Hopeless

Hopeless
Memancing Kekecewaan



Setelah menerima jamu dari sang ibu mertua, Faris segera masuk ke dalam dan tak lupa menutup serta mengunci pintu kamarnya. 'Apa ini jamu kuat?' Faris bertanya-tanya dalam hati, senyuman sumringah menghiasi bibirnya.


"Siapa, Kang?" tanya Nezia begitu Faria masuk ke dalam kamar.


"Ibu, Neng," balas Faris yang kemudian menuju sofa di sudut ruangan.


"Akang bawa apa?" Nezia kemudian mendekati sang suami dan duduk di dekat suaminya.


"Neng, kok sudah berpakaian?" tanya Faris yang bernada protes.


Ya, ketika Faris membuka pintu tadi, Nezia berganti pakaian dengan cepat.


"Ya, 'kan risih Kang kalau pakai handuk kayak tadi," balas Nezia.


"Itu minuman apa, Kang?" tanya Nezia kembali, sengaja mengalihkan pembicaraan karena sang suami menatapnya dengan tatapan berbeda, membuat jantung Nezia kembali berdebar.


"Aku juga kurang tahu, Neng. Kata Ibu, ini harus segera diminum selagi masih hangat." Faris kemudian memberikan satu gelas ramuan herbal tersebut kepada sang istri.


Wanita cantik yang telah sah menjadi istri Faris tersebut menerima minuman dari tangan sang suami dengan dahi berkerut dalam. "Minuman apa, sih?" gumam Nezia, bertanya pada diri sendiri.


"Dah, minum aja, Neng. Pasti baik manfaatnya untuk kita karena enggak mungkin Ibu memberikan minuman yang aneh-aneh pada kita," ucap Faris.


Nezia mengangguk. Mereka berdua kemudian meminum ramuan yang telah diracik sendiri oleh sang ibu, ramuan yang bermanfaat untuk menambah stamina agar kuat dalam menjalani malam yang panjang dan pastinya melelahkan nanti, yaitu malam resepsi pernikahan.


"Kang, udah mau maghrib. Akang enggak mandi, dulu?" tanya Nezia.


"Pengin mani, sih, Neng. Pengin keramas juga, tetapi kalau keramas sekarang, jadinya keramas sia-sia, dong," balas Faris seraya menatap sang istri dengan tatapan dalam.


Kembali Nezia mengerutkan dahi, mendengar perkataan sang suami yang selalu saja membuatnya bingung. "Keramas sia-sia?" tanya Nezia, tak mengerti.


"Iya, Neng. Sia-sia," balas Faris. "Kecuali kalau kita sudah ...."


"Ish, si Akang pikirannya ke sana melulu," sergah Nezia memotong ucapan sang suami, setelah dia paham maksud perkataan Faris.


Faris terkekeh pelan dan kemudian mengacak lembut puncak kepala sang istri.


"Waktu maghrib hampir tiba, Kang, tanggung," lanjut Nezia seraya tersenyum tersipu malu.


Faris semakin terkekeh. "Ya, kamu benar, Neng. Baru ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฑ dah harus terjeda karena maghrib," timpal Faris.


Pemuda ganteng itu kemudian beranjak. "Aku mandi dulu ya, Neng," pamit Faris.


Nezia pun segera beranjak untuk menyiapkan baju ganti buat sang suami.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Usai sholat maghrib berjama'ah untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami-istri, Faris memimpin membaca wirid dan kemudian berdo'a.


Pemuda yang kini telah bergelar sebagai suami tersebut, memohon kepada Sang Pencipta agar biduk rumah tangga yang baru saja dia bina diberikan kemudahan, kebahagiaan, dan keberkahan. Sakinah, mawaddah, warohmah, wabarokah, hingga kelak ke syurgaNya.


Usai berdo'a, Nezia kemudian menyalami sang suami dan mencium punggung tangan suaminya tersebut dengan takdzim, sebagai tanda penghormatan dirinya sebagai seorang istri kepada imamnya.


Pemuda yang mengenakan baju koko putih, dipadukan dengan sarung batik hitam, lengkap dengan peci hitam yang bertengger di kepala, kemudian mencium dahi sang istri dengan dalam, sebagai wujud rasa kasihnya terhadap wanita yang baru saja dia nikahi, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak Faris.


"Neng," panggil Faris setelah melepaskan kecupan di kening sang istri.


Nezia membalas tatapan Faris. "Iya, Kang."


"Boleh ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ด๐˜ด yang lain?" tanya Faris yang sudah mulai mendekatkan wajahnya kembali.


Nezia lagi-lagi berdebar. Istri Faris tersebut menggigit bibir, menahan gejolak perasaannya. Wanita cantik yang masih mengenakan mukena putih berenda itu kemudian membuka sedikit bibirnya, siap menyambut sang suami.


Faris semakin mengikis jarak di antara keduanya. Dekat dan semakin dekat dengan kedua netra yang saling bertaut dalam hingga bibir mereka berdua hampir saja menempel, ketika kembali terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Faris membuang kasar napas, sedetik kemudian terkekeh pelan seraya geleng-geleng kepala. "Momennya belum tepat ya, Neng," ucap Faris yang kemudian segera beranjak untuk membukakan pintu.


Nezia mengangguk, membenarkan. Istri Faris tersebut kemudian ikut beranjak dan merapikan sajadah serta mukena.


"Dirias sekarang ya, Nez," ucap sang ibu yang baru saja masuk bersama perias pengantin yang tadi sore merias Nezia.


"Iya, Bu," balas Nezia yang kemudian duduk di meja rias.


Sementara Faris yang berjalan mengekor di belakang sang ibu mertua, kemudian memilih duduk di sofa.


"Saya tinggal dulu ya, Mbak Dian," pamit Bu Nisa pada sang MUA.


"Baik, Bu," balas Mbak Dian, perias pengantin professional yang jasanya sering dipakai oleh keluarga besar Alamsyah dan Antonio.


"Mari, Nak Faris," pamit wanita anggun tersebut pada sang menantu.


Faris mengangguk hormat seraya tersenyum.


Sambil menunggu sang istri dirias, Faris membuka Al-Quran digital dan mulai melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara yang lirih, tetapi masih dapat didengar oleh sang istri yang sedang dirias.


Nezia merasa terharu mendengar suara sang suami yang sedang mengaji tersebut, terdengar merdu dan menenangkan hati.


Wanita cantik itu menatap sang suami melalui pantulan kaca besar di hadapannya dan dia tersenyum bahagia melihat wajah teduh suaminya, yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.


"Beruntung sekali ya, Mbak Inez, mendapatkan suami yang sholeh. Susah lho, Mbak, di jaman sekarang ini mendapatkan pemuda seperti suami Mbak Inez," puji Mbak Dian dengan suara pelan. Perias pengantin tersebut juga merasa kagum pada suami dari wanita yang saat ini dia rias.


"Iya, Mbak. Alhamdulillah," balas Nezia.


Tangan terampil Mbak Dian terus mengaplikasikan berbagai make up ke wajah bersih Nezia, hingga tak berapa lama istri Faris tersebut selesai dirias dan terlihat semakin cantik bak putri dalam dongeng.


"Shodaqallahul'adziim." Suara Faris yang mengakhiri bacaan Al-Quran, bersamaan dengan sang MUA yang selesai menata hijab Nezia lengkap dengan mahkota cantik di kepala.


"Wah, saya benar-benar puas lho, Mbak Dian. Ini bagus sekali, enggak terlalu mencolok," puji Nezia yang memang menginginkan riasan smooth.


"Terimakasih, Mbak Inez. Aslinya, Mbak Inez sudah cantik dan kulitnya juga sangat bersih. Jadi, memudahkan saya untuk merias," balas Mbak Dian, sejujurnya. Wanita berusia sekitar tiga puluh tahun tersebut, juga memuji customernya.


"Ya, Mbak benar. Istriku memang aslinya sudah cantik," timpal Faris, memuji sang istri. Pemuda tersebut tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat sang istri, seraya menatap istrinya melalui pantulan cermin di hadapan mereka.


Faris kemudian memeluk sang istri yang telah berdiri dari belakang, membuat pipi Mbak Dian memerah karena malu sendiri.


"Mbak Inez, saya permisi dulu ya," pamit Mbak Dian yang bergegas keluar dari kamar pengantin tersebut.


"Kang, malu-maluin aja, sih! Tadi kan masih ada Mbak Dian!" protes Nezia setelah perias wajah tersebut meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa harus malu, Neng. Kita 'kan udah sah menjadi suami-istri? Udah halal lho, labelnya di sini," balas Faris yang masih memeluk sang istri, seraya meremas lembut dada istrinya yang sudah berlabel halal tersebut.


"Kang, jangan mancing kekecewaan," ucap Nezia memperingatkan.


Dahi Faris berkerut. "Memancing kekecewaan?"


"Iya, kayak tadi itu, Kang. Dua kali percobaan, gagal," balas Nezia seraya tersenyum lebar.


Mendengar balasan Nezia, Faris tersenyum simpul. "Kali ini, enggak bakalan gagal, Neng." ucap. Faris, yakin.


"Cup."


โ˜•โ˜•โ˜•โ˜•โ˜• bersambung ...


Kalian yang menantikan malam pertamanya Faris dan Inez, jangan kecewa, yah ๐Ÿ˜„๐Ÿคญ