Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 14



"Aiiisshhh." Lelaki itu menyibakkan selimut dan duduk di atas kasur. Dia mengucek matanya dan menguap dengan lebar. Lelaki itu ingin waktu berhenti barang sejenak karna dia masih ingin melanjutkan tidurnya. Dia hanya memiiki jatah tidur yang sedikit beberapa waktu ini.


" Sesulit ini ya hidupnya orang – orang kaya yang gila kerja? Pusing banget kepala gue," ujar Radith yang langsung mengambil obat yang ada di nakas, obat yang diberikan oleh dokter jika dia mengalami migrain atau jenis pusing lainnya. Lelaki itu meminumnya dengan bantuan air putih dan terdiam untuk mengumpulkan nyawanya.


Lelaki itu akhirnya turun dari kasur dan berjalan ke mesin pembuat kopi. Dia mengambil secangkir kopi dan berjalan ke arah balkon. Entah sejak kapan hidupnya jadi semembosankan ini. Kehidupan orang dewasa tak seindah yang dia bayangkan. Makin banyak waktu yang dipakai untuk bekerja, sampai tak memiliki waktu untuk bersantai.


Tiba – tiba saja Radith berjalan ke arah sebuah laci yang sudah jarang dia buka. Dia membuka laci itu dan mengambil sebuah foto. Foto yang menunjukkan dirinya dan seorang gadis sedang berangkulan dan tertawa bahagia. Gadis pertama yang membuat harinya berwarna. Gadis yang membuat dia bisa tertawa lepas dan melupakan sikap dinginnya.


" Seandainya kalau yang gue andaikan itu menjadi nyata, gue bakal terus berandai – andai dalam hidup gue. Ah setan, bunuh diri gue lama – lama," ujar Radith frustasi dan memasukkan lagi foto itu ke dalam laci. Lelaki itu berjalan ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kantornya.


Radith masuk ke dalam mobilnya dan mulai melakukan panggilan dengan seseorang yang memang dia siapkan khusus untuk menyelidiki orang – orang mencurigakan dalam hidupnya. Radith belajar hal seperti ini dari Jordan, bahkan orang yang paling dia percayai pun sudah dia selidiki untuk meyakinkannya kalau orang di sekitarnya tidak ada yang berkhianat.


" Om minta Om, tolong Om." Radith membuka kaca jendelanya dan menatap anak yang lusuh, kurus dan tak terawat itu. Radith memita anak itu mendekatkan kepalanya setelah dia memastikan warna merah di hadapannya masih lama. Anak itu mendekatkan kepalanya dan membiarkan Radith membisiki sesuatu di telinganya.


" Siapa yang minta kamu jadi seperti ini? Kamu yakin mau kasih uang buat orang itu terus?" tanya Radith yang membuat anak itu terdiam dan menunduk sedih. Radith tersenyum dan meminta anak itu masuk ke mobilnya. Lelaki itu tidak akan memberikan uang pada seseorang yang nantinya akan dia berikan lagi untuk orang jahat.


Anak kecil itu langsung masuk ke mobil Radith dan Radith beranjak dari sana saat lampu berubah warna menjadi hijau. Lelaki itu diam dan tak membuka pembicaraan pada anak lelaki yang tampak ketakutan dia bawa. Anak lelaki itu meremas bajunya sendiri dan tampak sedih, membuat Radith semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres sudah terjadi.


Radith membawa anak itu ke sebuah restoran cepat saji dan memarkirkan mobilnya di sana. Anak kecil itu langsung mengubah ekspresinya dan tampak bahagia karna Radith membawanya pergi ke tempat ini. Radith yang melihat itu tentu ikut senang, dia mengajak anak itu turun dan mulai memesan. Banyak yang melihat Radith dengan tatapan aneh dan curgia, namun Radith cuek saja dengan tatapan itu.


" Kamu mau pesan apa? Kamu pesan aja nanti Om yang bayar. Pesan yang banyak juga gak papa asal kamu bisa habisin semua," ujar Radith dengan ramah, membuat anak itu melihat menu yang ada di hadapannya dan mulai memilih. Radith langsung membayar pesanan anak itu sekaligus membayar makanannya.


" Makan pelan – pelan, kayak lagi dikejar polisi aja, haha," ujar Radith setengah bercanda. Anak lelaki itu mengangguk senang dan mengunyah makanan yang ada di mulutnya lebih pelan. Tampak raut bahagia yang anak itu tunjukkan seakan makanan ini adalah makanan yang paling enak dalam hidupnya.


" Dulu sering makan ini sama Ibu, tapi sekarang udah gak pernah. Sama Om Jefri aja kami dikasih makan pakai nasi yang udah berair, lauknya Cuma ikan asin atau tahu tempe. Dodo seneng banget, makasih ya Om," ujar anak itu yang membuat Radith terdiam. Ternyata bukan orang tuanya yang menyuruhnya untuk mengemis seperti itu.


" Om Jefri itu siapa?" tanya Radith dengan santai agar anak lelaki itu tak merasa sedang di intrograsi. Anak lelaki itu tampak ragu untuk memberitahukan pada Radith. Namun tatapan Radith yang meneduhkan dan penuh perlindungan membuat anak itu akhirnya membuka suara.


" Dodo dulu tinggal di Sulawesi. Terus Om Jefri datang dan ngajak ke tempat bermain nanti diantar pulang. Nah setelah itu Dodo dibawa naik kapal. Waktu Dodo minta diantar pulang, katanya Om Jefri gak punya uang, jadi Dodo harus kerja ngumpulin uang biar Om Jefri bisa antar Dodo pulang."


Anak kecil itu terdiam dan mulai menangis. Menangis pelan yang tak menimbulkan perhatian. Radith masih berusaha mendengar apa yang dikatakan oleh Dodo. Dodo menyeka air matanya dan mengambil susu yang tadi dia pesan. Radith harus tahu detailnya agar dia bisa mengambil tindakan yang tepat dan tidak gegabah. Feelingnya selalu kuat, dia bisa melihat ada hal yang tidak beres sejak pertama melihat anak itu.


" Dodo kangen sama Ibu, Dodo pingin pulang Om, Dodo mau pulang, Dodo kangen sama Ibu di rumah," ujar Dodo yang mulai menangis. Radith langsung mengusap rambut yang kusam itu. Jika seperti ini tak mungkin kan dia menutup mata seakan tak terjadi apapun?


" Om bakal bantu kamu dan teman – teman kamu pulang ke rumah kalian masing – masing. Tapi kamu juga bantu Om buat jelasin ke Om polisi agar Om Jefri itu bisa ditaangkap dan kalian bisa pulang, kamu mau kan bantu Om?" tanya Radith yang diangguki oleh Dodo. Anggukan yang penuh dengan kebahagiaan.


" Om, boleh beli es krim gak?" tanya Dodo dengan polos, membuar Radith tertawa seketika. Dia masih kecil, namun sudah pandai merusak suasana. Radith langsung bangkit berdiri dan membelikan apa yang anak kecil itu minta. Ah, jadi seperti ini rasanya punya anak. Ternyata menyenangkan, seandainya Radith memiliki anaknya sendiri.


" Ngawur aja pikiran Lo dith, calon aja gak ada," ujar Radith pelan pada dirinya sendiri


*


*


*


" Kok lemas gitu sih? Apa gak jadi aja ke sananya?" tanya Darrel yang melihat Luna begitu lemas. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menggandeng lengan Darrel untuk berjalan. Gadis itu sudah berencana akan mengunjungi rumah sakit kanker yang dia bangun. Sudah lama dia tidak mengontrol tempat itu, dia ingin belajar bertanggung jawab dengan apa yang dia punya.


" Ayo kita ke rumah sakit aja, terus habis itu jalan – jalan ke rumah boneka. Luna pengen banget masuk ke rumah boneka," ujar Luna yang membuat Darrel menatap Luna dengan sedikit aneh. Luna yang ditatap pun merasa tak nyaman dan menanyakan pada Darrel mengapa lelaki itu menatapnya.


" Kamu udah pindah hobi dari ngoleksi ponsel ke ngoleksi boneka? Tumben minta ke rumah boneka bukan ke Konter?" tanya Darrel yang membuat Luna langsung memutar bola matanya. Luna tak menjawab dan langsung menarik tangan Darrel menuju ke mobil lelaki itu. Luna sedang malas untuk berdebat ataupun banyak bicara.


Salah Luna yang semalaman menonton drakor menyelesaikan sisa episode yang belum dia tonton sampai tamat. Jika Luna menceritakan hal itu pada Darrel, tentu Darrel akan marah padanya. Lebih baik dia diam dan lelaki itu berhenti bertanya. Toh dia hanyaa butuh tidur sebentar lagi dan semua akan baik – baik saja.


Mereka sampai ke rumah sakit dan wajah lemas Luna langsung berubah antusias melihat anak – anak dengan selang oksigen di hidungnya namun masih mau bermain dan bergurau dengan teman – temannya. Luna ikut bermain dengan mereka, sementara Darrel langsung menemui bagian staff untuk memastikan rumah sakit ini tak kekurangan hal mengenai anak – anak.


Padahal rumah sakit ini milik Luna, atas nama Luna dan dibangun karna permintaan Luna. Namun tetap saja yang mengurus semua Darrel dan Jordan. Ah gadis itu memang tak berbakat untuk urusan seperti ini. Dia memang peduli pada sekitar, namun tak bisa mengatasi hal seperti ini.


" Kak Lunetta, Kak Lunetta sakit ya?" tanya seorang anak yang memegang wajah Luna. Luna tersenyum dan menggelengkan kepalanya, bagaimana gadis itu mengatakan dirinya sakit di hadapan anak – anak hebat yang ada di hadapannya? Dia tidak boleh menjadi lemah di hadapan mereka agar mereka pun tetap kuat dan percaya bahwa mereka bisa sembuh.


" Kemarin ada satu anak yang boelh pulang karna udah sembuh kak. Kami senang sekali melihat dia sudah sembuh. Kami kami juga sedih, kapan kami bisa sembuh seperti mereka ya?" tanya anak itu sambil tersenyum masam. Luna yang mendengar itu sebenarnya kaget, namun dia segera mengubah air mukanya.


" Kalian gak boleh patah semangat ya. Kakak yakin kalian pasti sembuh. Kalian kan anak – anak yang kuat, semua penyakit pasti takut sama kalian," ujar Luna dengan senyum yang tulus. Anak – anak itu memeluk Luna dengan erat, Luna tersenyum senang karna hal itu. Namun tiba – tiba saja kepalanya terasa sangat berat dan pandangannya mengabur.


"' Lunetta! Astaga kamu kenapa?" itu adalah suara terakhir yang Luna dengar sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri. Darrel langsung membawa Luna pergi dari tempat itu dan menemui dokter yang ada di sana. Dokter mulai memeriksa kondisi Luna dan dokter hanya mengatakan jika Luna kelelahan. Namun hal itu tak membuat Darrel merasa puas.


Lelaki itu langsung menelpon dokter yang merawat Luna saat gadis itu tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Darrel takut penyakit itu kembali setelah beberapa tahun ini Luna tidak kambuh sama sekali. Tak butuh waktu lama dokter itu pun datang dan memeriksa kondisi Luna.


" Kita harus membawa Luna ke rumah sakit agar bisa diperiksa dengan alat khusus. Saya tidak bisa memastikan jika hanya diperiksa kondisi luarnya," ujar dokter itu yang disetujui oleh Darrel. Darrel langsung menggendong Luna dan bersama dokter itu pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi saraf Luna.


Jika diingat lagi, Luna memang tidak pernah mengkonsultasikan kondisinya pada dokter untuk waktu yang lama. Apakah mungkin kondisinya memburuk karna hal itu? Semoga saja tidak. Semoga saja benar kata dokter tadi, Luna hanya kelelahan dan pingsan. Itulah yang dipikirkan oleh Darrel, lelaki itu terus berharap yang terbaik untuk Luna.


" Apa Luna sudah tidak meminum obatnya lagi selama ini? Meski tak pernah kambuh, pasien tidak boleh sampai melupakan untuk meminum obatnya. Apalagi jika hal itu dilakukan lebih dari satu bulan. Obat tersebut diberikan untuk membantu saraf yang ada di tubuh pasien agar bekerja normal. Jika pasien lupa untuk meminum obat, tentu kerja saraf berpotensi mengalami masalah."


" Maaf dokter, saya tidak tahu kalau dia selama ini tidak meminum obatnya. Padahal sudah hampir enam tahun kondisi gadis itu membaik dan tak pernah kambuh lagi, mungkin karna itu dia tidak meminum obatnya. Lalu bagaimana kemungkinannya dok? Apa itu artinya kemungkinan kondisi Luna memburuk akan semakin besar?" tanya Darrel dengan khawatir.


" Semua tergantung dari kondisi pasien. Jika pasien dalam kondisi stabil dan kuat, kemungkinan untuk kambuh atau memburuk sangat minim. Namun melihat kondisi Luna, dia sangat lemah dan bahkan dia tidak beristirahat yang cukup, hal itu tentu akan memperburuk kondisinya. Apalagi terakhir yang saya ingat, dia mengkonsumsi banyak obat dalam sekali waktu, benar kan? Saya takut obat – obat itu justru akan menambah buruk kondisi Luna."


Darrel membenarkan hal itu. Luna harus meminum obat yang mencegah ataksia kambuh, dan dia juga harus meminum obat agar phobia yang dia alami tak menguasahi tubuhnya, belum lagi vitamin – vitamin yang diberikan oleh dokter.


" Dokter, apa bisa jumlah obat yang diminum oleh Lunetta dikurangi? Saya takut Luna merasa lelah karna banyak obat dan malah akhirnya tidak meminum semua obatnya. Bisa kan dok?" tanya Darrel yang membuat dokter berpikir. Lalu mengangguk.


" Saya akan menyiapkan obat yang penting saja jadi jumlahnya bisa berkurang. Untuk masalah phobia, tolong kamu hubungi agar Luna berhenti minum obat dan beralih ke terapi. Sekarang kita tinggal menunggu Luna sadar untuk memastikan kondisi gadis itu, saya harap setelah ini Luna tidak lupa untuk meminum obatnya."


Darrel berterima kasih dan berjalan ke kamar inap Luna, menunggu gadis itu siuman. Luna akhirnya bangun sepuluh menit kemudian dan memegang kepalanya yang terasa pusing.


" Mana yang sakit?" tanya Darrel pada gadis itu. Luna menggelengkan kepalanya dnegan mata yang terpejam. Lalu gadis itu membuka mata dan melihat sekitar lalu menatap Darre; yang khawatir padanya. Luna langsung menunduk dan tak berani menatap ke arah lelaki itu.


" Sayang, aku tahu kamu bosan sama obat – obat kamu, tapi obat itu penting buat kamu. Kamu gak boleh lupa minum obat lagi, aku gak mau kamu kenapa – napa. Aku udah bilang ke dokter untuk mengurangi jumlah obatnya, jadi setelah ini kmu harus minum obatnya. Okay?" tanya Darrel dengan senyumnya. Luna mengangguk dan meminta maaf pada lelaki itu.


" Aku sayang sama kamu. Bahkan kalau kamu terluka walau bukan karna aku, aku bakal ngerasa bersalah banget untuk hal itu. Jangan sakit, jangan terluka. Promise?" tanya Darrel sambil mengulurkan kelingkingnya ke arah Luna. Gadis itu menautkan kelingkingnya ke kelingking Darrel.


" Promise."