Hopeless

Hopeless
105



“ Sorry Lunetta, sayangnya gue gak peduli.”


“ Gue janji ini gak akan sakit, karna gue maih anggap Lo sahabat.”


Baik Luna atau Adel sudah menangis, Adel masih tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali, sementara Luna terlalu shock sampai terduduk di lantai.


Lucy, mereka tidak pernah menyangka gadis yang terlihat lugu, cenderung lemot itu memiliki dendam yang besar, bahkan gadis itu sudah merencanakan semuanya dengan baik dan rapi lebih dari tiga tahun. Mereka tidak bisa melakukan apapun selain pasrah pada Lucy.


“ Lo gak usah masang wajah sok melas gitu, bikin gue makin jijik sama Lo Lun,” ujar Lucy dengan senyum miringnya, gadis itu mendekat dan mengeluarkan sebuah jarum suntik yang di dalamnya terdapat cairan yang entah apa.


“ Mungkin Lo bertanya – tanya ini apa, ini cairan racun, paling sakitnya Cuma lima menit, habis itu Lo bakal rasain indahnya surga, dan kita gak akan pernah ketemu karna gue yakin bakal masuk neraka setelah bunuh Lo.”


“ Oh ya, perusahaan Darrel bentar lagi bangkrut, jadi Lo gak perlu lihat dia menderita, baik kan gue?”


“ Sebenernya gue gak ada masalah sama dia, tapi gue gak suka Lo selalu dapat apa yang Lo mau, bahkan Lo masih gak tahu dirinya suka sama cowok lain disaat Lo dapat yang sempurna, tapi gak tahu kenapa yah gue malah lebih pingin siksa Darrel dibanding siksa Lo.”


“ LUCY LO GILA!!!” Teriak Luna dengan histeris, Lucy mendekat dan mencengkram dagu Luna, membuat gadis itu kesatikan karena kuku Lucy menamcap pada dagunya. Lucy menikmati setiap ekspresi Luna yang kesakitan.


“ Gue emang gila, dan salahkan bokap Lo atas kematian Lo ini, Sleep tight Lunetta.”


~ BRAAAKKK


“ LEPASKAN LUNETTA!!!”


Lucy terkejut mendapati segerombolan orang mendobrak pintu dan mengarahkan senjata pada Lucy, Lucy langsung menusukkan jarum berisi Racun itu dan terduduk, sementara Luna yang tergeletak dan kejang kejang. Mereka yang melihat itu sontak kaget dan segera melumpuhkan Lucy. Lucy tertawa keras seakan kehilangan akalnya.


“ BAWA NONA LUNETTA KE RUMAH SAKIT! CEPAT!!” Mereka segera membawa Luna pergi dari tempat itu sementara Lucy tetap tertawa seperti orang gila, meski air mata sudah mengalir dari matanya.


Tanpa disangka Mr. Wilkinson masuk ke ruangan itu dan menatap Lucy dengan tatapan membunuh, tangannya terkepal, dia ingin segera menyusul putrinya, namun dia masih memiliki urusan dengan Lucy.


“ HAHAHAHA Anda lihat tuan Wilkinson yang terhormat, bukan Cuma anda yang bisa mengambil nyawa orang yang saya sayangi, tapi saya juga bisa mengambil nyawa orang yang Anda sayangi.”


“ GADIS BODOH!!” MR. Wilkinson mengeluarkan bentakan dengan suara keras dan menggema, kemarahannya sudah diambang batas karna putrinya yang tidak tahu apa apa harus menjadi korbannya.


“ Seharusnya kau pastikan kebenarannya sebelum kau membalas dendam, yang selama ini kau anggap pahlawan adalah orang yang sebenarnya sudah membunuh ayahmu!” Lucy tersentak kaget dan tak mengerti maksud dari perkataan Mr. Wilkinson.


“ Orang yang sudah membunuh ayahmu adalah Hooman! Pamanmu sendiri!!”


~~ @@FLASH BACK @@ ~~


“ Kau gila? Aku tidaK bisa menjual saham perusahaan ayah dan membaginya untuk kita berdua, itu sama saja membunuh usaha yang sudah ayah kembangkan selama ini!” Pertengkaran kedua saudara itu tak terelakkan, Jack bersikukuh untuk menjalankan perusahaan sebagaimana mestinya, namun adiknya yang hanya suka berfoya foya memilih untuk menjual saham perusahaan agar mendapat uang secara instan.


“ Aku juga memiliki hak untuk saham itu dan aku ingin bagian ku dijual, jangan karna kau anak kesayangan ayah, kau bisa berlaku seenaknya!”


“ Ada apa ini?” Smith yang merupakan teman baik Jack kebetulan lewat dan mampir ke perusahaan milik sahabatnya, namun dia malah melihat pertengkaran kaka beradik itu.


“ Kau tidak perlu ikut campur! Uruslah perusahaanmu sendiri, ini urusanku dengan kakakku. Dan kau! Jika kau masih menganggap aku Adikmu, lekas berikan aset perusahaan itu!!”


“ Sampai mati aku tidak akan memberikan aset perusahaan karna kau hanya mau menghamburkan uang! Aku tidak akan biarkan perusahaan ayah ini hancur!”


“ Kalau bigitu mati saja kau!!”


~ jleeb


Smith Wilkinson terkejut saat Hooman tiba – tiba saja menikam perut Jack dan tampak memutar mutarkan pisau itu hingga darah mengucur deras dari perut Jack. Smith lantas berlari menghampiri kedua saudara itu dan menendang Hooman hingga terpental. Hooman langsung bangkit dan meninggalkan ruangan itu.


Jack tampak kesatikan dan menekan lukanya, namun sepertinya semua terlambat. Jack menatap Smith dan mengucapkan kata kata terakhirnya, Smith mengeluarkan ponselnya dan merekam kata kata terakhir Jack.


Sementara itu Hooman langsung pergi ke rumahnya dan ketakutan, dia tidak mau dipenjara, namun dia juga tidak bisa pergi kemanapun karna selama ini dia hanya menumpang pada kakaknya.


“ Paman? Paman kenapa?” suara gadis yang masih sangat belia mengalihkan perhatian Hooman, Lelaki itu memeluk gadis itu seolah sangat merasa kehilangan, gadis itu tak paham apa yang terjadi, dia hanya diam tanpa mengerti apapun.


Barulah beberapa jam kemudian dia melihat ayahnya yang terdiam di dalam sebuah peti, ibunya menangis tersedu sedu, dia masih tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, Ibunya ditemukan tewas dengan mulut penuh busa, barulah gadis itu sadar bahwa dia tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi.


Gadis kecil itu menangis dan menolak untuk makan, untuk apa dia melanjutkan hidup yang kini bahkan dia tak tahu tujuan hidupnya. Sampai akhirnya pamannya datang dan mengucapkan kalimat yang selalu membekas di pikirannya.


“ Ayahmu meninggal karna dibunuh oleh Smith Wilkinson, kamu harus tetap hidup untuk membalaskan dendam ayahmu, bagaimanapun caranya.”


Usia yang masih sekecil itu dia terus di doktrin oleh Paman Hooman untuk membenci keluarga Wilkinson, bahkan setiap hari Paman Hooman yang kini menjadi ayah angkatnya terus mengatakan hal yang membuat gadis itu semakin membenci keluarga Wilkinson, sampai akhirnya kebenciannya menumpuk dan memuncak hingga dia berani melakukan serangkaian terror pembunuhan.




“ Smith, berjanjilah kau tidak akan mengungkap penyebab kematianku sampai kapanpun. Aku tidak ingin adikku itu masuk ke dalam penjara, dia hanya tidak tahu apa yang dia perbuat. Berjanjilah kau akan membiarkan Hooman untuk hidup.” Suara rekaman yang terdengar tidak jernih dan terputus putus seperti orang kesakitan.



“ Kalau kau tidak percaya dengan rekaman ini, aku masih bisa menunjukkan rekaman cctv yang aku simpan untuk melindungi pamanmu. Namun karna kondisi semakin kacau, aku harus menggunakannya untuk menyelamatkan keluargaku.”



Lucy terdiam seketika, dia terlihat bingung dan tidak tahu mana yang harus dipercaya, sementara itu Mr. Wilkinson langsung memerintahkan orang orangnya untuk membawa Lucy keluar dari sana dan menolong Adel yang masih ‘ membeku’ tidak bisa melakukan apapun.



Mr. Wilkinson segera menyusul Luna untuk memastikan kondisi gadis itu . Dia bersumpah akan memenggal kepala Hooman jika sampai puterinya tidak bisa diselamatkan, persetan dengan janjinya pada Jack, nyawa puterinya adalah segalanya.



“ Bagaimana keadaan Luna?” Tanya Mr. Wilkinson sesaat setelah sampai di depan ruang UGD, Orang orang orang yang ada disana tidak bisa mnjawab apapun, membuat Mr. Wilkinson tak sabar dan membuka begitu saja ruang UGD tersebut.



Dokter yang ada disana menengok terkejut namun kembali melanjutkan pekerjaan mereka saat sadar siapa yang masuk secara tidak sopan ke ruangan ini. Para suster pun kembali melakukan tugasnya untuk membantu Dokter mengeluarkan racun dalam tubuh Luna yang untung saja belum menyebar ke seluruh tubuh.



Mr. Wilkinson tidak menganggu dokter dengan pertanyaan tidak bermutu, dia hanya melihat dokter yang berusaha mengeluarkan racun itu dari tubuh Lunetta. Tak lama salah seorang dokter menghampiri Mr. Wilkinson dan membuka maskernya.



“ Pasien sudah mendapat antibiotik untuk melawan racun yang disuntikkan. Pasien kehilangan kesadaran karena shock dan bukan karna efek racun yang disuntikkan, karena pasien segera dibawa ke rumah sakit, besar kemungkinan pasien selamat dan terbebas dari racun tersebut.”



“ Racun jenis apa yang disuntikkan ke tubuh anak saya dok?” Tanya Mr. Wilkinson mencoba tenang.



“ Kami belum bisa mengindikasinya, kami akan mengeceknya di laboratorium dan memberikan hasilnya kepada anda sesegera mungkin.”




“ Papa, bagaimana keadaan Lunetta?” Jordan dan Darrel berlari menuju Mr. Wilkinson yang berdiri tegak di depan pintu UGD.



~ PLAAKK



“ Baru datang kamu? Bagaimana bisa kamu membiarkan Lunetta ada di kondisi seperti ini? Kamu terlalu ceroboh dan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu! Lihat! Adikmu yang harus menanggung semuanya, bagaimana bisa kamu hanya membawa sedikit pengawal ke rumah singgah itu? Bagaimana kamu dengan bodohnya masuk ke perangkap gadis kecil itu?”



Jordan hanya diam dan menerima semua makian yang disampaikan oleh Mr. Wilkinson karna dia mengakui kecerobohannya yang membuat Luna harus menanggung semua. Entah bagaimana dia bisa tergeletak tak sadarkan diri, mungkin dia sudah dibius oleh Lucy yang tanpa dia sangka menjadi dalang atas peristiwa terror belakangan ini.



“ Lunetta selamat, untungnya dia segera dibawa ke rumah sakit hingga dapat ditangani sesegera mungkin. Apa kau baik baik saja?” Tanya Mr. Wilkinson setelah menenangkan dirinya, pria itu mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada Jordan untuk mengelap bibirnya yang berdarah. Jordan menerima sapu tangan itu dan membersihkan sudut bibirnya.



“ Maafkan Jordan sudah gagal menjaga Lunetta,” ujar Jordan menunduk malu, Mr. Wilkinson menepuk pundah putranya untuk menenangkannya, bagaimanapun Jordan tetap anaknya dan dia tidak bisa terlalu lama murka pada anak – anaknya.



“ Bukan sepenuhnya salah kamu. Papa juga salah sudah membiarkan kamu memikirkan dan mengurus ini semua, harusnya dari awal papa hentikan rencana gadis itu.”



“ Maksud papa?” Tanya Jordan yang menegakkan kepalanya dan menatap Mr. Wilkimson dengan tatapan bingung.



“ Dari awal papa sudah tahu jika Lucy adalah pelaku dari serangkaian terror pada Luna dan perusahaan. Namun papa memilih diam dan ingin kamu menyelesaikan kasus ini dengan caramu sendiri. Ternyata gadis itu cukup berbahaya, bahkan papa kecolongan sampai terjadi insiden di Villa itu, papa kira papa masih punya sedikit waktu lagi, namun ternyata gadis itu nekat sampai semua ini terjadi.”



Jordan menggeleng tak percaya atas kekejaman yang dilakukan oleh Mr. Wilkinson. Bagaimana mungkin pria tua itu mempertaruhkan keselamatan anak – anaknya demi melatih Jordan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri? Sungguh keterlaluan. Meski Jordan bersyukur Mr. Wilkinson selalu memperhatikan mereka dan akhirnya masalah ini berakhir.



Dokter membuka pintu UGD dan terburu buru membawa Lunetta keluar dari sana. Mr. Wilkinson terkejut dan mencegat salah satu suter untuk bertanya apa yang terjadi.



“ Pasien mengalami penggumpalan darah karna racun yang masuk ke tubuh pasien. Kami harus melakukan Dialisis \( cuci darah\) segera untuk mengeluarkan racun dari tubuh pasien sebelum racun itu semakin menyebar. Permisi pak.”



Mr. Wilkinson mematung sejenak, kemudian dia menyeret Jordan untuk mengikuti kemana dokter membawa Lunetta. Ternyata mereka membawa Luna ke dalam ruang khusus untuk metode Hemodialisis. Mereka menunggu dengan cemas dan khawatir



“ sebenarnya racun apa yang sudah disuntikkan ke dalam tubuh Lunetta?” Tanya Darrel tanpa sadar dengan lirih. Mr. Wilkinson pun juga memikirkan hal yang sama, bahkan dia mengakui kecerdikan Lucy yang langsung meracun Luna tanpa ampun dan tanpa belas kasihan.



~ Ke esokan harinya.~



“ Racun yang disuntikkaan ke tubuh pasien adalah Racun Ricin. Ricin adalah protein beracun yang ada di biji pohon jarak. Daya Racun dari Risin ini sangat tinggi dan langsung menyerang darah yaitu menyebabkan penggumpalan darah secara signifikan. Kami tidak tahu bagaimana pasien bisa diracuni oleh racun itu karna racun risis sangat dilarang bahkan beribu kali lebih mematikan dari racun sianida.”



“Untung saja dosis yang disuntikkan sangat kecil sehingga kami bisa mengeluarkan seluruh racun itu melalui proses cuci darah. Kami sarankan pasien untuk mengkonsumsi air kelapa beberapa minggu ke depan untuk memastikan racun dalam tubuhnya tidak tersisa.”



“ Terima kasih dokter.”



Mr. Wilkinson langsung duduk di sofa yang ada disana, dia mengambil ponsel dan menelpon seseorang untuk membereskan sisa masalah yang ada, dia tidak ingin Hooman dapat hidup dengan tenang setelah ini. Untuk Lucy, biarlah dia pikirkan lagi hukuman yang pantas untuk iblis kecil itu, yang jelas dia tidak akan menyerahkan Lucy pada kepolisian karna dia tak ingin Lucy hanya mengakhirinya di penjara.



“ Pa, Luna gak akan kenapa napa kan?” Mr. Wilkinson tersenyum dan bangkit menghampiri putranya bahkan tak segan untuk memeluk satu satunya anak lelaki di hidupnya itu. Mau sebagaimana dewasanya Jordan, dia tetaplah seorang anak yang jelas akan ketakutan jika anggota keluarganya terancam bahaya.



“ Papa pastikan Luna akan baik – baik saja, karna papa yakin Tuhan masih memberi anak itu hidup yang panjang. Kamu gak perlu menyalahkan diri sendiri karna papa tahu kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa.”



Jordan mulai menangis dan Mr. Wilkinson memeluk hangat putranya itu. Mungkin sudah sangat lama Jordan menderita dan harus menghadapi semua tekanan itu sendirian karna hilangnya sosok Ibu dalam hidupnya, mulai dari masa putih abu abu yang tak menyenangkan, kehilangan Nayshilla dan harus menyelesaikan studi dengan baik padahal dia diberi tanggungan anak perusahaan yang cukup penting, dan kali ini adalah titik terlemah Jordan hingga dia tak mampu menahannya lagi.



Tangisan, keharuan dan semua pemandangan hangat itu terekam jelas di mata Darrel yang sedari tadi duduk di samping Luna yang masih belum sadarkan diri, Darrel turut bersyukur karna masih ada keluarga yang sehangat ini meski kesibukan yang memakan waktu bersama keluarga.



“ Papa.” Suara lirih itu membuat Mr. Wilkinson melepaskan pelukannya dan menghampiri puteri kecilnya yang tampak sangat rapuh, Lunetta mirip dengan istinya, dan melihat Luna serapuh ini membuat luka hatinya terbuka lagi.



“ Ada yang sakit lagi?” Tanya Mr. Wilkinson sambil mengelus rambut puterinya. Luna menggeleng sebagai jawaban, membuat tiga pria yang ada disana melega.



“ Lucy?” Tanya Luna singkat. Bahkan disaat seperti ini Luna masih memikirkan keadaan Lucy, sungguh membuat orang heran, terbuat dari apa hati gadis itu?



“ Papa sudah mengamankannya, papa janji gak akan melukai Lucy, tapi papa juga akan membuat dia mempertanggung jawabkan perbuatannya.”



Luna mengangguk sebagai sajawan, dia melega akhirnya semua berakhir, semoga hari esok lebih cerah dan penuh kebahagiaan, tanpa dendam dan amarah yang terus menghantui langkahnya beberapa waktu lalu.