Hopeless

Hopeless
Chapter 86



Mereka melanjutkan langkah meninggalkan rumah hantu dan menuju antrean kora kora yang sudah Luna incar. Radith tampak tak setuju dengan wahana yang dipilih Luna, bukan karena dia takut, namun Radith khawatir pada Blenda.


" Kalian bertiga naik aja, aku tunggu dibawah, jagain tas kalian." Blenda merasa tidak enak karena Luna sangat ingin menaiki kora kora, sedangkan fisiknya tidak memungkinkan untuk naik wahana itu.


" Yakin gakpapa? " tanya Radith yang khawatir terhadap Blenda, namun gadis itu malah tersenyum dan mengangguk, seolah mengatakan Radith tak perlu khawatir.


Radith menepati janjinya pada Blenda, jika gadis itu membaik, Radith akan membawanya kemanapun yang Gadis itu mau, dan Blenda memilih tempat ini.


" Tapi kan kesini buat nyenengin kamu, masak kamu malah nonton aja?" Tanya Radith yang masih tidak enak pada Blenda.


" Cuma satu permainan, habis itu kan kita bisa main yang aku bisa ikutan, kasihan juga kalau Luna main sendiri."


" Dia kan di temenin pacarnya, gimana sih, masak malah aku yang harus ninggalin pacarku buat temenin pacar orang?" tanya Radith yang tak mengerti jalan pikiran Blenda.


" Radith," ujar Blenda pelan namun penuh penekanan, membuat Radith menghela napas dan mengalah, lelaki itu mengangguk dan berjalan menuju antrean kora kora bersama Darrel dan Luna.


" Gue kira Lo takut dith! Udah mau gue tinggal padahal," ujar Luna yang terkekeh melihat kehadiran Radith.


" Jangan ngeremehin gue, karna Lo gue harus ninggalin pacar gue sendirian," ujar Radith dengan wajah ketusnya.


" Lah terus kok Lo malah kesini bukannya temenin pacar Lo?" tanya Darrel yang menyahut dan memiringkan kepalanya. Radith hanya meliriknya tanpa ingin menjawab, membuat Darrel mengerti dan menganggukkan kepalanya.


Dari kejauhan, Blenda mengamati ketiga orang itu dengan seksama, entah apa yang dipikirkannya hingga gadis itu menunduk dan tersenyum bahkan menganggukkan kepalanya setelah menunduk.


*


Luna mulai duduk di kursi dan petugas memasangkan semua perlengkapan keamananyang diperlukan. Gadis itu memilih tempat paling belakang agar bisa melihat suasana sekitar lebih baik sedangkan Darrel dan Radith hanya menuruti permintaan gadis itu.


Kora kora mulai mengayun perlahan, ayunan itu semakin kuat dalam menit menit selanjutnya, semua penumpang wahana itu menjerit karna kecepatan kora kora mencapai batas maksimum


Ada rasa khawatir kora kora ini akan terbalik atau besi pengaman sampan besar ini patah. Begitu pula Luna, gadis itu tsk henti berdia agar saat mesin ini berhengi, nyawanya masih utuh dan dia bisa melanjutkan hidupnya, memiliki 6 anak dan hidup bahagia sampai tua nanti.


Butuh waktu 10 menit sebelum akhirnya mesin ini berhenti dan semua orang yang menaikinya bisa bernapas lega. Luna sendiri langsung merasa pusing karena posisinya yang dipojok membuatnya lebih merasakan tiap ayunan yang diberikan.


Luna turun dari sana dan berjalan dengan sempoyongan sambil memegang dahinya. Gadis itu merasa mual, perutnya terkocok dan terasa panas, Blenda yang melihat itu langsung menghampiri Luna dan mengajak gadis itu pergi bersamanya.


Blenda tahu Luna ingin muntah, terlihat dari postur gadis itu yang terus memegangi perutnya dan menunjukkan wajah tak nyaman. Dengan segera Blenda mengajak Luna masuk ke kamar mandi dan menarik gadis itu menuju wastafel.


Luna muntah sejadi jadinya, mengeluarkan semua isi perut yang terkocok sempurna karena kora kora. Demi apapun seumur hidupnya dia tidak akan bermain kora kora lagi.


Baiklah, mungkin ini terakhir kali dalam hidupnya ke tempat ini jika semua wahana membuatnya kapok dan mual mual seperti sekarang.


" udah lega?" tanya Blenda yang memijit leher belakang Luna. Gadis itu mengangguk dan membersihkan mulutnya dari sisa sisa muntahan.


" Yok kita balik," ujar Luna mengajak Blenda pergi dari sana saat dia sudah selesai membasuh wajahnya. Blenda masih menatao Luna khawatir, apakah benar Luna tidak apa apa?


" Kalian kemana aja? Luna gak papa?" tanya Darrel yang langsung berdiri dan menatap kedua gadis di depannya dengan khawatir.


Blenda kagum dengan sikap Darrel yang tampak peduli padanya dan Luna, padahal Darrel tak pernah mengenal Blenda, bagaimana Darrel bisa sepeduli itu? Luna pasti gadis yang beruntung dan berkarma baik di kehidupan yang lalu.


" Luna muntah muntah kak, pusing banget naik itu," ujar Luna mengadu sambil menunjuk kora kora sialan di depannya.


" Tadi aja sok sok an berani nantangin gue, ternyata kicep juga sampe muntah lagi cupu," ujar Radith yang menatap Luna dengan tatapan mengejek


" Radith!" tegur Blenda dan Darrel bersamaan, membuat Radith mengangkat kedua tangannya karena diserang oleh dua orang sekaligus.


Sedangkan Blenda dan Darrel reflek saling pandang karena mereka menegur Radith secara bersamaan, sementara Luna yang tak menyadari perubahan atmosfer sekitarnya malah tersenyum bangga karena dibela oleh dua orang sekaligus.


" Kita cari makan dulu yuk, baru main lagi," ujar Darrel mengalihkan pandangan dan memegang situasi agar tidak hening.


" Blenda gak boleh makan sembarangan, banyak pantangan dokter, kami cari makan sendiri aja," ujar Radith menolak tawaran Darrel sambil menatap Blenda.


Luna langsung melihat ke arah Blenda yang memang masih tersenyum, namun kali ini senyumnya tampak terpaksa dan raut wajahnya tampak sedih.


" Blenda boleh makan apa aja? Kita cari bareng bareng," ujar Darrel memberi keputusan, jiwa ketua OSIS yang mengayomi anggotanya tampak dalam sikap Darrel saat ini.


Jiwa korsa dan membuat keputusan untuk bersama memang sudah melekat dalam dirinya, hal itu sangat disayangkan karena Darrel harus melepaskan OSIS demi Luna.


" Yaudah kita cari makan bareng bareng aja, nanti Blenda makan yang boleh dimakan, yok, udah siang juga, gak baik kan telat makan?" tanya Luna dengan senyuman di bibirnya sementara tangannya mengapit tangan Blenda agar berjalan bersama.


Blenda mengangguk karena tak enak menolak penawaran Luna dan Darrel, gadis itu pun berjalan bersama Luna di depan sementara Radith hanya menghela napas dan mengikuti dua gadis di depannya


" Lo kok betah sih kak sama dia? Dibawa kesini malah kayak ngasuh bayi Lo jatuhnya," ujar Radith yang berjalan beriringan bersama Darrel


" Kalau gue tanya ke Lo, kok Lo mau sih sama Blenda? Yang gue lihat dia penyakitan gitu sampai banyak pantangan, " tanya Darrel yang membalik perkataan Radith.


" Gak bisa disamain lah, kalau Blenda sakit kan bukan dia yang mau, gue tetep sayang sama dia," ujar Radith yang tampak tak suka dengan perkataan Darrel. Melihat itu Darrel pun tersenyum.


" Sama kayak Luna, sifat dan sikap itu, dia gak pernah mau jadi gitu, tapi dia tanpa sadar lakuin itu semua, dan gue? Gue tetap terima dan sayang sama dia, itu bukan alasan untuk gue lepasin dia."


Jawaban Darrel yang tenang membuat Radith merenung dan diam seketika. Radith tidak menyukai gadis manja seperti Luna, sungguh. Tapi jika dipikir lagi, Luna pernah bertindak dewasa, dan entah mengapa Radith masih saja peduli pada Luna.


" Gak usah Lo pikirin boy! Gak keluar di soal ujian juga, mending kita jalan cepet sebelum tuh dua anak ilang entah kemana," ujar Darrel menepuk pundak Radith dan berjalan cepat menyusul Luna yang mulai jauh dari pandangannya.


Radith tersadar karena tepukan Darrel. Lelaki itu segera menyusul Darrel yang memiliki langkah lebar, bahkan Radith sampai harus sedikit berlari untuk menyusul pria itu.


" Kak Luna beli aja, nanti aku beli salad buah aja di situ," ujar Blenda menunjuk stand salah buah yang sedikit sepi. Luna melihatnya riang dan mengangguk, lalu memesan 3 porsi sosis bakar dan mengantar Blenda ke kedai salad.


Blenda membeli dua porsi salad buah lengkap dengan mayonise yang tertumpah diatasnya, gadis itu memakan setiap buah dengan wajah nikmat, Luna yang melihat itu juga ikut senang, setidaknya merek tetap makan bersama meski menunya berbeda.


" Lo pesenin gue gak Lun?" tanya Radith yang baru sampai bersama dengan Darrel


" Loh? Aku udah beliin kamu salad buah koh dave," ujar Blenda memotong Luna yang sudah membuka mulutnya.


Radith menganga melihat satu wadah berisi penuh buah dan mayonise, lelaki itu memandang jijik dan mengeluarkan lidahnya, seolah yang dimakan Blenda adalah racun yang sialnya penuh vitamin.


" Bercanda kan kamu? Yuckk," ujar Radith pura pura muntah dan menutup hidungnya. Luna memandang Radith dengan tatapan tak mengerti, sementara Blenda tertawa melihat respon Radith.


" Kan Enak itu itu? Gak bikin muntah kok," ujar Luna sambil memiringkan kepalanya


" Dave gak suka buah dan sayur," ujar Blenda menjelaskan pada Luna, membuat Luna mengangguk angguk dan membentuk mulutnya jadi huruf O


" Makan sayur sama buah kek kambing aja," ujar Radith yang masih tidak setuju kenapa harus makan sayur.


" Kambing makan rumput Dave, bukan sayur," ujar Blenda menggeleng pelan karena Radith seperti phobia makan sayur.


" Tetep aja kayak kambing," jawab Radith tak mau tahu.


" Lo kayak ponakan gue yang masih TK, gak suka makan sayur." celetuk Darrel yang membuat Luna dan Blenda langsung tertawa untuk mengejek Radith.


" Gak makan sayur juga gue lebih sehat dari Popeye," ujar Radith dengan wajah malas sambil memutar bola matanya.


" Tapi krempeng, gak kayak gue," ujar Darrel yang sengaja memamerkan otot lengannya, Luna yang melihat itu menepuk pundak Darrel namun tetap tertawa.


" udah, jangan bully bullyan lagi. Yok mending kita makan aja," ujar Blenda menengahi dan mengajak Radith duduk di sebelahnya, sementara Darrel duduk di sebelah Luna.


Posisi Darrel berada di depan Blenda sementara Radith di depan Luna. Blenda masih sibuk menyantap salad buahnya sementara Lainnya masih menunggu pesanan mereka.


" Kamu bawa obat kan?" tanya Radith pada Blenda, membuat keheningan yang tercipta pecah.


" Yaps, " jawab Blenda singkat sambil mengeluarkan semua obat yang harus dia minum dalam satu waktu.


" Sebanyak itu? Masak usus buntu obatnya sebanyak itu?" tanya Luna dengan wajah tak paham.


Blenda hanya menyengir tak menjawab pertanyaan Luna, biarlah Luna sibuk denan pikirannya sendiri. Sementara Darrel, lelaki itu berpikir tidak mungkin usus buntu harus memakan obat sebanyak itu.


" Beli makan berat terus lanjut main yok," ujar Radith mengalihkan pembicaraan dan memakan gigitan terakhir sosis jumbo tersebut.


Mereka segera memesan makanan berat di kedai lain dan Blenda segera meminum obatnya. Mereka melanjutkan 'tour' mereka dan menaiki berbagai macam wahana meski kebanyakan hanya Darrel dan Radith yang naik sementara Blenda dan Luna menunggu di bawah.


" Udah petang, naik biang lala raksasa aja yuk, pemandangannya pasti bagus," ujar Blenda saat melihat biang lala besar ada di hadapan mereka.


Ketiga orang itu mengangguk dan berjalan untuk mengantre ke biang lala, karena sangkar yang ada cukup kecil, mereka hanya bisa menaikinya dua dua, sudsh tertebak siapa akan berpasangan dengan siapa.


Luna masuk ke dalam sangkar itu diikuti Darrel, lalu petugas yang membantu mereka masuk mulsi mendorong roda raksasa agar sangkar Luns berjalan naik. Radith dan Blenda harus sedikit menunggu karena sangkar sudah terisi oleh pasangan lain, akhirnya dia bisa memasuki salah satu sangkar yang mungkin berseberangan dengan milik Lunetta.


Luna menatap kagum suasana di sekitarnya, sangat Indah dan memukau, dia tidak menyangka ibu kota akan seindah ini di malam hari bila dilihat dari ketinggian.


Darrel yang melihat Luna bahagia pun tak urung ikut bahagia, pria itu meminta Luna duduk tenang dan menikmati suasana senja.


" Kak, Indah banget, " ujar Luna menunjuk salah satu gedung yang mencakar langit, namun di dalam gedung tinggi itu berwarna terang hingga enak untuk dipandang saat suasana seperti ini.


" lebih keren yang itu dong," ujar Darrel menunjuk ke arah bawah dimana lampu kota sudah mulai dinyalakan, dipadukan dengan lampu kendaraan pribadi yang saling menyilaukan.


Luna mengangguk setuju dengan pernyataan Darrel, semua tampak indah. Luna menarik kata katanya tentang tisak ingin kembali lagi ke tempat ini. Luna akan kembali lagi untuk menikmati suasana yang sangat jarang dia lihat di rumahnya.


Sementara itu di tempat lain, Blenda terdiam menikmati angin semilir dan indahnya pemandangan. Radith yang melihat itupun tersenyum dan menyelipkan rambut Blenda ke belakang telinganya agar tidak menutupi wajah gadis itu.


~ tes


Radith tentu terkejut saat Blenda malah menangis karna perlakuannya,apakah Radith tidak sopan dan menganggu Blenda?


" Kamu kenapa? " tanya Radith dengan khawatir saat Blenda semakin meneteskan air matanya tanpa suara. Namun Blenda menjawabnya dengan gelengan kepala.


" Makasih ya Dave, aku semang banget bisa lewatin hari sama kamu kayak gini, aku bahagia," ujar Blenda dengan senyum manis di wajahnya.


" Mulai sekarang, aku bakal turutin semua mau kamu, apapun yang membuat kamu bahagia, kamu tinggal bilang ke aku, aku bakal turutin semua asal kamu mau janji satu hal.." Radith menggantungkan kata katanya membuat Blenda menatapnya dengan tatapan bingung penuh tanya.


" Janji apa?" tanya Blenda dengan bingung.


" Janji kamu bakal selalu sehat kayak gini, perlahan kamu gak perlu minum semua obat itu, janji kamu bakal sembuh total buat aku, kamu harus janji gsk pernah menyerah sama semua ini, kamu harus janji ksmu bskal kalahkan semua penyakit ini, kamu mau janji kan?" tanya Radith yang sudah turun dari tempat dia duduk dan memegang tangan Blenda.


Blenda semakin menangis sedih melihst Radith yang tampak terluka, gadis itu mengangguk membuat Radith sedikit bangkit dan memeluk gadis itu dengan erat, seolah tak ingin kehilangan gadis itu.


" Aku janji bakal berjuang dan gak akan dikalahin sama penyakit ini, tapi kamu juga harus janji sma aku Dave, kamu harus sering bawa aku keluar kayak gini, aku bosan harus diam di kamar dan homeschooling, oke?"


Radith hanya mengangguk tanpa berniat melepaskan dekapannya dari gadis itu, seolah gadis itu akan hilang bila dia lengah sedikit saja.