Hopeless

Hopeless
Beni Si Pocecip



Tidak terasa, Kinan dan Beni sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Semuanya aman dan terkendali. Percintaan kali ini berjalan mulus tanpa ada masalah dan pertengkaran berarti. Hanya saja Beni mulai posesif. Suka marah jika panggilannya tidak diangkat. Beni juga mulai membatasi pergaulan Kinan dan Kinan wajib lapor kepadanya di mana pun gadis itu berada.


Setiap hari Beni selalu datang ke rumahnya. Keluarganya sudah mengenal Beni, tapi Kinan tidak mengenal satu pun keluarga Beni. Yang ia tahu, Beni 3 bersaudara. Semuanya pria dan Beni adalah anak bungsu di keluarganya. Seperti apa rupa keluarga Beni, Kinan tidak tahu. Ah, ya, Kinan juga tahu alamat orang tua Beni. Masih satu kota hanya beda daerah. Kinan di utara, keluarga Beni di selatan.


"Cabut, yuk. Malas lihat tampang Pak Ali." Novi mengusulkan.


"Mau cabut kemana?" Bintang sepertinya juga malas untuk mengikuti mata kuliah pada hari ini.


Kinan tampak meragu mendengar ajakan temannya tersebut. Bagaimana nanti jika Beni menghubunginya. Ia tidak terbiasa berbohong. Tapi jika Novi dan Bintang cabut, mengikuti mata kuliah pasti membosankan.


"Jalan baru," Novi kembali mengusulkan. Jalan baru adalah tempat nongkrong yang sedang trend saat ini. Jalan baru di sini artinya memang jalan lintas yang memang baru dibuka pemerintah. Sebelum jalan itu diaspal, wilayah tersebut sering dijadikan area balap motor treker oleh anak muda. Kini jalan tersebut sudah mulus. Di sepanjang pinggiran jalan akan ada pondok-pondok atau pun cafe. Tempat yang paling diburu anak muda saat ini. Makanan yang disajikan sangat merakyat. Indomie, es kelapa muda, keripik singkong, nasi goreng dan jus. Hanya itu. Sangat pas di kantong para anak muda yang menganggur sekalipun.Pembeda antara toko yang satu dengan yang lain terletak pada rasa.


"Boleh, tapi kita naik apa ke sana?"


Wilayah jalan baru ini sudah dibuka sejak satu tahun lalu, tepatnya tahun 2010, tetapi Kinan belum pernah sama sekali ke sana. Beni tidak pernah mengajaknya ke sana.


"Naik angkot lah."


Dan faktanya, baik Kinan, Novi dan Bintang tidak ada yang bisa bawa motor. Pernah beberapa kali Kinan diajari Beni naik motor, tapi selalu gagal. Pasalnya, naik sepeda pun Kinan tidak mampu.


"Angkot masih sepi ke sana," protes Bintang. "Tapi seru juga ke sana," Imbuhnya kemudian. "Kinan, gimana? Dari tadi diam."


"Ah," Kinan menggaruk kepalanya yang ditutupi jilbab. "Gimana, ya?"


"Pasti takut Beni marah," tebak Novi tepat sasaran. Sekedar informasi, ternyata Novi dan Beni dulu satu sekolah saat SMA. Keluarga mereka juga saling mengenal. Kinan bukan gadis yang mau mengorek informasi kekasihnya dari orang lain, sekalipun itu sahabatnya. Ia tidak pernah melakukan wawancara secara khusus baik kepada Novi atau Nuri tentang kehidupan Beni.


"Tidak juga," Kinan merasa tidak enak hati. Sejak pacaran dengan Beni, ia memang jarang menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Jika tidak penting, Beni tidak akan memberinya izin.


"Kalau begitu tidak ada masalah. Kita sebaiknya pergi sebelum Pak Ali masuk," Novi melirik jam murahan di tangannya yang ia beli bersama Kinan dan Bintang. Jam tangan couple.


"Ya sudah," Ucap Kinan dengan ragu. Ia hanya bisa berdoa semoga Beni tidak menghubunginya. Dengan begitu ia tidak perlu mencari-cari alasan untuk berbohong kepada kekasihnya itu.


Dua jam kemudian, mereka sudah selesai menikmati makanan mereka. Mengambil beberapa foto yang filternya belum terlalu kejam.


Jam menunjukkan angka lima sore. Beni belum menghubunginya sama sekali. Biasanya setiap 30 menit sekali, Beni pasti mengirim chat. Tumben sekali Beni anteng, batin Kinan yang sudah menyetel nada deringnya dengan suara penuh.


"Dari tadi cek hape terus, kangen Beni, ya?" Novi menggodanya.


"Tumben dia tidak berisik." Bintang menimpali. "Yang, lagi apa? Sudah istirahat belum, Yang. Abang telepon Sayang, bentar, boleh?" Bintang menirukan gaya Beni yang memang benar selalu begitu. Novi dan Kinan tertawa melihat tingkah Bintang.


"Beni posesif, ya," ucap Bintang kemudian.


"Over," Kinan membenarkan.


"Aku kasihan pada Adi saat kita kerja kelompok. Sial benar nasib itu anak. Si Beni datang pas kamu sedang berbincang dengan Adi. Langsung ditatap dengan tajam dan diintimidasi. Siapanya Kinan?" Lagi, Bintang menirukan gaya Beni saat bertanya pada salah satu teman mereka.


"Terganggu, tidak?" Novi ikut bertanya.


Sejenak Kinan berpikir kemudian menggeleng. "Sejauh ini tidak. Mungkin karena aku memang bukan tipe wanita yang memiliki teman yang banyak dan gaul. Jadi aturannya yang ia terapkan tidak terlalu mengusik. Hanya saja aku tidak bisa keluar lagi bersama beberapa teman SMA-ku, seperti Juli, Ana, dan Nila."


"Kenapa? Nila anak ekonomi C, bukan?" Bintang menyeruput es kelapanya.


"Kata Beni, Nila bedaknya ketebalan dan gaya jalannya suka di atur-atur buat menarik perhatian pria. Entahlah, kenapa dia berpikiran seperti itu."


"Pantatnya si Nila 'kan memang bahenol." Perkataan Novi itu dibenarkan Bintang dan Kinan sendiri. "Tapi, ya, itu, Nila punya banyak teman pria. Mungkin sebenarnya itu alasan Beni melarang kamu temanan sama si Nila. Takut kamu pindah ke lain hati."


"Beni cinta sangat, ya, sama kamu. Aku suka iri lho sama perhatian Beni ke kamu. Pas kamu digigit binatang kecil yang jatuh dari pohon ceri di kampus yang menyebabkan jarimu bengkak sedikit, demi apa, dia langsung datang dan bawa kamu berobat. Padahal dikasih ludah juga sembuh."


"Kamu juga baru dikasih kalung, ya, sama si Beni." Novi menunjuk kalung yang keluar dari balik hijab Kinan.


"Iya, dua bulan lalu dia kasih ini." Kinan tersenyum simpul. Tidak ada angin tidak ada hujan, tidak ada badai dan tidak ada acara apa-apa, Beni langsung melingkarkan kalung tersebut ke lehernya pas pria itu mau pamit pulang. Duuh, manisnya.


"Pulang, yuk, keburu magrib." Ajak Kinan. Jam segini biasanya Beni sudah pulang bekerja. Pekerjaan yang belum diketahui gadis itu sama sekali.


"Ayo," Bintang segera mengeluarkan uang pecahan 20 ribu, begitu pun dengan Novi. Kinan segera beranjak menuju kasir untuk membayar bon mereka.


Setengah jam berlalu, matahari mulai tenggelam, angkot yang mereka tunggu tidak kunjung datang. Kinan mulai panik. Pasalnya, angkot beroperasi hanya sampai jam enam sore. Lalu mereka harus pulang naik apa?


"Gimana?" Bintang bertanya pada Novi yang berusaha menghubungi saudaranya agar datang menjemput mereka.


Di tengah kepanikan tersebut, ponsel Kinan berdering. Ketiganya terlonjak kaget dan melihat nama yang tertera di ponsel membuat tenggorokan Kinan kering seketika.


"Aku harus bilang apa?"


"Duh, angkat saja. Kamu minta Beni jemput kamu." Usul bintang. Karena temannya itu tahu Beni tidak akan pernah berhenti menghubungi Kinan selama gadis itu tidak menjawab panggilannya.


"Aku tidak pamit tadi."


Dua panggilan diabaikan. Ponsel kembali berdering. Kali ini bukan ponsel Kinan melainkan Bintang.


"Ya ampun, pacarmu benar-benar, ya, Kinan." Ya, jika Kinan sedang merajuk, Bintang menjadi sasaran Beni untuk tahu keadaan pacarnya di kampus.


Ponsel Bintang berhenti berdering.


"Siap-siap ponsel Novi ini."


"Beni tidak menyimpan nomorku," Cetus Novi singkat.


"Kenapa?" Bintang bertanya dengan polosnya.


Novi mengangkat kedua bahunya, "Mana kutahu. Mungkin dia tidak suka kali aku berteman dengan Kinan."


"Bukan, ih..." Kinan menyahut. Tapi pertanyaan kenapa Beni tidak menyimpan nomor Novi, ia juga tidak tahu. Nomor Bintang dan Nuri disimpan oleh Beni, begitu pun dengan nomor Vita. "Beni nelepon lagi, kuangkat saja kali, ya. Bismillah." Kinan menjawab panggilan.


"Kenapa lama angkat teleponnya."


Tidak ada kata sayang, artinya Beni kesal.


"Maaf, Sayang." Kinan dalam mode merayu.


"Kenapa?"


"I-ini..."


"Kamu lagi di pinggir jalan?"


"Hah? Kok tahu?"


"Bising. Dimana?"


"I-ini..."


"Dimana, Kinan?"


"Aku..."


"Di mana?"


"Ja-jalan baru."


"Tunggu di sana." Panggilan terputus, Kinan lemas seketika.


"Beni ngamuk?" Bintang menebak dari raut wajah temannya.


"Sepertinya."


"Besok Beni akan melarang Kinan berteman dengan kita," Novi menyeletuk.


"Bukan begitu juga, Novi..." Kinan memelas. Ia juga takut jika Beni meluapkan kemarahan kepada kedua temannya. Dari kejauhan terdengar deru suara motor. Kinan yang hafal suara motor kekasihnya langsung menoleh. Satu tahun berpacaran, Beni mengganti motornya menjadi ninja kawasaki.


"Naik," tanpa basa basi Beni langsung menyuruh Kinan naik ke motor.


"Aku duluan, ya," Pamit Kinan kepada Novi dan Bintang. Kedua temannya itu mengangguk serempak.


Kinan berdiri di samping motor. Beni yang melihat Kinan hanya bergeming menoleh sejenak kemudian menurunkan footstep belakang, barulah Kinan naik ke atas motor.


"Peluk yang erat!" Perintah Beni lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi tanpa berpamitan pada Novi dan Bintang.