Hopeless

Hopeless
Janji Lagi



"Kenapa?"


Kinan bertanya untuk kesekian kali. Beni masih saja diam membisu. Diamnya Beni justru membuat Kinan dibakar emosi, pikirannya sudah kemana-mana, akan seperti apa pernikahan mereka ke depannya. Ia menyaksikan kegagalan pernikahan orang tuanya saat ia berusia empat atau lima tahun. Sementara usia pernikahannya masih berjalan dua bulan.


"Aku sedang bertanya,"


"Sayang..."


"Aku butuh penjelasan. Sejak kapan?"


Terdengar Beni menarik napas panjang. "Aku minta maaf."


"Aku butuh penjelasan!"


"Abang juga tidak tahu mengapa jadi seperti ini," wajah Beni menyiratkan penyesalan, ketakutan. "Ini di luar kuasa Abang. Semuanya terjadi begitu saja saat kamu menghilang."


"Jadi ini salahku?"


Beni menggelengkan kepala, tidak ingin membuat Kinan semakin marah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengakui kebenaran dan memohon kepada Kinan agar tidak mempermasalahkan hal ini menjadi lebih besar.


"Tentu saja bukan. Abang merasa sangat kacau saat kita pertama kali putus dan kamu tiba-tiba menghilang begitu saja." Beni memaparkan kejadian sebenarnya. Seperti apa dia bertemu Jefri hingga menjadi kecanduan seperti ini.


"Sayang, Abang minta maaf," Digenggamnya kedua tangan Kinan, wajahnya penuh dengan permohonan. "Tolong jangan jadikan ini alasan untuk kita bertengkar. Abang janji akan berubah. Beri Abang waktu, Sayang."


Sebelum Kinan mengeluarkan ancaman, Beni dengan segera mengumumkan bahwa ia akan berubah. Ya, sejatinya lelaki memang seperti itu, bujuk rayu yang benar-benar membuat wanita serba salah. Terbukti, Kinan hanya bisa bergeming. Wajah Beni yang penuh sesal membuat hatinya terenyuh, tidak tega untuk memarahi suaminya tersebut.


"Tidak ada yang tidak hancur jika berhubungan dengan barang haram tersebut," ucap Kinan. "Selain susunan saraf terganggu, keadaan si pengguna juga tidak akan pernah terlihat baik. Justru akan semakin memburuk. Dari yang aku baca, emosi seorang pecandu akan berantakan. Mereka akan kesulitan untuk mengontrolnya. Mereka berubah menjadi lebih egois Narkoba hanya menjadi petaka. Banyak jantung yang pecah karena pemakaian berlebihan, banyak yang mati konyol karena over dosis. Banyak juga di luar sana, pernikahannya hancur hanya karena salah satu diantara mereka menjadi seorang pecandu. Aku tidak ingin hal itu terjadi pada kamu, tidak ingin hal buruk terjadi kepada kita. Jika memang Abang mengatakan akan berubah, Kinan hanya bisa pegang janji yang Abang cetuskan. Tolong jangan kecewakan Kinan, Bang."


Beni mengangguk dengan mantap. Senyum kelegaan terpatri di wajahnya.


"Abang janji, Sayang. Abang akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kita." Beni mengecup kedua punggung tangan Kinan.


Gunjingan tetangga adalah alasan kesekian kenapa Kinan belum siap untuk bercerai. Alasan paling utama karena ia sangat mencintai Beni. (Saya tampol mulut yang bilang bodoh, bucin segala macam, ya🥴). Memberi kesempatan kepada Beni adalah pilihannya saat ini. Posisinya sebagai istri sedang diuji. Mampukah ia menjadi istri yang bisa menerima semua kekurangan suaminya. Mampukah ia berbagi beban dengan Beni. Sanggupkah ia menuntun Beni ke jalan yang lebih baik. Di sini, Kinan benar-benar harus menjadi tutor, teman yang baik dan istri yang patuh agar bisa mengembalikan Beni-nya yang dulu.


"Ya, Abang tidak akan berhubungan dengan mereka lagi." Beni menyanggupi permintaannya.


Faktanya, janji begitu mudah diucapkan. Tiba ke acara menepati, teramatlah sulit. Janji manis Beni hanya bertahan satu minggu. Selama satu minggu, ia menjadi suami yang baik, pulang tepat waktu dan memang tidak menyentuh barang haram tersebut.


Efeknya, tubuhnya meriang, lemah dan lesu. Selalu tidur dan malas untuk bergerak. Beni benar-benar tidak tahan menanggung efeknya. Pun bisikan setan pun berhasil membujuknya.


Dosis rendah dan aku hanya perlu pulang tepat waktu! Hatinya bermonolog.


Beni menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, lalu ia mengemudikan motor ke rumah kontrakan Jefri. Narkoba sudah menjadi obat baginya. Badannya segar seketika setelah barang itu dihisap dan masuk ke aliran darahnya.


Selesai urusannya, ia langsung berpamitan pulang.


"Cepat amat?" Jefri menyeletuk.


"Udah mau Maghrib, Bro."


"Lah, urusannya apa? Mau jadi imam mesjid kamu?" Goda teman laknatnya yang lain. Tamvan.


"Ciiee, yang muallaf mendadak alim," kali ini Nisa yang bersuara. Nisa adalah gadis yang berprofesi sebagai wanita malam yang menjalin hubungan dengan Jefri. Jika ada pelanggan yang menginginkan pelayanan dari Nisa, Jefri akan mengantar kekasihnya itu dengan suka rela. Bukan main.


"Binikku nunggu di rumah."


"Suami takut istri, cemen!" Tamvan meledek dengan seringaian menyebalkan.


"Ya, mau gimana lagi. Kalau sudah cinta, ya, begini." Beni menanggapinya masih santai. Sebelum teman-temannya meledeknya lebih lanjut, Beni mengayunkan kakinya keluar dengan segera dari rumah Jefri, markas mereka berbuat sesat.