Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 11



Mereka makan di warung soto yang harus Luna akui rasanya sangat lezat. Gadis itu makan dengan lahap membuat Darrel tersenyum puas karna Luna lupa akan menjaga bentuk tubuh. Lelaki itu empat khawatir jika nantinya Luna terlalu terobsesi dengan bentuk tubuh ideal, hal itu malah tidak baik untuk kesehatannya.


Meski awalnya Darrel sempat khawatir karna phobia yang dialami Luna. Sepertinya terapi yang diberikan oleh psikiater cukup berhasil karna pelan – pelan Luna mulai bisa berhadapan atau bersentuhan dengan benda yang terbilang 'kotor'. Keysha sendiri tidak tahu akan phobia itu dan Darrel sengaja tak mengingatkan, takutnya Luna malah tersugesti jika mengingat hal itu.


" Habis Ini kita ke toko buku aja yuk, kak Key mau beli novel," ujar Keysha yang dijawab deheman oleh Luna, sementara Darrel hanya mengangguk karna mulutnya penuh dengan makanan. Mereka menghabiskan satu porsi tanpa sisa dan langsung beranjak menuju toko buku sesuai permintaan Luna. Lagi, Luna harus duduk di kursi belakang sementara Keysha duduk di kursi depan.


Keysha langsung sibuk dengan Darrel, mengabaikan Luna yang sama sekali tak tertarik dengan buku. Gadis itu memilih untuk berjalan sendiri dan melihat pernak – pernik kepenulisan yang dijual oleh toko buku itu. Yah, jika itu barang yang unik dan bagus, Luna pasti tertarik untuk membelinya. Luna mulai memilih dan mengambil beberapa benda yang menarik perhatiannya.


" Loh? Lun? Lo ngapain di sini? Lo sendirian?" Luna langsung menengok dan berbinar melihat seseorang yang sempat dia rindukan langsung datang di hadapannya. Apakah ini yang namanya takdir? Apakah sebenarnya terdapat ikatan diantara mereka berdua? Ah, tidak baik terlalu berfantasi, Luna snagat tahu hal itu.


" Di atas ada kak Darrel sama Kak Key, gue gak suka baca buku, jadi gue turun lagi terus belanja di sini," ujar Luna sambil mengangkat benda – benda yang hendak dia beli. Radith mengangguk paham untuk sesaat, tapi kemudian lelaki itu mengubah raut wajahnya.


" Kak Darrel pulang? Terus malah jalan sama kak Key dan ninggalin Lo di sini? Hahaha, kasihan banget lo," ujar lelaki itu yang membuat Luna kembali memanyunkan mulutnya, membuat Radith merasa gemas dan mengacak rambut gadis itu secara reflek. Luna langsung menepis tangan Radith dan bangun, lupa jika barang – barang yang dia pilih tadi dia taruh di pahanya.


Semua mata langsung tertuju pada Luna. Gadis itu langsung memejamkan matanya saat barang – barang yang dia ambil berjatuhan di lantai. Bahkan Radith langsung berjalan seakan tak mengenal Luna. Luna langsung memungut barang – barang itu dengan malu dan membawa barang – barang itu ke arah keranjang agar dia bisa membawanya dengan mudah.


" Dith, Lo gak lagi sibuk? Kok tumben ke tempat beginian? Mending Lo temenin gue pilih – pilih barang lain," ujar Luna yang sedikit berharap Radith mau menemaninya. Gadis itu mungkin bisa sejenak melupakan kekesalannya terhadap Keysha yang mengusai kekasihnya, gadis itu bahkan tak bisa menikmati waktu berdua dengan Darrel.


" Gue sama teman gue ke sini, dia mau beli perlengkapan buat adeknya. Lagian Lo ngapain pilih coba? Mending Lo beli satu toko ini, kan bisa. Mau gue yang bilang ke bokap Lo?" tanya Radith dengan iseng, membuat Luna mendesis kesal melihat tingkah Radith.


" Radith!" mereka berdua langsung menengok saat seseorang datang dan menghampiri mereka. Luna bahkan sampai mematung melihat orang itu. Wajah dan aura yang tak asing, membuat Luna tanpa sadar langsung terdiam dengan mata yang berkaca – kaca. Orang itu menghampiri Radith dan menatap Luna dengan bingung, bahkan Radith sampai bingung melihat kondisi Luna saat ini.


" Lo kenapa hei?" tanya Radith sambil menggoyangkan tubuh Luna. Gadis itu langsung tersadar dan berkedip, membuat satu aliran air mata turun dari bola matanya yanag indah, membuat kedua orang yang melihat itu makin bingung dengan tingkah Luna. Radith bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa, lelaki itu menunggu Luna untuk berbicara.


" Blenda?" tanya Luna tanpa sadar yang membuat Radith ikut terdiam. Namun tidak dengan gadis yang baru datang itu, dia melihat kedua orang di depannya dengan bingung, terutama ke arah Radith yang langsung mengubah air mukanya saat mendengar nama itu. Nama yang bahkan asing di telinga gadis itu.


" Hai, nama aku Caroline. Kamu bisa panggil aku Karin. Aku temannya Radith, salam kenal ya," ujar gadis itu yang mengulurkan tangannya, namun tak disambut sama sekali oleh Luna. Gadis itu makin terdiam dan menatap ke wajah Caroline dengan pandangan kosong, Luna langsung terbayang wajah Blenda. Hidung dan mata mereka bahkan terlihat sama.


" Bahkan suara kalian sama," ujar Luna dengan lirih, dia tak mengenal Blenda dengan baik, namun dia tahu bahwa Blenda gadis yang sangat baik. Gadis ceria penuh energi positif, siapapun tak akan bisa melupakannya dengan mudah, apakah gadis ini reingkarnasi dari Blenda? Atau hanya orang yang berbeda dengan segala kemiripannya?


" Dia Karin, bukan Blenda. Dia ngajak Lo kenalan, Lo gak mau kenalan balik?" tanya Radith yang membuat Luna tersadar dan menjabat tangan yang cukup lama terulur dengan senyum di wajah gadis itu yang mulai memudar. Luna mulai tersenyum tipis dan mengeratkan jabat tangan mereka.


" Lunetta, kamu bisa panggil aku Luna. Aku teman SMK nya Radith," ujar Luna dengan senyum hangatnya. Karin tersenyum makin lebar dan melepaskan jabatan tangan mereka. Karin langsung melihat ke arah Radith dan makin bingung karna suasana yang ada di sekitarnya jadi aneh, dia tak terbiasa melihat semua ini.


" Tadi kamu ngira aku siapa? Blenda? Siapa Blenda? Pacar Radith ya?" tanya gadis itu dengan lugunya, membuat Luna langsung menatap ke arah Radith untuk meminta persetujuan, namun Radith menggelengkan kepalanya dan melarang Luna untuk memberitahu orang lain tentang masa lalunya, biarlah masa lau itu menjadi luka lamanya, tak perlu diungkit lagi.


" Kamu sejak kapan kenal sama Radith? Radith jarang loh punya teman cewek, cantik pula," tanya Luna yang mengalihkan pembicaraan, mereka mulai melangkah dengan gadis itu yang juga membawa keranjang belanja yang berisi buku tulis dan alat tulis lain. Sepertinya memang disiapkan untuk anak SD atau mungkin SMP.


" Belum lama sih, mungkin satu atau dua bulan. Ini pun kali kedua aku ketemu sama Radith. Aku baru pindah ke kota ini dari Sulawesi, jadi aku minta tolong dia buat temenin ke toko buku karna aku masih gak tahu rute di kota ini," ujar Karin yang diangguki oleh Lunamemang sedikit membingungkan bagi orang yang baru datang ke Ibu kota untuk tahu rute jalan.


Apalagi ada aturan ganjil genap, buka tutup jalur, jalur yang dibuat satu arah. Banyak hal yang hanya mudah dipahami oleh orang yang sudah tinggal cukup lama di Ibu Kota. Wajar saja jika Karin meminta bantuan dari orang lain untuk hal ini.


" Kamu dari lur pulau? Kok bisa kenal Radith? Dia kan gak ramah sama sekali," cibir Luna yang membuat Radith memutar bola matanya. Lelaki itu tak merespon sama sekali, namun tampak Karin kaget dengan pernyataan Luna, sepertinya bukan itu kesan darinya terhadap Radith.


" Radith ramah kok. Kami ketemu di acara gatering perusahaan gitu, nah aku perwakilan dari Sulawesi, terus dia banyak bantu aku selama Gatering. Waktu aku pulang ke Sulawesi, aku malah diminta buat atur kantor cabang yang ada di kota ini, jadinya aku sama adik aku pindah deh ke sini," ujar Gadis itu dengan wajah polosnya, membuat Luna takjub dan melihat ke arah Radith.


" Lo mau nunggu pacar Lo di sini atau ikut gue ke kantor? Tapi gak usah usil kalau di sana, ntar malah Lo dikira maling kayak waktu itu," tawar Radith pada Luna yang membuat Karin ikut menoleh dan mulai penasaran dengan hubungan yang ada di antara kedua insan di hadapannya ini.


" Gak deh, gue sama kak Darrel, ntar malah jadi masalah, besok aja kalau pingin usil gue main ke apartemen," ujar Luna dengan santai yang membuat Karin terkaget. Ternyata kedua orang yang ada di hadapannya sangat dekat, lebih dekat dari yang dia bayangkan.


" Apa di Ibu kota udah biasa main ke apartemen orang?" tanya Karin dengan polos pada kedua ornag yang ada di hadapannya. Luna langsung memiliki ide gila untuk mempermainkan gadis polos yang ada di hadapannya. Radith membuka mulutnya untuk menjawab, namun Luna segera memotong perkataan Radith.


" Udah biasa banget, sering juga kok kalau nginep gitu padahal Cuma berdua. Bahkan aku tahu loh sandi apartemennya Radith. Kamu hati – hati sama dia, diam – diam menghanyutkan," ujar Luna yang membuat Radith menjitak kepala Luna pelan, membuat gadis itu mengaduh dan memegang kepalanya yang dijitak oleh Radith.


" Gak usah didengar, ibu kota gak kayak gitu kok. Gak semua orang kayak gitu, termasuk aku. banyak penjelasannya, gak perlu aku jelasin juga, yang jelas gak semengerikan kayak di bayangan kamu. Udah selesai belum? Ayo aku antar pulang," ujar Radith pada Karin yang masih cengo dan mencoba mencari kebenaran.


" Hahaha, wajahnya sampai ketakutan gitu. Aku bercanda kok, aku emang pernah sekali nginap di apartemennya karna rumah aku listriknya mati, itu pun dia tidur di sofa dan aku di kamarnya. Gak semua warga ibu kota itu berkelakuan buruk. Sebaliknya, banyak banget yang baik dan punya norma yang baik pula, kamu gak perlu takut. Ya pokoknya jangan di generalisir aja, semua pasti ada plus minusnya."


" Gak perlu Lo jelasin juga, makanya punya mulut itu dijaga, kalau nanti dia ngira yang bukan – bukan gimana? kalau nanti yang baca juga gak terima karna mengira lo ngatain orang di ibu kota gimana? Dasar," ujar Radith yang mulai mengomel. Luna langsung mengerucutkan bibirnya dan meminta maaf, membuat suasana canggung yang ada di sana sedikit mencair.


" Kalian sedekat itu ya?" tanya Karin saat sudah masuk ke dalam ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Radith tampak berpikir untuk mendeskripsikan hubungannya dengan Luna.


" Sejak aku SMK, Aku udah dekat banget sama dia sih, bahkan mungkin di sekolah Cuma aku temennya. Terus kalau dia ada masalah, aku kayak guardian angel gitu buat dia. Makanya setelah lulus pun aku gak lost contact sama dia, apalagi keluarganya baik banget sama aku, ngasih suntikan dana biar aku bisa bangun perusahaan ini."


" Keluarganya? Apa dia dari keluarga kaya? Baik sekali," ujar Karin dengan takjub. Radith tersenyum tanpa sadar saat memikirkan hal itu, lelaki itu menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan kuda besi itu untuk pergi dari parkiran dan menuju rumah gadis yang menjadi tamu baru di hidupnya, wajar saja jika dia bersikap ramah.


" Keluarganya sangat kayak. Nama dia itu Lunetta Azura Wilkinson," ujar Radith yang sengaja menyebutkan nama lengkap Luna, namun Karin tak menangkap maksud dari perkataan Radith. Tidak pada awalnya, sampai beberapa saat kemudian gadis itu menengok kaget dengan mata yang terbuka nyaris sempurna.


" Di.. dia anak bos besar Wilkinson? Ta.. tapi kok sederhana banget sih? Gak keliatahan banget dia anak bos besar yang pegang perusahaan pusat. Beneran dia anak pemilik pusat?" tanya Karin yang tampak terkejut. Radith mengangguk singkat sebagai jawaban. Luna memang tak tampak seperti anak Bos besar, meski siapapun tahu dia anak berada karna kulit hasil perawatan rutin memang tak bisa menipu.


" Terus, dia pacar kamu?" tanya Karin yang membuat Radith menggeleng sebagai jawaban, membuat Karin cukup bingung. Mereka sudah pernah tidur di atap yang sama, sudah terlalu lama bersama dan bahkan gadis yang tadi dia temui tahu sandi apartemen Radith, apakah ini yang dinamakan teman biasa?


" Dia punya tunangan, dia tadi kan bilang kalau ke tempat itu sama tunangannya. Gak usah tanya lagi ya, kamu gak perlu tahu banyak hal tentang ini," ujar Radith yang membuat wanita itu diam seketika. Memang benar jika hal ini bukan urusannya, bahkan dia tak tahu mengapa begitu tertarik dengan kehidupan Radith.


" Maaf ya, gak ada maksud ikut campur. Ah iya, makasih juga udah mau nganterin aku, besok adik aku mulai sekolah jadi harus buru – buru deh siapin semua. Maaf ya malah ngerepotin kamu," ujar Karin tak enak, Radith hanya menjawab tak perlu sungkan. Tak ada percakapan di antara mereka setelah itu sampai Radith mengantar gadis itu pulang dan kembali ke kantor setelahnya.


Sementara itu Luna yang sudah kembali ke lantai dua makin kehilangan moodnya saat melihat beberapa orang lain mulai bergabung dengan Darrel dan Key, beberapa anak – naak dan satu gadis dewasa. Satu gadis dewasa itulah yang membuat Mood Luna makin berantakan.


" Hei, Senangnya dalam hati, kalau beristri dua, seakan dunia, ana yang punya."


Luna mulai bernyanyi lagu lama yang pernah hits pada jamannya, entah mengapa suasananya sangat sesuai dengan keadaannya saat ini.


" Kepada istri tua, kanda sayang padamu." Luna mulai melihat ke arah Keysha yang tersenyum ke arah anak – anak kecil yang sedang membaca buku di sekelilingnya.


" Kepada istri muda, I say I Love You." Luna langsung berdecak kesal setelah menyanyikan lirik itu karna matanya langsung terfokus pada gadis yang membuatnya sebal beberapa waktu lalu.


" Sumpah, gue sebel banget sama lo Karelina," desis Luna dengan penuh penekanan.