
Luna masih diam di posisinya saat menyaksikan beberapa anak dijemput oleh orang tuanya dengan penuh haru. Gadis itu ikut merasakan bahagia saat senyum dan sorot mata bahagia mereka tunjukan. Memang benar kata salah satu idola Luna yang ada di negeri ginseng. Seseorang yang sangat menginspirasi bagi Luna dengan kata – kata bijaknya.
' Kebahagiaan akan terasa banyak saat kita mengalikannya pada orang di sekitar kita, dan kesedihan akan terasa lebih sedikit jika kita membagikannya.' Luna mengerti benar makna kata itu. Luna tak menunggu lama karna Radith mendapat panggilan dari seseorang dan mereka harus pergi dari sana segera.
" Memang siapa sih yang telpon? Kok Lo harus sampai temuin dia? Lo kan bosnya dith, bilang aja Lo lagi sibuk terus gak bisa ke kantor," ujar Luna yang protes pada Radith. Lelaki itu tak menjawab perkataan Luna dan masuk ke dalam mobil. Mau tak mau Luna ikut duduk bersama Radith, tak mungkin kan dia tinggal di sini sendirian?
" Udah deh, Lo harus ikut gue ke kantor. Lo boleh ngerusuh di sana. Lo boleh lakuin dan ngomong apapun di sana. Langka kan gue ijinin Lo kayak gitu? Atau Lo mau gue antar pulang biar sendirian di rumah?" tanya Radith yang sengaja membuat Luna menerima tawarannya. Mereka langsung pergi ke kantor Radith saat Luna menyetujuinya.
" Dith, mampir ke restoran cepat saji mau gak? Mau beli burger sama es krim. Udah lama banget gue gak nge junk perut gue. Mau ya?" pinta Luna dengan wajah yang memelas. Radith pun hanya menyetujui keinginan Luna dan memilih untuk mencari resto cepat saji yang ada di sekitar kantornya.
" Gue beliin juga. Es krimnya yang vanilla, gak usah dikasih topping apa – apa. Pakai uang Lo aja," ujar Radith dengan sepihak. Membuat Luna berdecak kesal, namun tetap membelikan sesuai permintaan lelaki itu. Radith menjalankan mobilnya untuk membayar dan menunggu pesanan mereka disiapkan. Lelaki itu menerima uang yang diulurkan Luna dan membayarkan uang itu ke kasir.
" Lah dith? Kembaliannya mana? Itu receh – receh mau Lo ambil juga?" tanya Luna dengan wajah yang cengo. Radith mengangguk yakin dan menerima pesanan mereka yang sudah jadi serta memasukkan uang kembalian ke sebuah wadah yang ada di mobil itu.
" Nanti kalau nyebrang jalan kan ada polisi gopek, lumayan karna gue gak punya receh," ujar Radith dengan santai, membuat Luna menggelengkan kepalanya dengan wajah tak percaya. Radith sendiri tak merasa berdosa dan langsung melajukan mobilnya menuju kantor karna seseorang itu sudah menunggu. Yah, kalian bisa menebak siapa yang datang ke kantor Radith.
" Nanti Lo kalau ngomong mau dilebih – lebihkan juga gak masalah. Bilang kalau gue itu mantan pacar Lo atau sampai sekarang Lo masih suka sama gue, gak papa, gue ijinin," ujar Radith saat mereka memarkirkan mobil dan Radith mematikan mesin Mobil. Luna sendiri langsung penasaran siapa yang sudah meminta untuk bertemu mereka sampai Radith sebegini waspadanya.
" Nanti juga Lo tahu. Lo kenal sama dia, tapi Lo mungkin gak begitu tahu orangnya kayak apa, jadi yah, lihat aja nanti," ujar Radith mengajak Luna untuk masuk dan langsung masuk ke dalam lift. Radith membalas setiap salam yang diberikan oleh karyawannya. Mereka menunduk sopan pada Radith sebagai tanda hormat.
Pintu lift terbuka dan Radith langsung disambut oleh sekretarisnya. Lelaki itu langsung membuka pintu dan tamu yang ada yang di sana. Tamu tersebut langsung tersenyum lebar dan berjalan ke arah Radith, namun langkahnya terhenti saat seseorang muncul dari balik punggung Radith yang lebar. Orang itu tampak mengintip dan Radith menarik tangannya agar berdiri di sebelahnya.
" Eh, aku kira kamu udah pulang. Maaf ya nunggu lama, aku sama Luna lagi keluar tadi. Lun, Lo masukin es krim gue di freezer dulu gih, terus burgernya masukin microwave, gak usah dinyalain," ujar Radith yang membuat Luna memicing karna kesal.
" Gue bukan babu Lo kalik Dith, dimana microwavenya?" tanya Luna dengan wajah yang cemberut. Gadis itu masih berusaha merogoh tasnya karna sedari tadi ponselnya dia anggurkan. Bisa saja Darrel sudah sampai dan menghubunginya, namun dia tak tahu.
" Di kamar, tuh disitu. Passwordnya sama kayak Password apartemen. Gak usah berantakin kamarnya loh," ujar Radith yang tak dijawab oleh Luna. Gadis itu berjalan ke sebuah ruangan yang sama sekali tak pernah dia masuki. Dia kira ruang kerja Radith sebatas ruang kerja, ternyata lelaki itu memiliki kamar di dalam ruangannya. Luna langsung saja memasukkan kode dan pintu berhasil terbuka.
" Eh maaf Rin, kamu malah dikacangin. Kamu ada perlu apa datang ke sini? Kamu mau tanya sesuatu lagi?" tanya Radith saat Luna masuk ke dalam kamar. Gadis itu masuk dan tak kunjung keluar, membuat Radith yakin gadis itu sedang mengacak – acak kamarnya, atau barang melihat apa saja isi kamar itu.
" Itu Lunetta gak papa masuk ke kamar kamu gitu? Itu kan ruang pribadi, emang gak ada barang pentingnya ya?" tanya Karin penasaran. Radith langsung tertawa dan menggelengkan kepalanya. Dalam hati dia sudah menebak Karin akan menanyakan hal ini, bisa dibilang gadis yang ada dihadapannya ini terkena umpan.
" Di kamar gak ada apa – apa, kayak kamar pada umumnya. Gak ada barang penting, biarin aja, udah biasa juga dia acak – acak ruangan orang, aku udah maklum, mana yang mau kamu tanyain?" tanya Radith yang berpura – pura mengalihkan pembicaraan, namun mata Karin masih mengwasi ruangan yang masih terbuka itu.
" Bentar ya, aku takut dia ngapa – nagapin di dalem," ujar Radith beberapa saat kemudian. Lelaki itu khawatir juga jika Luna mengacak – acak kamarnya, dia juga yang repot harus membereskan semua. Lelaki itu langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya, membuat Karin melongo karna lelaki itu tak sungkan sama sekali berduaan dengan seorang gadis di sebuah ruangan.
Cukup lama lelaki itu tak kunjung kembali, membuat Karin memiliki niat untuk menengok sendiri apa yang sudah mereka lakukan. Namun dia malah melihat Luna yang berjalan dengan kepala yang menempel pada leher belakang Radith, sepertinya gadis itu tertidur, jalannya saja terlihat malas.
" Maaf ya, kebiasaan dia kayak kerbau. Ketemu kasur langsung deh tidur. Padahal dia aku minta ke sini buat temenin kamu ngobrol, karna aku banyak berkas yang harus diurus," ujar Radith yang membuat Karin tersenyum canggung, Luna sendiri hanya memandang kedua orang itu dengan mata yanag masih setengah terpejam, menggemaskan sekali.
" Kalian kan mau ngomongin bisnis. Gue gak ngerti sama sekali, mending gue tidur deh, gue ngantuk banget Dith, gue pinjam kamar buat tidur ya," ujar Luna yang hendak berbalik lagi, namun Radith menahan tangannya dan sedikit menarik Luna agar duduk di sofa. Lelaki itu berjalan ke arah meja dan mengambil camilan untuk mereka berdua.
" Udah selesai ngomongin bisnisnya, dia masih mau di sini dan gue banyak banget kerjaan. Biar hidup Lo berguna, mending Lo temenin dia ngobrol, terserah mau ngobrolin apa," ujar Radith yang membuat Luna mengangguk paham dan tersenyum ke arah Karin yang terdiam. Entah apa ynag dipikirkan oleh gadis itu.
" Kalau dilihat memang bener – bener mirip. Pantas aja aku kayak pernah lihat kamu sebelumnya, tapi aku gak ngeuh kalau kamu itu miripnya sama Blenda," ujar Radith yang malah menyahuti perkataan Luna, membuat Luna langsung mengangguk setuju.
Luna mulai menceritakan siapa itu Blenda di hadapan Karin, segala kelebihan dan pesona Blenda yang membuat Radith memilih Blenda menjadi kekasihnya dan satu – satunya mantan yang Radith miliki. Radith sendiri tak menjawab dan tetap fokus pada berkas yang ada di hadapannya. Luna menceritakan tentang Blenda tanpa menyebutkan tentang Blenda yang sakit dan sudah meninggal.
" Wah, Blenda berharga banget yah buat Radith, sekarang Blenda dimana? Kalau ketemu batal seru, seperti saudara kembar aku sama dia. Blenda rumahnya dimana?" tanya Karin yang membuat Luna terdiam dan menatap ke arah Radith, meminta persetujuan Radith sebelum menjawab pertanyaan Karin. Setelah Radith mengangguk, barulah Luna berani melanjutkan perkataannya.
" Blenda sudah tenang di sana. Dia udah jadi malaikat yang jaga kami di sini. Walau raganya sudah gak ada, kami gak akan pernah lupa sama dia. Makanya aku kira kamu itu reingkarnasi dari dia," ujar Luna yang langsung menunduk, dia salah memilih topik pembicaraan, akhirnya dia malah membuat suasana menjadi sedih dan kelam.
" Maaf ya, aku gak tahu. Pasti Blenda jadi orang yang penting banget ya, dia pasti membekas sekali di hati kalian," ujar Karin dengan lembut yang membuat Luna tersenyum dan mengangguk lalu membenarkan hal itu. Meski dia tak dekat dengan Blenda, dia merasa sudah kenal lama dan sangata merindukan gadis aura positif tersebut.
" Kamu sendiri, kamu udah dekat sama Radith dari kalian sekolah?" tanya Karin tiba – tiba yang membuat Luna menengok kaget. Gadis itu mengangguk polos, membenarkan apa yang Karin katakan. Mulai saat ini, Radith menajamkan telinganya dan menyimak apa yang akan mereka bicarakan.
" Radith waktu jaman sekolah juga baik banget kayak gini ya? Suka nolong orang kayak gini?" tanya Karin dengan sumringah, sepertinya gadis itu sangat suka membahas Radith, itulah yang ditangkap oleh Luna. Kini Luna mengerti mengapa Radith memintanya untuk melebih – lebihkan, Radith pasti merasa risih disukai oranng seperti itu dan Radith memanfaatkan Luna.
" Dia itu lebih dari teman dekat. Dia itu udah kayak tong curhat yang tahu segalanya tentang aku, tahu baik buruknya aku dan tahu rahasia yang bahkan keluarga aku gak tahu. Mungkin masa SMK ku gak akan berwarna tanpa dia," ujar Luna dengan tulus, membuat Radith diam – diam mengulum senyumnya agar tidak terlihat dia sedang menguping karna telinganya tersumpal.
" Wah, aku jadi ngebayangin bagaimana kalian waktu SMK, pasti seru banget ya ada yang ngejagain gitu. Wah, seandainya masa SMK ku seseru itu," ujar Karin mencairkan situasi. Luna mengangguk semangat, menyetujui apa ynag Karin katakan karna dia sendiri merasa seperti itu.
" Dia bahkan udah sering banget selametin aku dari bahaya. Seakan Lunetta akan terluka kalau gak ada Radithya. Dia udah semacam malaikat pelindung gitu buat aku, aku bersyukur aja bisa ketemu dan jadi teman dia sejak lama bahkan sampai sekarang," ujar Luna yang bangga menjelaskan tentang kebaikan Radith, Karin menganggukkan kepalanya tanda paham dengan maksud Luna.
" Eehh, maaf nih, memang kamu pernah ada di situasi berbahaya gitu? Terus Radith yang selametin kamu? Memang keadaan berbahaya yang kayak apa?" tanya Karin yang membuat Luna menyipitkan matanya, memilih kisah mana yang akan dia kupas dan ceritakan ke gadis yang ada di hadapannya.
" Ah, waktu itu aku lagi kemah gitu sama dia, kemah antar organisasi. Nah waktu susur hutan malam – malam, aku gak sengaja kepleset dan masuk ke jurang. Entah gimana Radith tahu kalau aku masuk ke dalam jurang dan dia nyusulin aku ke jurang itu. Tapi posisinya kaki aku sakit dan gak bisa gerak sementara aku terus merosot dan nyaris jatuh gitu."
" Radith kasih pundaknya ke aku buat dijadikan pijakan sementara dia nginjek akar biar kami gak jatuh. Posisinya aku udah mikir yang aneh – aneh gitu, tapi Radith tetep bertahan nahan aku biar gak jatuh, sampai akhirnya yang lain menemukan kami dan kami selamat."
" Aku gak tahu apa yang akan terjadi kalau waktu itu gak ada Radith. Mungkin kita gak akan pernah ketemu kayak sekarang. Makanya Radith itu udah kayak guardian Angel untuk aku, dia yang bikin aku selalu safe," ujar Luna dengan bangganya, karna yang Luna tahu Radith tak mendengar apapun yang dia katakan.
" Tapi Lun, bukannya kamu punya tunangan ya? Memang tunangan kamu gak marah tahu kamu sama Radith?" tanya Karin dengan alis yang disatukan. Luna mengangguk paham tentang kekhawatiran Karin, tentu semua orang yang tak tahu ceritanya akan berpikiran seperti itu, padahal faktanya tak sebegitu mengkhawatirkan.
" Kak Darrel gak keberatan kalau aku sama Radith, dia ngerti, dan malah dia bilang kalau lebih baik aku sama Radith selama dia sibuk daripada aku sama yang lain. Dia udah percaya gitu sama Radith buat jagain aku, makanya kau bersyukur punya mereka," ujar Luna dengan nada bangga yang tak bisa dia sembunyikan.
" Wah, pacar kamu berhati besar banget yah. Aku baru kali ini ketemu cowok yang rela aja pacarnya terbagi. Eh maksudnya bukan terbagi gitu, maksudnya lihat pacarnya sama cowok lain gitu, pasti kan hatinya sakit. Bukan makssud aku bilang terbagi yang gimana – gimana loh, maaf ya," ujar Karin dengan nada tak enak karna perubahan wajah yang ditunjukan oleh Luna.
" Radith juga baik banget yah, padahal dia tahu yang dia jaga itu calon istri orang lain, dia tahu gak akan bisa bersatu, tapi dia masih mau lakuin itu semua, aku salut sama ketulusan dia," ujar Karin yang menohok perasaan Luna. Entah itu hanya kebetulan atau tidak.
Karin seakan sengaja mengatakan hal itu untuk membuat Luna merasa tak nyaman, seakan dia melakukan serangan kombo membawa nama Darrel dan Radith dalam waktu yang bersamaan. Radith sendiri merasa geram, namun dia tak bisa melakukan apapun karna posisinya dia berpura – pura tak mendengar. Jika dia nekat menolong Luna, gadis itu akan semaki nmalu di hadapan Karin.
' Dia bisa nyakitin orang pakai omongannya, tapi masang wajah bersalah biar orang gak enak kalau mau negur dia. Dia bahaya, gue harus lebih hati – hati sama dia.' – batin Radith.