Hopeless

Hopeless
Kejutan



Ehmm... perhatian, ini banyak yang gagal fokus kalau setting-nya itu zaman beuhala. Ya, di awal memang zamannya orde baru. Itu tapi saat Kinan masih duduk di bangku SD, gaes, saat Kinan masih bocil. Sekarang, si Kinanti 'kan sudah besar dan gemoyy... Udah bisa juga pacalan (Eh... eh... dalam hal ini Si Kinanti jangan dicontoh. Pacalan sebelum menikah itu Haram, ya, dik adiikkk....). Intinya, setting ini maju ke masa depan, masa kini, masa modern. Oke!!!


.


.


.


Berkat kecelakaan yang dialami Beni, hubungan keduanya masih terus berlanjut hingga ke tahun ketiga dengan drama putus nyambung. Sesekali Kinan datang berkunjung ke rumah orang tua Beni hanya sekedar untuk membantu Beni memeriksa buku laporan. Sekarang, Beni kembali menangani usaha keluarganya. Tapi Kinan tidak tahu apa yang sudah disembunyikan pria itu darinya. Sekarang, Beni menjadi seorang pecandu. Sulit untuk menghentikannya sekarang.


"Tiga hari lagi Sayang wisuda?"


Keduanya sedang berada di rumah Kinan. Omong-omong soal kaki Beni, kakinya sedikit terlihat pincang. Masih sangat disyukurkan bahwa bukan nyawanya yang melayang mengingat motornya hancur sangat parah. Ya, selalu ada kata syukur di balik musibah.


"Iya. Akhirnya, kuliahnya selesai juga."


"Abang ada kejutan untuk kamu."


"Kejutan apa?"


"Kalau dikasih tahu sekarang, namanya bukan kejutan."


Kinan tidak memaksa lagi. Dia bukan gadis yang menyukai kejutan.


Tiba di hari wisuda, Beni tidak datang ke kampus, pria itu hanya mengirimkan ucapan selamat melalui pesan singkat. Kinan memang melarangnya datang. Ia tidak suka jika nanti banyak yang bertanya-tanya tentang hubungan mereka dan yang paling penting, ia juga tidak suka Beni dan Novi saling bertemu.


Setelah acara, Kinan, Ayahnya dan Vita segera pulang. Tidak ada perayaan khusus. Sekarang, ia akan fokus untuk mencari kerja.


Ponselnya berdering begitu ia sudah sampai di rumah dan sudah melepaskan baju kebayanya. Telepon dari Beni.


"Ya, Bang, ada apa?"


"Sayang lagi di mana?"


"Di rumah."


"Sayang bisa datang ke klinik Pak Solihin di kelurahan kampung baru."


Dahi Kinan mengernyit. Itu dekat dengan rumahnya. Apa yang dilakukan Beni di sana? Apakah Beni sakit? Kakinya kumat? Soalnya jika hari dingin atau di waktu-waktu tertentu, Beni mengeluhkan rasa ngilu dan sakit di kakinya yang patah.


Ada kekhawatiran di benak Kinan. Ada apa gerangan?


"Abang sakit?"


"Kamu datang aja kemari, biar Sayang tahu."


Kinan pun segera bergegas untuk menemui Beni. Sampai di klinik Pak Solihin, Kinan bisa melihat motor milik Beni parkir di sana. Pun ia segera masuk dan duduk di ruang tunggu seraya mengirim pesan kepada Beni bahwa di ada sudah ada di sana.


•Sayang masuk saja.


Pesan balasan dari Beni. Kinan segera masuk bertepatan dengan tirai disingkap oleh Pak Solihin. Terlihat lah Beni yang segera turun dari atas ranjang mengenakan sarung. Kening Kinan mengernyit bingung.


"Ada apa? Abang sakit?" wajahnya terlihat panik dan khawatir.


Beni tersenyum. Melihat senyum tersebut, rasa khawatir Kinan berkurang. Lantas, apa yang sedang dilakukan Beni di sini?


"Ma-maksudnya?" Jantung Kinan serasa karnaval. Benarkah yang ada di pikirannya? Hal pertama yang ada di pikiran Kinan saat melihat Beni mengenakan sarung bahwa pria itu sedang melakukan khitan. Ya ampung ngilunya.


"Abang sudah muallaf," ucap Beni dengan wajah bersinar-sinar. Ia memberikan selembar kertas bertuliskan sertifikat yang dikeluarkan kantor urusan agama yang menyatakan benar adanya bahwa Beni sudah sah menjadi muallaf


"Ba-bagaimana bisa?"


"Bisa dong. Abang mengucapkan syahadat di KUA jam 11 tadi."


"Ba-bagaimana dengan orang tua Abang?"


"Ada surat pernyataan juga dari Bapak yang menyatakan persetujuan mereka." Beni lagi dan lagi memberikan selembar kertas yang dibubuhi tanda tangan Pak Untung.


"Kita akan menikah dua minggu lagi?"


"Hah?"


"Abang akan lamar kamu hari ini juga. Bapak di rumah 'kan?"


Sungguh Kinan tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia benar-benar terkejut. Amat sangat terkejut. Tidak menyangka jika Beni akan melakukan hal ini. Ia tidak berharap banyak pada hubungan mereka. Ia hanya meninggalkan Beni bosan kepadanya dan meninggalkannya, nyatanya ia salah besar. Beni justru mengambil langkah besar tanpa berdiskusi dengannya. Ya, akhir-akhir ini Beni memang sering meminta Kinan untuk melafadzkan syahadat. Tapi sungguh, Kinan tidak menyangka jika Beni akan menjadi muallaf.


Bukan hanya menjadi muallaf, tapi kini Beni juga sudah melamarnya. Tidak ada alasan baginya untuk menolak lamaran Beni karena tidak ada perbedaan diantara mereka.


"Ta-tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi. Kita harus menikah secepatnya. Jika perlu besok kita menikah."


"Ehmm..." Pak Solihin berdehem. Kinan dan Beni menoleh ke arah pria setengah baya yang sudah memotong kulit penutup pada organ penting Beni.


"Niat baik harus disegerakan. Tapi, Nak, itumu belum siap pakai, belum siap tempur satu hingga dua minggu ke depannya. Takutnya lecet dan terluka. Harap ditahan dulu," pesan Pak Solihin dengan nada geli seraya menunjuk bagian bawah pinggul Beni dengan dagunya.


"Iya, Pak. Aku akan tahan hingga benar-benar sudah sembuh." Beni berjalan ke arah timbangan dan segera naik ke atas benda tersebut.


"Gimana? Berkurang satu ons atau satu kilo?" kelakar Paka Solihin atas kulitnya yang dipotong sedikit.


Beni tergelak. "Tidak sampai satu kilo, Pak. Kan hanya ujung penutupnya."


Kedua pria itu tertawa atas lelucon konyol mereka. Setelah berbasa basi, Beni akhirnya mohon pamit. Mereka akhirnya pulang naik beca karena saran Pak Solihin jangan banyak bergerak dulu, membawa motor bisa mengakibatkan gesekan.


"Masalah lamaran, Kinan masih ingin bekerja."


"Kenapa bekerja? Biar Abang saja yang kerja? Sayang 'kan tahu Abang suka cemburu. Jadi Abang tidak ingin kamu banyak bergaul. Pikiran Abang akan kemana-mana jika kamu sering keluar walau untuk bekerja. Untuk itu Abang melamar Sayang, biar kamu tugasnya melayani Abang saja. Di rumah saja, tidak usah kerja."


"Tapi, Kinan masih punya dua adik yang harus Kinan perjuangkan."


"Adik kamu 'kan adik Abang juga. Kira akan urus sama-sama. Sekarang tidak ada masalah. Kita ke rumah kamu ya."


Kinan dan Beni langsung menuju rumah Kinan. Kebetulan Pak Mustofa ada di sana. Benar saja, Beni tidak main-main dengan ucapannya. Ia langsung mendekati Ayah Kinan dan mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Kinan.


"Beni mencintai anak Bapak, menyayangi anak Bapak dan tidak ingin main-main dengan Kinan. Jika Bapak bersedia memberi restu, saya ingin melamar Kinan untuk saya jadikan istri, Pak."


Pak Mustofa menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Kinan. "Bapak hanya bisa mendukung apa pun keputusan Kinan. Jika kamu adalah pilihannya, Bapak hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua. Kinan yang mau menjalani hidupnya, pasti lebih tahu apa yang terbaik untuknya. Bagaimana, Nak, kamu menerima lamaran Beni?"


Kinan menganggukkan kepala. Keesokan harinya, lamaran secara resmi pun datang dari perwakilan pihak keluarga Beni. Semua dilakukan secara express. Kinan juga tidak meminta macam-macam untuk hantaran. Dan dua hari kemudian, mereka pun menikah secara sah di kantor urusan agama. Sesederhana itu tanpa mengurangi kesakralannya.