
Judul : Segenggam Asa
Tayang di group FB. (Lovrinz and Friends)
Masuk ke group dan cari nama Fb. ku ; Hind Hastry
Aku tunggu hadir kalian di sana ๐ฅฐ๐ค
Bab. 1
Pagi yang cerah, sinar mentari terasa hangat menerpa kulit. Angin musim kemarau yang berhembus sepoi-sepoi, terasa sejuk menyapu wajah. Namun, cerahnya pagi berbanding terbalik dengan keadaan hati seorang gadis yang berjalan tanpa semangat menuju ke kampus, tak jauh dari tempat indekosnya.
Wajah putih bersih dengan bulu mata tebal dan lentik yang menghiasi mata bulat nan indah tersebut, diliputi mendung kelabu. Gadis yang memiliki tubuh tinggi semampai itu, teringat perkataan sang kekasih kemarin sore ketika mereka berdua bertemu di ruang rapat senat.
"Jangan naif kamu, Wi! Semua penulis, pasti menginginkan mendapatkan keuntungan dari tulisannya! Kalau kamu tidak mengikuti keinginan pembaca, bagaimana mungkin tulisan kamu bisa laku!"
Kata-kata Dewa yang mematahkan semangat Dewi, terus terngiang di telinga gadis itu. Kata-kata tersebut berhasil membuat gadis berhijab motif bunga-bunga kecil, merasa tidak diberi dukungan oleh sang kekasih dengan ๐ฉ๐ฐ๐ฃ๐ฃ๐บ yang digelutinya beberapa waktu terakhir.
Ya, untuk menyalurkan ๐ฉ๐ฐ๐ฃ๐ฃ๐บ-๐ฏ๐บ๐ข yang suka menulis, Dewi memberanikan diri menulis novel di sebuah ๐ฑ๐ญ๐ข๐ต๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ baca novel ๐ฐ๐ฏ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ gratis semenjak beberapa bulan yang lalu.
Gadis itu tak sekadar menulis, tetapi Dewi yang memiliki ๐ฃ๐ข๐ด๐ช๐ค ajaran agama yang cukup kental semenjak masih kecil, menginginkan agar tulisannya membawa manfaat bagi banyak orang, selain memberikan hiburan tentunya.
"Enggak semua seperti itu, Kak. Nyatanya, masih ada kok beberapa penulis ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ณ๐ฆ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ช๐จ๐ช yang tulisannya tetap laku," bantah Dewi.
"Laku, tapi tak banyak dan enggak sampai ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ seperti cerita dua satu plus-plus yang pembacanya membludak hingga mencapai angka em-eman. Lantas, dari mana kamu bisa mendapatkan uang kalau novel kamu enggak ada yang baca?" Dewa menatap tak mengerti ke arah sang kekasih.
"Memang enggak banyak, sih, Kak. Bagi Dewi yang terpenting, Dewi enggak menuliskan sesuatu yang dapat merusak moral generasi anak-anak muda." Gadis itu balas menatap sang kekasih.
"Dan yang lebih penting lagi, apa yang Dewi tuliskan tidak menimbulkan dosa jariyah yang akan memberatkan timbangan amal buruk bagi Dewi di akhirat kelak," lanjutnya, mencoba memberikan pengertian pada pemuda yang dua tahun terakhir ini sangat dekat dengan dirinya.
"Bulshit dengan semua idealisme kamu itu, Wi!" Dewa membuang kasar napasnya dan kemudian menyibukkan diri dengan laptop di hadapan.
"Kalau kamu ingin menulis dengan idealisme yang kamu miliki itu, kenapa enggak menulis buku-buku tentang agama saja atau tentang kehidupan seperti aku?" cecar Dewa, setelah beberapa saat.
Dewi terdiam, gadis berlesung pipi tersebut tahu pasti bahwa kekasihnya itu memang merupakan salah satu penulis esai di sebuah tabloid elektronik ternama.
Tulisan-tulisan Dewa yang mengulas sisi kehidupan kaum ๐ฎ๐ข๐ณ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ dan terpinggirkan, memang ditulis dengan sangat detail karena pemuda berbadan tegap tersebut terjun langsung ke lapangan untuk melakukan penelitian.
Dewa sering mengajak Dewi untuk ikut menulis seperti dirinya karena selain ๐ฉ๐ฐ๐ฃ๐ฃ๐บ dan idealisme sebagai seorang aktivis kampus tersalurkan, pemuda itu juga dapat mendulang penghasilan dari setiap judul yang dia tulis.
"Itu bukan ๐ฑ๐ข๐ด๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ-ku, Kak," balas Dewi yang kali ini kembali menolak dengan halus.
"Huff ...." Dewa membuang kasar napasnya. "Terserah kamu sajalah, Wi! Jangan sampai kamu menyesal karena kamu menulis dan cuma dapat capeknya doang! Sudah gitu, dapat julukan 'Kang Halu' lagi dari teman-teman!" cibir Dewa yang terdengar sedikit ketus.
"Dewi enggak bakalan menyesal, Kak, karena Dewi menuliskan cerita tersebut dengan hati. Bukankah segala sesuatu yang dilakukan dengan hati, pasti akan sampai ke hati?" Dewi mencoba membesarkan hatinya sendiri.
Dewa kembali menghela napas panjang.
"Aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan sore ini juga, Wi. Kalau kamu mau pulang dulu, silahkan," usir Dewa dengan halus, membuat Dewi tercenung untuk sesaat.
'Kak Dewa kenapa, sih? Kok tiba-tiba, jadi berubah ketus gini?' batin Dewi, bertanya-tanya.
'Apa, dia lagi PMS, ya?' Dewi yang memang memiliki karakter santai dan lucu, tersenyum sendiri dengan pikiran konyolnya.
"Apa, mau aku antar?" Pertanyaan Dewa dengan merendahkan nada bicaranya beberapa saat kemudian, membuyarkan lamunan Dewi.
"Tidak perlu, Kak. Dewi jalan kaki saja," tolak gadis itu seraya tersenyum manis, seolah tak pernah terjadi perdebatan di antara mereka berdua.
Dewa hanya mengedikkan bahu dan membiarkan sang kekasih melangkah keluar, meninggalkan ruang rapat senat.
"Woi! Pagi-pagi, sudah melamun saja!" Suara sang sahabat yang berada persis di samping telinga Dewi, mengagetkan gadis yang berjalan sambil melamun tersebut.
"Resek, kamu! Siapa yang melamun, Tan?" kilah Dewi, seraya memukul pelan lengan sang sahabat.
"Ya, kamulah ... siapa lagi?" Tania mengerutkan dahi. "Buktinya, aku panggil-panggil dari tadi, enggak menyahut!" protesnya dengan bibir mengerucut, membuat wajahnya yang bulat terlihat lucu.
Dewi pun tersenyum, melihat tingkah lucu sang sahabat yang selalu dapat menghibur dirinya di saat gundah gulana mendera seperti ini.
"Nah ... gitu, dong. Senyum 'kan, jadi tambah manis." Tania terkekeh senang, yang kemudian diikuti oleh Dewi.
Mereka berdua kemudian melanjutkan langkah menuju kampus yang sudah terlihat di depan mata, sambil bercanda dan tertawa bersama.
"Wi, itu Kak Dewa, kan?" Tania menunjuk ke arah Dewa dan seorang perempuan asing di depan gedung rektorat, ketika mereka berdua hendak melintas. "Kak Dewa sama siapa, ya?" lanjutnya bertanya.
"Temannya, kali," balas Dewi pura-pura bersikap santai, padahal jantungnya jedag-jedug tak karuan.
Tania menarik tangan Dewi dan menghentikan langkah gadis itu, ketika Dewi bermaksud melewati jalur lain. "Kita 'kan hafal hampir semua teman-teman dekat Kak Dewa, Wi?' Tania tidak percaya begitu saja, ucapan sahabatnya.
"Terus?" tanya Dewi, seraya mengangkat kedua alisnya hingga netra bulat gadis itu semakin terlihat lebar. Dewi pura-pura tak perduli dengan Dewa dan perempuan asing yang saat ini sedang bersama sang kekasih.
"Ayo, kita samperin!" paksa Tania sambil menyeret pelan tangan sang sahabat. Hingga membuat Dewi yang tidak siap, memekik kecil karena terkejut.
"Tan! Apa-apaan, sih, kamu!" protes Dewi yang mau tak mau mengikuti langkah Tania ke arah Dewa, yang sedang duduk di bangku bersama perempuan berambut ๐ฃ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ฆ.
Teriakan kecil Dewi yang terdengar di telinga Dewa, membuat pemuda tersebut menoleh ke arah sumber suara. "Dewi?" gumam Dewa, terkejut. Dahi pemuda tersebut berkerut dalam.
Pemuda itu kemudian menoleh ke arah gadis yang bersamanya dan buru-buru bergeser dari tempatnya duduk, untuk memberi jarak di antara mereka berdua.
Sikap Dewa yang tiba-tiba menjauh, membuat gadis berambut keemasan di sampingnya, bertanya-tanya. "Kenapa menjauh, Mas?"
bersambung ...