
"Aku udah di parkiran."
" Oke aku kesana sekarang."
Luna mematikan sambungan saat Darrel menelponnya, meski nada bicara lelaki itu sedikit berbeda dari biasanya.
" Mungkin tadi kak Darrel lagi suntuk, Kak Darrel gak mungkin marah sama gue," ujar Luna menyemangati diri sendiri dan berjalan menuju parkiran.
Luna melihat mobil Darrel terparkir dengan posisi mesin menyala, membuat gadis itu mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam mobil itu.
Darrel langsung menjalankan mobilnya tanpa bicara kepada Luna, membuat gadis itu merasa tidak nyaman berada di dalam sana.
" Kak berhenti," ujar Luna yang akhirnya tidak tahan dengan atmosfer di dalam mobil.
" Kenapa?" tanya Darrel tanpa menghentikan mobilnya, mereka sedang ada di jalur dilarang berhenti.
" Berhenti kak," ujar Luna sedikit meninggikan nada bicaranya, membuat Darrel menatap Luna dan membelokkan mobilnya ke dalam gang dan berhenti.
Luna langsung keluar dari dalam mobil tanpa mengucapkan apapun, membuat Darrel memukul stir mobilnya dengan jengkel.
" Susah banget sih!" serunya menjambak rambutnya sendiri.
Darrel segera melajukan mobilnya mengikuti arah Luna pergi, tidak mungkin dia membiarkan Luna berjalan sendirian.
Tiba - tiba datang segerombolan preman yang tertarik dengan kecantikan Luna, mereka mendekat dan mulai menggoda Luna membuat Darrel naik darah seketika.
" Neng cantik, main sama abang yuk, abang orangnya baik loh," ujar seorang pria gendut dan botak.
" Permisi," jawab Luna yang ingin menerobos mereka, namun mereka malah menghalangi langkah Luna.
" Kok buru - buru sih neng, ayo main yang enak sama abang," ujar seorang pria yang kecil namun berotot, wajahnya pun tampak tak muda lagi.
" Gak.. gak mau, permisi saya mau lewat," ujar Luna mulai ketakutan.
" Lepasin dia."
Luna menengok dan mendapati Darrel yang ada di belakangnya, Darrel mencekal tangan orang yang memegang Luna dan memelintir tangan itu.
" Wah, adek kecil. Gak usah cari masalah sama kita, Sana pulang," ujar si Botak dengan nada meremehkan.
" Kalian yang bakal pergi ke neraka jalur undangan kalau berani ganggu dia,' ujar Darrel tersenyum sinis, bahkan Luna sampai tidak mengenali Darrel karna senyumnya itu.
" Wah, macem macem dia bos, sikat aja bos."
Total 7 orang yang ada disana tampak melakukan peregangan, mereka hendak memukul Darrel, namun dua orang pengawal datang membantu Darrel, membuat lelaki itu mundur dan tidak perlu bersusah payah melawan mereka.
Tujuh orang tak berpengalaman dengan dua orang bersertifikat khusus, tentu hasilnya sudah terlihat bukan?
" Arrrggghhhhhhhh," Teriak Darrel yang membuat perhatian dua orang itu terpecah.
Mereka melihat Darrel yang sudah ditarik rambutnya, bahkan tampak wajah lelaki itu sedikit tergores pisau.
Darrel yang asyik menonton pertandingan di depannya tidak sadar seseorang menyelinap dan menyerangnya dari belakang, sementara Luna sudah hilang dari sisinya.
~ Chu chu
" ANJING! AAAARRGGHH," Teriak orang yang menjambak Darrel dengan keras.
Orang itu melepaskan Darrel dan memegang lengan nya yang berdarah - darah, kakinya pun terasa panas dengan aliran cairan merah tersebut.
" Cari Lunetta!" seru Darrel saat menyadari Luna sudah hilang.
Pengawal Luna langsung mengecek ponselnya dan mendapatkan posisi ponsel Luna, gadis itu masih belum jauh dari sini.
Darrel melihat orang yang sudah duduk tersungkur di tanah itu. Dia tersenyum dan mengelap wajahnya yang mengeluarkan sedikit darah. Lelaki itu mengangkat kakinya dan memaksa orang itu bersujud dengan kakinya.
" Lo harus tahu siapa yang Lo hadapi sebelum Lo bertindak," ujar Darrel dengan sinis dan langsung masuk ke dalam mobilnya diikuti kedua pengawal itu.
" Dia gak akan mati kan?" tanya Darrel saat ketiga orang itu sudah berada di dalam mobil.
" Tidak tuan, pelurunya tidak berbahaya, saya juga menembakkannya ke lengan yang tidak memiliki titik rawan kematian," jawab pengawal yang mengangkat pistolnya.
Pistol khusus yang diberikan Jordan pada semua pengawal, Pistol kecil tanpa suara yang bisa disembunyikan dimanapun dan membunuh siapapun tanpa jejak dan suara.
Pengawal lain segera mengendarai mobil menuju posisi Lunetta, semoga gadis itu baik baik saja.
" Neng Geulis, aduh beruntung banget bos besar suruh kita main sama dia," ujar seorang yang sudah mulai melepaskan bajunya.
Luna menangis dan meronta - ronta, berusaha melepaskan ikatan lakban yang membungkus tangan, kaki, bahkan mulutnya. Gadis itu ketakutan setengah mati. Entah apa yang terjadi, semua begitu cepat.
" Kayaknya sih masih Original, wah gue harus yang pertama cobain nih," ujar salah seorang kepada yang lain.
" Enak aja, kita suit dong, yang menang bisa nyoba duluan," jawab orang lain itu.
Luna menggeleng kuat - kuat, dia tidak ingin berakhir seperti ini. Apakah Darrel sebegitu membencinya? Mengapa lelaki itu tak kunjung datang menyelamatkannya?
Orang itu mulai menyentuh wajah Luna, mereka ingin bermain cepat sebelum orang lain datang dan mengacaukan mereka.
" Maaf kita bakal main kasar sama eneng, karna kalau orang lain dateng kita gak jadi nikmat neng," ujar orang itu yang mulai melepas kaos lusuhnya dan membuka resleting celananya.
Luna memejamkan mata, tidak berani melihat apapun yang ada di depannya. Dalam hati gadis itu tak henti berdoa, berharap seseorang datang menyelamatkannya.
~Brakk
Luna mendengar suara pintu di dobrak, membuatnya membuka mata dan terkejut setengah mati melihat dua orang yang menyekapnya sudah terkapar penuh darah.
Gadis itu melihat ke arah pintu dan menangis seketika saat melihat sosok Darrel ada di ambang pintu. Gadis itu lega sesuatu yang lebih buruk tidak terjadi padanya.
Darrel berlari menghampiri Luna sementara dua pengawal itu membereskan preman yang mungkin sedang sekarat itu.
Darrel menatap miris Luna yang kancing atasnya sudah terbuka sementara wajahnya berantakan karena keringat dan air mata.
Darrel membuka lakban di mulut Luna secara perlahan, membuat isakan gadis itu langsung terdengar dan menusuk telinga Darrel.
Hati lelaki itu memanas, emosinya meluap dan melihat ke arah dua orang yang membuat gadisnya sampai seperti ini.
" Saya tidak ingin mendengar mereka masih hidup di dunia ini," ujar Darrel dengan nada bicara yang sangat rendah, membuat dua orang itu mengangguk patuh tanpa bantahan.
Darrel melepaskan lakban di kaki dan tangan Luna, membuat gadis itu terbebas dan memeluk Darrel seketika.
Seluruh badan gadis itu tampak bergetar, dia mendekap Darrel erat - erat seakan mencari perlindungan. Darrel sendiri mengelus kepala Luna dan berusaha menenangkan gadis itu.
" Kita pulang," ujar Darrel singkat sambil menuntun Luna yang memeluknya.
Lebih baik seperti ini dibanding Darrel harus melihat Luna dengan kondisi pakaian seperti itu. Bisa gawat jika dia tidak bisa mengendalikan diri.
Lelaki itu meranggih sesuatu dari jok belakang, dia mengambil jaketnya dan memakaikannya ke Luna karena gadis itu melamun. Tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
Kancing baju Luna rusak, hilang entah kemana. Ah, kalian jangan salah paham, Darrel tidak melihat banyak, hanya sedikit, sangat sedikit.
'Duh, gue gak sengaja, gue gak lihat apa apa, Aduh mata gue, otak gue, adek kecil gue. Kalian gak lihat apa apa, jangan berulah.' - batin Darrel
Dalam perjalanan, Darrel mulai berpikir, mengapa kebetulan sekali saat mereka bertengkar, Luna langsung celaka seperti ini.
Apakah takdir tak ingin mereka berpisah dan berjauhan? Dari mana asal preman - preman itu? Mereka tidak mengincar harta Luna sama sekali, mereka hanya mengincar Luna.
" Enak aja, gue aja belum pernah," ujar Darrel tanpa sadar, membuat Luna yang tadi sibuk dengan pikirannya langsung menatap ke arah Darrel.
Lelaki itu menggeleng saat Luna seakan menanyainya. Membuat Luna menghela napas lalu kembali menatap ke arah luar dan melamun.
*
" Kenapa Luna melamun terus?" tanya Jordan menghubungi Darrel saat tadi menengok ke kamar Luna dan mendapati gadis itu tidak bergerak sama sekali.
" Eem, itu bang, tadi kita di cegat preman," ujar Darrel dengan bingung dan tergagap, dia tidak mungkin bilang Luna nyaris saja dilecehkan.
" Apa aja yang udah dilakuin mereka ke Luna?" tanya Jordan dengan nada serius, jika sudah menyangkut orwng yang dikasihinya, tidak ada kata main main dalam hidup Jordan.
" Eemm, Aduh, gue gimana ngomongnya," lirih Darrel yang masih bisa didengar oleh Jordan.
" Lo ke rumah gue sekarang, sepuluh menit."
Jordan langsung mematikan sambungan telpon, tidak memberi kesempatan Darrel menerima atau menolak permintaannya.
Tak sampai sepuluh menit, Darrel sudah sampai di rumah Jordan, lelaki itu langsung masuk dan menuju lantai dua. Didapatinya Jordan yang duduk di sofa sambil memijat kedua pelipisnya.
" Jadi, Mereka apain Luna?" tanya Jordan mengulangi pertanyaannya.
" Dia nyaris dilecehin bang, gue juga gak tahu darimana preman itu datang, tiba - tiba aja mereka ada disana," ujar Darrel menunduk takut.
" Ck, harusnya Lo ngomong sama gue dari awal, gue kira dia sedih karna Lo cuekin, pantesan gak gerak sama sekali," ujar Jordan yang masih memijat kepalanya sendiri, pening mengurus kehidupannya saat ini.
" Nah itu dia bang, apa gak ada cara lain selain cuekin Luna? Gue gak tega lihatnya," ujar Darrel yang menghela napasnya dengan lesu.
" Gak, gak ada. Lo harus bisa cuekin dia, bikin dia gak punya temen sama sekali, biar dia tahu rasa kalau Lo gak ada buat dia tuh dia kayak gimana," ujar Jordan tanpa ampun.
" Tapi gue gak tega kalik bang lihatnya," ujar Darrel yang masih berusaha menegosiasi.
" Tahan aja, seminggu lagi kok. Lo cuma perlu abaikan dia seminggu lsgi, setelah itu terserah lah Lo mau ngapain juga," ujar Jordan mengibaskan tangannya.
Darrel mengangguk dan menurut, sebenarnya dia takut hal yang sama terjadi lagi. Dia mendiami Luna, bukan berarti tidak peduli pada gadis itu, namun gadis itu salah mengartikannya.
" Terus kenapa kalian bisa dicegat sama preman?" tanya Jordan penasaran.
" Luna maksa turun dari mobil karna gue cuekin bang," jawab Darrel dengan jujur, membuat Jordan menatapnya sebal.
" Kenapa Lo biarin, curut! Harusnya Lo cuekin aja sampai rumah, Lo tuh, ih, kalau adek gue kenapa napa gimana?" Tanya Jordan memojokkan Darrel.
" Gimana gak gue turutin, gue udah dibentak sama dia, udah emosi gitu dianya. Lagian premannya aneh bang, dia gak ngincer duit atau barang berharga gitu."
Jordan mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Darrel, membuat Darrel akhirnya meneruskan kalimatnya.
" Logikanya, kalau mereka preman, mereka harusnya ngerampok harta yang dibawa Luna. Ponsel kek, duit kek, tapi mereka gak ngambil itu semua," ujar Darrel mengungkapkan kejanggalan yang dia rasakan.
" Maksud Lo, mereka bukan preman asli gitu?" tanya Jordan memastikan apa yang Darrel pikirkan.
" Yep, malah kayak orang suruan gitu jatuhnya," ujar Darrel dengan yakin
" Kebetulan aja kalik, mereka ketemunya Luna, kan bening banget tuh anak, jadi niat mereka geser. Bisa jadi kan? Lagian Syifa udah masuk rumah sakit jiwa, dan udah gue kontrol dia gak akan bisa keluar dari sana."
" Semoga aja bang, gue gak tahu lagi harus gimana kalau sampai Luna diapa apain sama tuh orang," ujar Darrel menerawang.
" Terus premannya apa kabar sekarang?" tanya Jordan dengan santai.
" Yang satu tangan sama kakinya kena tembak, yang dus sih tewas, habisnys yang dua berani pegang Luna dan bikin kancing baju Luna rusak."
Jordan tertawa mendengar perkataan Darrel yang seakan membela diri, mungkin Darrel takut akan dimaki oleh Jordan karena membunuh pelaku.
" Bagus kalau udah tewas, gue gak perlu turun tangan lagi. Sisanya biar gue yang urus. Lo mau ketemu Luna gak?" tanya Jordan sambil bangkit berdiri.
" Mau bang, gue gak tega lihat dia nangis nangis tadi," ujar Darrel yang ikut bangkit berdiri.
" Enak aja, gak boleh. Balik sana Lo," usir Jordan yang membuat Darrel berdecak sebal.
" Tadi nawarin," ujar lelaki itu sambil mengerucutkan bibirnya.
" Siapa yang nawarin? Gue cuma nanya bukan nawarin, pulang Lo, anak kecil gak boleh keliaran malem malem," ujar Jordan mendorong Darrel menuju lift agar lelaki itu pulang.
Jordan yang meminta Darrel datang cepat ke tempat itu, Jordan pula yang langsung mengusir Darrel agar lekas pergi dari tempat itu.
Darrel tidak protes sama sekali, pria itu berjalan menuju lift dan segera pulang mengingat masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Sementara Jordan langsung menuju kamar Luna dan masuk tanpa mengetuknya, yakin Luna masih dalam keadaan yang sama diposisi yang sama.
" Luna kenapa? Mau tidur sama Abang?" tanya Jordan sambil mendekat ke arah Luna. Luna menengok dan mengangguk membuat Jordan naik ke kasur dan menidurkan Luna di kakinya yang sudah diberi bantal.
" Luna kenapa? Cerita sama abang yang paling ganteng ini, siapa tahu masalahnya lebur setelah lihat gantengnya Abang."
Luna tidak tersenyum atau merespon perkataan Jordan yang sangat narsis, gadis itu malah menangis mendengar suara Jordan.
" Gak ada yang sayang sama Luna, gak ada yang suka sama Luna, semua orang cuma mau Luna celaka, semua orang jahat sama Luna, hiks hiks hiks."
Luna meronta dan menutup wajahnya lalu menangis keras, membuat Jordan kewalahan menahan Luna, akhirnya lelaki itu membiarkan saja Adiknya menggelepar seperti ikan kehabisan air.
" Semua ninggalin Luna! Semua jahatin Luna! Luna benci! Luna benci!" teriak Luna dengan kerasnya.
Jordan tahu Luna masih dalam fase depresi, menjawab gadis itu akan percuma, lebih baik mendengarkan semua perkataan Luna sampai gadis itu tenang.
" Semua cuma sayang Danesya! Luna benci dia! Abang pindah ke Inggris buat dia! Daddy ke Inggris buat Dia! Bahkan kak Nay yang sayang sama Luna meninggal karna Danesya! Kenapa semua sayang sama Danesya tapi gak ada yang sayang sama Luna?! Luna yang selalu di teror! Luna yang bahkan nyaris hancur ditangan orang itu! Kenapa harus Luna?! Kenapa?!"
Jordan menutup mata dan mengontrol emosinya saat Luna menyebut nama kekasihnya. Ternyata Luna masih memendam semua kebencian dimasa kecil itu bahkan setelah sekian tahun.
Luna terus mengamuk dan menangis histeris sampai akhirnya dia terlelap dengan sendirinya. Jordan senantiasa mengelus rambut gadis itu agar nyenyak dalam tidurnya.
" Semua sayang sama Luna, Luna gak boleh benci sama Danes, Bahkan kak Nay jauh lebih sayang loh sama Luna dibanding Danes. Jangan buat kak Nay sedih karna Luna seperti ini. Abang, Papa, Mama, kak Nay, bahkan Danes, semua sayang sama Luna. Semoga Luna bisa tahu hal itu ya."
Jordan mengecup kepala Luna lama, napas gadis itu tampak teratur, semoga saja Luna masih mendengar apa yang dia katakan meski Luna menganggap semua hanyalah mimpi.