
" Kau tahu, aku lahir di negara ini, tapi sebenarnya aku tak tertarik untuk tinggal di sini. Jika bukan karna pekerjaanku, aku pasti sudah pergi sejak lama." Luna yang mendengar hal itu hanya terdiam. Dia menatap ke hamparan air yang luas dengan matahari terik menyapa mereka. Yah, hari ini Luna memilih untuk kembali menghabiskan waktu dengan Leo.
" Kau tahu? Negara ini nampak sangat indah. Namun sikap individualnya membuat banyak orang merasa depresi dan memilih untuk bunuh diri. Apalagi banyak diantara mereka mematok standart cantik yang tinggi, membuat banyak orang merasa insecure dan akhirnya melakukan banyak operasi," ujar Leo pelan.
" Operasi? Operasi plastik maksudmu?" tanya Luna yang diangguki oleh Leo. Yah, bukan hal tabu lagi bagi daerah ini untuk melakukan operasi plastik. Jika operasi mereka berhasil, dalam sejenak mereka bisa menjadi sesosok barbie, namun jika operasi mereka gagal. Tentu depresi itu makin terpupuk dan membuat orang itu memilih untuk mengakhiri hidupnya.
" Tapi banyak yang mengidolakan negara ini, bahkan aku pergi ke negara ini karna alasan itu. yah, walau semua tak seindah yang ku bayangkan pada awalnya. Tapi lama – lama aku bisa terbiasa dengan hal ini," ujar Luna yang mmbuat Leo memandang gadis itu dalam. Mungkin ini pertama kalinya dia bisa berbicara mengenai hal sedalam ini pada Luna.
" Kau sendiri, kau pasti punya alasan khusus datang ke negara ini kan? Kau pasti memiliki keluarga di tempat asalmu. Kenapa kau tidak pergi bersama keluargamu?" tanya Leo yang membuat Luna terkekeh, gadis itu menarik dan menghembuskan napasnya berkali – kali.
" Jika aku mengatakan aku sengaja pergi untuk menghindari calon suamiku, apakah kau akan percaya?" tanya Luna yang membuat Leo tersentak kaget. Dia tak menyangka gadis yang ada di sebelahnya ini sudah memiliki kekasih dan bahkan sudah akan menikah. Tapi mengapa gadis ini masih mau ada di sekitar Leo saat dia sudah memiliki kekasih?
" Dia kekasihku sejak bertahun – tahun yang lalu, bahkan sebelum aku tamat sekolah. tapi kami gagal menikah dan aku sangat kecewa pada lelaki itu, aku tak ingin bertemu dengannya lagi, itu sebabnya aku lari ke negara ini, untuk menghindarinya," ujar Luna yang membuat Leo tersenyum hangat.
" Kau tahu, mungkin dia orang yang paling bodoh di dunia ini. Dia menyia – nyiakan orang sesempurna dirimu, bahkan dia sampai mengecewakanmu," ujar Leo yang membuat Luna meengangguk setuju, dia juga tak menyangka Darrel tega dan berani melakukan hal seperti ini padanya di saat banyak orang di uar sana ingin menjadi kekasihnya.
" Tapi bohong jika kau meengatakan kau sudah tidak mencintainya, kecuali jika sejak awal kau tak pernah mencintainya," ujar Leo yang membuat Luna terdiam. Apakah dia masih mencintai Darrel? Atau justru sejak awal dia tak pernah mencintai lelaki itu? Kenapa Luna baru menyadari pertanyaan yang sangat dasar ini?
" Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, ku rasakau harus memafkan kekasihmu itu agar kalian dapat mmulai lembaran baru yang indah. Jika kau terus lari dan sembunyi, mungkin saat kau menyadari, semua sudah terlambat. Kau tak ingin hal seperti itu terjadi kan?" tanya Leo yang membuat Luna menaikkan sebelah alisnya dan menatap lelaki itu.
" Apa jika aku bersamanya kau akan baik – baik saja? Bukankah kau tertarik padaku?" tanya Luna yang membuat Leo tertawa terbahak – bahak, hal itu tentu membuat Luna terkejut dan menatap Leo dengan kagum, mungkin ini pertama kalinay Luna melihat Leo tertawa selepasitu, jujur saja, wajahnya bertambah tampan saat tertawa.
" Awalnya aku memang tertarik padamu dan merasa aku menyukaimu. Namun semakin lama aku semakin menganggapmu sebagai adikku, entah mengapa rasa tertarik itu hilang sendirinya, mungkin memang sejak awal aku hanya mengagumimu, kau cantik," ujar Leo yang membuat pipi Luna memerah. Dia sudah sering dipuji, namaun tidak oleh oppa – oppa tampan seperti ini.
" kembali pada topikmu, apakah kau berniat untuk lari selamanya? Apa kau tak akan menyesali keputusanmu itu?" tanya Leo yang membuat Luna terdiam. Gadis itu tak mungkin lari selamanya, namun dia jika tak mungkin selamanya berlari. Dia harus kembali dan menghadapi Darrel, namun dia harus bersikap sebagai Luna sli atau Luna saat ini?
" Bukankah orang korea selalu tertutup tentang maslah orang lain? Kenapa kau menanyakan hal ini padaku?" tanya Luna yang membuat Leo terkekeh kali ini. Dia menunduk dan enggan untuk menjawab, namun karna Luna tak mengatakan hal lagi, membuatnya akhirnya menjawab pertanyaan Luna.
" Aku memang orang korea, namun aku lebih lama tinggal di luar negeri dibanding negeri ini, itulah sebabnya aku kurang suka tinggal di sini. Namun saat bertemu denganmu, aku tahu kau berasal dari negara yang memiliki tingkat simpati dan empati yang tinggi," ujar Leo yang membuat Luna tertawa, lelaki itu tentu bingung melihat Luna yang tiba – tiba tertawa.
" Sama seperti korea yanag tak semua orangnya Individualis. Orang Indonesia pun seperti itu. memang terlihat bersimpati, namun tak sedikit yang langsung membully tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Jika sudah tertangkap hanya meminta maaf. Yah, tak semua, namun pasti ada orang yang seperti itu di setiap negara," ujar Luna yang disetujui oleh Leo.
" Kau tahu? Kita tidak sedang membicarakan masalah yang tak penting ini. Aku sedang bertanya padamu. Namun pikiranku malah teralihkan. Jadi, bagaimana?" tanya Leo yang membuat Luna mengedikkan bahunya, dia juga masih tak tahu apa yang akan dia lakukan. Selama papanya setuju dengan keputusannya, dia akan menjalaninya dengan santai.
" Mungki naku akan kembali. Tapi tidak dalam waktu dekat, aku ingin membiarkan mereka semua merindu pada sosok kedua lelaki yang selama ini membuat hidupku rumit, ya mungkin sedikit penyiksaan untuk mereka," ujar Luna yang membuat Leo tak mengerti. Memang Luna sedang membicarakan apa?
" Ah, aku bergurau. Aku pergi ke negara ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya aku inginkan, aku juga ingin menenangkan diri dan meembuatku tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri," ujar Luna yang diangguki oleh Leo. Sedikit banyak dia paham dengan apa yang Luna katakan, dan terlihat di mata gadis itu dia sedang sedih.
" Baiklah, mari kita lupakan topik pembicaraan ini. Aku ingat aku memiliki undangan untuk pesta halloween satu minggu lagi. Apa kau mau ikut denganku? Kau bisa memakai kostum yang unik atau menyeramkan. Pada akhir acara akan diumumkan siapa pemenang kostum terbaik, dan itu sangat menyenangkan," ujar Leo yang membuat Luna mulai tertarik.
" Benarkah ada acara semacam itu? ya, aku mau, aku mau iktu, apakah boleh?" tanya Luna dengan antusias. Leo mengangguk senang, tentu saja Luna boleh ikut karna diapun sudah mengajak. Luna sangat senang mendengar hal itu, namun dia sama sekali tak pernah mengikuti acara ini.
" Kostum apa yang boleh dipakai atau tidak boleh dipakai di acara ini? Apakah kau memiliki rekomendasi khusus untukku?" tanya Luna yang membuat Leo mengernyitkan dahinya. Dia menatap Luna dari atas sampai bawah, dan mendapat ide pakaian apa yang pantas dipakai oleh Luna.
" Aku mengusulkan kau memakai pakaian peri, yah seperti putri yang keluar dari negeri dongeng. Namun karna Halloween identik dengan hal yang seram, kenapa kau tidak memakai kostum ratu kegelapan? Atau peri kegelapan?" tanya Leo yang membuat Luna kembali bingung. Dia tak mengerti kosakata yang diucapkan oleh Leo karna lelaki itu memakai dialeg dari negara ini.
" Apa kau membicarakan tentang oeri? Aku tak begitu mengerti apa yang kau katakan. Tapi menurutmu, peri seperti apa yang pantas untuk pesta seperti ini? Aku tak tahu banyak tentang hal seperti ini," ujar Luna yang membuat Leo menjentikkan jarinya, dia membuka ponselnya dan membuka salah satu gambar yang ada di sana.
" Dia adalah maleficent, sebenarnya dia peri yang baik, namun karna dia terlalu percaya pada cinta sejati, dia brubah menjadi jahat dan tak pernah percaya bahwa di dunia ini ada cinta sejati, apa kau tak pernah menonton filmnya?" tanya Leo yang membuat Luna menggleng, namun dia menatap gambar yang ada di ponsel Leo.
" Sepertinya memang cinta tak pernah ada di dunia ini. Mereka menganggap rasa peduli sebagai cinta, namun pada akhirnya cinta itu yang akan membunuhnya. Yah, mungkin memang aku harus memakai kostum itu, sangat sesuai dengan kondisiku saat ini," ujar Lun yang tersenyum mski dipaksakan. Gadis itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Daddy, Luna mau pergi ke pesta costume dan Luna mau pakai costume maleficent, Luna boleh kan memkaai uang daddy buat beli costumenya?" tanya Luna pada panggilan yang ada di sana. Leo sendiri tak tahu apa yang Luna katakan karna gadis itu memakai bahasa Indonesia.
" Ya, bukannya kau berkata kau tak ingin bergantung pada daddy dan memilih untuk hidup mandiri? Aku tahu kau sudah bekerja menjadi model di sana. Apakah gajimu terlalu sedikit?" tanya Tuan Wilkinson yang membuat Luna kesal. Gadis itu langsung mematikan panggilan telponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Melihat wajah kesal Luna tentu membuat Leo bingung.
" Siapa yang baru kau telpon? Kenapa kau menjadi muram begitu?" tanya Leo yang membuat Luna menggelengkan kepalanya. Gadis itu hanya menghela napasnya dan memilih untuk berdiri, agar mereka segera pulang. Dia harus mencari kostum lain yang lebih murah jika papanya benar – benar tak mau membantu.
*
*
*
" Lo dari mana aja sama dia? Enak banget udah punya pacar baru, fotografer sukses yang tampan, udah bisa move on gitu ceritanya dari Darrel?" Lira langsung menyindir Luna saat gadis itu baru masuk ke dalam rumah. Hal itu tentu membuat Luna memutar bola matanya.
" Gue Cuma ke pantai. Gue juga gak suka sama dia dan gak ada apa – apa sama dia. Gak usah mikir yang macam – macam deh," ujar Luna yang membuat Lira membulatkan mulutnya dan kembali fokus pada ponsel yang dipegangnya.
Luna langsung duduk di sebelah Lira dan menatap gadis itu dengan senyum yang aneh, membuat Lira merasa risih dan langsung menyingkirkan tubuh Luna. Itu langsung melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Luna.
" Minggu depan gue diajak sama Leo, mau ke pesta kostum halloween, boleh kan ya?" tanya Luna yang membuat Lira memelototkan matanya dan langsung meletakkan ponselnya sembarangan.
" Lo gila? Lo terima aja waktu dia ngajakin ke tempat begitu? Lun, pesta halloween itu bahaya banget. Mereka gak kelihatan wajahnya dan Lo bahkan gak tahu siapa yang ada di belakang atau samping Lo. Lo tahu betapa bahayanya itu kan buat Lo?" tanya Lira saat Luna menceritakan ajakan Leo, Lira langsung terang – trangan menyatakan ketidaksetujuannya.
" Kalau gue tahu Lo bakal ngomel gini, mending gue gak cerita sama sekali deh," ujar Luna yang membuat Lira berdecak. Biasanya dia sangat keras kepala dan bisa membantah Luna, namun belakangan ini dia sibuk dan tak bisa mengawasi Luna dengan ketat.
" Lo tuh belum kenal dia lama Lun, gimana Lo bisa percaya banget sama dia sih? Kalau setelah acara itu Lo diapa – apain, Lo mau apa? Lo mau gimana?" tanya Lira yang membuat Luna terdiam. Dia tak memikirkan hal semacam itu, dia hanya ingin bersenang – senang untuk saat ini.
"Udah hampir satu tahun guee ada di sini tapi gak pernah ada ekjadian apapun. Lo harus tenang dan berpikir positif, gue gak kenapa – napa kok," ujar Luna yang membuat Lira mulai kesal. Namun gadis itu menahannya jika tak ingat Luna merupakan majikannya. Gadis itu sangat keras kepala dan tak pernah berpikir saat bertindak.
" Katanya Lo mau jadi dewasa, kalau gini mah Lo sama aja gak ada dewasanya, Cuma mau senang – senang terus, ceroboh pula. Gue gak Cuma bertugas ebagai teman dan translator, gue disini juga sebagai penasehat pribadi Lo. Gue harus kasih tahu Lo kalau kali ini gak benar," ujar Lira yang membuat Luna terdiam.
" Tapi hal kayak gini lumrah di negara ini dan bahkan gak pernah ada kejadian aneh. Ini pertama kali dalam hidup gue harus kayak gini, gue mau cari pengalaman baru," ujar Luna yang mulai merengek, gadis itu membuat Lira merasa pusing sampai memijit tulang hidungnya.
" Gini deh, kalau Lo gak percaya. Kita bawa aja pengawal yang selama ini ngumpet, terus Lo ikut sekalian, gimana? Lo mau?" tanya Luna yang membuat Luna mempertimbangkan keputusannya. Gadis itu akhirnya menganggukan kepalanya setuju, setidaknya dia bisa menjaga Luna dan tak terlalu khawatir dengan apa yanag akan terjadi di sana.
" Ini pesta kostum kan? Lo emang udah punya kostum yang bakal yang Lo pakai? Lo mau pakai kostum apa?" tanya Lira yang membuat Luna terdiam. Gadis itu kembali sedih dan menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengambil ponselnya dan mengecek ponselnya.
Gadis itu langsung membelalakkan matanya dengan lebar, menatap pesan yang ternyata sudah masuk ke ponselnya. Gadis itu langsung berjingkrak - jingkrak, membuat Lira yang menjadi tumpuan merasa berat dan sakit. Pesan yang Luna terima berbunyi :
'Daddy sudah pesankan sesuai yang kau inginkan. Tunggu empat hari, kostum itu akan sampai di rumahmu.'
Luna tak menyangka memiliki ayah yang begitu baik dan begitu perhatian, selalu menuruti apa yang Luna minta. Dan yang paling penting ayahnya adalah orang kaya. Memudahkannya mendapat benda yang mungkin sebagian orang sulit untuk mendapatkannya.
" Terima kasih Daddynya Luna," Ujar Luna dengan gembira.