
" Bang Jordan! Buruan! Luna udah telat!" Masih jam lima pagi, namun gadis itu sudah berteriak agar Jordan bersiap dan mengantarnya.
Kloter satu ini diperintahkan untuk berkumpul di STM Taruna pukul 6 pagi, maka dari itu Luna sudah bersiap saat ini, mereka harussarapan dan Luna sendiri harus membeli beberapa camilan untuk bekal di perjalanan.
Namun Jordan malah berlama-lama karena masih mengantuk, membuat Luna kesal karena sudah bersusah payah untuk angun pagi, mandi pagi dan bahkan terburu buru di pagi hari.
" Sabar! Gak bakal telat! Kalau kamu kayak gitu malah gak abang ijinin buat berangkat!" Ancam Jordan yang merasa sebal harus diburu buru oleh Luna. Jam tidurnya yang singkat semakin mengurang karna kegiatan ini.
" Nyebelin!" Seru Luna dengan kesal dan seketika merajuk, jika biasanya Jordan merasa bersalah dan meminta maaf serta membujuk gadis itu, kini Jordan yang masih ngantuk malah memandang Luna sebal dan memilih mengabaikan gadis itu.
Mereka segera berangkat setelah memakan sarapan. Jalanan tampak masih longgar karna masih pagi, bahkan ayam pun belum berkokok, namun Luna sudah membangunkan seisi rumah karna kebrisikannya.
Mereka sampai di Gerbang utama STM Taruna dimana terdapat 4 bis kapasitas 40 orang yang berjejer rapi.
" Nah, masih sepi kan? Makanya sabar, untuk gak nabrak karna abang masih ngantuk," ujar Jordan sambil menguap karena memang sangat mengatuk.
" Ya maaf, tapi abang kuat nyetir sendiri? Apa telpon supir aja biar abang gak usah nyetir?" tanya Luna dengan khawatir, tentu Luna tak ingin sesuatu yang buruk menimps Jordan.
Mereka sedikit bercakap sebelum akhirnya Luna turun dari mobil dengan kepala penuh dengan wejangan yang diberikan oleh Jordan. Gadis itu berjalan menuju lapangan dan menunggu teman satu kloternya hadir dan acara akan segera dimulai.
Siswa siswi kloter satu untuk kegiatan hansek sudah berkumpul di lapangan utama dan mendengarkan instruksi dari pak Sabar tentang tata tertib selama mereka berada di kota orang.
Yah, standart lah. Seperti jangan berbuat yang aneh aneh, jaga nama baik sekolah, mengikuti instruksi yang diberikan oleh pembimbing disana, dan apapun yang dilakuka pembimbing merupakan hal mutlak karena mereka sudah diserahkan selama lima hari empat malam disana.
Luna masih bisa tersenyum dan membayangkan hal Indah yang akan mereka lakukan disana, pasti semua akan terasa menyenangkan.
Mereka membubarkan diri setelah tahu masuk ke Bis mana, Luna berjalan mencari kursi kosong yang tidak berada di atas roda, yaah, kalian tahu lah sopir bis jaman sekarang penggemar Tayoyo, si bis kecil ugal ugalan.
Perjalanan jauh, berada diatas roda dengan sopir seperti pembalap, kantong muntah Luna pasti akan meledak seketika. Luna tidak ingin hal itu terjadi, ada baiknya mengantisipasi.
" Lah? Kok Lo sama Wijaya? Gue sama siapa dong?" tanya Luna saat melihat Farisa duduk bersama Wijaya.
Yah, belum lama ini Farisa memang resmi menjadi kekasih Wijaya, semacam cinta lokasi, bahkan Luna sudah menandai siapa saja yang akan menjalin Cinta lokasi ini, sepertinya kelima temannya memiliki jodohnya masing masing, hahahaha.
" Lo duduk sendiri yah, please, gue ada yang perlu di obrolin sama Jaya, oke Lun?" Melihat Farisa yang sampai memohon tentu membuat Luna merasa tak enak.
Gadia itu akhirnya mengangguk dan mencari kursi kosong untuk duduk, Luna memilih duduk pojok agar dapat melihat pemandangan yang indah, meski sebenarnya gadis itu akan tidur sepanjang perjalanan.
Luna merasa ada yang duduk di sebelahnya, gadis itu menengok dan terkejut seketika saat Radith sudah duduk di sebelahnya, apakah tidak ada tempat lain sampai lelaki itu harus duduk disini?
" Gak ada tempat kosong, harusnya gue sama Wijaya, tapi dia malah sama Farisa, kalau Lo keberatan Lo bisa berdiri sampai Magelang," ujar Radith tidsk tahu malunya. Luna sampai membuka mulut mendengar pernyataan Radith.
" Gue kan duduk disini duluan, harusnya Lo yang berdiri lah, gimana sih," ujar Luna tidak terima.
" Kan gue gak keberatan kalau duduk sama Lo, kalau Lo keberatan ya silakan pergi aja."
Luna menatap wajah Radith yang masih tenang bahkan lelaki itu sudah memejamkan matanya, karna tak ingin kesal dan kehilangan moodnya, Luna memutuskan untuk mengabaikan Radith dan mengatur posisi nyaman.
Tanpa Luna ketahui Radith tersenyum simpul saat mengetahui Luna menyerah kalah, gadis itu akhirnya tidak mempermasalahkan keberadaannya.
Perjalanan cukup lama karna macet meski mereka sebenarnya akan menggunakan Tol ceoat. Yah, namanya juga Ibukota, tiada hari tanpa macet ( Kecuali saat lebaran sih, hehe)
Luna yang merasa bosan akhirnya mengambil headset dalam tasnya dan menyumpalkan benda itu ke telinganya, Luna mulai memutar lagu yang biasa dia gunakan untuk tidur.
Perlahan kantuk pun menyerang Luna, gadis itu menguap beberapa kali sebelum akhirnya memejamkan matanya dan tidur.
Radith menengok ke samping dan mendaoati Luna sudah terlelap, lelaki itu mengambil sejumput rambut yang menghalangi wajah Luna, disampirkannya rambut itu ke belakang telinga dan diamatinya wajah Luna dengan seksama.
" Dasar kebo," ujar Radith pelan agar Luna tidak terusik dari tidurnya. Lelaki itu akhirnya kembali fokus pada ponselnya hingga dia merasa pusing sendiri, lalu memilih untuk tidur agar tidak mual.
Luna mulai terusik dari tidurnya saat merasa beban berat ada di atas kepalanya, gadia itu membuka mata perlahan dan terpatung seketika.
Posisi tidur yang tadinya Luna menyender pads jendela kini malah berada di pundak Radith, dan kepala Radith menyandar di kepalanya, pantas saja terasa berat.
Luna tidak bergerak, antara masih terkejut dan takut membuat Radith terusik dari tidurnya. Nafas yag teratur dari lelaki itu menandakan lelaki itu sangat nyaman dlam tidurnya.
' nyenyak banget dia, kayak gak ada beban hidup aja.' batin Luna menatap mata Radith yang terpejam.
Luna baru sadar jantungnya berdegub dengan kencang, gadis itu seakan terhipnotis dan terus memandang wajah Radith yang memang mempesona baginya. Wajah mulus lelaki itu, dengan rahang tegas dan mata yang tajam, astaga, kalau seperti ini Iman Luna bisa kembali goyah.
Gadis itu ingin sekali mengusap wajah Radith, namun dia takut lelaki itu bangun dan memergokinya, dia akan malu dan membuat Radith ilfeel, apalagi mereka sudah memiliki kekasih masing masing.
Luna akhirnya tetap diam dan mengorbankan keoalanya yang menjadi bantal, demi bisa melihat wajah Radith sedekat dan senyaman ini, moment langka dalam hidup Luna tentunya.
Entah berapa lama Luna mengamati wajah Radith, namun gadis itu kembali mengantuk dan akhirnya memejamkan matanya, berharap perjalanan ini tak akan oernah berakhir, bahkan jika boleh, hentikan waktu sekarang dan Ijinkan Luna bersama dengan Radith.
Bahkan pada saat seperti ini, Luna tak memikirkan bagaimana perasaan Darrel bila melihat ini, dan bahkan gadis itu tidak tahu bahwa seseorang diam diam memotret mereka dan membagikannya ke Grub Fans Darrel.
Luna tidak tahu setiap apa yang dia lakukan kini akan berdampak besar dalam hidupnya, dia bukan artis namun banyak paparazzi yang siap memotretnya dan menyebarluaskan tanpa ijin darinya.
**
" Lun, bangun, kita udah sampe ke temoat makan siang."
Luna menggeliat dan membuka matanya perlahan, dia masih di posisi tadi meski kini Radith sudah bangun dan membangunkan Luna dengan lembut.
Gadis itu sedikit menggeliat dan melakukan peregangan sebelum akhirnya membuka mata dengan sempurna dan mengangkat kepalanya dari pundak Radith.
" Udah sampai Magelang? " tanya Luna dengan suara serak khas orang bangun tidur.
" Belum, kita mamoir buat makan siang dulu, yok bangun, daripada nanti masuk angin terus muntah muntah," ujar Radith yang sudah berdiri dan menunggu Luna mengumpulkan kesadarannya.
Gadis itu berdiri mengikuti Radith keluar dari bus dan menghampiri teman temannya yang ternyata sudah mulai mengantre makanan.
Luna bergabung dengan mereka di meja yang sama setekh mengantre untuk mengambil makan dan minum. Luna merasa aneh karena ditatap oleh Teman temannya.
" Lo kenapa Lihat gue kayak gitu banget? Risih tau gak sih," ujar Luna dengan tataoan tak enak, namun cara bicaranya tetap sntai agar suasana tak memanas.
" Dilihatin orang risih, tapi sender senderan sama cowok lain gak risih? Mana udah punya tunangan lagi," ujar Resya menjelaskan alasan kenapa dia menatap Luna Seperti itu. Awalnya Luna tak mengerti, namun gadis itu akhirnya paham arah pembicaraan Resya.
" Darimana Lo tahu? Lo kan duduk depan," ujar Luna dengan bingung.
" Udah kesebar di Grub kelas yang tanpa guru kwu, banyak yang ngirim, gak cuma satu, makanya gue yang duduk depan pun sampai tahu."
" Guys lihat deh, di Twitter ramai anak sekolah lagi bahas masalah Luna sama Radith juga," celetuk Ghea sesudah mengscrol layar ponselnya.
Luna terkejut, namun gadis itu tetap diam dan tenang ( setidaknya dia berusaha tak panik dan malah menimbulkan msalah baru. Dia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Darrel, namun lelaki itu tak mengangkat panggilan Luna.
Akhirnya gadis itu menyerh dan masuk ke aplikasi pesan untuk mengirim pesan pada lelaki itu.
📧 Kak Darrel, ada berita gak enak ramai di Twitter anak STM Taruna. Kak Darrel jangan percaya gosip apapun ya, Luna bakal ceritain semua setelah kita ketemu.
Love💕
Luna harap harap cemas saat mengirim pesan itu, semoga Darrel mengerti dan tidak merasa terluka karenanya. Luna langsung meras bersalah karna hal ini, namun dia sendiri tak dapat membohongi bahwa ada sedikit rasa bahagia saat Luna bersama dengan Radith.
Gadis itu kembali ke dalam bis setelah menyelesaikan makannya, dia duduk dengan tenang dan menunggu Radith masuk. Lelaki itu masuk tak lama kemudian dan kembali duduk di sampingnya.
Apakah Radith tak tahu apapun? Mengapa wajah lelaki itu tampak tenang saja?
" Gue udah tahu dan udah dengar beritanya, tapi gue gak harus panik kan?"
Sepertinya lelaki itu memang cenayang, apa yang ada di batin Luna selalu bisa Radith baca. Tunggu, apa saat ini Radith juga membaca pikirannya?
" Jangan mikir gue bisa baca pikiran orang, kelihatan dari wajah Lo, Lo itu penasaran kenapa gue tenang padahal berita itu udah nyebar."
Luna mengangguk paham dan kembali duduk dengan tenang, setidaknya dia merasa lega karna Radith tidak bisa membaca pikirannya.
" Tapi sebenarnya gue khawatir sama Lo," ujar Radith tiba - tiba yang membuat Luna menengok dan menatap lelaki itu dengan tatapan tanya.
" Lo bakal mengalami hari yang sulit setelah ini, bukan sama Darrel, tapi sama semua fansnya, mereka bakal terus cari celah sampai kalian benar benar hancur. Gue harap Lo bisa jaga komitmen sama dia," ujar Radith yang membuat Luna terdiam.
Jika masalah Darrel, lelaki itu tentu tidak akan masalah dan memilih untuk melupakan masalah ini. Namun bagaimana dengan seluruh fans Darrel beserta jajarannya? Mereka akan terus mempersulit hidup Luna.
" Terus gue harus apa?" tanya Luna yang mulai takut dengan pikirannya sendiri, Radith yang menatap Luna pun menghela napas. Tak dapat dipungkiri ada rasa bersalah karna membiarkan Luna tidur di bahunya, terlebih lagi dia malah ikutan tertidur dengan posisi yang membuat orang lain salah paham.
" Lo harus tahan, Lo sabar aja sama apaoun yang mereka lakuin, lama lama juga bakal bosan kok mereka. Yang jelas jangan karna hal sepele kalian bertengkar terus pisah, karna itu yang mereka pengen."
Luna meresapi perkataan Radith yang mendukung penuh hubungannya dengan Darrel, ada rasa bahagia meski tak sedikit rasa sakit yang muncul karna lekaki itu baik baik saja Luna bersama yang lain.
" Oke got it, gue bakal berusaha tahan sama semuanya," ujar Kuna tersenyum dan mengepalkan tangannya untuk menguatka diri.
Radith terkekeh dan menggelengkan kepalanya, ingin rasanya mengacak rambut gadis itu, namun rasanya tidak baik karna akan menimbulkan kesalah pahaman lebih lanjut, Radith malas akan hal itu.
*
*
*
Sore menjelang, mereka akhirnya sampai di Museum senjata di Magelang, mereka harus sedikit berjaln untuk sampai ke tempat seminar. Tak ada yang menarik bagi Luna saat mendengar seminar itu. Luna lebih menantikan tour untuk melihat ruang senjata yang bersifat rahasia.
" Baiklah, bila tidak ada pertanyaan Lagi, mari kita akhiri sesi pada hari ini dan melanjutkan kegiatan untuk melihat koleksi senjata di museum ini."
Ini dia yang Luna nanti nantikan, gadis itu langsung duduk tegak sesuai Instruksi dan berjalan masuk ke pintu utama dimana senjata dan berbagai macam alat perang tertata rapi disana.
Meski sedikit tak nyaman mengenakan seragam identitas yang tidak menyerap keringat dan berbahan tebal ( sebelum masuk ke sesi seminar, para siswa diminta untuk berganti seragam dan terus memakai seragam ini sampai ke tempat Kegiatan Hansek berlangsung.)
" Huaaah, keren banget," ujar Luna pada Resya yang ada di sebelahnya, gadis itu melihat sebuah senjata laras panjang lengkap dengan peluru dan pembersih moncong senapan itu.
" Semua ini dibuat oleh pejuang dalam negeri, jadi jangan remehkan kekuatan tentara negeri kita kala perang," ujar tentara yang tadi memberikan seminar dan kini bertugas memandu wisata.
Luna mengangguk kagum dan meneruskan jalannya, gadis itu melihat pistol emas yang sangat indah, Luna membaca deskripsi senjata itu dan berdecak kagum.
" Keren yah pistolnya?" tanya Radith yang tiba tiba muncul dari belakang Luna.
" Keren banget dith sumpah," ujar Luna dengan tatapan kagum
" Kalau Lo gue tembak pakai pistol itu mau gak?" tanya Radith dengan iseng sambil melihat pistol emas itu.
" Sok atuh lah, asal pistolnya pistol emas kayak gini, " ujar Luna dengan antusias.
" Oke, doain gue dapet rejeki berlimpah biar bisa beli pistol emas itu dan nembak Lo, tapi harus terima kalau gue tembak pakai itu."
.
.
.
*PS dari author : Dapat salam dari Radith yang ada di dunia nyata. Katanya minta di ss in respon kalian gimanaa.
Team Radith komen di bawah yaaaa
Note : Aku panggil 'Radith' Sinyo ( sebutan anak laki laki yang belum menikah di Tionghoa.)
*