Hopeless

Hopeless
Chapter 171



Luna sampai ke rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya, rasanya dia memerlukan pijat refleksi untuk seluruh badannya yang terasa lelah. Tidur dengan posisi terombang – ambing oleh ombak, tidak nyaman sama sekali. Gadis itu bahkan enggan memberesi barang – barangnya dan langsung merebahkan dirinya di kasur yang nyaman dan empuk.


" Kok kepala gue pusing banget ya? " tanya Luna sambil memijit ringan kepalanya. Gadis itu mengambil salah satu ponselnya yang memiliki softcase bertuliskan refleksi dengan kaligrafi, memudahkannya karna ponsel itu hanya berisikan satu nomor, yaitu pijat refleksi. Gadis itu menelpon pijat langganannya untuk datang dan langsung mematikan panggilan itu, meletakkan ponsel itu di tempatnya kembali.


" Gue kira bakal enak pergi ke tengah laut ala film titanic, ternyata pegel banget jadinya, mana kaki gue tambah kaku gini, duh, lelah sekali prinses," ujar Luna sambil mengurut sendiri kakinya yang terasa pegal. Gadis itu mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Darrel. Lelaki itu tak bisa dihubungi sama sekali, membuat Luna merengut sedih.


" Nyoba Radith ah," ujar Luna dengan riang. Gadis itu mengulangi kegiatannya, namun Radith juga tak menjawab panggilannya, bahkan layar ponselnya bertuliskan ' sedang berada dalam panggilan lain'. Sepertinya lelaki itu sedang memuaskan diri dengan menelpon Blenda. Kabarnya gadis itu memang sudah membaik dan jika sudah sembuh total akan segera kembali ke Indonesia.


Eitts, jangan salah paham, mereka tak akan mungkin pernah kembali bersama, karna mereka berdua sama – sama menyaadari bahwa mereka saling menyayangi sebagai saudara, tak lebih dari itu. Tapi bukan berarti kalian tim Radith bisa bergembira, percayalah, hubungan Radith dan Luna akan sangat sulit, apalagi Darrel sudah mengantongi restu dari papa Luna.


Luna langsung melemparkan ponselnya dan menutup mukanya dengan selimut sembari menunggu terapis itu datang ke rumahnya. Gadis itu mengambil gagang telpon rumah dan menelpon Danesya menggunakan telpon rumah, menawarkan gadis itu untuk ikut pijat refleksi dengannya. Akhirnya Luna bisa berdamai dengan hatinya sendiri dan kembali ' bersaudara' dengan Danesya.


Gadis itu akhirnya sadar, bukan hanya dia yang nelangsa, namun hanya dia yang mengeluh. Karna ternyata bang Jordan dan Danesya harus mengalami hal yang lebih dari yang bisa dibayangkan Luna. Bahkan mereka masih mau kembali ke Indonesia karna keegoisan Luna. Hal itu tentu membuat Luna malu dan sebenarnya sedikit merasa tak enak.


Dia sudah meminta Danesya pulang ke Inggris jika gadis itu ingin kembali. Namun Danesya menolak karna merasa ingin berlibur di Indonesia, paling tidak dia akan menikmati bawah laut lombok, atau sekadar berjalan – jalan di pantai pulau Dewata. Sesuatu yang sudah di bayangkan sejak lama, namun tak pernah bisa dia lakukan.


Apalagi Mr. Wilkinson memutuskan untuk kembali ke Indonesia, melakukan segala bisnisnya di tempat ini meski jika ada keperluan mendesak beliau tetap harus melakukan perjalanan ke luar negeri, setidaknya pria itu akan lebih sering bertemu dengan anak – anaknya. Sebenarnya beliau sedikit merasa trauma dengan Indonesia karna dia kehilangan sosok yang paling dia cintai di negara ini. Bukan salah negaranya, hanya salah dengan emosi dan rasa traumanya sendiri.


Tak perlu menunggu terlalu lama, seseorang langsung mengetuk pintu kamar Luna dan masuk ke dalam kamar itu untuk melakukan tugasnya. Luna harus mengganti pakaiannya dengan handuk kimono, lalu merebahkan diri dan menunggu terapis itu memijat dirinya agar menjadi lebih relax.


" Mbak, Kok belakangan ini kaki saya sering mati rasa, kayak tiba – tiba gak bisa digerakin gitu mbak, itu kenapa ya mbak?" tanya Luna sambil menikmati setiap pijatan yang diberikan di telapak kakinya. Terapis itu tampak berpikir sambil tetap mengurut kaki Luna menggunakan minyak khusus yang memiliki aroma menenangkan.


" Ada banyak faktor mbak, terlalu lelah juga bisa, tapi bisa jadi juga kena penyakit saraf, coba diperiksain aja mbak biar nanti bisa mengambil tindakan yang teapt," ujar terapis itu yang membuat Luna mengangguk, gadis itu mulai menantuk dan memilih untuk menidurkan dirinya dengan nyaman.


" Mbak kalau nanti keluar langsung kunci pakai tombol ya, sebelum pintunya ditutup dikunci dulu, terus nanati remotenya taruh dalem, terus pintunya tutup deh, nanti otomatis ke kunci," ujar Luna yang diiyakan oleh orang itu. Entah berapa lama waktu yang diperlukan, yang jelas Luna langsung tertidur sampai petang, itupun dia bangun karna ponselnya di bom telpon oleh beberapa orang.


Luna keluar dari kamar dengan kantuk tak tertahankan, setelah mengganti pakaian tentunya. Di depan pintu sudah ada Jordan yang berpakaian rapi, membuat Luna yang baru saja bangun langsung menatap Jordan dengan mata setengah terbuka.


" Kamu kok belum siap? Astaga, dari tadi abang chat, dari tadi abang teelpon, abang kira kamu udah siap atau paling gak udah mandi, tobat deh punya dik satu yang kayak gini. Burusan gih mandi, udah ditunggu sama yang lain," ujar Jordan dengan kesal, membuat Luna semakin bingung, apalagi nyawanya belum terkumpul sempurna.


" Emang mau kemana sih bang? Ini kan udah sore, kenapa gak besok aja? Luna capek banget bang barusan tidur juga, tadi habis pijet terapi," ujar Luna menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Jordan menggelengkan kepalanya dan mendorong Luna untuk masuk ke kamarnya lagi.


" Kalau kamu gak siap dalam lima belas menit, abang gak tahu deh nasib lemari yang penuh dengan ponsel apel ini, mungkin bakal dibuang sama Daddy, atau mungkin dibagiin sama mereka yang lebih membutuhkan, gak tahu lagi abang, gak tahu," ujar Jordan menggelengkan kepalanya dengan dramatis, Luna melengos dan langsung menutup pintunya dengan keras, membuat Jordan tertawa keras karna Luna marah padanya.


" Ngancem mulu, awas tuh nanti kesandung dari lantai empat, terbang ke lantai satu, nyebelin," ujar Luna dengan keras dari dalam kamar, namun Jordan tak bisa mendengar karna gadis itu berteriak saat berada di kamar mandi yang kedap suara.


Gadis itu buru – buru menyelesaikan mandinya dan bersiap dengan pakaian seadanya. Dia mengenakan kemeja santai dan celana panjang mengingat tadi Jordan juga menggunakan pakaian rapi dan sopan. Mereka pasti bukan ingin pergi belanja atau rencana casual lainnya, entah kemana daddy akan membawanya. Ke kondangan kah? Atau ke KUA untuk bang Jordan? Hahahaha.


" Wih, udah siap aja nih adek abang, tuh lihat Danesya sampai lumutan karna nunggu kamu, uring – uringan dia karna udah siap dari tadi, hebat kamu bisa buat tuan besar Wilkinson menunggu," ujar Jordan menggeleng dramatis, membuat papanya melempar koran yang sebelumnya sudah dia gulung tepat ke arah Jordan.


Jordan tertawa lepas melihat papanya yang tersinggung, meski pria itu tak mungkin berniat melukai Jordan, karna da vas bunga dan majalah di depan pria itu, namun pria itu memilih untuk melempar koran padanya, tidak kena pula. Jordan bangkit dari duduknya dan menggeret Danesya yang sudah terlanjur menempel pada kursi.


" Ayo loh, keburu malam, masak kamu mau ke tempat itu malam malam?" tanya Jordan yang membuat Danesya mendelik dan bangun dengan sendirinya. Hal itu tentu membuat Luna yang tidak tahu apa – apa semakin bingung, namun dia tahu percuma dia bertanya, dia akan menjdi lebih penarasan karna Jordan pasti akan menjawab ' lihat aja nanti.'


" Gak usah jadi Penggila kerja deh dad, orang harta juga gak dibawa mati. Bahkan kalau Daddy jual semua perusahaan Daddy, kita bakal bisa hidup untuk waktu yang lama, kenapa Daddy harus habisin waktu buat bekerja sih?" tanya Luna yang membuat suasana menjadi semakin hening. Bahkan Danesya langsung membuka matanya dan menatap daddynya yang tampak menghela napasnya.


" Bentar lagi kita sampai," ujar pria itu menutup Ipadnya dan meletakkannya di suatu wadah mirip tempat biring, dimana berjajar Laptop, ponsel dan Ipad. Luna mengedikkan bahunya dan memilih untuk menatap jalanann yang tak tampak asing untuknya. Tepat yang entah sudah berapa lama tak pernah dia kunjungi, meski samar, Luna mengingat dia pernah ke tempat ini sebelumnya.


" Ayo turun, kita harus jalan dari sini," ujar Mr. Wilkinson yang diangguki oleh mereka semua. Mereka turun di sebuah gapura bertuliskan ' makam keluarga Wilkinson'. Kaki Luna langsung melemas saat membaca gapura itu. Untuk apa Daddynya membawanya ke tempat itu? Apakah hal ini tak akan melukai perasaan daddynya?


" Mama kalian pasti senang karna kalian datang ke sini bersama – sama, kita sebagai satu keluarga, apalagi kalian udah lama banget kan gak ke sini?" tanya Mr. Wilkinson sambil melangkahkan kakinya di padang berumput diantara nisan yang berjarak cukup jauh itu. Makam keluarga besar Wilkinson yang juga di isi oleh orang – orang tuan Wilkinson yang tewas saat bertugas.


Mereka sampai di sebuah nisan yang bertuliskan nama ibu mereka. Tuan Wilkinson meletakkan satu bucket bunga yang tadi dia bawa, sementara ketiga anaknya mengiasi makam itu dengan bunga tabur yang beragam, Luna sendiri bertugas untuk meletakkan bunga sedap malam yang harum di dekat nisannya sambil mengelus nisan itu seakan dia sedang mengelus kepala mamanya.


" Daddy banyak kerja untuk melupakan kalau Daddy udah kehilangan orang yang dad paling cinta. Setidaknya dengan bekerja pikiran daddy tidak kosong, daddy jadi gak kepikiran atau kesepian lagi, daddy suka kangen sama mama kalian kalau lagi gak ada kerjaan," ujar Mr. Wilkinson yang membuat Luna kembali dirundung rasa bersalah karna menanyakan hal yang tidak tepat.


" Hai mama, ini udah lama banget ya ma Danesya gak main, Mama apa kabar di sana? Mama pasti bahagia kan ma? Maaf Danesya baru datang lagi, Danesya waktu itu sakit ma, sekarang Danesya udah sembuh, Danesya bakal sering main ke sini buat temenin mama," ujar Danesya dengan mata yang berkaca – kaca.


Jordan menatap nisan itu dengan dalam, mengingat wajah ayu ibunya yang dulu selalu menemaninya saat daddynya sibuk bekerja. Ibunya itu bahkan memilih tak bekerja dan menghabiskan waktu untuk bermain dengannya sepanjang hari, tak ada yang tak dia ceritakan pada ibunya itu. Kepergian ibunya tentu membuat hatinya terluka.


" Mama, Jordan datang. Jordan udah dewasa ma, Jordan bisa laluin hari – hari Jordan walau mama Cuma jaga Jordan dari jauh, padahal dulu Jordan udah frustasi dan ngira Jordan gak bisa hidup lagi tanpa mama. Mama gak perlu khawatir, Jordan udah lebih kuat, Jordan bakal jaga keluarga ini buat mama, Jordan janji," ujar Jordan dengan air mata yang nyaris menetes dari tempatnya.


" Kamu lihat kan? Anak – anak kita udah besar sekarang, bahkan Luna sudah punya tunangan. Aku akan pastikan mereka bahagia biar kamu gak marah sama aku. Untungnya Luna dan Danesya mirip kamu dan bukan mirip aku, merka cantik, setidaknya mereka mengobati rasa rindu aku ke kamu," ujar Mr. Wilkinson yang mengelus gundukan berumput itu.


" Dad, mama orang yang seperti apa?" tanya Luna dengan tatapan kosong, gadis itu tak mengutarakan salam atau sapaan pada mamanya, bahkan pandangannya menatap lurus ke depan, seakan ingin membayangkan wajah mamanya, ingin memeluk mamanya meski hanya sebatas khayalan. Gadis itu merindukan sosok yang bahkan tak pernah dia temui dan dia ingat wajahnya. Papanya tidak meletakkan satu foto pun tentang mamanya.


Alasannya sederhana, beliau tak mau keluarga mereka dirundung kesedihan terus menerus, maka dari beliau hanya memasang foto istrinya di ruang kerjanya, agar dia mendapat semangat saat bekerja, menghilangkan rasa lelah dan frustasi yang seharian beliau alami.


" Mama kalian rambutnya panjang, kulitnya langsat dan halus, Lemah lembut, sangat cantik, tapi mama kamu juga galak kalau sama Daddy, apalagi kalau bang Jordan nagis karna Daddy, pasti seharian Daddy dijutekin sama mama, lebih sayang sama Jordan pokoknya," ujar Mr. Wilkinson sambil tertawa hambar, Jordan ikut terkekeh saat mengingat masa itu, dia masih mengingatnya meski ingatannya sedikit memudar.


" Bang Jordan enak ya Pa, masih bisa ketemu mama, dirawat sama mama, dan menikmati hangatnya pelukan mama untuk waktu yang lama. Hal yang gak pernah bisa Danesya rasakan," ujar Danesya sambil memainkan bunga yang ada di gundukan itu. Mr. Wlkinson mendekat dan mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.


" Kalian adalah kebahagiaan mama, kita semua ahrus terus bahagia agar mama juga bahagia, kalian harus janji selalu bahagia dalam hidup kalian, itu akan membuat mama tersenyum di atas sana. Apalagi satu kemauan mama sudah bisa papa turuti, yaitu kita semua tinggal bersama sebagai satu keluarga. Papa janji akan lebih luangkan waktu untuk kalian."


" Daddy, senyum mama cantik banget ya pa, mama juga hangat, rambutnya indah, dan mama masih kelihatan muda banget," ujar Luna tanpa sadar, membuat Mr. Wilkinson mengangguk dan tersenyum, dia kembali membayangkan sosok istri yang membuatnya sertus persen jatuh hati.


" Kamu tahu dari mana?" tanya Jordan yang pertama kali menyadari hal itu. Luna tak pernah melihat wajah papanya, apalagi gadis itu sampai tahu mengenai seberapa hangat mamanya itu.


" Mama tadi di sini bang, mama peluk Luna, makanya Luna diam aja, Luna pikir itu Cuma halusinasi Luna, tapi yang barusan peluk Luna hangatnya nyata, Luna yakin itu mama bang, tapi Luna bingung bang," ujar Luna dengan pandangan mata yang kosong.


" Bingung kenapa?" tanya Jordan mewakili yang lain.


" Mama Cuma bilang ' tahan sebentar lagi, mama bakal selalu ada di dekat kamu.' Habis itu mama pergi, hilang gitu aja," ujar Luna yang masih tak berkedip dan tak memandang satupun diantara mereka. Lalu Luna menatap ke arah papanya yang juga menatapnya dengan kaget sekaligus bingung.


" Maksudnya apa Dad?" tanya Luna dengan pelan.