Hopeless

Hopeless
Chapter 184



Pertama kali dalam hidupnya, Luna merasa memiliki sesuatu yag sungguh – sungguh harus dia perjuangkan dan hasilnya bukan untuk dia sendiri. Berhari – hari Luna harus belajar bersama Radith dan menghafal semua materi yang membuat kepalanya menjadi pusing, namun semua itu tetap dia lakoni demi uang yang dijanjikan oleh papanya, uang yang bahkan tak akan dia belikan barang mewah seperti biasanya.


" Dith, parah. Soal P.Pkn sama persis kayak kisi – kisi yang waktu itu kita kerjain, Cuma dibolak – balik aja kan opsinya? Parah , parah, gak sia – sia gue ngehafalin jawaban sama penjelasan di tiap jawabannya. Keren banget temen Lo bisa dapat bocoran soal kayak gitu," ujar Luna dengan bangga pada Radith, namun lelaki itu menatap Luna dengan tatapan tak suka.


" Itu bukan bocoran kalik, kalau bocoran tuh soal sama jawabannya sma apersis. Ini kan engga, kalau Lo Cuma ngehafalin jawaban yang bener ya gak bakal bisa jawab soal yang ini.," ujar Radith meluruskan perkataan Luna. Dia tak mau usahanya belajar demi membantu Luna memahami soal tercoreng dengan kalimat "mendapat bocoran", menyebalkan.


" Iya juga sih, tapi gak tahu ah, yang penting gue bisa jawab soalnya, dan gue bisa positif thinking gue bakal dapat nilai bagus, dapat duit dari bokap, aye aye lah pokoknya. Makasih banget ya Dith udah mau bantuin gue belajar, tenryata Otak Lo bisa berguna juga," ujar Luna yang membuat Radith mendesis.


" Bisa gak kalau Lo mau puji gue tuh ya puji aja gak usah pakai ngehina? Niat baik Lo jadi dosa tuh akhirnya, mampus Lo," ujar Radith yang membuat Luna terdiam dan berpikir. Benar juga apa yang Radith katakan, tapi kan niatnya hanya bercanda pada lelaki itu, kenapa lelaki itu malah baper?


" Dah, stop, gak usah banyak omong lagi. Gue laper banget, gue mau jajan terang bulan di café yang baru buka itu, Lo tahu kan tempatnya? Gue mau tagih bayaran gue buat mapel Pkn, traktir gue terang bulan," ujar Radith yang diangguki oelh Luna, gadis itu senang saja membawa Radith ke tempat itu, dia kan juga bisa ikut jajan ke sana.


" Eh bentar, bentar, kak Darrel telpon," ujar Luna menghentikan langkahnya dan mengangkat panggilan Video yang menunjukkan wajah lelah Darrel. Rambut lelaki itu acak – acakan dengan seragam yang sudah tak berdasi. Citra rapi Darrel langsung hilang seketika di hadapan Luna.


" Kenapa sampai kayak gitu? Capek banget kah sekolahnya?" tanya Luna dengan perhatian sambil menyentuh layar ponselnya, seakan yang dia sentuh adalah wajah Darrel. Lelaki di seberang sana mengangguk sebagai jawaban sambil menggigit pulpen yang dia pegang.


" Mau kemana? UTS nya udah selesai kan?" tanya Darrel saat melihat Luna memakai tas. Pertanyaan Darrel diangguki oleh Luna. Gadis itu lantas menggeserkan layar ponselnya hingga wajah Radith ada di layar itu. Darrel menganggukan kepalanya saat mengetahui Luna bersama dengan Radith. Darrel sudah tahu tentang Luna dan Radith yang belajar bersama untuk tujuan Luna, dan tentu saja Darrel ikut senang dan mendukung Luna.


" Pulangnya sekalian diantar sama Radith gak papa kan? Aku pulang sore banget soalnya, parah, banyak banget materi pemadataannya, padahal masih semester satu," ujar Darrel dengan frustasi, memang hanya Luna tempatnya mengadu masalah ini. Luna tertawa mendengar Darrel yang selalu mengeluh tentang hal yang sama padanya.


" Kak Angga mana? Biasanya dia ngerusuh kalau kak Darrel lagi VC Luna?" tanya Luna karna layar ponsel Darrel tampak damai dan tak ada gangguan dari makhluk astral bernama Angga. Darrel memutar kepalanya dengan malas lalu mengubah mode kamera belakang agar Luna bisa melihat apa yang dilakukan oleh Angga.


" Loh? Kak Angga sekarang sama kak Dara? Kalian bakal jadi ipar dong? Hahahaha gilak! Dunia sempit sekali," ujar Luna dengan keras dan penuh kepuasan. Di layar itu tampak Angga yang sedang bucin ke Dara meski Dara tampak risih dengan apa yang Angga lakukan.


" Gak usah sebahagia itu, Angga bakal jadi ipar kamu juga kalau nanti kamu udah nikah sama aku. got it?" tanya Darrel yang membuat Luna terdiam dan menunduk malu, membayangkan dia akan menikah dengan pangeran impian semua gadis di STM Taruna, astaga, bagimana nanti rasanya?


" Bisa gak VC nya udahan terus dilanjut waktu sampai di rumah aja? Gue udah lapar banget dan butuh asupan gizi untuk pertumbuhan gue setelah mengurs otak buat mikir, oke?" tanya Radith menginterupsi pembicaraan Darrel dan Luna. Luna berdecak dan mematikan sambungan telpon setelah mengucapkan beberapa salam dan wejangan dari Darrel untuk mereka.


" Yok berangkat sekarang, gue beliin lima lingkar buat pertumbuhan Lo, biar gendut sekalian Cuma makan karbo sama gula – gula an," ujar Luna dengan kesal sambil berjalan duluan di depan Radith. Radith yang melihat itu hanya tertawa dan segera menyusul Luna menuju parkiran motor.


*


*


" Gara – gara Lo nih gue harus balik lagi ke loker dan ke parkiran, kenapa Lo gak bilang kalau helmnya di loker sih? Lo sengaja bikin gue membakar kalori berlebih?" tanya Luna dengan kesal karna harus berbalik ke loker yang berada di dekat kelas untuk mengambil helm saat dia sudah ada di parkiran.


" Yang tadi sok sok an marah terus ninggalin gue duluan ke parkiran siapa? Ya gue biarin lah, padahal tadi gue mau bilang kalau helmnya di loker," ujar Radith acuh sambil memakai helmnya dan menyalakan motornya. Meski Luna tahu Radith sengaja melakukan hal itu, Luna tak membantah lagi dan langsung naik ke motor Radith.


Luna yakin jika dia membantah, Radith akan semakin membullynya dan bahkan bisa meninggalkannya di parkiran hingga dia harus berjalan lagi ke gerbang belakang untuk naik ke motor Radith. Luna tak mau membuang tenaganya untuk melakukan itu semua.


" Terang bulan di sana jual minuman juga gak sih?" tanya Radith pada Luna saat mereka sudah menyusuri jalanan ramai untuk sampai ke tempat tujuan. Luna tapak berpikir cukup lama sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Radith yang membuat Radith sedikit tersentak setelah mendengar jawaban Luna.


" Gue gak tahu juga ya Dith, kan gue gak pernah ke sana, Gue kan Cuma iyain aja waktu Lo bilang Lo mau ke sana. Lo belum pernah ke sana juga kah? Kalau belum mending mampir minimarket dulu buat beli minuman." Itulah jawaban yang membuat Radith sedikit tersentak. Bukan karna jawaban Luna.


Lelaki itu tentu heran kenapa Luna harus berpikir sebegitu lama saat dia tak pernah ke sana? Mengapa gadis itu tak menjawab dengan cepat dan mengatakan dia tidak tahu? Terkadang hal yang dilakukan oleh Luna memang membuatnya kesal dan nyaris saja mengumpati gadis itu, entah karena Luna sengaja atau memang gadis itu asli lugu, Radith tak tahu lagi.


Setelah Luna keluar membawa kresek yang cukup besar berisi berbagai minuman botol. Sebenarnya Radith merasa yang dibeli Luna berlebihan, namun dia enggan untuk menegur Luna, toh semua minuman itu sudah terlanjur dibeli dan tidak mungkin dikembalikan lagi. Rasanya mulai hari ini Radith akan menurut dan membiarkan Luna melakukan sesuatu sesuka hatinya.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tempat tujuan dan mengambil salah satu meja yang ada di sana. Mereka memesan beberapa makanan dan juga segelas minuman. Ternyata kedai terang bulan ini bukan hanya menyediakan terang bulan, yang artinya semua minuman yang sudah mereka beli tadi tidak begitu diperlukan.


" Dith, kalau misal gue udah dapat nilai bagus semua dan bisa wujudin impian gue itu, kesan Lo ke gue gimana?" tanya Luna yang entah dari mana memikirkan pertanyaan itu. Radith bahkan tak mengerti maksud dari pertanyaan Luna, namun dia tetap menjawab sesuai dengan pengertiannya.


" Kesan gue ya biasa aja sih, itu kan udah jadi tekad Lo, wajar dong kalau diwujudin. Tapi gue juga kagum kok sama Lo karna Lo udah banyak berubah, udah gak begitu manja walau ngeselinnya masih. Lo udah gak sebegitu egois walau masih suka seenaknya sendiri. Yah, kesan gue sekarang ada positifnya gitu ke Lo," ujar Radith dengan santai.


" Sialan Lo, berarti sebelum ini kesan Lo ke gue negatif semua gitu? Gak ada positif positifnya?" tanya Luna dengan nada tak terima. Dengan santainya Radith membenarkan perkataan Luna dengan menjentikkan jarinya lalu menodongkan jempolnya ke arah Luna.


" Eh Lo diem dulu ya bentar, gue mau telpon Blenda dulu, udah satu minggu dia gak hbuungin gue, kangen gue sama dia," ujar Radith dengan semangat sambil mengambil ponselnya. Lelaki itu menelpon nomor luar menggunakan panggilan internet. Mendengar nama Blenda tentu membuat Luna tertegun, sepertinya memang Radith belum tahu mengenai kondisi Blenda yang sesungguhnya.


Radith terlihat bahagia setelah Blenda mengatakan banyak hal pada Radith, Blenda engatakan dia semakin baik dan akan segera pulang ke Indonesia, mendengar hal itu tentu membuat Radith semakin bahagia dan berdoa agar Blenda cepat pulang, Luna tersenyum kecut mendengar suara Blenda yang sangat riang, berbanding terbalik dengan apa yang sesungguhnya terjadi.


Cukup lama dan bahkan sampai semua pesanan mereka sudah terjadi lengkap di atas meja, barulah Radith mengakhiri semua percakapan mereka di telpon. Radith tersenyum senang dan puas karna Blenda sudah berusaha keras untuk sembuh dan gadis itu berhasil melakukannya. Blenda gadis yang kuat dan teguh, tak pernah menyerah dengan keadaan.


" Lo senang banget Blenda membaik ya Dith?' tanya Luna dengan riang, gadis itu mati – matian menyembunyikan perasaannya di depan Radith agar tak melukai perasaan lelaki itu. Radith mengangguk senang beberapa kali, tak bisa mengendalikan ekspresinya untuk datar seperti biasanya.


" Lo tahu kan kalau gue sakit dan gak bisa disembuhkan dith?' tanya Luna yang mmebuat Radith melunturkan senyumnya dan menatap Luna dengan serius. Lelaki itu merasa tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Luna, namun Radith harus tahu arah pembicaraan Luna hingga dia harus menanggapi percakapan gadis itu.


" Kalau misal suatu hari nanti gue bener – bener tambah parah dan gak bisa pulih, terus gue harus pergi ninggalin semua. Respon Lo gimana dith?" tanya Luna dengan wajah yang serius, entah mengapa Radith terbawa suasana dan merasa Luna sedang tak main – main dengan ucapannya. Hal itu tentu juga membuat Radith sedikit takut.


" Jangan bilang penyakit Lo tambah parah dan Lo mau mati? Gue tanya serius ini Lun, itu gak benar kan? Lo baik – baik aja kan Lun?" tanya Radith dengan nada serius, Luna menggelengkan kepalanay untuk menenangkan Radith dan mengatakan dia baik – baik saja. Hal itu membuat Radith sedikit merasa lega dan bernapas dengan lancar lagi.


" Gue baakal sedih banget kehilangan orang di sekitar gue, apalagi orang itu jaraknya dekat sama gue. Gue gak akan bisa terima gitu aja, apalagi gue belum siap untuk kehilangan orang itu. Misal kayak kematian mendadak gitu, gue gak akan bisa terima dengan mudah," ujar Radith sambil meminum minuman yang ada di gelasnya.


Luna langsung merasa sedih dan menunduk sambil menikmati terang bulan spesial yang dia pesan. Luna tak bisa membayangkan bagaimana Radith akan sangat terluka dengan kenyataan kondisi Blenda yang sangat memprihatinkan. Bahkan terakhir yang Luna dengar, dokter sudah mulai menyerah dengan keadaan Blenda dan meminta keluarga menyiapkan hati untuk semua kemungkinan yang terjadi.


Apa yang akan terjadi pada Radith jika lelaki itu mengetahui fakta tentang Blenda? Bukan hanya marah, lelaki itu akan sangat sedih dan kecewa, bahkan Luna sudah bisa membayangkannya. Luna tak akan memberitahu Radith tentang berita ini, meski Luna tahu tidak akan berakhir baik dengan menyembunyikannya, setidaknya untuk sementara Luna bisa melihat Radith yang bahagia.


" Lo yakin Lo gak kenapa – napa Lun? Lo yakin kondisi Lo gak memburuk? Kaki Lo ini bisa gerak? Tangan? Gue gak mau Loh ya susah kalau Lo kenapa – napa," ujar Radith yang sebenarnya khawatir, namun lelaki itu terlalu mementingkan gengsinya dan enggan untuk mengakui kekhawatirannya.


" Radith, ta.. tangan gue gak bisa gerak, to.. tolong," ujar Luna csecara tiba – tiba yang membuat Radith melotot dan bangun seketika. Gadis itu berusaha menggerakkan tangannya yang tiba – tiba saja merasa kaku, hal itu tentu saja membuat Radith menjadi panik.


" Coba digerakin pelan – pelan, haduh, bentar, kaki Lo bisa gerak gak? Kita ke rumah sakit sekarang? Haduh, gue gak tahu harus gimana Lun. Emm obat, obat Lo mana?" tanya Radith sambil menggenggam tangan Luna dengan erat, berharap tangan Luna tidak kaku seperti ini dan dapat digerakkan seperti semula.


" Gue bercanda," ujar Luna dengan tenang dan lembut, gadis itu tak berniat mempermainkan Radith sehingga tak menertawakannya. Luna hanya ingin memastikan Radith masih peduli padanya, benar saja kan? Lelaki itu tak bisa santai saat tahu Luna tak baik – baik saja.


Mendengar hal itu membuat Radith cengo dan langsung duduk lagi di kursinya dan mengatur suaranya karna mendadak tenggorokannya terasa gatal. Radith menggaruk lehernya dan kemudian memakan makanannya seolah tak terjadi apapun.


" Radith, makasih," ujar Luna dengan lirih saat Radith tak mau menatap ke arahnya. Luna tahu Radith mendengarkannya meski lelaki itu tak menjawab, akhirnya Luna melanjutkan perkataannya.


" Makasih udah mau peduli sama gue, makasih untuk gak melepas genggaman itu di saat gue butuh Lo, Terima kasih."