
Mendengar perintah yang diberikan oleh pak Indra, orang – orang itu melepaskan Radith, sementara Radith menatap ke arah Darrel dengan sedih. Radith berjalan pelan dan tertatih karna dia sudah lemas. Tuan Wilkinson melihat Radith yang berusaha untuk berjalan, namun di sisi lain, seseorang langsung menodongkan senjata ke arahnya.
" Arrrgghhh." Belum sempat pak Indra menarik pelatuk senjata api itu, seseorang sudah melukai tangan yang memegang senjata itu sampai berdarah – darah, sentaja itu sontak langsung terlepas dari tangannya. Pak Indra langsung menatap ke arah Radith dan Darrel bergantian. Betapa kagetnya pak Indra melihat Darrel sudah terlepas dengan membawa senjata tanpa suara itu.
~ Flah back~
Tuan Wilkinson melihat ke arah Darrel dan Radith saat pak Indra mengakatan Beliau harus memilih dua dari tida orang yang ada di sana. Tuan Wilkinson tampak gelisah, namun tanpa pak Indra ketahui, Darrel sudah memberi sinyal pada tuan Wilkinson untuk melepaskan Radith karna dia akan baik – baik saja.
Sementara tuan Wilkinson berdiskusi dengan pak Indra, Darrel menyenggol tubuh Radith, membuat Radith melihat ke arah Darrel dengan bingung. Darrel mengecek kondisi, mereka semua terfokus pada tuan Wilkinson, bahkan penjaga yang harusnya mengontrol mereka. Tuan Wilkinson meminta Luna untuk dilepaskan. Membuat pak Indra menatap ke arah mereka hingga Darrel kembali menundukkan kepala.
" Lo masih bawa silet sama senjata di sepatu Lo kan?" tanya Darrel berbisik pada Radith. Lelaki itu melihat ke arah Darrel dan mengangguk. Darrel langsung memiringkan posisinya, membuat Radith bertanya – tanya apa yang harus dia lakukan. Semua kegiatan mereka tak lepas dari pengawasan tuan Wilkinson.
Pak Indra yang membelakangi mereka tentu tidak menangkap maksud itu, pak Indra mengira tuan Wilkinson sedang dalam kondisi yang tertekan berat karna harus memilih salah satu dari dua orang terpercaya dan berharga di lingkup keluarganya. Pak Indra terlalu terbutakan oleh harta hingga nalurinya sebagai 'orang keluarga Wilkinson' hilang seketika.
Selagi tuan Wilkinson mencoba untuk bernegosiasi dengan pak Indra, matanya terus melihat apa yang Darrel lakukan. Akhirnya tuan Wilkinson mencoba untuk mengulur waktu dengan berbasa – basi meski dia tahu hasilnya tetap sama. Dia mencoba terlihat senatural mungkin agar Darrel memiliki waktu yang cukup untuk melepaskan diri.
" Sebaiknya gue yang dilepasin karna tuan Wilkinson pasti pilih Lo buat dilepasin. Kalau mereka tahu kita berdua udah lepas, mereka bakal lansung habisin kita di tempat ini," ujar Radith yang berbisik kaget. Darrel langsung memperbaiki posisinya saat salah seorang penjaga datang ke arah mereka. Darrel kembali menunduk lesu bersamaan dengan kedatangan mereka.
Benar saja, mereka langsung memukul Radith dengan sangat keras, bahkan Darrel tahu jika Radith akan merasakan ngilu lebam untuk beberapa hari karna hal ini. Orang yang memukul Radith tersenyum puas dan kembali ke posisinya dengan fokus yang kembali memperhatikan pak Indra. Saat pak Indra kembali berbincang dengan tuan Wilkinson, Darrel mengecek kondisi Radith.
" Lo masih bisa tahan kan? Lo harus lepasin ikatan gue sekarang karna Om Smith bakal lepasin Lo. Gak usah banyak tanya, lakuin aja," ujar Darrel tergesa. Radith yang sudah melemas mengangguk dan menekuk kakinya. Dia menekuk kakinya kebelakang dan merogoh sepatu itu dengan susah payah karna tangannya terikat.
Setelah mendapat benda yang dia cari, Radith langsung memposisikan diri untuk melepas tali yang mengikat Darrel, lelaki itu menggesekkan silet ke tali itu berkali kali. Lama – kelamaan tali tersebut mulai terputus dan Darrel lepas dari ikatannya. Bertepatan dengan lepasnya Darrel, tuan Wilkinson langsung mengambil pulpen dan menanda tangani perjanjian itu.
Tuan Wilkinson mengambil perintah untuk melepaskan Radith. Hal itu membuat pak Indra merasa kaget, selama ini jika Radith adalah emas, Darrel adalah berlian bagi tuan Wilkinson, namun kini lelaki itu memilih menyelamatkan Radith dengan dalih keuntungan pribadi. Sementara Darrel langsung mengangguk karna tuan Wilkinson memberikan kode untuk Darrel berpura – pura.
Darrel masih menunduk dan kini harus menyembunyikan tangannya yang sudah terlepas seolah tali itu masih mengikatnya, sementara pak Indra melepaskan Radith. Radith berjalan tertatihdia masih belum bisa mengambil senjata rahasia kecil yang ada di sepatunya. Lelaki itu langsung menengok saat pak Indra berteriak dan sebuah benda terbanting di bawah.
~ Flash back off~
Tuan Wilkinson melemparkan dua buah senjata Api yang kecil namun berpeluru penuh ke arah Darrel. Lelaki itu menangkap 'bantuan' dari tuan Wilkinson dan berdiri dengan sisa tenaga yang dia punya. Radith langsung membantu Darrel untuk berdiri, mereka melindungi satu sama lain karna melihat orang – orang pak Indra sudah bersiap untuk menghabisi mereka.
Adu tembak tak bisa dihindari. Belasan lawan tiga, menjadi pertempuran yang tidak imbang, namun belasan orang itu memang bukan kelas tiga orang ini, mereka hanya bisa menggunakan senjata, namun dia tak bisa lihai menggunakannya. Darrel berhasil menembak di bagian vital orang – orang itu, mereka belum sempat menggunakan sentaranya, namun nyawa mereka hilang dengan sia – sia.
" Arrrgghh." Radith mengerang saat merasakan perih pada lengan kirinya. Darrel langsung berbalik dan menembak mati orang itu tepat dikepala. Lelaki itu merasa menjadi tokoh dalam sebuah film laga dimana nyawanya akan selalu aman karna musuh mereka terlalu bodoh. Radith masih membiarkan lengan kriinya mengalirkan darah sementara tangan kanannya berusaha untuk menghabisi orang – orang itu.
" Head shot. Double Kills. Triple Kills," ujar Darrel yang malah menikmati adegan ini. Mendengar suara tembakan, bantuan datang. Darrel mengira bantuan itu dari pihak pak Indra, situasi mereka makin terdesak, bahkan Darrel tahu peluru di senjatanya sudah hampir habis. Awalnya dia menikmatinya, namun lama – lama dia juga merasa tegang karna kedatangan orang – orang itu.
" Kita kalah jumlah. Kita bakal mati sesaat setelah mereka menyerang," ujar Radith yang menatap orang – orang itu dengan panik. Pak Indra tersenyum, dia lupa jika di luar sana masih banyak orangnya yang tersebar dan siap untuk membantunya. Namun apa yang dilakukan orang – orang itu langsung membuat Pak Indra membuka mulutnya dan tak menyangka.
" LINDUNGI TUAN BESAR!" Seru salah seorang itu membuat pak Indra mendongak kaget. Pak Indra langsung membawa berkas pentingnya dan berlari. Orang – orang itu tak mengejar pak Indra dan membuat pagar untuk tuan Wilkinson. Pak Indra mengeram dan menatap ketiga orang itu dengan bengis.
~ daaarrr
Bersamaan dengan suara itu, satu orang langsung memegang perutnya. Dia bisa melihat darah mengucur akibat timah panas yang menembus kulitnya. Dia sudah kehilangan banyak darah, kini dia sungguh tak sanggup untuk bertahan. Orang itu tumbang, sementara orang di sebelahnya langsung menangkap tubuhnya agar tidak terbentur lantai.
" Kalian, urus mayat – mayat ini. Kuburkan dengan layak. Bersihkan semua darah di tempat ini agar tidak menjadi masalah di kemudian hari," titah tuan Wilkinson sambil berjalan masuk ke arah helicopet besar yang terparkir si sebuah lapangan tak jauh dari sana.
Pak Indra selalu memakai helicopter untuk sampai ke tempat ini. Itulah sebabnya tuan Wilkinson bisa dengan mudah mengakses lokasi ini dan membawa banyak bala bantuan. Memang bala bantuan itu harus berhati – hati dan menyisir hutan untuk memastikan orang – orang pak Indra bisa dilumpuhkan. Hanya dilumpuhkan, tidak untuk dihilangkan nyawanya.
Mereka yang tewas terkapar di tempat ini adalah meraka yang terlibat baku tembak karna melawan. Mereka terpaksa dilumpuhkan agar tidak melukai tuan Wilkinson. Mereka langsung masuk ke dalam helicopter dan helicopter itu langsung terbang dari tempat itu mencari rumah sakit terdekat agar Darrel dan Radith bisa segera di tangani.
Darrel sudah tak sadarkan diri, bahkan lelaki itu seperti mengalami epilepsi. Darah terus mengucur di tubuhnya, membuat Radith makin panik. Padahal kondisinya juga tak bisa dikatakan baik. Radith terus menekan luka yang ada di perut Darrel dengan kain yang dia temukan di helicopter ini. Radith mencoba untuk mengurangi pendarahan yang Darrel alami.
" Percepat. Cari rumah sakit terdekat. Darrel harus bisa diselamatkan atau nyawa kalian semua yang akan aku gunakan sebagai gantinya," ujar tuan Wilkinson dengan tegas sambil mengelap tangannya dengan kain bersih yang ada di sana. Radith mulai melemas karna merasa pusing mencium bau darah, namun dia tetap bertahan karna tak mau menjadi beban.
" Apa kondisimu memburuk Radith? Bisa saja mereka mengoleskan racun pada peluru yang bersarang di lenganmu itu," ujar tuan Wilkinson yang sebenarnya bergurau, namun Radith menganggapnya serius dan otaknya tersugesti, membuat dia makin melemas dan panik dalam waktu yang bersamaan.
" Kalian, bantu ambil peluru yang ada di luka Radith. Jangan lupa cuci tangan kalian menggunakan alkohol agar lukanya tak terinfeksi. Ah, Radith, apa kau bisa menahan rasa sakit?" tanya tuan Wilkinson yang kemudian menatap ke arah Radith. Radith menatap ke arah tuan Wilkinson dengan takut, namun sesaat kemudian dia menganggu.
" Berikan luka Radith alkohol agar tidak Infeksi, lakukan dengan cepat dan minimalisir rasa sakitnya" ujar tuan Wilkinson pada orang – orangnya. Tuan Wilkinson tak pernah sembarangan memilih pengawalnya, mengawal itu harus memiliki kemampuan basic dalam pertolongan pertama untuk keadaan darurat seperti ini. Mereka langsung menyiram tangan mereka dengan alkohol dan mengambil senter dalam sebuah kotak.
" Tuan, rasanya seperti digigit semut, tuan jangan khawatir, kami akan melakukannya dengan cepat," ujar orang itu yang membuat Radith mengangguk. Lelaki itu memejamkan mata dan menggigit bibirnya sementara tangannya terus menekan ke luka Darrel yang sudah tak bergerak, namun napasnya masih berhembus.
" AAAAH SAKIT! SAKIT! SAKIT!" Teriak Radith saat mereka mulai mengobek – obek lukanya untuk mengambil peluru yang bersarang di tangannya. Mereka melakuakn semua itu tanpa bius, tentu saja rasa sakitnya terlalu besar untuk dirasakan oleh Radith yang baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Mereka berhasil mengambil peluru yang ada di lengan Radith.
Tak cukup sampai di situ. Mereka mengambil botol alkohol dan langsung menyiram luka Radith dengan itu, membuat Radith mengeram dan bahkan sampai menangis saat merasakan cairan itu menyentuh kulitnya. Mereka langsung menutup luka Radith dengan kassa dan memastikan lukanya ditutup dengan sempurna sebelum akhirnya mereka membereskan sisa kassa yang tak terpakai.
" Apa kalian bilang seperti di gigit semut? Apa maksud kalian semut itu ada di dalam mulut gajah? Ini sakit sekali!" pekik Radith yang tak bisa menggerakkan tangannya. Mereka menunduk karna tak enak dengan Radith, jika dalam kondisi Darurat, itulah yang harus dilakukan, yang penting lukanya bersih dan mereka selamat.
" Itu adalah rasa sakit yang minimal karna pelurunya tidak beracun, namun jika melurunya beracun, lenganmu itu harus diseset sampai tulang untuk menghilangkan racunnya. Itu lebih menyakitkan dari yang kau rasakan saat ini. Kini kau sudah tahu apa yang harus dirasakan bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia mafia.
" Tuan Wilkinson juga pernah mengalami hal ini? Atau tuan Wilkinson malah sering mengalaminya?" tanya Radith dengan wajah yang tegang. Lelaki itu menanti jawaban tuan Wilkinson, sementara yang di tanya masih terdiam sebentar karna mengotak – atik Ipad yang dipegangnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Radith.
" Om adalah bos besar. Bahkan dalam dunia mafia, mereka tak pernah tahu Om ada, yang mereka tahu, anak buah Om adalah bosnya. Om tak pernah terjun langsung jadi Om tak pernah mengalami hal yang kamu alami, mereka yang mengalaminya, termasuk pak Indra," ujar Tuan Wilkinson dengan santainya, membuat Radith tanpa sadar berdecih.
" Lantas bagaimana Tuan Wilkinson bisa bilang hal itu biasa dan tak menyakitkan? Coba Tuan rasakan sendiri sensasinya," ujar Radith yang membuat tuan Wilkinson tertawa, Beliau menatap Radith dengan tatapan yang takjub, Radith seperti anak kecil yang merajuk pada orang tuanya. Beliau tak pernah mengenal Radith dengan baik jadi tak tahu Radith memiliki sisi seperti ini.
" Pertama, Om tak perlu merasakannya karna Om memiliki orang lain untuk hal itu. Kedua, bukankah kau selalu memanggil Om dengan sebutan 'Om'? sejak kapan kau memanggil Om dengan sebutan 'Tuan'? itu sangat aneh untuk didengar," ujar Tuan Wilkinson yang membuat Radith diam.
" Ah, Radith merasa canggung jika memanggil Om dengan sebutan Om karna kita sudah lama tidak bertemu," ujar Radith pelan, tuan Wilkinson menggelengkan kepalanya dan mengangguk paham, memang sulit jika seseorang terlalu takut padamu, dia akan merasa segan dan tidak enakan meski sebenarnya kau biasa saja dengan apapun sikap mereka.
" Tuan, di bawah adalah ruamh sakit. Tapi kami butuh lapangan untuk mendakat. Kami akan menuju lapangan terdekat dan menyiapkan mobil untuk membawa tuan muda," ujar pilot helicopter ini. Tuan Wilkinson mengangguk dan melihat lagi ke arah Darrel. Baju lelaki itu penuh dengan darah, namun dia yakin Darrel masih bisa diselamatkan.
Setelah merak turun dari helicopter, dua buah mobil sudah terparkir dan menghampiri mereka. Tuan Wilkinson, Radith, Darrel dan salah seorang pengawal masuk ke salah satu mobil sementara yang lain masuk ke mobil lainnya. Mereka bergegas menuju rumah sakit terdekat itu.
" Kau tenang saja, aku akan menyelamatkanmu. Berapapun akan aku bayar, tugasmu hanya bertahan. Aku tahu kau bisa mendengarkanku, jadi percaya pada janjiku," ujar tuan Wilkinson tepat di telinga Darrel.