Hopeless

Hopeless
Chapt 123



Luna merasa bosan ada di dalam kamarnya, gadis itu berguling dari kiri ke kanan, berputar searah jarum jam dan bahkan sudah menyelimuti dirinya dengan sprei, namun kebosanan itu malah bertambah besar. Darrel tak bisa dihubungi karna tadi dia memang sudah pamit untuk mematikan ponsel sampai besok karna proyek penting yang harus dia kerjakan.


" Gue mau apa dong sekarang?" tanya Luna pada boneka babi yang dia pegang, biasanya dia akan memainkan rambutnya dan membuat kreasi dari rambut panjang itu, namun kini rambut panjangnya hanya tinggal kenangan, dia tak bisa melakukan apapun lagi.


Luna berjalan menuju balkon kamarnya dan langsung terduduk di sana, dengan kaki yang menjuntai ke bawah setelah masuk ke sela sela pagar pembatas yang ada di sana. Luna mengayunkan kakinya perlahan dan menikmati angin malam yang memang menyejukkan. Gadis itu mengambil napas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan.


" Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan Lun? Masih banyak ngeluh aja Lo padahal Tuhan udah kasih udara gratis ke Lo," ujar Luna pada dirinya sendiri dan mencoba untuk memasukkana kepalanya ke pembatas pagar, namun gadis itu mengurungkan niatnya saat mengingat kasus kepala seseorang tersangkut di pagar. Tidak, Luna tidak akan mempermalukan dirinya seperti itu.


" Kok gue jadi kangen kak Darrel ya? Bener ya kata orang, semua orang itu bakal terasa berarti saat gak ada di sisi kita, demi apa gue jadi kangen banget."


Luna mencoba untuk menghitung bintang untuk menghilangkan rasa bosan. Gadis itu menangkap satu bintang paling terang dengan tangan yang dia sempitkan dan mata yang menyipit. Gadis itu terkekeh dengan hal yang sesederhana ini. Bukan hanya anak SD kan yang bisa bahagia hanya dengan melakukan hal ini?


Gadis itu menengokkan kepalanya ke bawah dan melihat dengan bingung, karna arah jam delapan dia melihat Jordan yang hanya diam dan menatap lurus ke depan. Nampak wajah lelaki itu sedang menanggung beban yang besar, lelaki itu bahkan sampai meghirup napasnya kuat kuat.


Luna langsung masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi menuju tangga ke lantai dua, dia akan menanyai Jordan secara langsung. Jika dipikir pikir lagi, memang sudah lama sekali mereka tak berkomunikasi dengan masalah pribadi. Bukan mereka, hanya Jordan, lelaki itu tak pernah bercerita mengenai masalah pribadinya.


" Bang Jordan kenapa?" tanya Luna yang langsung masuk tanpa mengetuk dan bahkan langsung menghampiri Jordan yang ada di balkon. Lelaki itu tentu terkejut karna kehadiran Luna, hampir saja dia menendang gadis itu karna refleknya, namun dia segera mengurungkan niatnya saat melihat wajah Lunetta.


" Kamu kok bisa disini? Biasanya jam segini udah tidur aja?" tanya Jordan yang menarik Lunetta dan merengkuh bahu gadis itu, menikmati bau khas Lunetta yang menyegarkan. Gadis itu hanya diam dan membiarkan Jordan melakukan apapun sesuka hatinya.


" Abang kenapa kok kelihatan banyak pikiran gitu sih? Abang kenapa? Gantian sini abang yang cerita sama Lunetta," Ujar Luna memegang tangan Jordan yang ada di bahunya, tangan yang selalu membuatnya hangat dan nyaman. Tangan paling aman dan nyaman di dunia ini ( tentu saja bagi Lunetta)


" Kamu kan masih kecil, kamu mana paham masalah yang abang hadapi? Udah mending kamu masuk kamar terus tidur deh," ujar Jordan memberi masukan untuk Luna dan melonggarkan pelukannya. Luna menggeleng sebagai jawaban dan menarik tangan Jordan agar memeluk pinggangnya. Mereka yang tak tahu pasti menganggap kedua orang itu couple goals, nyatanya mereka hanyalah sibling goals.


" Luna gak mau abang simpan rasa sakit abang sendirian, abang punya Lunetta, abang bisa cerita ke Lunetta, walau entah Luna bisa bantu atau enggak, yang penting beban bang Jordan udah berkurang karna cerita ke Luna," ujar Luna dengan senyumnya dan melonggarkan pelukannya dan berbaik untuk menatap Jordan.


" Janji gak boleh ledekin abang ya?" tanya Jordan dengan wajah ragunya, Luna mengangguk setuju dan memasang wajah serius sembari menunggu Jordan menyiapkan mental untuk bercerita padanya.


" kamu udah tahu kan abang pacaran sama Keysha?" tanya Jordan pada Luna, gadis itu mengangguk dan tak mengucapkan sepatah kata apapun agar Jordan bisa menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.


" Sebenernya abang pingin ngelamar dia buat jadi istri abang, apalagi umur abang udah dua puluh lima tahun, tapi abang takut kalau abang ditolak sama dia," ujar Jordan dengan wajah lesunya. Mendengar itu ingin sekali Luna tertawa keras dan meledek pria itu, namun Luna masih punya sedikit hati untuk melakukannya, apalagi wajah Jordan yang memang nampak sekali sedang frustasi.


" Ya kalau abang udah mantab buat ngelamar kak Key ya lamar aja, Luna pasti setuju kok," ujar Luna dengan wajah cerianya, Jordan menghela napasnya dengan frustasi, benar saja, Luna tak akan bisa membantunya taaupun mengerti apa masalah yang dihadapinya.


" Dia sadism Lun, dan abang baru tahu belakangan, abang gak mungkin berani ambil resiko itu dan nantinya malah membahayakan kamu atau keluarga abang yang lain," ujar Jordan dengan gelisah. Luna mendengar kata Sadism tentu langsung merasa takut.


" Tapi abang terlanjur sayang sama dia?" tanya Luna dengan wajah yang sudah berganti serius, menurutnya maslaah ini tak akan menjadi simple karna papanya tak akan menyetujui hubungan ini, ya, tak akan.


" Yaps, abang terlanjur sayang sama dia, tapi abang bimbang waktu tahu fakta itu, bahkan sahabat abang udah jadi korbannya," ujar Jordan dengan tatapan mata menerawang, Luna langsung mengernyitkan dahiya dengan bingung, gadis itu hendak bertanya, namun wajah Jordan tampak tak mendukung untuk hal itu.


" Kalau Luna jadi abang, Luna bakal pertahanin hubungan itu dan bakal berusaha bantu pasangan Luna buat sembuh atau stidaknya gak membiarkan rasa sadism itu muncul, Luna yakin bang Jordan bisa melakukan hal itu."


" Menurut kamu gitu ya? Tapi kalau papa gak setuju gimana dong?" tanya Jordan dengan wajah masamnya, Luna menggelengkan kepalanya pelan saat mengetahui Jordan segelisah ini, penuh dengan ketidak yakinan, terasa tidak seperti abangnya.


" Sejak kapan bang Jordan nurut sama kata papa yang gak sesuai sama hati bang Jordan? Bang Jordan pasti membantah dan berusaha papa menerima apa yang dirasakan bang Jordan, Luna tahu itu," ujar Luna yang sebenarnya menghina Jordan, namun lelaki itu malah tertawa karna Luna berhasil meledeknya.


" Abang bakal berusaha buat situasinya membaik, makasih ya udah mau dengerin dan kasih solusi, sekarang abang lega. Tadi abang bener bener buntu dan gak tahu harus apa," ujar Jordan dengan senyum lebarnya, Luna ikut senang jika abangnya sudah kembali tersenyum.


" Lun lihat deh, diatas sana ada bulan dan sinarnya terang banget, cantik ya?" tanya Jordan menunjuk sebuah benda langit yang mencolok diantara milyaran bintang yang ada di atas sana. Meski tak bisa mengalahkan sinar mentari, namun bulan adalah terang yang membantu saat malam hari.


" Iya dong, bulan kan selalu cantik, kayak Luna nih cantik buktinya," ujar Luna memegang pipinya dan mengelusnya sendiri, sangat centil dan membuat Jordan gemas karenanya, mengapa mereka tak bisa seakrab ini dulu?


" Kalau kamu bulan berarti kamu punya banyak bopeng dong? Permukaan bulan kan gak rata, berarti wajah kamu banyak lubangnya kayak bulan, gak mulusss," ujar Jordan yang malah mengolok – olok Luna, padahal wajah Luna sangat lembut, licin dan bercahaya, tak ada satu jerawatpun atau bahkan sekadar bekasnya.


Makanan bergizi, check up dan perawatan rutin serta skincare yang menunjang membuat kulit Luna glowing dan selalu tampak segar, yah, kecuali saat dia frustasi, wajahnya otomatis menjadi kusam dan menyeramkan


" Luna masuk kamar dulu ya bang, Luna ngantuk banget nih, besok Luna praktek di jurusan," ujar Luna dengan mata yang mulai menyipit. Jordan mengangguk dan mengecup ringan dahi Luna sebelum gadis itu pergi dari tempat itu. Setidaknya Jordan kini memiliki lebih keyakinan untuk melangkah ke depannya.


Luna menghela napasnya saat dia hanay melihat dan menonton Radith merangkai kabel di sebuah alat bernama PLC, PLC dapat digunakan untuk berbagai macam program pada mesin hingga mein dapat berjalan otomatis dengan meminimalir bantuan tangan manusia.


" Radith, Lo masih lama banget ya? Gue bosen gila dith, udahan sih mainan PLCnya, gue bosan," ujar Luna dengan wajah sedihnya, Radith hanya berdecak dan tak menghentikan kegiatannya. Dia pun sebenarnya malas untuk melakukan ini semua, namun karna dia yang dipilih untuk mengikuti LKS, dia harus latihan ekstra.


Setidaknya meski Radith tak menyukai pekerjaan ini, dia masih punya nalar untuk tak membuat sekolahnya malu, apalagi pihak sekolah sudah percaya padanya untuk melakukan ini semua. Radith menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Luna yang juga menatapnya.


" Lo mending tidur atau mainan ponsel dh Lun, lebih bermanfaat dibanding Lo gangguin gue disini, ya kan? Bener kan? Gue butuh konsentrasi nih biar sambungannya gak salah, Lo pikir ini gampang apa?" ujar Radith dengan nasa sewotnya, membuat Luna sebal dan menganggap Radith sombong mentang – mentang bisa melakukan semua itu.


" Iya yang lolos Lomba, sombongnya minta ampun astaga, yaudah ah gue gak mau ganggu o lagi," ujar Luna yang langsung tidur disamping Radith, lelaki itu memang praktek di lantai karna butuh tempat yang luas.


Radith langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Luna yang terlelap, mungkin hanya seperti ini dia bisa menikmati paras Luna yang selalu menggetarkan hatinya, mungkin hanya seperti ini dia bisa selalu dekat dengan Luna dan merasakan hangatnya tubuh gadis ini.


" Nah kan kalau gue tidur Lo masih curi – curi pandang sama gue. Dith, Lo suka sama gue ya?" tebak Luna dengan pelan, namun langsung dibantah habis – habisan oleh Radith, lelaki itu mendebat Luna sampai gadis itu diam dan tak bisa menjawab lagi.


Luna yang tak ingin kalah lalu merecoki Radith yang tak hentinya sibuk dengan benda mati tersebut. Mulai dari menggelitiki Radith, mencabuti bulu kakinya, bahkan sampai menggigit telinga lelaki itu saking gemasnya. Radith awalanya berusaha diam dan tak menanggapi Lunetta, namun karna Luna gigih, akhirnya lelaki itu merasa terganggu juga.


" Lo diam atau gue usir dari sini?" ancam Radith yang membuat Luna meruncingkan mulutnya namu tak menghentikan aktivitasnya. Akhirnya Radith mengambil kedua tangan Luna dan memiting gadis itu agar tak bis bergerak dari tempatnya.


Radith mengamil ancang – ancang dan langsung menyerbu Luna dengan hujan gelitikan, gadis itu berteriak dan menggeliat liat, namun tak ada satupun peduli karna mereka sudah biasa seperti itu bagi teman teman kelaas mereka. Luna meronta – ronta, namun pitingan Radith sangat kuat dan sempurna, akhirnya gadis itu menyerh dan mhon ampun pada Radith.


" Ampun dith ampun, udah, capek, iya gue gak akan ganggu Lo lagi astaga, udah dith, engap gue," ujar Luna yang mengatur napasnya saat Radith menghentikan aktivitasnya, namun hanya bertahan sebentar karna lelaki itu kembali menggelitiki perut Luna, meski sebenarnya dia mendapat keuntungan yang tak disadari oleh keduanya.


" Telat, udah gak akan ada ampun laagi buat Lo, mending Lo diam dan nurut aja sma aynag gue lakuin, hahahha," ujar Radith dengan seram dan kembali melakukan aktivitasnya, Luna yang sudah lelah hanya mampu berteriak dan tertawa saking gelinya sampai akhirnya mereka tertawa bersama – sama dnegan alasan yang beda dan obyek yang sama.


Jam pulang sekolah berbunyi, mereka segera pergi meninggalkan sekolah, begitu pula Darrel dan Lunetta, kedua manusia itu segera masuk ke dalam mobil Darel dan pergi dari sana. Namun sebuah pesan mengejutkan Luna saat mereka masih ada di perjalanan. Ternyata pesan dari Farisa yang menunjukkan sebuah akun instakeram yang mengupload fotonya dengan Darrel saat berjalan bersama.


Ini orang siapa? Maunya apa? Gue gak pernah ada masalah sama nih akun, follow gue juga enggak, kenapa bisa ada berita seperti ini menyebar dan bisa ditonton oleh seluruh Indonesia, bukan foto yang membuat Luna gelisah, namun caption yang tertulis disana. Menyebutkan bahwa Luna adalah seorang perebut tak tahu diri karna berselingkuh dengan calon tunangan orang lain.


Darrel yang melihat itu tentu marah, namun dia tak bisa melakukan apapun, dia bahkan tak bisa membatalkan pertunangan ini. Lelaki itu menepikan mobilnya dan menggenggam tangan Luna dengan erat.


" Luna, kamu percaya kan sama aku? Aku Cuma sayang sama kamu, aku bakal beresin ini sesegera mungkin, tapi apapun yang terjadi tetep percaya sama aku ya, please," ujar Darrel dengan wajah melasnya, jujur saja dia gelisah dan takut Luna akan mengira dia hanya memainkan Lunetta.


" Iya kak, Luna percaya sama kak Darrel, Luna percaya sama kak Darrel, Luna bakal mencoba terus percaya sama kak Darrel, jadi jangan sampai kecewakan Luna ya kak," ujar Luna sambil tersenyum tipis dan melaporkan pesan tersebut pada Jordan agar ditelusur siapa pemilik akun dan apa tujuannya menyebarkan bertia seperti ini.


Darrel mengantarkan Luna ke rumahnya dan langsung pergi lagi ke suatu tempat setelah tadi membuat janji dengan orang itu, Darrel langsung masuk ke sebuah café itu dan menunggu seseorang untuk hadir di sana. Tak lama orang itu hadir dan duduk di hadapan Darrel, seakan tak ingin menunda orang itu langsung bertanya maksud Darrel mengajaknya ke tempat ini.


" Gua bakal tunangan sama orang akhir pekan, gue mau Lo datang ke sana sama Lunetta," ujar Darrel yang langsung pada intinya. Orang di depannya tentu terkejut karna dia tak mengetahui sama sekali tentang berita ini.


" Lo gila kak? Lo mau tunangan dan Lo nyuruh gue buat ngajak Lunetta? Hati lo kemana woi?! Gue gak mau ikut ikutan kn, sorry," ujar orang itu menggelengkan kepala dan mengangkat tangannya, semua ini bukan urusannya dan dia tak mau ikut campur dengan masalah ini.


" Please, setidaknya dia tahu kalau gue udah punay tunangan, gue gak mau dia sakit hati kalau tahu blakangan dan gue gak tega kasih tahu dia sendiri, setidaknya dia bakal benci gue dan gak terlalu susah buat move on dari gue," ujar Darrel sedikit memohon.


" Move on dari Lo? Dia masih suka sama gue kalik kak, hahahha," ujar orang itu dengan gaya tengilnya, Darrel sampai berdecak danmmati kutu karna perkatan orang itu.


" Oke gue bakal lakiun semua, tapi gue gak mau tanggung jawab sama hasil akhirnya, dan gue gak mau paksa Luna buat datang karna itu hak dia," ujar orang itu dengan wajah serius. Darrel mengangguk dan tersenyum senang penuh dengan terima kasih.


" Makasih banget ya, Lo emang bisa diandalkan dith," ujar Darrel dengan senyumnya meski kini terlihat sedikit masam karna membiarkan Lunetta bersama lelaki tengil ini.