
" Lo udah selesai? Kalau udah buruan kita pulang yok, capek banget gue hari ini," ujar Radith setelah menyelesaikan potongan terakhir yang ada di piringnya.
Luna menggeleng sambil mengunyah potongan terang bulan yang sungguh lezat baginya. Radith menghela napas dan membiarkan Luna dengan dunianya sementara dia memainkan ponselnya sambil menunggu Luna selesai.
" Lagian Lo capek kenapa coba? Ngerjain tes lima belas menit sisanya Cuma tidur, terus habis itu langsung pulang, emang capek?" tanya Luna sambil memasukkan lagi satu potong ke dalam mulutnya. Radith tak melihat ke arah Luna, lelaki itu tetap menatap ke layar ponselnya dan menyeruput sisa cairan yang ada di dalam gelasnya.
" Dari sekolah ke sini gue ngeboncengin anak Buto Ijo, Lo ikir gak capek?" tanya Radith dengan nada tanpa dosa, membuat Luna langsung mengomel dan memukul Radith dengan kesal, namun Radith malah tertawa cukup keras karna berhasil membuat Luna berpikir sebelum akhirnya merasa kesal sendiri saat tahu Radith hanya menggodanya.
" Lo buruan sih habisin semua, gue juga masih banyak urusan, gak ada istirahatnya tahu gak sih," ujar Radith yang akhirnya merasa jenuh dengan ponsel yang dipegangnya, lelaki itu ingin segera pulang dan menyelesaikan urusannya sehingga dia bisa segera bersantai tanpa beban pikiran yang mengganjal.
" Apa emang urusan Lo? Makan, Tidur, main, makan, tidur, main, tidur lagi, makan lagi, main lagi, gitu terus tanpa istirahat?" tanya Luna dengan sengit sambil menghabiskan potongan terakhir yang ada di piringnya.
Radith bertepuk tangan dan menunjukkan jempolnya setuju dengan apa yang Luna katakan, memang itu lah yang dia maksud pada awalnya.
" Lama – lama Lo bisa jadi cenayang udah bisa baca pikiran gue, keren lo, kern banget," ujar Radith dengan salut dan heboh, Luna yang melihat itu langsung memutar bola matanya dengan malas dan berdiri dari sana meninggalkan Radith yang masih duduk santai di tempatnya.
Luna berjalan ke arah kasir dan membayar semua makanan dan minuman mereka lalu keluar dari tempat itu tanpa menunggu Radith.
" ***** malah ditinggalin gue nya," ujar Radith yang langsung bergegas dari tempatnya dan menyusul Luna ke tempat parkir. Radith terkekeh melihat Luna yang bosan menunggu kehadiran Radith karna setelah melihat Luna menunggu, Radith malah memilihh melambatkan jalannya.
" Gue kira Lo bantuin mbak – mbaknya cuci piring, lama banget sih keluarnya?" tanya Luna dengan sengit, namun Radith tak mau kalah, lelaki itu masih tersenyum geli seolah menggoda sekaligus mengejek Luna yang seperti mati kebosanan menunggu Radith. Lelaki itu mengulurkan helm untuk Luna dan menaiki motornya.
" Gue kira Lo mau pulang sendiri, makanya tadi gue kenalan dulu sama mbak – mbak cakep di dalam, lumayan gue dapat nomornya," ujar Radith yang seratus persen berbohong.
Sejak waktu yang lama, Radith tak tertarik dengan gadis manapun kecuali Luna dan Blenda. Yah, Blenda adik kecilnya yang tak akan pernah lebih dari itu. Dan Luna…
Radith mengantarkan Luna yang malah badmood ke rumahnya, di sepanjang perjalanan Radith terus mengoceh untuk membujuk dan menaikkan mood gadis itu, namun Luna tetap tak menjawab apapun yang dia katakan, membuat lelaki itu menyerah dan memilih untuk fokus pada motor yang dia kendalikan agar dapat sampai di rumah Luna dengan selamat.
" Gue gak mau tahu, kalau Lo lagi PMS, ada masalah atau gak mood, jangan gue yang jadi sasarannya dong, masak gue yang didiemin kayak tadi? Gak betah gue rasanya. Gak mau tahu, besok Lo gak boleh gitu lagi," ujar Radith menuding Luna yang masih memandangnya sinis.
" Apa urusannya sama gue?" tanya Luna dengan tenang sambil masuk ke dalam rumahnya. Radith langsung turun dari motor dan memegang lengan Luna agar gadis itu tak melangkah lagi.
Luna membalikkan badannya dan menunggu Radith menyampaikan sesuatu. Wajah Luna sangat datar dan tanpa minat, seakan sengaja untuk mendiamkan Radith.
" Terserah ada urusannya sama Lo atau enggak, gue gak bisa lihat Lo ambil peran gue sebagai sosok yang dingin. Gue gak bisa lihat Lo diam aja dan sinis ke gue. Gue gak mau lihat Lo yang kayak gini lagi.
Karna Lo yang ceria adalah obat lelah buat gue, warna di hidup gue dan gue butuh itu semua. Gue balik dulu," ujar Radith dengan serius dan langsung melepaskan tangan Luna.
Lelaki itu menaiki motornya tanpa melihat ke arah Luna lagi, dia melajukan motornya meninggalkan Luna yang masih mematung tak percaya dengan apa yang Radith katakan. Meski otaknya sedikit tak mengerti, namun dia masih menangkap maksud dari perkataan Radith.
" Bodo amat lah, paling juga lagi kumat. Gue tebak besok udah dingin dan seakan gak terjadi apa – apa, emang ngeselin tuh anak," ujar Luna sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah untuk belajar materi ujian yang diujikan esok hari.
*
*
*
" Daddy, Daddy lihat kan? Luna bisa dapat semua diatas delapan puluh, bahkan buat mata pelajaran jurusan yang Luna gak ngerti sama sekali," ujar Luna menunjukkan Rapot bayangan yang dibagikan oleh pihak sekolah untuk ditanda tangai oleh orang tua atau walinya. Mr. Wilkinson mengambil selembar kertas berisi nilai itu dan membacanya.
" Oke bagus, Daddy bangga sama kamu, Daddy gak nyangka kamu bisa dapatkan semuanya dengan motivasi yang seperti ini. Daddy harap kamu bisa semakin berkembang, semakin baik hati dan semakin bikin daddy bangga dengan kamu yang sudah banyak berubah. Mari kita rayakan nilai kamu ini," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Luna menggeleng sebagai jawaban.
" Luna gak mau dad, kan Luna masih butuh banyak uang buat keinginan Luna yang gak murah itu, apalagi untuk mencari dokter, alat, obat dan sebagainya itu. Luna rasa akan membutuhkan biaya yang sangat – sangat besar. Walau sebenarnya kak Darrel udah menyanggupi semua biayanya karna itu kan bagian dari permintaan Luna."
" Maksud kamu?" tanya Mr. Wilkinson yang memotong pembicaraan Luna. Beliau masih tidak tahu tentang enam permintaan yang Luna miliki untuk dikabulkan.
Perjanjian itu pada awalnya memang antara dia dan Darrel, namun keduanya sadar keinginan Luna tetap harus mendapat persetujuan dari Jordan dan papanya.
" Waktu pertama kali Luna tahu Luna menderita ataksia, kak Darrel bujuk Luna untuk minum obat dengan janji mengabulkan permintaan Luna sebanyak obat yang Luna minum. Waktu itu ada enam obat dan kak Darrel bakal kabulin enam permintaan Luna. Permintaan luna yang pertama mau bikin rumah sakit khusus untuk anak kanker itu."
" Kak Darrel bilang kalau semua biaya bakal dia yang tanggung karna dia memang bertugas untuk mengabulkan permintaan Luna. Tapi kan biayanya sangat besar dad, Luna harus bantu agar kak Darrel tidak terlalu kesusahan," ujar Luna yang akhirnya menjelaskan semua pada Mr. Wilkinson yang diangguki oleh beliau.
" Kalau gitu semua uang yang Daddy janjikan langsung daddy realisasikan ke pembangunan aja ya? Sekaligus nanti Daddy bicara sama Darrel untuk ke depannya, kamu tenang aja, keinginan yang mulia tidak akan ditolak oleh tuan Wilkinson yang baik hati," ujar pria tua itu dengan wajah sombongnya. Luna tertawa dan mengacungkan jempolnya untuk menanggapi perkataan papanya itu.
Perlu waktu berbulan – bulan untuk membangun rumah sakit yang besar dan cukup mewah itu. Luna sangat antusias dan bahagia melihat setiap perkembangan dari pembangunan itu.
Untuk urusan perijinan dan lain – lain Luna serahkan kepada bang Jordan dan papanya. Tugas Luna hanyalah belajar dan menunggu rumah sakit itu siap beroperasi.
" Kak Darrel, terimakasih karna kak Darrel udah mau kabulin permintaan yang sebenarnya menurut Luna mustahil untuk terjadi, Luna bahagia sekali," ujar Luna yang berada di sebelah lelaki itu. Darrel terkekeh dan mengacak – acak rambut Luna dengan gemas. Dia tak mengatakan apapun karna bahkan dia tak menyangka bisa melakukan hal seperti ini dalam hidupnya.
" Kamu tahu? Impian kamu itu ternyata kebahagian buat aku. pertama kali dalam hidup aku, aku merasa berguna untuk orang lain yang tidak aku kenal. Terima kasih ya karna kamu udah buka jalan bagi aku untuk melakukan itu. Aku sayang sama kamu," ujar Darrel sambil mengecup puncak kepala Luna dengan tulus.
" Luna setuju, terserah pada Daddy mau dedikasikan pada siapa atau kasih nama umah sakit itu apa. Bagi Luna yang penting adalah fungsi rumah sakit itu bagi orang lain, Luna udah sangat bahagia. Terima kasih Daddy," ujar Luna dengan senyum yang mengembang di mulutnya.
" Mulai minggu depan aku bakal jarang ada waktu buat kamu, kamu harus bener – bener bisa jaga diri ya Lun, aku gak mau kamu kenapa – napa, aku gak mau kamu celaka atau apapun itu, aku minta maaf banget karna mulai minggu depan kan udah semester dua, lebih padat karna dekat UN."
" Kak Darrel itu tenang aja, Luna bisa jaga diri. Dokter itu benar, kalau Luna bahagia dan berpikir positif, pasti gak akan kambuh lagi, nyatanya udah beberapa bulan ini Luna gak kambuh sama sekali. Luna bahagia," ujar Luna merangkul lengan Darrel untuk pergi dari sana dan masuk ke dalam mobil Darrel.
Keesokan harinya, tuan Wilkinson benar mengadakan syukuran yang sangat besar untuk mereka. Luna sempat geger dan menolak ide yang menurutnya sangat memboroskan uang ini, namun Mr. Wilkinson memaksa dan tetap ingin melakukan hal ini sebagai hadiah. Luna akhirnya menyerah dan menuruti saja apa yang diinginkan oleh papanya.
Banyak yang hadir dalam acara itu, termasuk Radith dan ketiga teman Luna. Danesya sendiri malah belum terlihat di acara itu, membuat mereka menunggu Danesya sebelum memulai acara, tak berapa lama Danesya datang membawa seseorang yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Kaki Luna langsung melemas sampai terduduk melihat kehadiran orang itu.
Secara Reflek Radith langsung berdiri di depan Luna agar gadis itu tak melihat tamu tak terduga itu.
Sementara Darrel yang tak tahu menahu masalah ini langsung berjongkok di dekat Luna dan memegang pundak gadis itu. Darrel menatap siapa yang datang dan langsung merasa tak asing dengan wajah itu.
" Ngapain Lo ke sini lagi?" tanya Radith dengan nada yang lantang, membuat tamu itu menghentikan langkahnya dan menatap Danesya dengan tatapan takut, namun Danesya memegang tangan orang itu dan tetap mengajaknya untuk mendekat.
Hal yang dilakukan Danesya tentu membuat semua orang yang ada di sana semakin terkejut, tak terkecuali Mr. Wilkinson.
" Danesya Azura!"
" Papa, perkenalkan. Ini tamu Danesya, teman Danesya. Papa bilang boleh bawa teman dekat Danesya kan? Danesya bawa Roy, gak masalah kan pa?" tanya Danesya dengan tenang seakan hal itu bukanlah masalah yang besar.
" Bukan masalah? Apa maksud kamu bukan masalah? Dia adalah sumber masalah! Lekas panggil security!"
" Jika papa lakukan itu, Danesya juga akan pergi dan gak akan pernah kembali lagi. Papa gak akan pernah melihat wajah Danesya lagi!" sekali lagi , Danesya membuat semua orang yang melihat hal itu semakin terkejut dan memandang mereka dengan mata yang terbuka. Danesya tak gentar sedikitpun, gadis itu seakan menantang apa yang akan diputuskan oleh papanya.
" apa maksud kamu membawa orang itu? Kamu kenal dia dimana? Kamu gak tahu apa yang sudah dia lakukan ke adik kamu? Kamu lihat? Luna bahkan gak bisa melupakan kejadian itu, dia sampai ketakutan seperti itu. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Danesya tak bisa menahan matanya yang terus memerah.
" Papa yang bilang sendiri ke Nesya bahwa setiap manusia berhak memiliki kesempatan kedua. Apa menurut papa Roy bukan manusia? Nesya rasa dia juga berhak mendapat kesempatan itu. Ya, Nesya tahu apa yang udah dia lakuin, Nesya sangat tahu betapa berbahayanya dia ada di sekitar kita. Tapi dia juga berhak untuk berubah dan dianggap tidak berbahaya pa."
Nesya menjatuhkan air mata yang menggambarkan kekecewaan saat melihat banyak pasang mata menatap mereka sengan sinis dan penuh kebencian. Bukan untuknya, tapi untuk seseorang yang sampai saat ini tidak dia lepaskan genggamannya.
" Gue udah bilang sama Lo, gue gak usah datang ke sini. Gue Cuma trouble maker dan itu gak akan pernah berubah, gue pergi aja biar gak tambah rusuh, gue gak mau lo nangis kayak gini. Gue pergi ya," ujar lelaki itu berusaha melepaskan genggaman Nesya yang sangat erat. Nesya masih tak mau melepaskan tangannya dari lelaki itu.
" Luna rasa Danesya benar. Kalau memang Roy bisa berubah dan mau untuk berubah, kita harus kasih kesempatan buat dia buktiin semua, kita harus lihat perubahan dia tanpa mengasingkan dia. Luna percaya setiaap orang jahat masih memiliki hati nurani yang membantunya berubah."
Kali ini semua mata itu menatap ke arah Luna yang berusaha berdiri dengan bantuan Darrel. Lelaki itu sama sekali tak melepaskan tangannya dari lengan Luna agar gadis itu tidak terjatuh lagi.
Luna menyadari dia harus memberi kesempatan pada Roy seperti dia memberi kesempatan pada Lucy.
" Maaf, saya tahu bukan waktu saya untuk bicara, tapi menurut saya Roy berhak diberi kepercayaan kedua. Sama hal nya saya yang sudah melakukan kesalahan terbesar dan Luna tetap mau berteman dengan saya, Roy juga berhak mendapatkan hal itu. Saya tidak mau Roy terus terjebak dalam dunia gelap dan tak ada tangan yang mau terulur untuk membantunya bangkit dari dunia itu."
Mr. Wilkinson tampak memijat kepalanya dan menghela napas panjang berkali – kali. Beliau melihat Roy yang terus menunduk tanpa berani melihat ke siapapun, beliau juga melihat tangan Danesya yang tertaut di tangan lelaki itu.
" Entah apa hubungan yang Danesya miliki bersama lelaki itu dan entah apa yang membuat kalian semua berpikiran sama. Tapi kalian benar, kau membutuhkan kesempatan kedua untuk memberitahukan pada kami bahwa kau bisa berubah. Jangan pernah sia – siakan kepercayaanku dan jangan pernah sakiti keluargaku lagi. Kamu mengerti?"
Roy mengangkat kepalanya dengan kaget. Dia memandang Danesya yang tersenyum ke arahnya, tidak menyangka hal seperti ini terjadi di hidupnya. Dia menganggukkan kepalanya berkali kali dan menjabat tangan Mr. Wilkinson setelah melepaskan tautan tangan dengan Danesya.
" Terima kasih, terima kasih banyak. Saya akan lakukan yang terbaik di kemudian hari. Makasih ya semua, gue gak nyangka bakal ketemu orang – orang kayak kalian di hidup gue. Luna, maaf untuk kejadian yang lalu lalu dan makasih udah mau maafin gue."
Luna mengangguk dan tersenyum. Luna sadar semua hal buruk harus selesai satu persatu, dia ingin di sisa hidupnya tanpa dendam, tanpa ketakutan dan tentu saja penuh dengan cinta dari orang di sekelilingnya. Luna ingin semua berakhir dengan bahagia.
Radith ikut menjabat tangan Roy dan menepuk pundaknya. Jika Luna saja bisa memaafkan lelaki itu, Radith harus melakukan hal yang sama seraya berdoa semua akan semakin baik di kemudian hari.
Sisa waktu mereka di isi dengan candaan dan obrolan menyenangkan, sampai acara berakhir dan hanya tersisa ramah tamah diantara para tamu.
Ponsel Radith berbunyi dan menampakkan nomor asing berkode negara +1. Perubahan raut wajah Radith saat melihat nomor itu membuat Luna dan yang lain menatap Radith dengan penasaran.
Lelaki itu akhirnya mengangkat panggilan tersebut dan memelototkan matanya seketika. Ponsel Radith terjatuh dan lelaki itu memegang kepalanya yang tiba – tiba terasa berat.
" Gue harus ke US sekarang. Blenda kritis."
Lelaki itu langsung mengambil ponselnya dan berlari dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Menyisakan rasa bingung diantara orang – orang itu.
Mr. Wilkinson yang pertama kali menyadari keadaan dan mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak rumah sakit yang merawat Blenda di USA.
" Kondisi Blenda mengkhawatirkan dan dokter tidak mampu melakukan apapun lagi untuk menyelamatkannya. Radith harus segera pergi ke USA, karna itu permintaan terakhir Blenda. Daddy akan urus semua dulu," ujar Mr. Wilkinson yang langsung bergegas dari sana meninggalkan mereka yang mendadak hening.
" Blenda," lirih Luna menatap langit ballroom tempat syukuran itu diadakan.