
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara. Kinan juga tidak tahu harus merayu Beni seperti apa biar kekasihnya itu luluh. Sungguh ia tidak nyaman dengan diamnya pria itu. Perlahan Kinan melepaskan pelukannya dari perut Beni.
"Yang suruh lepas siapa?" Gila, meski takut dengan Beni yang mendadak irit bicara, sumpah demi apa pun, Kinan sangat menyukai suara dingin pria itu saat sedang merajuk seperti ini. Terdengar begitu macho dan menggelitik. Darahnya bahkan berdesir kegirangan.
"Kinan mau garuk kepala," cicitnya dengan nada setengah merengek.
"Kutuan kamu?"
"Mungkin."
"Jorok!" Beni memarkirkan motor di parkiran khusus. Pria itu ternyata membawa Kinan ke Bell's Cafe. Cafe yang berada di jantung kota.
"Kenapa tidak langsung pulang?"
"Abang perlu bicara." Beni langsung menuju counter pemesanan. Menyebutkan menu yang mereka inginkan.
"Aku tidak lapar."
"Sudah dipesan," Beni menarik tangan Kinan, menuntun untuk duduk di meja terdekat. "Kenapa tidak minta izin?"
"Kinan 'kan hanya pergi bersama Novi dan Bintang. Tidak ada laki-laki."
"Kinan tahu ini bukan tentang pergi dengan laki-laki atau tidak. Abang percaya sama kamu."
"Lalu masalahnya apa? Aku merasa kamu terlalu membatasi semua pergerakanku!" Kinan terbakar amarah. Ia mulai jenuh dengan keposesifan Beni yang menurutnya berlebihan. Kinan tidak memiliki banyak teman, hanya bijian dan itu juga dilarang. Kinan bukan gadis yang suka keluyuran, mulai risih setiap kali Beni bertanya sedang apa, dimana, sama siapa?
Ini masih pacaran dan Beni sudah mulai mengatur-atur hidupnya. "Aku bukan boneka kamu, ya!"
"Kamu?" Beni melayangkan protes mendengar cara Kinan memanggilnya. Kinan mendengus. Namanya juga sedang marah, akan aneh rasanya jika tetap bermanis-manis dan beromantis-romantis.
Kinan memalingkan wajah, menghindari tatapan Beni. Pesanan mereka datang, ditata di atas meja, baik Kinan atau pun Beni tidak ada yang menyentuh makanan tersebut. Kinan bisa merasakan bahwa Beni masih mengawasinya.
"Makan."
"Tidak mau!"
"Ini sudah dipesan."
"Kan kamu yang pesan."
"Itu kesukaan kamu, Sayang." Suara Beni melunak. "Sayang, makan dulu. Biar ada tenaga buat marah-marah."
Kinan akhirnya menoleh, menemukan wajah Beni yang menatapnya dengan sayu. Bibir pria itu menyunggingkan senyum hangat.
"Abang salah. Maaf, ya, Sayang. Abang hanya terlalu khawatir. Segala tentang Kinan itu Abang ingin tahu, ingin menjadi orang pertama dalam segala hal selama itu menyangkut, Sayang. Abang memang sedikit berlebihan.... maksud Abang sangat berlebihan," Beni buru-buru meralat saat mendapatkan tatapan menghunus dari Kinan. "Itu karena Abang sangat sayang, cinta sama, Sayang."
"Tapi Kinan jangan dikekang dong."
"Abang bukan bermaksud membatasi. Abang hanya tidak suka Sayang keluar tidak jelas. Ini jam kuliah, tapi kamu pergi dan teman-temanmu pergi ke jalan baru. Mata kuliah apa yang ada di sana?"
"Tidak ada mata kuliah di sana." Kinan kembali menundukkan kepala. Beni selalu memiliki jawaban yang membuat Kinan selalu terpojok. Setelahnya Beni akan dengan lapang dadaa meminta maaf kepadanya.
"Menurut, Sayang, itu berfaedah?"
"Kinan lapar."
"Ya sudah makan."
"Terima kasih, Sayang."
"Jangan nakal lagi."
Kinan menganggukkan kepala dengan patuh.
"Janji?"
"Janji."
"Kalau nakal?"
"Janji lagi," Kinan mengerling nakal. Masalah mereka pun terselesaikan. Keduanya kembali damai. Ya, selalu begitu. Dua tahun menjalin hubungan, belum pernah terjadi mereka terlibat pertengkaran sampai berlarut-larut.
"Abang baru pulang kerja?"
"Hmm..."
"Keluarga Abang sama Novi kenal dekat, ya?"
"Oh,"
"Kinan mau Abang ajak ke rumah?"
"Hah?" Kinan tidak menyangka Beni akan menanyakan hal itu. Sejujurnya ia ingin mengenal keluarga Beni, tapi kalau ditanya apakah sudah siap untuk diajak ke rumah kekasihnya itu, jawabannya belum siap. Bagaimana jika keluarga Beni tidak menyukainya?
"Bertemu sama Ayah, Ibu."
"Eh?" Katanya jika pria mengajak wanitanya bertemu dengan keluarganya, artinya dia sudah sangat serius dengan wanita tersebut.
"Kinan merasa seperti sedang dilamar." Suaranya terdengar gugup.
"Ya tujuannya memang itu, Sayang. Untuk apa pacaran lama-lama jika tidak ada tujuan."
"Hah?"
"Sayang tidak mau Abang kawini?"
"Ijab dulu baru kawin."
"Nah itu, kita ketemu Ayah, Ibu, ya. Minta restu."
"Me-menikah?" Kata itu belum ada dalam daftar hidupnya. Ia kurang mempercayai pernikahan. Mindsetnya tentang pernikahan itu sangat buruk. Banyak beban. Itulah yang Kinan saksikan dari hasil pernikahan kedua orang tuanya. Membayangkan hal itu, sungguh ia belum siap untuk menikah.
"Kinan masih sekolah."
"Kan tinggal satu tahun lagi, Sayang."
"Kita bahas ini satu tahun lagi saja kalau begitu." Suaranya mendadak dingin.
Beni yang menyadari perubahan suara Kinan akhirnya mengalah, memilih menutup pembahasan tersebut.
"Makanannya keburu dingin, habisin dong."
"Beni," Suara seseorang menarik perhatian Kinan dan Beni. Dua orang wanita cantik berdiri tidak jauh dari mereka, berjalan mendekati meja.
"Beniii..." salah satu dari wanita itu berlari-lari kecil. "Ya ampun..." Wajahnya berbinar-binar cerah. "Kamu apa kabar, Ben?"
"Baik," Beni tersenyum canggung. Ia melirik ke arah Kinan yang juga sedang memperhatikan mereka.
"Aku juga baik," seru wanita itu masih dengan wajah sumringahnya. "Kamu sendiri?"
Asap mulai mengepul dari kepala Kinan. Tubuhnya yang subur dan makmur sebesar induk kingkong masa tidak terlihat.
"Kamu tidak lihat pacarku sebesar itu?" Beni menunjuk Kinan dengan menggunakan dagunya.
Wanita itu menoleh dan sedikit mengernyitkan kening melihat keberadaan Kinan.
"Oh, ini pacar kamu?" wanita itu melayangkan tatapan menilai kepada Kinan yang wajahnya memang sudah kumal karena berminyak. Sangat berbanding terbalik dengan penampilan wanita itu. Wanginya semerbak, wajahnya putih, mulus, dan licin. Kinan yakin lalat dan nyamuk akan terpeleset jika hingga di sana.
"Iya."
"Oh." kemudian wanita itu menyunggingkan senyum dipaksakan. "Rima, mantannya Beni," wanita yang ternyata bernama Rima itu mengulurkan tangan.
"Kinan," tidak ada alasan bagi Kinan untuk menolak uluran tangan tersebut. Mengetahui wanita itu merupakan mantan Beni membuat Kinan cemburu karena merasa kalah telak.
"Sudah selesai?" Beni bertanya kepada Kinan. Gadis itu pun menganggukkan kepala seraya berdiri. Tiba-tiba Rima juga ikut berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke Kinan seraya membisikkan sesuatu.
"Rim, kami duluan, ya." Tanpa menunggu jawaban Rima, Beni menggenggam tangan Kinan dan berlalu dari sana.
"Jadi itu mantan kamu?" Kinan menarik tangannya dari genggaman Beni begitu mereka sampai di parkiran. "Cantik, ya."
"Cantikan kamu."
"Oh ya?"
Beni tidak menanggapi ucapan Kinan, pria itu sibuk mengeluarkan motor. Tapi Kinan tahu bahwa Beni dengan sengaja tidak menanggapi ucapan Kinan.
"Aku mau putus!"
Beni refleks menoleh, "Kamu bilang apa?"
"Aku mau putus!!" Kinan menarik kasar kalung yang melingkar di lehernya dan melemparnya ke arah Beni. "Balikin sama mantan kamu." Kinan segera pergi meninggalkan Beni yang terkejut dengan pernyataan kekasihnya itu. Putus, heh?