
Kinan tidak menemukan alasan mengapa ia harus bertahan dalam pernikahan yang begitu mengerikan ini. Beni bukan lagi seperti orang yang ia kenal atau dari awal ia yang salah mengenali Beni. Inikah sifat asli Beni atau ini hanya karena pria itu sedang di bawah pengaruh narkoba? Apa pun alasannya, kekerasan tetap tidak bisa ditolerir bukan?
Ya, memang betul demikian. Tapi, kembali lagi, wanita diciptakan dengan hati yang rapuh dan mudah memaafkan. Ada belas kasih yang begitu kuat dalam dirinya. Meski terluka, maaf itu masih terbuka lebar. Meski lelah tapi masih bertahan. Jangan katakan mereka bodoh, terlebih yang mengatakannya adalah sesama wanita. Karena apa yang dijalani tidaklah sama. Fahammu dengan fahamnya tidak serupa.
Seperti Kinan yang tekadnya sudah bulat ingin lari dan kabur, tapi dihentikan Beni dengan cara menahan kakinya, bersembah sujud di sana. Mencium kaki Kinan berulang kali diiringi dengan gumaman kata maaf dan penyesalan.
"Abang salah, Sayang. Abang salah. Abang minta maaf, tolong maafkan Abang." Tangisan keluar dari mata pria itu. Apakah itu air mata buaya? Tidak. Beni benar menyesali sikapnya yang kasar. Beni benar merasa terpukul dengan ketidakberdayaan Kinan menghadapinya, tapi sayang, penyesalannya tidak lebih besar dari kebiasaan buruk yang sudah mulai menggerogotinya. Kebiasaan buruk itu sudah menguasainya. Beni bukanlah lagi si pengendali melainkan dikendali. Kebiasaan buruk itu sudah memerangkapnya.
Kinan bergeming dengan air mata yang terus membasahi pipi. Tangannya memeluk perut yang mulai membuncit.
Kinan benar-benar tidak mempunyai tenaga untuk menanggapi apa yang dikatakan Beni. Penyesalan pria itu juga tidak mempunyai arti baginya. Hilang sudah rasa percayanya pada pria itu.
"Di mana yang sakit?" Beni mulai meraba punggung Kinan, berniat untuk mengobati luka yang ia berikan beberapa saat lalu.
Kinan menepis tangan pria itu, pun ia berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar. Pertanyaannya, apakah Ibunya merasakan hal yang serupa.
Jika demikian, kenapa aku dan ibuku merasakan pernikahan yang begitu buruk ini, Tuhan? Apa salahku? Kenapa Engkau memberikan cobaan yang begitu berat? Apakah Engkau membenciku hingga membuatku begitu menderita?
Lagi, hati dan logika Kinan mulai dirasuki setan. Mulai mempertanyakan keadilan Tuhan. Mulai menuntut, mempertanyakan salah. Inilah keegoisan manusia. Kinan berada pada titik di mana ia mulai meragukan kekuasaan Sang Ilahi.
Kinan berbaring menyamping, menarik selimut menutupi dirinya. Matanya terpejam tapi sebenarnya dia tidak tidur. Matanya terus menangis memanggil ibunya.
Beni naik ke atas ranjang, Kinan segera mengusap air matanya. Pria itu merapat ke tubuhnya dan memeluknya sambil membelai rambutnya juga mengecup kepalanya berulang kali. Selalu begini, setelah disakiti secara fisik, Beni akan memperlakukannya dengan lembut. Tapi, apakah itu mengobati luka batinnya? Tidak, karena Kinan tahu, ia akan merasakan hal ini secara berulang kali. Beni akan tetap menyakitinya.
Kinan akhirnya tertidur dengan mempertanyakan keadilan Sang Khalik. Tidak tahu sampai kapan Beni akan insyaf. Tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan, tepatnya dipaksa bertahan.
Hancurnya rumah tangga Kinan, benar-benar membuat Kinan meragu bahwa Tuhan itu ada. Hatinya sudah diselimuti dengan kemarahan, menyalahkan takdir yang sangat buruk.
Sholat yang belum sempurna semakin ia hancurkan. Mukenah disimpan ke dalam lemari. Kinan menantang sang Ilahi. Engkau tidak ada! Engkau tidak adil! Aku tidak ingin mematuhiMu lagi. Di sifat penyayang yang selalu diagungkan! Keimanan Kinan benar-benar berada pada titik paling rendah.
Oh Kinan, malangnya nasibmu, kau tersesat. Celaka lah kau!
Samar-samar, Kinan mendengar suara Beni. Perlahan ia membuka mata, ia ambil ponsel untuk melihat jam. Ternyata sudah hampir jam sembilan pagi. Jika sudah siang begini, kenapa Beni berbisik-bisik.
"Beni hanya ada sedikit, Pak. Bapak ambil ini saja kalau begitu. Benar, Pak, Beni tidak bohong. Sisa ini."
Pernahkah kalian merasakan goncangan yang lebih hebat dari goncangan gempa dan tsunami? Detik ini, Kinan merasakan hal itu, goncangan yang teramat dahsyat yang membuat dunianya hancur seketika. Ayahnya meminta barang haram kepada Beni dan Beni memberikannya.
Apa lagi yang lebih menyakitkan daripada menyaksikan dua pria yang begitu berarti dalam hidupmu, berkomplot untuk menghancurkan hatimu?
Bagaimana bisa ayahnya melakukan hal memalukan ini? Inikah alasan Beni begitu mudah menyakitinya karena ayahnya sendiri tidak menunjukkan sikap yang mengayomi, melindungi putrinya.
"A-apa yang kalian lakukan?" Entah mendapat kekuatan dari mana Kinan mampu bersuara.
Kedua pria itu menoleh dan sama-sama terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, Ayah?" air mata Kinan jatuh tanpa permisi. "Kamu menjatuhkan harga diri di hadapan pria yang menikahi putrimu hanya karena ingin memuaskan nafsu sesatmu. Kamu sungguh meminta barang itu kepada suami Kinan? Sejak kapan Ayah tahu dia seperti itu? Sejak kapan Ayah tahu Beni sama seperti Ayah? Pecandu gila yang sudah tidak terselamatkan? Pernahkah Ayah berpikir bahwa aku juga mengalami apa yang Ibu rasakan saat bersamamu, Ayah?"
"Apa maksudmu, Kinan?" Tanya ayahnya bingung bercampur kaget melihat penampilan Kinan yang berantakan. Mata sembab dan pipi lebam akibat tamparan yang didapatkan dari Beni. "Ada apa denganmu, dengan wajahmu? Kamu menangis?"
"Lalu aku harus apa, Ayah? Tertawa? Haruskah aku tertawa bahagia melihat ini? Melihat ayahku dan suamiku sama-sama tersesat, sama-sama dikuasai narkoba dan kehilangan rasa malu, rasa sungkan satu sama lain? Haruskah aku tertawa saat mendapat perlakuan kasar dari suamiku."
"Kinan..." Beni bersuara.
"Katakan Ayah, haruskah aku tertawa saat suamiku tidak menghargaiku lagi di depan teman-temannya? Katakan Ayah, apakah Ibuku juga merasakan ini? Apa rasa sakitnya sama?"
Pak Mus dibuat kehilangan kata-kata. Meski bukan Ayah yang penuh tanggung jawab, ia tetap merasakan hancur saat melihat putrinya hancur. Tapi apakah itu bisa mengembalikan keadaan? Kinan berada pada tahap trauma yang mulai menguasai dirinya.
"Hari ini aku menemukan jawaban kenapa aku bernasib seperti ini? Ayah yang harusnya menjadi orang pertama yang merangkul juga melindungiku ternyata berperan dalam menghancurkanku. Jika Ayah yang merupakan cinta pertama bagi anak-anak perempuannya, menjadi patokan penilaian terhadap pria mereka kelak, tidak heran aku menemukan jodoh yang seperti ini. Kamu menghancurkanku, Ayah? Aku menerima karma dari perbuatanmu. Ayah menyakiti Ibu begitu dalam, menyakiti hati para wanita di luar sana. Kini aku disakiti oleh suamiku. Aku mendapat kekerasan seperti yang kamu lakukan pada ibuku. Lalu, sekarang Ayah bertanya apakah aku sedang menangis?"
Pak Mus menatap Beni dengan bengis, mempertanyakan apakah yang dikatakan Kinan benar adanya. Beni hanya menundukkan kepala dan meminta maaf.
Pak Mus mengajak Kinan untuk ikut bersamanya, Kinan menolak dan memilih bertahan sampai sebatas ia mampu.
"Jika Ayah terluka menyaksikanku seperti ini. Tolong nikmati rasa sakit itu, Ayah. Karena aku juga sedang menanggung beban kesalahanmu. Teruslah Ayah, terus lakukan kebiasaan burukmu." Kinan berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar.