Hopeless

Hopeless
Chapter 154



" Bang, Lo yakin gue gak boleh kasih tahu Luna? Kalau nanti kondisi ini jadinya tambah buruk gimana?" tanya Darrel yang merasa khawatir karna harus menyembunyikan sesuatu dari Luna, di satu sisi Darrel tak bisa mengambil keputusan tanpa memberitahu Jordan, namun di sisi lain dia tak bisa menyembunyikan sesuatu dari Luna.


" Lo gak usah ngomong apapun, urusan ini biar gue yang atur, tugas Lo Cuma jangan kasih tahu Luna, kesehatan Lo juga harus stabil karna Lo bakal berangkat ke Jepang, gue gak mau malah Lo kenapa – napa karna mikirin perasaan Luna," ujar Jordn dengan nada bicara yang serius.


" Sampai kapan kita sembunyiin ini? Luna juga bakal tahu tentang hal ini cepat atau lambat," ujar Darrel yang masih tak setuju dengan keputusan Jordan.


" Pokoknya Lo fokus aja sama tugas Lo, Lo fokus sama kesehatan Lo dan jangan kasih tahu Luna apapun. Lo mau kalau Luna jadi sedih karna Lo? Gue gak akan biarin dia tahu dan malah jadi sedih, toh selama ini juga semua baik – baik aja," ujar Jordan yang masih keukeuh dengan keputusannya, mau tak mau Darrel hanya menurut pada calon abangnya itu.


" Urusan Lo ke Jepang udah beres kah?" tanya Jordan mengalihkan pembicaraan, membicarakan tentang topik rahasia itu membuat kepalanya pening, seakan beban dipundaknya bertambah berat, nyaris saja dia tak sanggup meopang tubuhnya sendiri jika tak ingat dia masih memiliki tanggungan dua malaikat yang kini sudah beranjak dewasa.


" Sebenernya udah beres urusan luar, tapi sampai sekarang gue gak yakin buat tanda tangan semua surat itu. Tiga tahun bang gue harus pergi, gue mana bisa tinggalin semua gitu aja, aalagi kondisinya kayak gini, gue gak yakin bisa bertahan di sana selama tiga tahun, Lo tahu kan Luna itu kayak magnet buat gue, narik aja gue kemanapun."


" Itu Lo aja yang bucin anjir, jijik banget sih Lo, mending Lo fokus sama urusan Jepang, Lo hutang sertifikat buat gue, kalau Lo gak dapetin sertifikat itu, otomatis gue bakal nolak Lo sebagai calon adek ipar gue," ujar Jordan mengancam Darrel.


" Rese Lo bang, ya udah gue bakal berangkat ke Jepang, tapi Lo harus perketat keamanan dan kenyamanan calon istri gue di sini, gue gak mau dia lecet selama gue gak ada," ujar Darrel dengan serius dan tegas, Jordan terkekeh mendengar ancaman anak kecil yang kini berbeda zona waktu dengannya. Entah berapa saldo pulsa yang dimiliki Darrel hingga mampu menelponnya sampai di sini.


" Kalau Lo lupa, adek gue banyak lukanya malah pas bareng sama Lo, selama dia lahir sampai SMP, jarang tuh dia cidera, tapi waktu masuk SMK dan ketemu sama Lo, ketemu sama Radith, dia sering nangis, celaka terus, luka terus, beuuh, kalian tuh kayak pembawa sial gitu ke adek gue," ujar Jordan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


" Ahh Lo mah…"


Sambungan pun terputus karna saldo pulsa Darrel yang habis. Darrel menatap ponselnya dan berdecak kesal, saldo ratusan ribu yang dia beli langsung lenyap karna perbedaan kode negara. Parahnya, Jordan memang sengaja tak mengangkat panggilan internet dari Darrel, seakan ingin Darrel mengeluarkan modal lebih untuk berkomunikasi dengannya.


Ah ya, Jordan memutuskan untuk meminta Darrel berkomunikasi menggunakan 'Lo – Gue' saat mereka berdua atau berbincang, hal itu terjadi saat mereka mulai dekat dan akrab. Darrel yang awalnya canggung pun kini sudah biasa memanggil Jordan seperti itu.


Darrel memasukkan ponselnya dan kembali menghadapi berkas – berkas yang tak kunjung habis. Kini dia harus membagi pikirannya ke banyak hal, entah dia akan sanggup menghadapi ini semua atau tidak, atau bahkan dia akan tepar sebentar lagi? Tidak, Darrel tak boleh drop dan mengacaukan semua agendanya, kesehatannya tak boleh memburuk.


" Hai berkas penting, buruan habis yuk biar gue bisa istirahat dan ketemu sama calon bini, ya?" pinta Darrel pada setumpuk kertas yang tentu tak menjawab perkataannya. Darrel kembali memakai kacamata bacanya dan mengurusi satu persatu berkas yang ada di hadapannya.


*


*


*


" Kamu dapat program seperti ini dari mana Dave? Bunda gak pernah dengar atau tahu yang kayak gini, ini bukan penipuan kan Dave?" tanya Bunda saat Radith menjelaskan apa yang dia tahu dari petugas yang kemarin dia temui di rumah Luna. Bunda merasa syaratnya terlalu mudah dengan fasilitas yang terlalu mewah.


" Dave juga walnya mikir gitu bunda, tapi katanya memang ini kegiatan amal dari keluarga Wilkinson bareng sama beberapa rumah sakit dan sponseor gitu bunda, dan memang program ini gak di publish sembarangan biar gak di salah gunakan sama orang lain. Walau Dave masih agak gak yakin, gak ada salahnya kita coba Bunda, ini harapan kita buat pengobatan Blenda," ujar Radith yang diangguki oleh Bunda, mereka tak punya pilihan lain untuk menolak.


" Ya sudah, bunda urus dulu persyaratan ini, Bunda mau minta ke dokter surat keterangan kesehatan Blenda. Kamu tunggu di sini ya, bentar lagi juga Blenda bangun, dari tadi dia udah tidur, gak tahu tuh anak nyenyak banget tidurnya," ujar Bunda sambil mengambil amplop yang dibawa oleh Radith, amplop berisi form perjanjian yang dikirim oleh Luna ke rumahnya.


" Iya bunda, gak papa biar Blenda istirahat, dia kan kehilangan banyak tenaga buat Kemo sama Radioterapi, wajar aja dia kecapekan, Dave bakal jagain Blenda, bunda tenang aja," ujar Radith dengan senyum yang mereka tulus. Bunda mengangguk dan keluar dari kamar, menyisakan Radith dan Blenda berdua di dalam kamar inap kedap suara ini.


Hmm, ini adalah novel remaja, dimana keadaan seperti yang sebagian besar dari kalian bayangkan tak akan mungkin terjadi. Memang apa yang biasanya dilakukan oleh dua orang berlainan jenis saat mereka hanya berdua di ruang kedap suara? Karaoke? Atau bermain monopoli? ( Author yang hobi mancing wkkwkwk)


Radith menatap Blenda yang tampak damai dalam tidurnya, dada yang masih naik turun membuat Radith yakin Blenda hanya tidur, tak lebih. Lelaki itu takut Blenda terlalu nyaman dan damai dalam tidurnya hingga tak mau bangun lagi, hal yang sangat ditakuti oleh Radith dan orang tua Blenda.


" Dave, kamu di sini? Bunda mana?" tanya Blenda yang tiba – tiba membuka matanya, membuat Radith terkejut sampai mengelus dadanya yang berdebar lebih cepat. Radith mengontrol napasnya sebelum akhirnya kembali menatap Blenda yang tetap diam dan menunggu jawaban Radith.


" Bunda lagi ngurus beberapa persyaratan buat kamu dapat pengobatan gratis di luar negeri, paling lambat dua minggu lagi kamu bakal berangkat dan berobat di luar negeri, setelah itu kamu bakal balik lagi ke Indonesia dengan Blenda yang kuat dan menyenangkan. Kamu seneng gak?" tanay Radith dengan nada yang lembut, Blenda terdiam dan terkejut atas kabar yang membahagiakan ini.


" Gratis Dave? Kok bisa? Pengobatan kanker itu gak murah loh dith, Di Indonesia aja bisa habis ratusan juta, apalagi di luar negeri? Memang itu program apa? Program pemerintah? Kok bisa sekeren itu programnya? Kamu dapat info itu dari mana?" tanya Blenda beruntun yang membuat Radith menggelengkan kepalanya, Blenda yang cerewet sudah kembali ke hadapannya.


" Dave, aku pingin pergi ke taman, kamu mau gak temenin aku ke sana?" tanya Blenda denganw ajah yang memelas dan lucu, namun tak cukup untuk meluluhkan Radith yang tahu betul pantangan dari dokter untuk Blenda.


" Kamu tahu kan kamu gak boleh terlalu kena udara luar? Aku gak mau ambil resiko yang bakal memperburuk keadaan kamu, pantangan dokter udah jelas loh," ujar Radith yang membuat Blenda merengut kecewa, dia bosan melihat tembok putih sepanjang hari, dia ingin menikmati polusi Jakarta di luar ruangan rumah sakit ini.


" Sebentar aja Dave, aku pingin banget ngelihat luar, aku bosan banget di sini. Pakai selang oksigen juga gak papa, pakai kursi roda, atau apapun itu lah buat pengaman. Mau ya temenin aku? aku pengen banget," ujar Blenda yang merengek untuk memohon, membuat Radith luluh dan tak tega hingga mengijinkan Blenda dengan syarat Blenda harus memakai selang oksigen dan masih dalam pengawasannya sebagai pendorong kursi roda.


Radith berjalan ke sudut ruangan dan mengambil sebuah kursi roda, mendekatkan kursi roda itu ke arah Blenda dan membantu gadis itu untuk naik ke kursi roda, mereka keluar dari ruangan setelah Radith mengabari bunda agar tak mencari mereka. Mereka masuk ke dalam lift khusus pasien dan turun ke lantai dasar.


" Ke sana aja Dave, tempatnya teduh, bunganya banyak, kayaknya enak deh deh Dave," ujar Blenda yang dituruti saja oleh Radith, mereka menuju ke kursi yang ada di sana dan Radith langsung duduk di kursi yang disediakan sementara Blenda menyentuh bunga yang ada di sana perlahan.


" Kamu harus tetep mekar, kamu cantik kalau mekar, jangan layu ya, kalaupun nantinya kamu layu, kamu harus menghasilkan biji yang banyak biar semakin banyak bunga yang tumbuh berkat kamu," ujar Blenda pada bunga – bunga yang ada di sana. Radith ikut tersenyum dan mengambil gambar Blenda yang tampak cantik meski selang oksigen sedikit menganggu pergerakannya.


" lihat nih, kamu cantik banget kalau senyum kayak gini, kamu harus senyum terus biar gak kalah cantik dari bunga ini," ujar Radith yang membuat Blenda malah sedih.


" Aku gak mau kayak bunga ini Dave, bunga ini suatu hari nanti bakal layu terus mati, aku gak mau, aku mau tetep hidup untuk waktu yang lama, setidaknya sampai buat bunda bangga sama aku," ujar Blenda yang kini membuat Radith ganti terdiam.


" Bunda udah dan selalu bangga sama kamu bagaimanapun keadaan kamu, kamu gak boleh ngomong atau mikir yang kayak gitu lagi, aku gak suka ya," ujar Radith yang menoel hidung Blenda. Mereka tertawa dan membicarakan banyak hal, bahkan mereka tak menyadari kehadiran seseorang yang melihat mereka dari jauh.


Orang itu melihat buah yang dibawanya, lalu melihat ke arah dua orang yang asyik bercanda dengan dunia mereka sendiri, akhirnya orang itu tersenyum kecut dan berbalik, melupakan niat awalnya pergi ke tempat ini.


" Tadinya gue mau hibur Blenda sama Radith, mau nguatin Blenda, ternyata semua itu gak perlu, Blenda udah kuat karna hadirnya Radith, Radith udah bahagia karna Blenda, harusnya gue juga ikut bahagia untuk hal itu, tapi kenapa masih ada sedikit sesak ya? Emang ngelupain cinta pertama itu gak ada mudah – mudahnya," ujar orang itu yang langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu segera.


" Dave aku mau ngomong sama kamu, kali ini serius," ujar Blenda yang tiba – tiba membuat atmosfr yang ada di sana menjadi dingin, Blenda tampak sibuk dengan pikirannya sendiri sebelum neyampaikan isi pikirannya pada Radith.


" Aku mau kita putus," ujar Blenda yang membuat Radith terkejut seketika. Bagaimana tidak? Tidak ada angin tak ada hujan, Blenda memutuskan hubungan mereka?


" Aku ada salah apa sama kamu? Kalau aku salah atau bikin kamu marah, kita bicarain baik – bai kdong, jangan main putus gini aja, kita udah pacaran hampir dua tahun loh Blen, gak semudah itu kamu bisa putusin aku," ujar Radith dengans edikit emosi, lelaki itu masih berusaha menahan nada bicaranya agar tak berubah kasar.


" Aku tahu kamu terpaksa pacaran sama aku awalnya, karna kamu tahu kalau aku bisa bertahan hidup kalau ada kamu, selama ini juga kamu gak nanggepin aku, bahkan kamu masih dingin sama aku waktu aku membaik, pas awal – awal kamu masuk STM apalagi, tambah dingin sama aku." Blenda menghela napas dan kembali menyentuh bunga yang ada di sana.


" Tapi setelah kamu tahu kondisi aku memburuk, kamu balik jadi lebih hangat, bahkan sangat hangat sampai sekarang ini, tapi aku bisa ngerasain Dave, raga kamu, hangat kamu, perhatian kamu ada di sini, tapi hati kamu enggak. Aku bisa ngerasain itu," ujar Blenda dengan senyum miris di bibirnya.


" Ngelantur kamu, mana ada yang kayak gitu, gak usah drama ah, gak lucu," ujar Radith yang mulai ketus dan tak bisa lagi menjaga intonasinya.


" Aku tahu kamu bener – bener khawatir sama aku, makanya kamu kasih sebagian besar waktu kamu buat aku. tapi bukan aku rumah yang kamu datangi kalau kamu gelisah atau butuh bantuan entah itu sekadar cerita atau berbagi beban, kamu datang ke orang lain buat itu Dave."


" Awalnya aku sedih, kenapa kamu harus cari hati yang lain di saat kamu punya hati buat dijaga? Dan kenapa kamu harus tetap maksain ada di sisi aku padahal kamu tahu hati kamu buat dia? Kamu gak mau kehilangan keduanya? Pada akhirnya kamu malah bakal nyakitin dua – dua nya Dave."


" Kamu dapat teori dari mana kayak gitu? Gak ada yang kayak gitu Blen," ujar Radith menurunkan intonasinya, dia mengira Blenda hanya salah paham padanya dan Luna.


" Aku bisa nilai dari cara kamu khawatir sama dia, kamu khawatir waktu dia kenapa – napa, bahkan kamu langsung ke rumahnya waktu dia bener – bener butuh orang buat temen, kamu ada di sisi dia waktu dia kenapa – napa, kamu ada di sisi dia waktu Darrel mau tunangan sama orang lain, tanpa kamu sadari Dave, kamu gak mau dia kenapa – napa," ujar Blenda dengan tenang.


" Itu karna dia temen kelas aku Blen, gak ada hal lain, kamu jangan salah paham, kamu mau aku lost contact sama dia? Aku bisa lakuin itu mulai sekarang biar kamu tenang dan gak mikir aneh – aneh kayak gini," ujar Radith dengan tegas.


" Aku gak mau ada pembahasan kayak gini lagi, mulai sekarang kita fokus aja buat kesehatan kamu, aku gak mau pikrian kamu malah kacau dan kesehatan kamu malah jadi nurun. Kita balik ke kamar sekarang, udah mulai panass," ujar Radith yang langsung mendorong kursi Roda itu taanpa persetujuan Blenda.


Blenda tahu Radith marah and kecewa, namun gadis itu memilih diam dan menuruti apa yang dikehendaki Radith. Sungguh, dia bukan cemburu atau marah karna sikap Radith, meski awalnya dia sedih dan seidkit kecewa, namun dia pun sadar Radith berhak bahagia dengan hatinya, tak memaksakan atau mengorbankan diri demi kesembuhannya.


Gadis itu tahu cepat atau lambat Radith pasti akan menyadari tentang hatinya, dan sampai saat itu tiba, Blenda harus terus membujuk Radith untuk mengenali isi hatinya, hingga lelaki itu menerima keputusan Blenda untuk berakhirnya hubungan ini, toh mereka masih bisa bersama sebagai sahabat dan kakak – Adik seperti sedia kala.