
Darrel berlari menuju gadisnya yang tersungkur karna mengejar Radith. Radith sendiri sampai terkaget dan melongo saking kagetnya. Lelaki itu mematung tanpa bisa berbuat apa apa, bahkan untuk sekadar melangkahkan kakinya saja dia tak mampu. Luna tersungkur dan nyaris saja oleng ke arah kanan dimana lautan luas menyapa mereka. Jika saja tak ada pembatas, pastilah gadis itu akan menyapa ikan di bawah sana dengan sangat dekat.
" Luna, Luna kamu gak papa? Mana yang sakit? Kaki kamu luka?" tanya Darrel setelah sampai di kaki gadis itu dan berjongkok lalu memegang pundak Luna yang tampak menegang. Gadis itu menatap ke arah kanan dimana air yang dalam itu seakan memberinya salam. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan masih tak bisa menjawab Darrel.
" A.. aku gak papa kak, tadi kesleo kaki aku sendiri karna larinya gak bener," ujar Luna setelah beberapa saat terdiam. Gadis itu memeriksa dan memegang kakinya yang tampak menegang. Darrel sendiri hendak menggendong gadis itu sebelum akhirnya Mr. Wilkinson keluar dari ruangan, membuat Darrel mengurungkan niatnya.
" Lain kali kalau main lari – larian kamu harus hati – hati, kalau nanti kamu masuk ke laut, ikannya yang jadi kesenengan, udah, ayo kita semua makan, chef udah selesai masak, kamu bisa jalan Luna?" tanya Mr. Wilkinson dengan wajah datarnya. Luna mengangguk dan bangun lalu melangkah pelan.
Kakinya kaku, kuku kakinya bahkan sedikit patah karna jatuh, meski hal itu tak membuatnya terluka, tetap saja rasanya mengerikan melihat kuku panjang itu patah. Memang benar seharusnya kuku kaki tak boleh dipanjangkan, inilah akubatnya dari kemalasan Luna untuk memotong kuku.
" Katanya gakpapa, kok pincang? Mau digendong Darrel atau Radith?" tanya Mr. Wilkinson yang malah menggoda Luna Gadis itu berdecih pelan dan menatap Mr. Wilkinson dengan kesal. Bahkan pria tua itu juga meledeknya seperti Jordan. Mereka semua tahu tentang perputaran Radith, Luna dan Darrel, dan hebatnya mereka tak segan mengutarakan ledekan itu dengan santainya.
" Kaki Luna kaku Dad, mungkin masih kaget karna jatuh, rasanya kayak kesemutan gitu, merinding, hehehe," ujar Luna yang merasakan geli luar biasa saat kakinya menapak di lantai kapal ini. Mr. Wilkinson terkekeh dan mengangguk lalu menunggu Luna dan menggandeng gadis itu agar masuk ke dalam bersamanya, sementara Darrel menatap Radith dengan kesal.
" Lo bisa gak gak usah bikin Luna celaka? Lo gak tahu apa yang Lo lakuin itu bahaya buat dia!" sentak Darrel yang malah membuat Radith menyatukan alisnya. Apakah ini semacam sesuatu yang tidak dia ketahui namun orang lain mengetahuinya seperti fakta Danesya dan Luna adalah kembar? Hanay dia kan yang tidak tahu Fakta itu?
" Dia lari sendiri buat ngejar gue, dia jatuh karna kakinya sendiri, bahkan gue gak ngejegal atau ngedorong dia, kenapa Lo nyalahin hal ini sama gue? Apa ada hal yang gak gue tahu kak sampai Lo sekhawatir ini tentang dia?" tanya Radith dengan curiga.
" Kalian mau di situ sampai besok atau mau masuk ke dalam? Angin malam laut gak baik untuk kesehatan, kalian mau masuk angin? Ayo masuk," ujar Mr. Wilkinson yang mengenterupsi pembicaraan mereka. Mr. Wilkinson membuat Darrel langsung meninggalkan Radith, bahkan tak lupa menyenggolkan bahunya ke bahu Radith sebagai peringatan.
" Aneh banget sih, bucin sih bucin, tapi masak ceweknya yang salah malah gue yang dimarahin, dasar ketos gak adil," ujar Radith dengan pelan, lebih tepatnya ngedumel sendiri karna dia sampai memiringkan mulutnya ke kiri dan kanan saking kesalnya, namun dia tak bisa berbuat apapun, dia hanya memendam rasa kesal itu.
" Dad, ini kan di laut, kenapa gak makan seafood sih? Kok malah steak daging? Gak asyik banget ah," ujar Luna yang menatap enggan makanan yang ada di depannya. Mr. Wilkinson tertawa karna gemas dengan Luna. Dari ketiga anaknya, Luna lah yang paling frontal dan paling berani padanya, apalagi mengenai perasaannya.
Gadis itu juga tak segan berteriak dan melengkingkan suaranya jika dia tak setuju terhadap sesuatu. Yah, untung saja beliau memiliki dokter pribadi yang senantiasa mengecek kondisi telinganya, apakah masih berfungi normal ataukah ada beberapa syaraf yang putus karna teriakan gadis itu. Teriakan yang sangat dia rindukan selama berada di luar negeri.
Bukan dia tak menyayangi anaknya yang lain, dia menyayangi mereka semua dengan segala sikap mereka. Danesya yang dingin dan tak pernah mau berbicara panjang dengannya, Jordan yang keras kepala dan selalu membantahnya, serta Lunetta yang sangat berisik, manja bahkan selalu merepotkan dirinya. Entah DNA siapa yang mewarisi mereka, namun tanpa mereka, hidup beliau pasti akan sepi.
" Kalau kamu mau makan makanan laut tinggal pesan saja. Daddy mau makan steak karna Daddy udah lama gak makan steak, siapa yang mau ikut Lunetta angkat tangan?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat ke empat tamu lain yang ada di sana saling pandang, tak lama kemudian mereka semua mengangkat tangannya bersamaan.
" Apa ini? Kalian semua memihak Lunetta? Tak ada yang memihakku? Siapa yang tidak melihatku silakan angkat kaki dari sini," ujar Mr. Wilkinson dengan kesal namun wajahnya datar. Pria itu memalingkan wajahnya dari mereka semua dan menyantap steaknya dengan kesal.
" Ayolah Pa, ini bukan waktunya papa marah dan merajuk seperti ini, papa harus ingat umur. Papa sendiri yang menawari, Jordan juga berpikir ide yang bagus untuk makan makanan laut di laut. Rasanya akan lebih nikmat dan sensasinya bisa dibayangkan," ujar Jordan yang diangguki oleh mereka semua.
Mereka menatap Mr. Wilkinson dengan puppy eyes yang menggemaskan, bahkan Radith yang biasanya Datar ikut seragam dengan mereka menunjukkan wajah menggemaskan itu, dia sangat ingin makan makanan laut segar, bukannya daging sapi yang diolah menjadisteak, itu kan sudah sangat biasa dan sering dia makan. Membayangkan lobster, kepiting dan udang segar masuk ke dalam mulutnya. Astaga liurnya bahkan nyaris menetes hanya dengan membayangkannya.
" Ya, ya, baiklah, baiklah, mana mungkin aku memang melawan lima anak seperti kalian? Ya sudah, kalian pesan semau kalian pada chef, bila chef itu tak bisa membuatkannya, kalian lapor pada Papa, biar dia yang dimasak dan jadi makanan hiu di sana," ujar Mr. Wilkinson yang membuat mereka semua bersorak gembira.
Mr. Wilkinson merasa geli melihat mereka semua. Dia membawa empat anak remaja dan satu anak dewasa, namun rasanya seperti membawa anak TK ke taman bermain, mereka senang bukan main, apalagi tingkah kekanakan mereka, ssangat menghiburnya yang selama ini hanya sibuk dengan setumpukan berkas yang ada di meja kerjanya.
" Gue mau pesen Lobster di bumbu ala ala mukbang korea ah, kayaknya bakal enak banget," ujar Radith yang tak tahu malu atau merasa tak enak lagi. Toh dia tahu Mr. Wilkinson sanggup memberikan itu padanya, bahkan jika dia meminta 100 porsi sekaligus. Kapan lagi dia bisa merasakan hal seperti ini?
" Gue mau kepiting saos padang, beuuhhh rasanya bakal enak banget deh. Apalagi kalau king crab, duh," ujar Jordan yang membuat mereka kembali mengiler. Mereka membicaran hal itu di depan Mr. Wilkinson yang malah menatap enggan steak yang dia makan. Dia merengut dan mendorong piringnya untuk menjauh.
" Yah, kalau dipikir – pikir, papa akhirnya mau kompak aja sama kalian, kita makan makanan laut segar, rasanya itu akan lebih serasi sama suasana sekarang," ujar Mr. Wilkinson dengan wajah yang dipalingkan. Mereka yang meilhat itu tentu hanya dapat menahan tawa mereka.
Mungkin baru pertama kali dalam hidup mereka melihat pria seserius dan semenyeramkan Mr. Wilkinson merasa malu dan salah tingkah, apalagi beliau juga mengingkari perkataannya sendiri persis seperti anak anak yang di iming – imingi sesuatu oleh mereka yang lebih dewasa. Mereka akhirnya bangkit dari meja makan untuk memesan makanan pada Chef yang ada di sana.
Bahkan sejak awal chef itu sudah merasa tak enak, dia tahu dia tak akan berlibur di tempat ini. Dia akan disibukkan oleh permintaan yang aneh – aneh. Bagaimana bisa dia mendapatkan semua bahan itu sementara mereka berada di tengah laut. Apakah mereka mau dia memancing atau menjaring semua bahan itu dari lautan? Itu kan suatu hal yang mustahil.
" silakan dinikamti semua hidangannya, jika ada yang diperlukan lagi, silakan pergi ke dapur dan memesan," ujar chef itu yang memaksakan senyumnya. Luna yang merasa kasihan langsung memberikan sebatang coklat yang entah sejak kapan sudah dia bawa dalam tas kecilnya. Gadis itu memberikan coklat itu kepada chef yang menatapnya dengan bingung.
" Terima kasih atas kerja kerasnya, maaf karna kami terlalu merepotkan Chef, terima kasih atas hidangannya, chef yang terbaik pokoknya. Luna da hadiah kecil buat chef, sebagai tanda terima kasih, Chef mau ya ambil?" tanya Luna sambil menyodorkan coklat itu. Chef yang tadinya merasa dongkol langsung tersenyum seketika.
" Astaga, Chef mah kalau senyum tambah ganteng, duh, kalau gini gimana mau mecat chefnya? Tiap hari bisa obetitas karna lihat wajah manis chef, astaga," ujar Luna sambil memegang pipinya dan menatap Chef itu dengan senyum merona. Bahkan beberapa orang yang ada di sana tak menyangka Luna melakukan hal itu.
" Kamu godain chefnya, kalau chefnya baper kamu yang susah loh, masak kamu mau urusin tiga cowok di hidup kamu? Apa dua aja gak cukup?" sindir Jordan yang membuat Luna melempar lelaki itu dengan tissue yang dia remas. Jordan tertawa dan membuat suasana di meja makan menjadi hidup dan menyenangkan. Mereka makan dengan tenang dan penuh percakapan yang menghangatkan.
*
*
*
" Lo, Lo kembaran Lunetta, tapi kenapa gue baru lihat Lo sekarang? Lo gak pernah di Indonesia ya?" tanya Radith saat dia berada di pinggir kapal, bersender pada tiang dan menikmati angin malam yang cukup kencang.
" Sejak SD gue pindah ke Inggris, gue dulu penyakitan, dan gue dapat donor organ terus di operasi, gue sembuh dan akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di sana. Singkatnya sih gitu, gue malas kalau cerita lengkapnya," ujar Danesya yang berada di sebalah Radith meski masih ada banyak jarak di antara mereka.
" Tapi yang gue lihat, Lo bahkan gak akrab sama Luna, apa karna kalian kepisah untuk waktu yang lama?" tanya Radith yang tak bisa menahan rasa penasaran yang menghinggapi hatinya. Danesya terkekeh dan menggeleng sebagai jawaban.
" Dia salah paham sama gue, gue salah paham sama dia. Intinya hidup kami sama – sama gak enak, tapi kami ngerasa hidup kembaran kami jauh lebih baik, gitu pokoknya, gak usah di bahas lagi, toh gue udah damai sama dia. Makanya gue balik ke Indonesia," ujar Danesya yang membuat Radith terdiam meski sudah membuka mulutnya untuk bertanya lagi.
" Itu satu – satunya alasan Lo balik ke Indoensia? Tapi kenapa? Apa ada alasan lain yang lebih penting? Gue rasa iya, gue gak salah kan?" tanya Radith yang menatap Danesya dengan pandangan mata yang tak bisa diartikan. Danesya menatap bola mata Radith yang juga menatapnya.
" Sebegitu sayangnya Lo sama Luna ya? Bahkan Lo pakai gue buat korek Informasi tentang dia? Sorry sorry aja yadith, gue emang kembaran luna, tapi gue gak polos dan bego kayak dia. Kalau Luna, dia pasti udah bocor dan kasih tahu Lo tentang semua. Tapi sayangnya gue bukan Lunetta," ujar Danesya tersenyum miring dan beranjak dari sana.
" Gue yakin Lo tahu sesuatu, apa Lo tega bikin gue kayak orang bego yang gak tahu apa – apa? Gue juga berhak thu tentang hal apapun yang ada di sekitar gue, dan gue yakin Lo tahu hal yang gak gue tahu, gue mohon sama Lo," ujar Radith sambil memegang tangan Danesya, mencegah gadis itu pergi dari sana sebelum memberinya Informasi yang dia butuhkan.
" Meski hal itu ada di sekitar Lo, bukan berarti itu jadi urusan Lo, dan bukan berarti Lo berhak tahu semuanya, lepasin gue, gue mau masuk kamar," ujar Danesya yang membuat Radith melepas tangannya.
" Gue kira Lo bakal bersikap manis sama gue, gue kira Lo bakal dekat dan jadi sahabat gue, terus kisah lama itu bakal terulang lagi di hidup gue. Gue bakal pastiin kalau kisah itu terulang, gue gak akan biarin orang itu pergi diambil orang lain," ujar Radith yang tampak sekali frustasi.
" Gak usah ngayal terlalu jauh. Sampai kapanpun gak akan ada kisah antara Lo sama gue, lagian Lo harusnya sadar dan paham, banyak hal yang bikin kita gak akan pernah bisa disatuin, gue rasa Lo udah tahu hal itu," ujar Daneysa dengan dingin dan melepaskan tangan Radith dengan paksa karna lelaki itu enggan melepaskan tangannya.
" Kenapa? Kenapa gak bisa? Gue gak paham," ujar Radith dengan mata yang sayu, membuat Danesya menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Luna menyukai lelaki seperti Radith?
" Pertama, gue tahu persis hati Lo buat Lunetta dan bukan buat gue. Kedua, kita baru ketemu dua hari, Lo berharap apa sama gue? Kenal juga enggak. Ketiga, ini novel kisah tentang Lunetta, gue Cuma figuran, gak akan gue dapat peran yang begituan. Dan keempat, ini yang paling penting, gak ada yang ngerestuin Lo sama gue, Lo mau pembaca ngamuk? Apalagi fans garis keras Luna –Radith. Gue masih pengen hidup tenang tanpa teror mereka."
" Tapi, Luna… Huweeeekk."
Danesya memelototkan matanya saat Radith memuntahkan seluruh isi perutnya ke arah laut. Semoga saja ikan di bawah sana tak ikut mabuk karna muntahan Radith.
" Pantes aja ngelantur, ternyata lagi mabuk dia…"
" Mabuk Laut."