
" Kak, kemarin aku pemeriksaan rutin kan kak, terus kata dokter aku baik – baik aja, penyakitnya gak parah dan kemungkinan kambuh memang kecil. Aku bahagia banget kak dengar berita itu. Aku kira aku bakal sakit terus," ujar Luna yang tak henti – hentinya tersenyum di layar laptopnya. Karna Darrel harus menyelesaikan tugas akhir sebelum ujian nasional, dia harus banyak lembur dan bahkan tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Yah, konsekuensi bersekolah di sekolah Kejuruan, setiap akhir tahun mereka bersekolah, mereka harus menyelesaikan tugas akhir dan laporan magang di kelas tiga semester satu, karna semester dua digunakan untuk pengayaan bagi mereka sebelum menempuh ujian nasional. Hal itu membuat Darrel sangat sibuk dan tak pernah bisa bersantai. Apalagi dia harus mengurus dua usaha yang dipegangnya untuk saat ini.
" Bagus Dong, syukurlah kalau kamu ternyata baik – baik aja. Tapi kamu tetep harus jaga pola makan, jaga kesehatan, jangan sampai drop. Obatnya juga rutin diminum, aku gak mau tunangan aku sakit lagi, nanti aku sedih," ujar Darrel dengan nada yang diimut – imutkan.
" Tolong ya kak, hubungan kita tuh bukan hubungan yang alay kayak gitu, geli Luna dengar kak Darrel kayak gitu," ujar Luna yang menggelengkan kepala dengan cepat karna merinding. Gadis itu memegang mulutnya dan menirukan seseorang yang sedang muntah.
" Oh ya, kamu bilang ada permintaan, itu permintaan apa? Mau boneka? Mau mobil? Rumah?" tanya Darrel dengan wajah songongnya, Luna yang melihat itu hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya, saat ini bukan itu yang dia inginkan. Entah mengapa Luna sudah kehilangan hasrat untuk benda – benda itu. Yah, adegan memborong boneka tempo lalu hanya ingin mengerjai Darrel yang tak pernah ada waktu untuknya.
" Luna mau bangun rumah perawatan buat anak – anak yang mengidap kanker atau tumor gitu kak. Biayanya gratis seratus persen jika memang keluarganya bener – bener gak mampu. Kemarin Luna datang ke rumah sakit itu, kaishan aja mereka ditinggalin orang tuanya karna mereka sakit. Luna harap setelah ini gak ada orang tua yang ninggalin anaknya padahal anaknya sakit parah, apalagi hanya karna alasan biaya."
Luna mengatakan hal itu dengan nada yang bicara dan tanpa berpikir lagi, seakan niat itu bulat dan mutlak akan dia laksanakan. Darrel langsung terdiam dan tak tahu akan menjawab apa. Siapa yang tidak terkejut saat Luna yang sangat terkenal manja dan egois kini berubah seratus delapan puluh derajat ke arah yang lebih baik?
" Oke, aku bakal bantu sebisa aku, tapi kalau masalah ini, bukan Cuma permintaan lho ya, ini juga tanggung jawab kamu sendiri, disini aku Cuma bantu kamu biar semua berjalan dengan lancar dan lebih baik," ujar Darrel dengan nada bangga dan bahagia. Luna mengangguk dan tersenyum puas karna keinginannya mendapat dukungan dari Darrel.
" Aku tutup dulu ya telponnya, lima menit lagi ada meeting sama papa, jangan rindu, biar aku aja yang tanggung semua sendiri, aku takut kamu lelah karna menanggung rindu tak semudah menanggung malu," ujar Darrel tersenyum lebar sampai menampakkan giginya. Luna tertawa dan mengangguk lalu panggilan pun berakhir.
Luna kembali pada kesibukannya, bergulin g di kasur dan memberantaki kamarnya, kebiasaan yang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa dia hilangkan. Kebiasaan yang berawal dari iseng karna melihat para pembantu menganggur, kini sudah menjadi hobi baginya. Setelah puas memberantaki kasur, gadis itu pun segera keluar dari kamar dan masuk ke kamar sebelah tanpa menutup pintu kamar tadi.
Gadis itu menelpon semua nomor yang ada di salah satu ponselnya, dimana hanya terdapat sepuluh kontak yang ada di sana, kebiasaannya yang menyimpan nomor temannya di ponsel yang berbeda, seperti mengelompokkan ponsel itu sesuai kegunaannya.
" Adel, Lo ada waktu buat main ke rumah gue gak?" tanya Luna saat panggilannya diangkat oleh Adel. Gadis itu tampak gelisah, seakan hendak menolak permintaan Luna, namun tak tega untuk melakukannya.
" Eh, gue gak maksa loh Del, gue paham kalau kalian anak SMA pasti sibuk, gak kayak gue yang Sekolah Terserah Murid, banyak nganggurnya kalau gak ada ujian atau ulangan," ujar Luna sambil terkekeh karna geli sendiri dengan singkatan STM karya teman – temannya. ' Sekolah Terserah Murid' akhirnya menjadi favorit Luna.
" Kalau minggu ini gue emang gak bisa Lun, ini gue lagi study visit ke Bali, mana kamar gue pisah dari Key, urut absen sih kamarnya," ujar Adel yang sebenarnya sudah tahu kondisi Luna, makanya dia tak enak jika menolak permintaan Luna yang hanya meminta mereka untuk berkumpul.
" Weh? Kok Lo gak kasih kabar ke gue? Gue minta oleh – oleh ah, gue mau Brem khas Bali yang banyak Varian rasa, gue mau semua, gue juga mau kaos yang jelek itu, pilih yang bagus terus yang mahal, sama sandal terus tasnya juga, kalau gak bawain gue pastiin Lo bukan lagi temen gue," ujar Luna dengan sinis dan mengancam.
" Gak lucu ancaman Lo, gak takut juga gue. Tapi Lo emang suka minum brem Bali? Emang Lo boleh minum begituan?" tanya Adel yang tak yakin dengan permintaan Luna. Pasalnya kan tidak semua orang bisa dan boleh meminum brem khas Bali.
" Hah? Minum? Kok diminum sih? Gue lagi ngomongin Brem batangan yang kalau diemut leleh. Lo ngomongin Brem yang mana?" tanya Luna dengan kebingungan. Adel langsung mengatakan 'aahh' setelah mengerti maksud Luna. Dia pikir yang dimaksud Luna adalah 'es batu' khas Bali. ( yang paham maksudnya komen ya, hahaha)
" Iya nanti gue bawain semua, udah siap satu tas kosong gue, Boy juga ngikutin gue pakai mobil, ntar deh gue titip ke dia semua biar gak ribet. Mau apa lagi Lo? Mumpung gue lagi baik hati sama Lo, jarang – jarang ngasih sedekah ke orang kaya," ujar Adel dengan nada sinis dan ketus, namun Luna tak merasa tersinggung sama sekali, kan memang Adel orangnya seperti itu.
" Aayang beb, yuhuu, telponan sama siapa? Pacar baru ya? Astaga Beb, apa gue kurang beb buat Lo sampai Lo tega selingkuh di belakang gue." Luna mengernyitkan dahinya mendengar suara pria yang tak asing suaranya. Tapi siapa? Dan apa hubungannya dengan Adel?
Tiba – tiba panggilan telpon biasa yang Luna lakukan beralih menjadi panggilan Video. Wajah Luna langsung tersentak kaget elihat wajah yang benar saja tak asing baginya. Tapi apa lelaki itu bilang? Kekasih Adel? Mereka sungguh berakhir menjadi pasangan kekasih? Astaga, hebatnya takdir dunia ini.
" Udah gue bilang itu Lunetta! Ngapain sih Lo, Lo pikir gue kurang kerjaan namain kontak pakai nama samaran? Malu – malu in aja sih, sana gih pergi, jauh – jauh, alergi gue sama Lo," ujar Adel yang mengambil alih ponselnya dan mendorong – dorong lelaki itu agar menjauh darinya.
" Lo berani ngusir gue? Oke, gue bakal ke tempat Amelia, biar gue digodain dia sampai mampus," ujar lelaki itu dan beranjak dari sana setelah menatap Adel dengan sinis. Adel langsung membuka mulutnya untuk keberanian lelaki itu, sejak kapan lelaki itu berani membantah dan bahkan malah membalasnya seperti ini? Biasanya lelaki itu seratus persen takluk pada Adel.
" Gak usah lebay, gue gak mau dilendotin gitu, kayak anak kucing Lo ah," ujar Adel bergidik dan mengelus pundaknya yang masih terasa geli karna disenderi oleh makhluk astral macam Rafa. Rafa mengerucutkan bibirnya dan menuruti kemauan Adel, dia duduk dengan tenang dan mengeluarkan ponselnya untuk mengusir bosan.
" Jadian juga kalian? Fix sih kalau gini, gue harus dapat PJ dari kalian terus PPH dari Key, asyik juga," ujar Luna sambil menerawang apa yang ingin dia minta ke mereka bertiga. Dia akan memanfaatkan keuntungan yang jarang – jarang dia dapatkan ini.
" PJ, PPH? Kalau PJ gua tahu itu Pajak Jadian, kalau PPH apaan deh? Kok gue kayaknya baru dengar sih?" tanya Adel dengan nada bingung. Mulutnya terbuka dan menengok ke arah Rafa yang menyuapinya nasi beserta lauknya. Ah, Rafa sebelas dua belas dengan Darrel, sangat manis dan perhatian, serta sangat manja di waktu yang bersamaan.
" Pajak Patah Hati beb, Lo tinggal di hutan amazon selama ini? Masak istilah kayak gitu aja gak tahu sih Lo?" Tanya Rafa yang mengejek Adel dengan tatapan yang sangat remeh. Adel hendak memprotes, namun Rafa keburu menyumpal mulutnya dengan sesendok nasi lagi, membuat mulut gadis itu penuh dan tak bisa bicara lagi.
" Kalian tuh udah jadian masih aja kayak kucing – anjing, berantem mulu. Awas loh kalau nanti ada PHO, atau mau gue aja yang jadi PHO nya? Rafa kan cakep," ujar Luna dengan heboh sambil memainkan alisnya, Rafa reflek tertawa karna mendengar perkataan Luna.
" Tuh Del, sahabat Lo sendiri Del, cinta dalam hidup Lo aja bilang kalau gue cakep. Kok lo gak mau ngakuin gue cakep sih Del? Gue udah baik hati mau sama Lo yang kayak laki gini, masih aja Lo ngatain gue curut Got," ujar Rafa mengelus dadanya dan seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi melas dan prihatin.
" tadi Lo bilang kayak kucing sama anjing? Bukan kayak lagi Lun, tapi memang. Gue kucingnya dia anjingnya. Lagian kalau Lo mau jadi PHO mah tinggal bilang, gue sedekahin Lun nih orang yang uang koin bekas kerokan ke Lo, iklas lahir batin gue," ujar Adel dengan santai dan mantab tanpa keraguan.
" Uang Koin bekas kerokan? Lo kira gue daki an? Gue bersih, mulus, terawat, bahkan gue sering pijat lulur, spa, kalah cantik Lo sama gue," ujar Rafa tak terima dengan sebutan yang diberikan oleh Adel kepadanya, Adel langsung memutar bola matanya dengan malas saat mendengar apa yang Rafa jelaskan.
" Lo laki dan Lo bangga ngelakuin itu semua? Macam banci di perempatan jalan tahu gak cowok perawatan sampai kayak gitu. Geli," ujar Adel yanag langsung beranjak dari sana tanpa mempedulikan Rafa lagi, semua yang terjadi dilihat jelas oleh Luna, namun gadis itu hanya mampu tertawa geli atas pertengkaran keduanya.
" Gak papa Lo katain gue kayak gitu, yang penting gue bisa jagain Lo pakai nyawa gue, yang penting Lo cinta sama gue, wleekkk." Rafa berteriak cukup keras, meski Adel tak berbalik dan menulikan telinganya, tampak pipi gadis itu memerah dan mempercepat langkahnya agar suara Rafa tak terdengar lagi.
" Lo bilang gak suka, Lo hina – hina dia, tapi Lo blushing juga waktu digodain sama dia, Lucu banget Lo," ujar Luna yang sengaja mencibir Adel, gadis itu memutar bola matanya di depan Luna, rasanya Luna pun salah paham dengan memerahnya pipi Adel.
" Pipi gue merah tuh bukan karna malu sama dia Lun, tapi malu karna dilihatin banyak orang, apalagi sama cabe – cabean peliharaan dia, malu gue ****," ujar Adel yang ternyata berjalan menuju kamar hotelnya. Sepertinya mereka sedang dalam waktu bebas sebelum destinasi berikutnya.
" Ya, ya, ya, terserah Lo aja mau gimana, yang penting pesanan gue jangan sampai Lupa, kalau Lo lupa bakal gue tagih terus sampai Lo study visit lagi ke sana, mampus Lo," ujar Luna yang membuat Adel mendesah malas. Ya mana mungkin ada study visit lagi? Mana mau Adel menghabiskan seluruh tabungannya untuk mengadakan Study visit itu?
" Iya – iya ah, terserah Lo aja mau gimana. Gue tutup dulu ya, gue mau siap – siap habis ini mau ke pantai Pandawa, mana tahu ketemu bule yang istrinya lebih jelek dari gue," ujar Adel penuh maksud yang membuat Luna menggeleng takjub dengan jalan pikir gadis itu. Sejak SMP, Adel selalu bercita – cita menjadi sugar baby Om tampan, namun hal itu tak pernah dia lakukan.
Dengan kejam Adel langsung mematikan sambungan itu tanpa mendengar jawaban Luna. Luna langsung meletakkan ponselnya dan keluar dari kamar untuk makan. Sebenarnya dia tak lapar, namun karna sudah waktunya dia minum obat, maka dia harus memaksa makan meski sedikit. Apalagi pesan dokter yang mengatakan kemungkinan Luna kambuh akan terus ada selama Luna tak rutin meminum obatnya.
" Daddy? Daddy ngapain di sini? Bukannya Daddy berangkat ke UK ya ? kok udah pulang?" tanya Luna yang kaget atas kehadiran Papanya yang sudah berdiri di depan kamarnya. Sepertinya pria tua itu hendak mengetuk pintu kamar Luna.
" Daddy udah dengar keinginan pertama kamu itu. Daddy mau buat perjanjian bisnis sama kamu, dan Daddy yakin bakal nguntungin kamu, kamu mau gak kerja sama bareng Daddy?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Luna tertarik, baru kali ini Luna tertarik berbisnis dengan papanya.
" Sebentr lagi kan kamu UTS, Daddy bakal kasih kamu Previlege. Setiap nilai yang kamu dapat, akan dikalikan Juta. Semisal kamu dapat nilai 80, Daddy bakal kasih kamu 80 juta, begitu seterusnya. Tapi itu hanya untuk bantu kamu wujudin keinginan kamu, bukan untuk hal lain, gimana? Sangat menarik kan?" tanya Mr. Wilkinson yang membuat Luna termangu.
" Untungnya buat Daddy apa? Kalau gitu kan kelihatan banget mau nguntungin Luna," ujar Luna yang enggan berbisnis bila niat papanya hanya untuk menyenangkannya.
" Keuntungan buat Daddy? Kamu bakal belajar tanpa disuruh, kamu dapat nilai bagus dan buat Daddy bangga, kamu buat Daddy gak menyesal udah masukin kamu ke STM itu. Jauh lebih banyak keuntungan yang Daddy dapat karna Daddy mau kamu berhasil dengan nilai baik selama proses kamu di STM itu," ujar Daddy yang membuat Luna melebarkan senyumnya.
" DEAL!!" Pekik Luna dengan gembira dan menyerbu pria tua itu dengan pelukan.