya sebagai ketua OSIS teladan akan selesai saat ini juga.
Ah bicara soal ketua OSIS, kala itu Darrel sudah mengajukan pengunduran diri ke pihak sekolah karna masalah Lunetta, bahkan dia juga jujur tentang maslaah itu, namun pihak sekolah memilih untuk mempertahankan Darrel dengan syarat dia bisa berlaku adil kala di dalaam forum dan Darrel menyanggupi hal itu.
Alhasil dia tidak perlu memilih untuk meninggalkan Lunetta atau meninggalkan OSIS, awalnya anggota lain merasa keberatan dan tidak adil, namun lambat laun mereka mulai menerima hal ini terlebih Darrel menepati perkataannya untuk berperilaku Adil, bahkan lelaki itu pernah membentak Luna habis habisan di Forum karna Luna melakukan kesalahan.
" Kalian Berdua ikut saya ke kantor guru," ujar guru itu yang langsung pergi dari sana. Darrel mengulurkan tangannya untuk membantu Angga berdiri, awalnya Angga menolak dan memandang sinis tangan Darrel yang terulur, namun akhirnya dia menerima uluran tangan itu dan membiarkan Darrel memapahnya menutu ruang guru.
" Bangsat Lo, pusing banget kepala gue," ujar Angga saat mereka berdua berjalan menuju kantor guru, Angga memegangi kepala dan pelipisnya yang kini membiru karna ulah Darrel. Darrel yang disalahkan hanya terkekeh, ternyata dia memiliki sahabat yang selucu ini.
" Lo yang datang – datang bikin bibir gue robek, untuk gak gue patahin tuh leher, lo tahu kan sabuk tingkat karate gue," ujar Darrel yang masih sempat menyombongkan diri.
Itulah lelaki, mereka akan meluapkan semua amarah mereka saat sedang berkelahi, namun mereka langsung melupakan pertengkaran itu saat perkelahian usai. Tak ada dendam dan tak ada pembalasan di masa depan, semua masalah berakhir saat perkelahian berakhir. Itulah yang membuat kaum lelaki memiki persahabatan yang lebih awet dibanding wanita.
Mereka memasuki ruang guru diiringi tatapan tanya oleh semua guru yang ada disana karna mereka melihat pakaian kedua pria yang sudah berantakan serta muka lebam tak berbentuk lagi. Sementara guru di depan mereka memasuki ruangan khusus konseling dan meminta Darrel serta Angga masuk ke dalam ruangan itu.
***
Luna berjalan lesu menuju kelasnya karna demam di tubuhnya belum turun dengan sempurna, bahkan Jordan sudah memaksa Luna untuk tinggal di dalam rumah saja, namun Luna menolak dan tetap ingin berangkat karna dia tidak mau ketinggalan pelajaran di semester dua ini.
Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi dan langsung meletakkan kepalanya di meja beralaskan tas yang tadi dia panggul. Luna merasa tubuhnya tidak enak, namun dia harus memaksakan diri dan pasti rasa sakit ini akan sembuh jika Luna sudah berkeringat dan beraktivitas.
" Lo kenapa? Sakit lo? Atau baru bangkit dari kematian?" suara yang sudah sangat Luna hafal, Luna enggan untuk mengangkat kepalanya karna yakin orang itu akan duduk di depannya dan mengusap usap kepalanya.
" Lo beneran sakit ya? Lo pasti habis Hujan hujanan yaa?" benar saja, orang itu duduk dihadapan Luna dan memegang dahi gadis itu meski dahinya menempel pada tas. Lelaki itu langsung serius saat merasakan Luna sungguh demam.
Luna menepis tangan Radith yang menganggunya tidurnya, Luna sedang tak ingin membahas hal ini dengan siapapun, apalagi kemarin Angga malah memarahinya saat dia memilih untuk menyerah atas Darrel. Sebenarnya alasan Angga karna lelaki itu yakin bahwa Darrel masih mencintai Luna dan Luna tidak boleh menyerah dulu atau novel ini tidak akan pernah tamat.
" Ke UKS aja yuk Lun," ujar Radith dengan wajah cemasnya, dia khawatir jika Luna terpar dan pingsan disini, dia juga yang akan repot membopong Luna ke UKS, lebih baik gadis itu sadar diri dan langsung pergi ke UKS tanpa diminta.
" Gak mau dith, orang gue gak kenapa – napa, nanti kalau kerasa sakit gue bakal bilang dan Lo harus antar gue ke rumah sakit," ujar Luna mengangkat kepalanya dan menatap Radith dengan sayu, namun pusing itu langsung menyerang membuat Luna kembali menundukkan kepalanya agar pusing itu segera hilang.
Tak lama Luna merasakan sesuatu yang hangat menempel pada pipinya. Gadis itu mendongak dan mendapati Radith yang sudah duduk lagi dihadapannya sambil membawa satu plastik air berwarna putih yang entah apa isinya. Seakan tahu isi pikiran Luna, Radith menyodorkan plastik berisi susu tersebut pada Luna.
" Ini susu hangat, kalau Lo sakit demam Lo harus berketingat tapi gue gak bisa biarin Lo makan yang pedas pedas, makanya nih gue beliin ini biar badan Lo anget dan nanti berkeringat. Lo doyan susu putih kan?" tanya Radith saat Luna mngangkat kepalanya dan menerima susu tersebut. Luna memeinum cairan itu dan mengecapnya untuk mengetahui susu jenis apa yang diberikan oleh Radith.
" ini sih bukan susu, tapi kental manis, susu yang gak ada kandungan susunya," ujar Luna kembali mengesap dan menyedot air susu yang ada di dalam plastik tersebut. Radth menggaruk bagian belaakang kepalanya dan bingung harus menajwab apa, baginya semua susu sama, dan menurutnya yang dipegang Luna adalah susu.
" yaudah minum aja, yang penting Lo keringetan terus sembuh, bete gue lihat Lo sakit kayak gini, gak ada temen buat berantem, sepi gitu dunia gue," ujar Radith berdiri dari duduknya dan berjalan menuju mejanya sendiri. Luna memutar bola matanya malas dan kembali menyedot air susu itu sebelum menjadi dingin.
" bilang aja Lo khawatir sama gue dan pingin gue cepet sembuh, jadi laki kok gengsian mulu, gemes sendiri gue jadinya," ujar Luna pelan sambil menyedot kuat – kuat air dalam plastik itu hingga memenuhi mulutnya, bahkan kini mulutnya tampak menggembung karna penuh dengan air.
" Gue dengar bego! Gak usah kepedean ntar nangis nagngis lagi terus ngerasa gue PHP in," ujar Radith tanpa malu dan tanpa beban, membuat Luna sungguh ingin menyumpal mulut Radith dengan sepatu miliknya.
Hubungan Radith dan Luan memang bisa dibilang membaik, membaik dalam artian pertemanan, mereka bisa menjadi selayaknya teman pada umumnya dan kini Luna menajdi obyek bully bagi Radith karna Luna pernah menyukai lelaki itu. Ralat, bukan hanya pernah.
Luna menghabiskan air tersebut dan langsung tidur seketika, Luna tak tahu Radith memasukkan obat penurun demam dalam susu itu, tentu dia sudah browsing dan melihat obat yang dibawanya tidak bahaya jika dicampur oleh susu. Karna kandungan obat tersebut terdapat obat tidurnya, Luna langsung tergeletak lemas di atas meja, membuat Radith yang harus bersusah payah menata kursi agar menjadi kasur Luna dan menyelimuti gadis itu dengan jaketnya.
" Lah dith? Lo sekarang dekat lagi sama Luna? Tapi Luna kan pacarnya kak Darrel, udah tunangan malah, kok Lo bisa sedekat ini sih sama Luna?" tanya Farisa dengan heran, Radith menggaruk belakang lehernya seperti baru saja tertangkap basah mencuri ayam, lelaki itu berpikir cepat untuk mengutarakan jawaban yang masuk akal.
" Kak Darrel sama bang Jordan itu temen gue, dan mereka memang titipin Luna ke gue, ini sekarang Luna lagi sakit, masak iya gak gue tolongin, pasti tetap gue tolongin lah dia, kan amanah juga dari pacar sama abangnya," jawab Radith sedikit asal, dia mengutuk dirinya sendiri karna gagap saat mengatakan alasan itu.
Untungnya Farisa tampak percaya dan mengangguk lalu pergi begitu saja setelah memeriksa kondisi tubuh Luna yang memang masih panas.
" Udah minum obat kan Luna? Bawa ke UKS aja biar Luna istirahat, kasur disana kan lebih empuk, lebih nyaman tentunya," tanya Farisa yang juga merupakan anggota PMR, tentu saja dia jauh mengeti soal ini dibanding Radith. Namun Radith menggeleng sebagai jawaban, pasalnya Luna tadi juga menolak Radith bawa ke UKS dan lelaki itu tidak mau bertindak lancang bila bukan dalam keadaan darurat.
" Luna gak mau, tadi udah gue tawarin, biar aja dia tidur disitu, udah gue buat nyaman juga kok. Nanti aja kalau misal waktu dia bangun tambah sakit atau gimana, gue yang bawa dia ke UKS, Lo tenang aja," ujar Radith yang menarik kursi dan duduk di dekat Luna untuk menemani gadis itu. Farisa hanay mengangguk dan pergi begitu saja.
Luna tidur dua jam penuh, untuk saja satu jam pelajaran mereka adalah empat puluh lima menit hingga Radith tak perlu repot membangunkan Luna karna pergantian jam atau semacamnya. Luna melakukan peregangan dan mengelap dahinya yang penuh keringat, semua hal itu diperhatikan oleh Radith yang merasa lega karna usahanya tak sia sia.
" pakai jaket gue aja buat lap keringet," ujar Radith yang membuat Luna melirik ke arah jaket yang tadi menyelimutinya, ternyata memang jaket Radith, pantas saja rasanya hangat sewaktu dia bangun tidur tadi.
" Makasih ya dith, Lo kasih obat ya ke minuman gue tadi? Gue jadi mendingan sekarang, makasih banyak," ujar Luna dengan riang sambil mengelap keringat dari sekujur tubuhnya yang bisa dia jangkau dengan jaket Radith, sesuai instruksi lelaki itu.
" Makanya udah gede gak usah hujan hujana mulu, kayak masa kecil Lo kurang bahagia aja," ujar Radith dengan ketus meski dalam hatinya sangat lega karna Luna sudah membaik.
" LUNETTA! KAK DARREL BERANTEM SAMA KAK ANGGA DAN MEREKA HABIS DISIDANG SAMA GURU!!" teriakan itu mengalihkan perhatian Luna dan Radith, kedua orang itu salaing pandang dan menatap lagi ke arah Ghea yang terengah – engah seperti habis berlari jauh.
" Gue telat buka grub line, dan ternyata disana kesebar video dimana kak Angga sama kak Darrel tonjok tonjokan sampai dibawa ke ruang gue, sekarang sih kayaknya mereka ada di UKS soalnya disidangnya udah dari tadi," ujar Ghea penuh semangat seakan sedang menyampaikan kabar kemerdekaan.
Luna langsung bangkit dari duduknya dan meletakkan jaket Radith di atas meja lalu pergi dari kelas itu segera. Bisa gawat jika Luna tak segera sampai disana karna Luna yakin Angga marah sejak kejadian kemarin, Luna tak ingin persahabatan Angga dan Darrel hancur berantakan karna masalah ini.
Sementara itu Radith senantiasa mengikuti Luna dari jauh untuk memastikan kondisi gadis itu baik baik saja. Meski tak berlari Luna tetap berjalan cepat dan hal itu tentu menguras tenaganya, jika Luna pingsan tiba – tiba kan tidak Lucu, lebih baik Radith mencari aman dan mengikuti gadis itu.
Luna menatap UKS dengan cengo karna banyaknya orang yang ada di luar pintu UKS, Luna segera berlari dan mendesak gerombolan itu, mereka tampak pasrah di desak oleh Luna karna mereka sadar Luna jauh lebih berwenang atas Darrel dibanding mereka.
Gadis itu masuk ke dalam ruang UKS dan melongo seketika, dilihatnya dua orang tampan dengan wajah babak belur mengihasi ketampanan mereka, Luna mendekat pada Angga dan mengusap pelipis lelaki itu pelan, lalu dia berjalan ke arah Darrel dan melakukan hal yang sama di bagian bibir lelaki itu. Luna menggelengkan kepalanya takjub karna Luka mereka tak main main.
" KALIAN HABIS APA ANJIR?!" Tanya Luna sambil berteriak, sesuai yang tidak disangka oleh Angga maupun Darrel