
Luna bersiap dengan riasan yang seadanya, saat sudah merasa cukup, gadis itu langsung mengambil barang yang dia perlukan dan pergi dari kamarnya, dia bisa melihat Lira yang masih sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Gadis itu selalu nampak sibuk, namun saat Luna mendekat, dia akan berkata tak ada yang sedang dia lakukan.
" Lo serius bakal pergi ke sana? Kenapa gue masih gak yakin sih Lun? Kenapa Lo gak kapok – kapok sih Lun? Lo gak takut kalau dia sebenernya jahat dan mau nyelakain Lo?" tanya Lira yang membuat Luna menghela napasnya. Gadis itu tentu merasa was – was, namun dia tetap harus pergi, dia tak bisa hanya berdiam dan tak melakukan hal pun sampai akhir hayatnya.
Luna ingin memiliki kegiatan sendiri, seperti Danesya yang menjadi super model, Luna juga ingin mengikuti jejak kembarannya itu. Wajah mereka sama, Lun atentu juga bisa kan melakukan pekerjaan itu? Luna yakin menjadi model tak akan sulit dan dia bisa melakukannya sendiri.
" Gue bosan kalau harus di rumah dan Cuma jalan – jalan, gue gak mau kalau harus pindah negara lagi, gue nyaman ada di sini dan gue nyaman sama orang - orang yang ada di sini. Kegiatan kayak gini gak akan bikin gue dalam masalah, lagipun gue bakal langsung keluar kalau memang gue gak cocok," ujar Luna yang membuat Lira terdiam.
" Ya udah terserah Lo aja deh, toh bakal ada pengawal yang ngurus Lo. Eh tapi gue gak bisa antar atau gak bisa temenin Lo, gue lagi sibuk banget ini. Lo gak papa kan? Lo bisa jaga diri gak?" tanya Lira yang membuat Luna mengangguk yakin, tempat pemotretan mereka tak jauh dari rumah ini hingga Luna tak begitu mmebutuhkan kehadiran Lira.
" Oke deh, kalau gue butuh apa – apa gue bakal telpon Lo. Karna gue Cuma bisa bahasa Inggris sama bahasa Indonesia aja. Mana tahu gue ditangkap satpol pp terus gak bisa jawab kan?" tanya Luna yang membuat Lira memelototkan matanya. Luna terkekeh dan langsung pergi dari tempat itu, Luna keluar dari rumah dan segera berjalan kaki ke tempat tujuan.
" Hai, kau datang juga. Aku sudah menunggumu. Kau bisa pergi ke tempat itu, akan ada orang yang memberikan baju dan meriasmu. Terima kasih sudah mau datang," ujar Leo dengan senyumnya. Luna mengangguk dan langsung pergi ke tempat yang ditunjukan oleh Leo.
Di ruangan itu tampak kesibukan yang luar biasa. Banyak gadis muda seperti Luna yang mulai di make over dan memakai baju yang bagus. Luna tak tahu harus pergi kemana dan dia hany berdiam diri di tempat itu. sampai akhirnya Leo teringat jika Luna tak bisa berbahasa korea, lelaki itu langsung pergi ke tempat Luna berdiri.
" Maafkan aku, aku lupa jika kau tidak bisa berbahasa Korea. Sebentar, aku akan memanggil orang yang akan mengurusnmu," ujar Leo yang membuat Luna mengangguk sopan, gadis itu langsung melihat seseorang yang dipanggil oleh Leo, orang itu membungkuk di hadapan Luna dan Luna juga melakukan hal yang sama.
Leo membicarakan beberapa hal dengan orang itu, tentu saja hal yang Luna tak mengerti. Sepertinya mereka membicarakan apa yang harus Luna kenakan untuk sesi foto kali ini. Orang itu tampak mengangguk – anggukan kepalanya dan langsung tersenyum lebar menatap Luna, dia mengajak Luna untuk menuju sebuah lemari yang besar dimana banyak baju berada.
" Apakah baju ini pernah digunakan orang lain sebelumnya?" tanya Luna menggunakan bahasa Inggris. Orang itu langsung meemiringkan kepalanya dan menatap Luna dengan bingung, dia tak mengerti apa yang Luna katakan. Luna yang mengingat hal itu langsung menggelengkan kepalanya dan tersenyum, membuat orang itu mengangguk dan memilih baju untuk Luna.
Luna tentu merasa khawatir jika dia akan merasa tak nyaman dan bahkan jijik dengan baju – baju ini. Dia tak tahu siapa saja yang sudah memakai baju ini, tentu Luna tahu baju ini tak bersih lagi dan entah sudah berapa banyak kuman yang ada di sana. Tolong jangan anggap Luna berlebihan, mungkin kalian ingat jika Luna memiliki Mysophobia ringan.
Gadis itu memejamkan matanya dan meyakinkan dirinya jika baju yang akan dia pakai tidak kotor dan tidak akan membuatnya dipenuhi oleh kuman. Meski enggan, dia tetap memakai baju yang diberikan padanya dengan senyumnya, dia segera menyemprotkan parfume yang mengandung alkohol 70%, setelah merasa puas, dia langsung mengenakan baju itu.
" Wah Lunettta, gimana caranya Lo tetap cantik pakai baju apapun coba? Lo harusnya bangga sama diri Lo sendiri. Lo cakep banget pakai ini," ujar Luna yang berputar mengenakan dress beberapa senti di atas Lutut. Dress itu memiliki belahan dada yang tak tinggi, tak juga rendah. Dress yang dia pakai tampak sempurna di tubuhnya.
Luna keluar dari dalam ruang ganti itu dan menghampiri coordi noona ( seseorag yang bertanggung jawab untuk penampilan idol / artis / model ) yang ada di sana.Coordi noona itu tampak kagum dengan Luna yang terlihat anggun dan lembut. Gadis itu tak mengerti, namun karna orang di hadapannya tersenyum, tentuLuna juga harus tersenyum padanya.
Coordi noona itu membawa Luna ke depan kaca dan mendudukkan Luna di sana. Orang itu mulai mengambil alat make up dan menyapukan kuas make up itu, membuat wajah Luna yang tampak natural lebih dihiasi oleh warna, namun tak membuat Luna tampak norak, apalgi membuat wajah gadis itu tampak tua. Coordi Noona itu melakukan yang terbaik untuk Luna.
" Wah, make up orang korea keren banget. Ini gue di make up tapi tetap natural banget," ujar Luna yang membuat Coordi Noona itu bingung. Luna menggelengkan kepalanya dan tersenyum, seolah mengtakan pada Coordi Noona itu dia baik – baik saja. Coordi Noona itu mengangguk paham dan mengajak Luna untuk berdiri.
" Wah, kau tampak sangat menawan, cantik sekali. Aku memang tak pernah salah memilih model. Kau bisa menunggu giliranmu. Kau akan menjadi model untuk produk tas ini. Untuk latarnya akan segera disiapkan. Kau bisa menyiapkan dirimu untuk pose yang terlihat natural. Aku percaya kau bisa melakukannya," ujar Leo yang membuat Luna tersenyum sopan.
" Kau tidak harus terlalu pendiam padaku. Aku bukan orang kahat dan aku juga tak akan bertindak senioritas padamu. Kita ini rekan, kau bisa menganggapku temanmu," ujar Leo yang membuat Luna bingung harus menjawab apa. Dia memang tak memeiliki banyak teman dan sulit untuk terbuka dengan teman baru.
" Maaf, aku tidak terbiasa bersikap seperti itu. aku akan berkerja dengan baik, mohon bimbingannya, tapi untuk menjadi teman. Aku tidak bisa membuka pertemananku dengan luas, aku harap kau tidak mempermasalahkan hal itu dan tak tersinggung dengan ucapanku," ujar Luna yang membuat Leo tertawa, Luna sendiri sampai kaget mendengar tawa itu.
" Kau tahu? Kau sangat polos dan jujur. Kau memiliki aura yang baik hingga orang di sekitarmu akan merasa bahagia. Aku rasa aku menyukaimu. Semoga kau akan betah bekerja di tempat ini hingga kita sering bertemu. Semangat," ujar Leo sambil mengepalkan tangannya dan tersenyum lebar di hadapan Luna. Luna merasa terkejut dengan perkataan Leo, namun dia juga melega, Leo bukan orang yang menyeramkan untuknya.
" Aku harus pergi sekarang, kau silakan beristirahat dan bersiap. Aku yang akan memotretmu nanti. Maaf jika kau tidak berbicara dengan siapapun, mereka tak bisa menggunakan bahasa Inggris. Mereka semua orang baik, kau tidak perlu khawatir," ujar Leo yang diangguki oleh Luna. Gadis itu langsung duduk di tempat yang disiapkan oleh Leo.
Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap Leo yang tampak serius dengan kamera yang di pegangnya. Cahaya lampu dan latar yang bagus membuat model yang cantik itu tampak lebih 'indah' untuk dipandang. Tak heran, team pemotretan ini cukup besar dan banyak brand yang bekerja sama dengan Team Leo.
Ah, Luna tak begitu mengerti bagaimana sistematisnya, yang jelas dia tahu Leo sudah bekerja dengan banyak perusahaan dan Leo sudah cukup dikenal karna kemampuannya memotret model yang ada di sini. Bahkan Luna tak bisa berkedip melihat Leo yang bergantian mengamati kamera dan model yang ada di hadapannya.
" LUNA! Apa kau sudah siap? Sebentar lagi kau akan memulai sesi, hei, kau tolong siapkan tasa yang harus dibawa oleh gadis itu," ujar Leo yang memakai bahasa Inggris dan bahasa Korea dengan baik. Orang – orang itu langsung mengganti set pemotretan untuk Luna dan mereka juga mengurus penampilan Luna dengan baik.
Luna langsung berdiri di hadapan Leo dan mengatakan bahwa ini adalah kali pertama gadis itu melakukan pemotretan seperti ini. Leo bisa memaklumi itu dan memandu Luna dengan sabar. Luna memiliki otak yang cukup cerdas, gadis itu mampu menangkap apa yang diajarkan oleh Leo dengan cepat.
" Kau sangat cerdas dan cepat belajar. Aku yakin kau akan menjadi model yang hbat suatu hari nanti. Apa kau percaya dengan hal itu?" tanya Leo yang membuat Luna menggaruk lehernya. Dia bahkan tak begitu melakukannya dengan baik, namun Leo terus memujinya dengan berlebihan.
" Apa hubunganmu dengan Leo? Kenapa kalian dekat sekali? Apa kau kekasihnya?" tanya salah seorang staff yang memegang sterofoam di hadapan Luna. Orang itu menggunakan bahasa korea dan Luna tak mengerti apa yang orang itu katakan. Luna hanya tersenyum, membuat orang itu menganggap Luna sombong dan bersiap untuk menyentak gadis itu.
" Ya! Jangan pernah berniat untuk memebullynya, dia tak memiliki masalah denganmu. Aku bertemu dengannya di suatu tempat dan aku yang memintanya datang. Dia bukan kekasihku, mungkin belum. Jadi kau tak perlu membullynya seperti itu. dia juga tak bisa bahasa korea, jangan merepotkan dirimu," ujar Leo yang membuat orang itu berdecih dengan kesal.
" Jangan khawatir. Dia hanya mengatakan bajumu tak cukup baik, dia ingin yang terbaik untukmu. Tapi bagiku baju ini sangat anggun dan indah, sangat cocok untukmu. Apa kau tidak keberatan? Apa kau mau mengganti bajunya sesuai permintaan orang itu?" tanya Leo yang membuat Luna menggelengkan kepalanya.
Pemotretan berakhir dan mereka mulai membereskan tempat yang digunakan oleh Luna. Leo beristirahat dan membiarkan rekannya untuk mengambil foto sementara dia menemani Luna yang sudah berganti pakaian lagi. Mereka keluar dari gedung itu bersama, membuat Luna merasa tak enak karna Leo sengaja hendak mengantarnya, padahal dia masih memiliki pekerjaan di tempat ini.
" Apa kau datang sendirian di tempat ini? Lain kali aku akan menjemputmu. Terlalu berbahaya untuk pergi keluar sendirian," ujar Leo yang membuat Luna terdiam. Dia sudah biasa berlalu lalang ke tempat ini dan tak pernah menemukan hal aneh. Apakah ini hanya alasan Leo agar bisa lebi hdekat dengannya? ( astaga, kenapa Luna memiliki tingkat kepercayaan diri yang berlebih?)
" Jangan berpikir buruk tentangku, kau tidak bisa berbahasa korea, aku yakin kau belum bertahun tinggal di negara ini. Kau tahu? Di negara ini pun banyak orang jahat, mereka bisa saja bertindak nekat dan menjebakmu. Bahkan sudah banyak orang yang tak bersalah dipaksa melakukan sesuatu yang menjijikan demi keuntungan oknum tertentu."
" Bagaimana aku yakin kau bukan salah satu dari mereka?" tanya Luna yang membuat Leo terkekeh. Lelaki itu menggelengkan kepalanya dan menatap Luna, awalnya dia mengira Luna bercanda, namun saat melihat wajah gadis itu, Leo tahu jika Luna serius.
" Jika aku salah satu dari mereka, aku tak mungkin membuatmu tahu hal ini, aku bahkan akan menangkapmu sekarang juga. Aku sudah bilang padamu jika aku bukan orang jahat, kau tak perlu khawatir. Aku bahkan tak mau mempertaruhkan reputasiku sebagai fotografer internasional untuk hal menjijikan seperti itu," ujar Leo dengan tenang.
" Aku mencoba tak yakin pada ucapanmu, namun kau terdengar dan terlihat tulus. Aku akan percaya padamu untuk saat ini. Lagipula kau tak akan dengan mudah menyakitiku, aku memiliki banyak pengawal yang menemaniku tanpa kau tahu," ujar Luna berbisik pada telinga Leo.
Leo tampak menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan, namun dia tak melihat siapapun, dia menatap ke arah Luna lagi. Gadis itu tampak menahan tawanya, membuat Leo tersadar dia telah dikerjai oleh Luna. Lelaki itu tertawa dan menggelengkan kepalanya. Dia berjalan di sebelah Luna, dia benar mengantarkan gadis itu sampai ke depan rumahnya.
" Aku akan menjemputmu di sesi berikutnya, aku akan segera menghubungimu. Ah ya, aku baru ingat kita belum mebicarakan mengenai kemana aku akan mentranfer bayaranmu. Aku akan menghubungimu nanti, sekarang aku harus pergi, mereka pasti sudah menungguku," ujar Leo yang membuat Luna mengangguk. Leo langsung pergi dari hadapan Luna setelah membungkuk sebentar.
" Iya juga ya, kenapa gue percaya aja sama dia dan mau aja datang ke tempatnya. Bahkan gue gak kasih identitas apapun dan gak kasih rekening gue ke dia. Astaga Lun, kapan sih Lo gak ****?" tanya Luna yang menggelengkan pelanaya dan memukul kepalanya pelan.
" Bagus deh, bentar lagi dia ngehubungin gue dan gue bisa kontakan sama dia," ujar Luna pelan dan tanpa sadar.
Gadis itu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah dengan bahagia, pengalaman pertama dalam hidupnya yang berjalan lancar dan membuatnya merasakan dunia kerja yang sebenarnya.
" Selamat datang di hidup yang baru Luna."