
' Luna ke kamar. Kak Darrel nyusul anak – anak dulu aja di mini studio.'
Luna mengirimkan pesan itu saat berada di dalam lift. Gadis itu keluar dari lift dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu melemparkan tas yang dia pakai dan merebahkan dirinya di kasur sebentar. Gadis itu merasa lelah dan enggan untuk mencuci muka apalagi mengganti pakaian, namun gadis itu menyadari masih ada tamu di kamarnya dan dia harus bersikap sopan.
Gadis itu terkejut saat pintu kamarnya diketuk, dan saat dia menanyakan siapa yang datang, ternyata orang itu adalah Darrel. Luna langsung mengijinkan lelaki itu masuk karna sidik jari Darrel bisa mengakses kunci pintu kamar Luna. Kehadiran lelaki itu tentu membuat Luna terkejut, padahal Luna sudah mengirimkan pesan pada lelaki itu.
" Lah, Luna kan udah bilang kak Darrel nunggu di mini studio aja, ngapain kak Darrel di sini?" tanya Luna dengan kaget. Darrel mengerutkan keningnya dan bertanya kapan Luna mengatakan hal itu, Luna pun menjelaskan apa yang sudah dia lakukan untuk memberitahu Darrel.
" Lah kan ponsel aku ada di kamu. Masak kamu gak ingat sih?" tanya Darrel yang membuat Luna menepuk jidatnya. Dia sendiri baru ingat jika ponsel Darrel ada di dalam tasnya. Gadis itu langsung mengambil tasnya yang dia lempar dan naas, layar ponsel Darrel retak, mungkin karna tertekan gunting kuku yang ada di dalam tas, entahlah.
" Kak," panggil Luna lirih. Darrel yang sudah merebahkan diri di sofa langsung menengok dan menatap Luna yang tampak takut. Melihatnya saja Darrel sudah tahu apa yang telah terjadi. Bukan sekali dua kali hal semacam ini terjadi dalam hidup Luna.
" Ya udah gak papa. Jangan dibuang, aku pindah dulu datanya, banyak banget data pentingnya," ujar Darrel yang kembali memejamkan matanya. Luna menghela napas lega, namun dia menjadi heran, Darrel tak pernah menyimpan file dalam ponselnya, terlalu berbahaya katanya. Data penting apa yang disimpan di dalam ponsel?
" Gak usah dibatin gitu, Data pentingnya chat dari kamu sama foto – foto kamu di Galeri. Itu penting banget karna semua itu gak bisa diulang lagi, kalau pun diulang pasti beda, jadi gak boleh hilang," ujar Darrel dengan santai, namun cukup untuk membuat Luna merasa baper.
" Ah, sa ae upil onta," ujar Luna dengan gemas. Gadis itu kembali memasukkan ponsel Darrel dan menepuk jidatnya karna dia baru mengingat ada hal yang harus segera dia lakukan. Gadis itu langsung berjalan ke arah lemari dan mengambil kaos santai beserta celananya dan berjalan ke arah Darrel yang sudah nyaman di posisinya.
" Keluar dulu gih, Luna mau ganti baju terus mau turun, kasihan sama tamunya, masak malah kita di sini. Buruan sana, atau kak Darrel ke bawah dulu," ujar Luna yang menarik – narik kerah baju Darrel, membuat lelaki itu tak nyaman dan menggeliat namun masih enggan untuk bangun. Luna sendiri sampai takjub karna tidak pernah melihat Darrel seperti ini.
" Kamu ganti baju di kamar mandi aja ya, terlanjur tutup mata, jadinya ngantuk banget, lima menit deh," ujar Darrel yang menggulingkan badannya hingga badannya menghadap ke sofa. Luna menggelengkan kepalanya, namun dia juga menuruti Darrel, gadis itu mengalah dan mengganti pakaiannya di kamar mandi.
Luna hendak langsung keluar dari kamar karna tak tega mengganggu Darrel, namun lelaki itu malah bangun dari tidurnya, memberantakan rambutnya dan merapikannya lagi lalu berjalan ke arah Luna dengan wajah khas bangun tidur. Lelaki itu menabrakkan kepalanya di leher belakang Luna dan meminta gadis itu untuk berjalan.
" Kalau ngantuk tidur aja, biar Luna yang turun, daripada komuk kayak gitu. Tidur lagi gih, di kasur juga gak papa," ujar Luna yang dibalas gelengan kepala oleh Darrel, lelaki itu membuat Luna merasa geli, namun Luna tak memintanya untuk segera pergi dari lehernya. Ah, jarang sekali Darrel bersikap seperti ini pada Luna.
Luna membuka pintunya dan otomatis terkaget karna kehadiran sosok gadis yang tidak dia sangka akan sampai ke lantai ruangannya. Untuk apa gadis itu ke tempat ini? Bukankah tadi gadis itu sudah masuk ke ruang Video game? Apakah gadis di hadapannya itu memiliki tujuan tertentu?
" Karel? Kamu ngapain di sini?" tanya Luna dengan heran. Darrel yang ada di belakang Luna sontak menegakkan kepalanya dan melihat siapa yang diajak Luna bicara. Lelaki itu pun sontak kaget karna kehadiran orang itu. Apakah gadis itu sengaja mengikutinya? Atau sekadar berjalan – jalan dan nyasar sampai ke kamar Luna? Darrel langsung melihat ekspresi Luna yang langsung tak enak.
" Tadi aku lupa mau nyampein pesan bunda sama kak Darrel, terus tadi aku tanya pelayan kak Darrel kemana. Nah kata pelayan mungkin ada di ruangan kak Lunetta di lantai tiga, jadinya Aku kesini. Tapi ternyata banyak banget ruangannya, jadi aku mau balik lagi ke bawah, eh malah ketemu sama kak Luna."
" Bunda titip pesan apa memang?" Tanya Darrel cepat sebelum Luna merepon. Luna yang sadar Darrel sedang menahan Luna agar tak emosi hanya diam. Karel langsung menjelaskan kalau Bunda meminta Darrel untuk mampir karna mereka sangat jarang pergi ke sana. Darrel pun mengangguk paham.
" Kamu masih mau jalan – jalan dulu di sini atau ikut kami? Kami mau ketemu sama anak – anak," ujar Luna yang tak bisa lagi untuk ramah. Dia sangat tak suka ada orang 'asing' tak diundang naik ruangannya. Kecuali pelayan, hanya orang yang mendapat ijin darinya yang boleh sampai ke tempat ini. Bahkan Luna yakin tak mungkin pelayan yang menyarankan Karel ke tempat ini.
" Aku ikut aja, rumahnya besar sekali, aku takut kalau malah nanti nyasar, hahaha," ujar Karel yang berusaha santai dan mencairkan suasana. Luna mengangguk dan berjalan ke arah lift, diikuti Darrel dan Karel. Darrel yang tahu gadisnya kesal pun langsung bertindak.
" Gak baik marah – marah, nanti pipinya kempes," ujar Darrel pelan yang langsung menggigit pipi Luna dengan bibir yang dia tangkupkan agar tak menyakiti gadis itu. Hal itu tentu membuat Luna kaget, gadis itu tertawa dan memukul lengan Darrel pelan karna tingkah lelaki itu. Darrel memang paling bisa membuatnya tak marah lagi.
Sementara itu di belakang mereka, seorang pemain figuran meremas dadanya sendiri yang merasakan sakit melihat adegan yang ada di depannya. Mungkin memang sejak awal dia tak usah datang ke tempat ini. Niatnya ingin dekat dengan Darrel, malah dia harus menyaksikan kemesraan keduanya. Apalagi dia jadi harus berbohong karna hal ini.
*
*
*
Setelah anak – anak itu pulang diantar oleh orang suruhan Luna. Sementara Luna langsung merebahkan dirinya di karpet lembut yang ada di ruang keluarga. Gadis itu merasa tubuhnya lelah dan dia ingin melanjutkan tidurnya, namun di sisi lain dia juga ingin melanjutkan episode drakor yang belum dia tonton.
Sementara itu Darrel dengan lembut dan sabar menyisiri Rambut Luna yang berantakan. Lelaki itu mengusap rambut Luna dengan jari – jarinya agar tidak menyakiti gadis itu. Luna tampak fokus dengan tontonan yang ada di hadapannya hingga tak peduli dengan apa yang Darrel lakukan. Gadis itu senyum – senyum sendiri melihat adegan romantis yang ada di hadapannya.
" Gini nih yang bikin banyak cowok di Indonesia jadi jomblo terus benci cowok – cowok korea," celetuk Darrel yang membuat perhatian Luna teralihkan. Gadis itu tak mengerti arah pembicaraan Darrel, memang apa hubungannya dengan mereka?
" cowok Indonesia banyak yang jomblo soalnya cewek Indonesia banyak yang mimpi punya pacar kayak di drama korea. Dah gitu, standartnya jadi tinggi, seleranya secakep mereka. Pantesan aja banyak protes terus jadi hatersnya Oppa oppa korea." Pendapat Darrel membuat gadis itu langsung mendudukkan tubuhnya seketika.
" Sekarang kalau gitu yang disalahin orangnya atau drama koreanya? Kalau cowoknya ditolak karna wajah mereka dan malah mereka milih jadi haters, ya wajar aja cewek – cewek tambah ilfeel sama mereka," ujar Luna dengan nada tak terima. Penjelasan Luna masih tak masuk di otak Darrel. Komposisi wajah orang Indonesia dan korea kan beda meski sama - sama dari Asia.
" Iya lah tambah ilfeel kak. Udah wajah minus, penghasilan minus, kelakuannya juga minus suka ngehujat orang gak dikenal. Mana ada yang mau, gak ada yang bisa dibanggain. Paling enggak sadar diri kak, kalau wajah udah pas – pas an, kelakuannya yang baik, biar cewek luluh," ujar Luna yang membuat Darrel tergelak.
" Iya juga ya. Kenapa aku baru kepikiran kayak gitu ya? Hahahahaha," ujar Darrel yang tertawa dan mengembalikan kepala Luna ke kakinya lagi agar gadis itu kembali tiduran dan dia kembali memainkan rambut gadisnya itu. Sebenarnya tak semua gadis di Indonesia jadi penyuka korea, jadi para lelaki tak perlu menggeneralisir hal itu.
Benar kan yang Luna katakan? Untuk apa wajah tampan tapi tak ada etika? Toh, standart tampan setiap orang berbeda. Tapi, lebih untuk apa lagi orang yang sudah wajahnya pas – pas an, tak punya etika pula. Luna yakin semua gadis di dunia ini tidak menyukai hal itu.
Akhirnya mereka berdua kembali terdiam dan hanya fokus dengan film yang mereka tonton. Darrel akhirnya ikut larut dalam setiap adegan yang kebanyakan berisi komedi dan romantis, hal yang klasik bagi Luna. Ah, gadis itu tak menyukai gendre drama di bioskop, tapi maniak drama korea dengan Genre seperti ini.
" Kamu udah kepikiran belum permintaan ke empat kamu? Ini udah berapa tahun loh, kamu gak minta apa – apa lagi setelah ulang tahun kamu," ujar Darrel yang tiba – tiba teringat dengan enam permintaan yang Darrel janjikan agar Luna mau minum obat. Gadis itu tak pernah mengungkit dan meminta sisanya, tapi Darrel yang merasa berhutang tetap harus mengingatkannya.
" Mau punya pacar lagi Luna kak," ujar Luna dengan santai, membuat Darrel memukul mulut gadis itu sangat pelan, bahkan hanya seperti menyentuhnya. Darrel kan tak mau menyakiti Luna, dia juga takut Luna marah jika dia lebih keras sedikit lagi, haha.
" Tadi nanya, giliran dijawab malah kayak gitu, aneh mah kak Darrel orangnya," ujar Luna sambil terkekeh geli. Gadis itu menyingkirkan tangan Darrel yang menghalangi wajahnya. Gadis itu masih fokus dengan drama yang dia tonton.
" Yang benar dong, kalau kayak gitu ya mana aku sanggup buat ngabulin. Mending kamu minta aku buat beli pulau pribadi, terus hutannya disuruh bentuk jadi tulisan 'Lunetta'. Serius, bakal aku kabulin kalau kamu minta yang begitu," ujar Darrel dengan santai, membuat Luna berdecak karna kesombongan lelaki itu.
" Ya udah Luna minta pesawat pribadi yang dipakai sama pak Presiden. Atau rekrut ajudannya presiden buat jadi pengawal pribadinya Luna," ujar gadis itu yang semakin asal. Membuat Darrel menghela napas sampai bersuara dan meraup wajahnya sendiri karna gemas.
" Hahahaha, sabar pak sabar, biar gak cepat tua pak. Ya udah sih gampang, orang Luna gak pengen apa – apa, Luna udah punya segalanya, ngapain Luna minta lagi?" tanya gadis itu yang seakan membalas kesombongan Darrel. Astaga, mereka berdua, tolong lah, author yang nulis ini pun rakyat biasa, hanya bisa membayangkan tanpa bisa menyombongkan. T_T
" Kamu mau gak kita main ke rumah sakit kamu itu? Udah lama kan kita gak ke sana? Sekalian kalau butuh apa – apa kan bisa langsung kita bantu. Mau gak?" tawar Darrel yang disetujui oleh Luna. Gadis itu hanya berdehem karna dia memang tak ingin percakapan ini terus berlanjut agar dia bisa berkonsentrasi dengan televisi.
" Lun, kalau misal aku ternyata pulang lagi ke Inggris kurang dari satu bulan gimana?" tanya Darrel yang membuat Luna langsung melirik lelaki itu dengan tajam. Membuat Darrel langsung tahu arti dari tatapan itu. Lelaki itu juga tak berencana untuk segera kembali ke negara itu, dia maish betah menikmati panasnya ibu kota.
" Kamu tahu gak Lun.."
" Kak Darrel ih, jangan ngomong terus dong kak, ini kan Luna lagi nonton film, Luna jadi gak dengar filmnya, nama habis ini tuh adegannya bagus," ujar Luna dengan kesal. Membuat Darrel langsung menutup mulutnya rapat – rapat dan tak jadi melanjutkan kata – katanya.
Darrel jadi penasaran memang adegan apa yang membuat Luna marah dan tak mau mendengarkan ocehannya? Sesaat setelah Darrel mendapat jawabannya, lelaki itu langsung menjewer pelan telinga Luna, membuat gadis itu terkekeh dengan respon Darrel.
" Ini? Ini nih adegan bagus yang kamu maksud? Kalau gini mah aku juga bisa praktek langsung ke kamu. Mau? Umur legal loh kita," ujar Darrel dengan berani. Lelaki itu langsung mendekatkan kepalanya ke arah Luna, membuat Luna memekik karna Darrel terlalu dekat dengannya.
" Apa sih, ih, gak boleh. Hahahha, sana ih, huaaa, pacar Luna gak suci lagi," teriak Luna dengan heboh sambil tertawa. Gadis itu makin tertawa karna Darrel menggelitiki Luna sebagai hukuman. Lelaki itu tak terima dikatai Luna tak suci lagi. Padahal lelaki kan tak bisa terlihat mana yang masih orisinil dan tidak *eh
Darrel terus menggelitiki Luna sampai beberapa pelayan merasa penasaran dan mengintip mereka. Luna langsung mendorong tubuh Darrel karna takut pelayan itu bergosip yang tidak – tidak dan melaporkan ke papanya berita yang salah, kan bisa bahaya.
" Ngapain kalian? Bosan kerja?" tanya Luna dengan galak yang membuat beberapa orang itu langsung bubar.