
" Rel, papa bangga sama kamu, bisa juga ternyata kamu ungkap dan rencanakan semua. Tapi sebenernya yang dibilang papanya Fera itu bener Rel, papa lagi diambang kebangkrutan, makanya papa iya iya aja waktu dia ngajak perjodohan dan udah tanda tangan kontrak, untungnya kamu bisa buktiin tindakan kriminal dia," ujar tuan Atmaja yang mengelus punggung Darrel
Bahkan untuk acara perjodohan ini hampir 90 persen disiapkan dan didanai oleh keluarga Fera, sisanya barulah tuan Atmaja, sungguh keadaan ekonomi keluarga Atmaja emmang sedang tidak bagus, mungkin juga penanam saham itu tidak dapat membantu banyak, mereka membantu Darrel pun karna lelaki itu pandai bicara dan ' merayu ' mereka, jika melihat dari keuntungan, sangat sulit untuk saat ini.
" Papa tenang aja, Darrel gak akan diam aja, lagipula Darrel kan juga punya beberapa usaha, gak akan lah keluarga kita jatuh, tapi kenapa tiba – tiba sih pa? setahu Darrel keuangan kita stabil stabil saja," heran Darrel karna memang papanya tak pernah mengeluh mengenai hal ini, namun tiba – tiba saja kondisi keuangan mereka jatuh dalam sekejap.
" Entah bagaimana, papa bisa menandatangani pengalihan saham punya papa tujuh puluh persen ke tangan pesaing papa, sepertinya papa dibius atau dihipnotis. Papa memang gak kasih tahu kamu karna papa berusaha cari jalan sendiri, papa pikir kamu masih menyukai Fera dan Fera masih menjadi gadis yang baik."
" Maaf Om, menurut Luna Fera sampai sekarang pun masih menjadi gadis yang baik, dia hanya sedikit tersesat dan membutuhkan orang untuk menariknya keluar dari kegelapan itu, dan Luna pikir memang Aldo orang yang tepat," ujar Luna yang menyela dan mengeluarkan opininya. Luna tidak mau jika kesalahan Fera akan membuat gadis itu dibenci semua orang seumur hidupnya.
" Kenapa kamu masih belain dia? Dia gak pernah baik sama kamu loh Lun," ujar Darrel yang heran karna Luna terus saja membela mereka yang telah menyakitinya.
" Luna Cuma gak mau semua sifat baik dia selama ini langsung lenyap karna satu kesalahan. Udah cukup banyak orang depresi di dunia ini karna dikucilkan, padahal orang itu selama hidupnya berbuat baik, karna satu kesalahan dunia langsung menghakiminya seakan dia bukan manusia yang punya hati. Luna gak mau Fera berakhir seperti itu kak," ujar una dengan tulus dan mendekat ke arah Fera yang tenang dipelukan Aldo.
" Fera, aku minta maaf kalau selama ini aku memang punya salah sama kamu, aku minta maaf kalau aku pernah bikin kamu sakit hati, dan aku minta maaf karna aku acara malam ini jadi seperti ini," ujar Luna yang berjongkok dan menunduk. Fera menatap Luna dnegan sinis dan kesal.
" Lo mau ngeledek gue? Lo ngerasa menang karna udah dapetin semua dan gue kehilangan semua? Gak usah munafik sok ngerasa sedih atau kasihan sama gue, karna gue gak butuh! Mending Lo langsung ngomong kalau Lo bahagia gue dapat semua ini, kalian semua sama aja!" seru Fera dengan tangis yang amsih pecah meski tak ada isak di tangisnya.
Luna menggeleng menanggapi respon Fera yang justru salah paham padanya. Luna memang tak pernah menaruh dendam atau amarah pada mereka yang pernah, telah atau bahkans ering menyakitinya. Karna dia sadar jika seorang berbuat jahat, orang itu pasti memiliki ketidak sukaan terhadap hidupnya.
Pati ada alasan setiap manusia menyimpan kebencian dalam hatinya. Mungkin saja Luna yang melakukan kesalahan? Menghakimi dan membenci mereka yang seperti itu tak akan menyelesaikan masalah, bahkan malah membuat orang ' jahat' itu semakin menaruh dendam.
" Aku sedih kamu memilih jalan kayak gini, bahkan kamu sadar kalau sebenrnya kamu udah suka sama Aldo, tapi gengsi tinggi itu yang ngehancurin semuanya, semoga setelah ini kamu bisa bahagia ya, aku berdoa buat kamu," ujar Luna tersenyum tulus dan berdiri dari tempat itu.
" Tunggu," cegah Fera yang melepaskan pelukannya dari Aldo dan memandang Luna dengan ragu, gadis itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan liontin yang tadi dia lepas dan pamerkan ke Luna. Gadis itu mengulurkan kalung itu ke Luna dan berkata
" Ini punya Lo, ini bukan hak gue, jadi gue gak mau nyimpan ini. Makasih ya udah mau maafin gue yang brengsek ini, dan makasih Lo malah doa in gue. Gue minta maaf buat semua yang gue lakuin, semoga kalian bahagia," ujar Fera tersenyum manis dan tulus.
Lihat? Tak akan ada yang sia sia dari berbuat baik, mereka yang diperlakukan baik pasti akan meluluh dan akhirnya balik berbuat baik. Luna turut bahagia karena akhir dari cerita malam ini adalah akhir yang bahagia, karna Luna mendapat lagi cintanya, sedang Fera mendapatkan kebahagiaannya.
" Kalau kamu butuh bantuan aku, jangan sungkan buat kabarin aku ya, kalau sempat main aja ke rumah, untuk nomer aku nanti kamu minta aja ke kak Darrel," ujar Luna menerima liontin itu dan menyimpannya lalu benar – benar berdiri dari sana dan menghampiri Darrel yang tersenyum bangga padanya.
" Baru kali ini aku ketemu sama orang yang setulus dan sebaik kamu. Aku gak tahu hati kamu terbuat dari apa, aku bangga punya kamu, aku bangga jadi salah satu bagian dalam hidup kamu, dan aku bahagia bisa disini sama kamu," ujar Darrel tersenyum dan mengecup pelan kepala Luna.
" Kalau kak Darrel bangga dan bahagia, kak Darrel harus traktir Luna nonton dan makan, gak pakai tapi dan harus ke restoran mahal pilihan Luna," ujar Luna dengan wajah tengilnya, namun malah terlihat imut bagi Darrel, lelaki itu tertawa dan mengacak pelan Rambut Luna yang selalu menjadi mainan favoritnya.
" Gue gak ngerti apa yang terjadi dan gue rasa gue gak begitu diperluin disini, gue harus cabut dulu, gakpapa kan?" tanya Radith yang muncul entah dari mana, Luna bahkan baru ingat lagi jika dia kemari karna Radith, gadis itu juga ingat betul ekspresi Radith yang khawatir dengan hati Luna. Radith yang kahwatir Luna terluka saat melihat Darrel bertunangan dengan orang lain.
" Lo mau kemana? Belum juga makan makan disini," ujar Darrel yang enggan Radith pergi dari sana. Bukan untuk pamer kepada lelaki itu, namun untuk merayakan kebahagiaan ini bersama – sama.
" Gak dulu deh, bener deh gue harus pergi karna kondisi Blenda tiba – tiba drop, daritadi ternyata nyokapnya telpon gue, gue harus kesana sekarang," ujar Radith yang tampak gelisah dan buru – buru, lelaki itu menatap ponselnya terus untuk memastikan sesuatu yang entah apa.
" Yaudah kalau memang gitu alasannya, Lo hati – hati di jalan, gak usah panik, semoga Blenda baik – baik aja ya, gue yakin dia bakal membaik sebentar lagi," ujar Darrel memberi semangat dan wejangan pada Radith. Lelaki itu mengangguk dan berpamitan ala lelaki dengan Darrel dan berpamitan pada Luna.
" Gue balik ya Lun, Lo hati hati sama kak Darrel, biasanya orang jatuh cinta kalau balikan jadi ganas," ujar Radith yang memberi saran asal pada gadis itu, Luna yang langsung percaya menoleh dan menatap horor ke arah Darrel sementara Radith langsung pergi dari sana sambil terkekeh.
" Gak usah mikir macem macem ah mikirnya sama aku, aku gak mau ya kamu teracuni sama pikiran ngawurnya Radith," ujar Darrel menatap Luna dengan masam, membuat Luna mengangguk percaya meski dia sedikit ragu dan ngeri karna memikirkan perkataan Radith.
" Udah aku bilang gak usah dipikirin, ke taman belakang yuk ah, aku gak suka ramai ramai an disini, enakan yang sepi sepi kalau mau berduaan sama kamu," ujar Darrel yang langsung menggeret Luna pergi dari sana.
" Kak Darrel ih, nyebelin banget deh," ujar Luna yang memukul mukul pundak Darrel yang malah menakut nakuti Luna, padahal Luna tahu sendiri bahwa Darrel selalu menjaga jara aman padanya, namun entah mengapa Luna masih merasakan takut jika harus berdekatan dengan lelaki itu jika seperti ini.
" Mana kalung yang tadi dikasih sama Fera?" tanya Darrel dengan tangan yang mengadah meminta kalung yang disimpan oleh Luna. Gadis itu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kalung itu, Luna langsung menyerahkannya pada Darrel meski bingung apa yang akan dilakukan oleh Darrel.
Lelaki itu menerima kalung pemberian Luna dan menyimpannya, lalu mengeluarkan sebuah kotak perihasan baru yang membuat Luna terkejut seketika. Sejauh ini Darrel sudah menyiapkan smeua untuk Luna, bahkan lelaki itu tak mengatakan atau terlihat menyiapkan sesuatu selama ini. Hebat sekali lelaki itu.
" Aku gak mau kamu pakai bekasnya Fera, aku kasih kamu yang baru aja. Sebenernya yang ini mau aku kasih ke orang atau aku buang biar kayak crazy rich yang ada di film film, tapi karna kamu tahu sendiri keuangan aku lagi gak baik, jadi aku memilih untuk menjual lagi kalung ini dan masuk ke tabungan aku buat nikahin kamu."
" Kak Darrel tuh apaan sih, kalau gak bahas nikah ya genit, kayak gak ada pembahasan lain aja, kita kan masih SMK kak, ih, aku pikir kak Darrel mah kalem, dingin, baik, ternyata, huh," ujar Luna yang malah mengomel dan tidak membahsas apa yang Darrel bahas. Darrel tertawa puas karna Luna bersikap demikian.
" Kamu tuh apa – apan Loh, aku gak pernah dingin sama siapapun, mana boleh ketua OSIS jadi dingin atau galak ke murid lain? Kalau ke pengurus lain baru deh, lagian sejak awal kenal kamu juga kau udah ramah kan? Kamu aja sampai bilang kalau aku jodoh kamu," sindir Darrel yang sengaja menggoda Luna, mengobati rindu yang selama ini dia pendam.
" Mana pernah aku bilang kayak gitu ke Kak Darrel? Ngawur tuh kak Darrel, mimpi kalik," jawab Luna yang tak mengakui fakta itu dana memalingkan muka saat dia merasa wajahnya terasa panas, gadis itu sampai memegang pipinya agar tak terlalu merah dan hangat.
" Halah yang ngawur tuh kamu, mana ada aku mimpi? Coba tuh kamu baca lagi di episode satu sampai tiga, gak tahu deh lupa aku. waktu kamu nabrak mobil aku, kamu mau ngomel ke aku wajahnya udah kesal banget, eh malah bilang kalau aku jodoh kamu, hahaha."
" Luna, lihat aku, tatap aku, aku mau bilang ke kamu. Hubungan ini sulit Lun, bahkan kita udah laluin banyak hal, suka duka di hubungan ini, aku gak mau kita ngucapin kata putus itu dengan mudah, aku gak mau salah satu diantara kita nyebut kata putus dalam masalah sekecil atau sebesar apapun. Aku udah ngerasain n\=sebagaimana depresinya aku tanpa kamu, aku gak mau itu terjadi lagi."
Luna terdiam dan memandang mata Darrel yang tampak dalam, meski terkadang fokusnya teralihkan dan malah menatap wajah cantiknya dipantulan mata Darrel, astaga Luna, janganlah merusak situasi yang sudah baik ini. Darrel tak melanjutkan kata – katanya, matanya seakan menyelam di tatapan dan pikiran Luna karna lelaki itu tak berkedip saat menatap Luna.
" Maafin Luna karna pernah anggap enteng kata putus dihubungan ini, bahkan Luna sampai melakukan hal nekat yang mungkin gak disukai kak Darrel, kita sama – sama hancur bersamaan dnegan hancurnya hubungan ini, Luna mau ke depannya kita bisa kayak pasangan normal pada umumnya, gak berlebihan, tapi juga tahu kita saling sayang."
" sekarang aku mau kamu pakai cincin yang baru, aku gak mau cincin itu jadi kalung atau apapun, aku mau cincin itu ada di jari kamu, sebagai tanda kalau kamu punya aku dan aku punya kamu, bolehkah?" tanya Darrel meminta persetujuan Luna. Gadis itu mengangguk tanpa berpikir, lebih baik seperti ini, agar tak ada satupun diantara mereka yang akan mengingkari janji.
Darrel memasangkan sebuah cincin sederhana ke jari manis tangan kiri Luna, yang berpasangan dengan sebuah kalung emas berbandul hati yang bertabur berlian. Meski ekonomi keluarga Darrel menurun, rasanya hal itu tak berpengaruh bagi Darrel. Nyatanya lelaki itu masih bisa membeli kalung mahal ini tanpa menjual kalung lamanya.
" Cantik, memang kalung ini tahu siapa yang punya, hehehe. Eh tapi, kenapa kamu tumben pakai pakaian yang kayak gini? Ini kan gaun dewasa, sejak kapan kamu suka pakai gaun kayak gini?" tanya Darrel yang bru menyadari pakaian Luna, bahkan lelaki itu sadar jika Luna memakai polesan make up.
" Karna aku gak mau terlihat jelek di acara pertunangan mantan aku, masak aku kalah cantik dari calon tunangan kamu, aku gak terima lah," ujar Luna dengan senyum dan wajah sombongnya, Darrel malah tertawa melihat wajah yang tak neak dilihat itu.
" Bagus banget sih idenya tunangan aku ini, untung kamu kepikiran kayak gitu ya lun, jadi kan kamu kesannya udah siap buat aku lamar. Kalau kamu pakai baju biasa gitu kan kayak gimana gitu masak aku udah ganteng kayak pangeran tapi kamunya malah kayak upik abu, kan gak lucu," ujar Darrel yang memang tak ada lelah untuk menggoda Luna. Gadis itu tertawa mendengar penghinaan Darrel.
" Jadi selama ini Luna kayak upik abu gitu karna gak pernah dandan? Kalau Luna upik abu berarti kak Darrel pangeran kodok, jelek, hijau, gendut, hidup, lompat – lopat lagi kayak kutu," ujar Luna yang malah membalas Darrel dnegan hinaan yang jauh lebih kejam. Darrel yang dihina beruntun tidak meras tersinggung sama sekali.
" Rasanya udah lama banget aku gak ketemu sama kamu lun, rasanya kayak udah lama banget aku rindu moment kayak gini sama aku, aku bahagia akhirnya kesampaian juga bisa berduaan sama kamu dnegan status kamu yang kembali jadi tunangan aku," ujar Darrel menggenggam tangan Luna dan menatap langit cerah ditemani suara gemercik air mancur kecil yang ada di tengah kolam.
" Aku juga negrasa lega masalah ini akhirnya berakhir, walau kau gak enak sama Radith kak, dia tadi udah takut kalau aku bakal sakit hati karna acara ini, tapi malah aku lupa kalau tadi kesini sama dia dan dia pulang sendiri, aku jadi gak enak gitu kak," ujar Luna yang langsung kepikiran dengan Radith.
" Aku yang minta Radith buat ajak kamu kesini, makanya dia khawatir sama kamu, dan untuk masalah Radith pulang duluan, itu kan bukan karena kamu, tapi karena pacarnya kambuh," ujar Darrel yang menenangkan Luna. Gadis itu terbiasa melimpahan smeua kesalahan ke dirinya sendiri, membuatnya membutuhkan orang lain untuk menyadarkannya bahwa tak semua kejadian buruk adalah salahnya.
" Memamg pacar Radith sakitnya parah ya kak? Waktu itu Luna tanya Cuma usus buntu, tapi kok obatnya banyak banget? Apalagi sering kambuh dan Radith kayak khawatir gitu, apa penyakitnya sebenrnya parah ya kak? Tapi kenapa Radith gak mau cerita?" tanya Luna berkali – kali dengan wajah yang penasaran.
" Udah ya, itu urusan Radith sama Blenda, selama dia gak mau cerita sama kita, kita gak boleh ikut campur urusan mereka karna memang gak baik Lun, kita doain aja ya yang terbaik buat mereka, doain juga biar Blenda cepat sembuh dan bisa kumpul sama kita semua," ujar Darrel dengan lembut. Luna mengangguk setuju dan tak bertanya lebih lanjut.
" Yah, semoga aja semua lekas membaik kak."*
*
*
Hello Hai kalian semua yang masih setia aja sampai part iniiiii yang memang semakin gaje😅😅
Terimakasih yaaaaaa
mohon untuk kritik, saran dan dukungannya.
yang Love nya masih putih bisa tolong di merahkan, terimakasih.
Jangan lupa untuk mampir ke lapak aku yang lain
Adella
T(w)o : Heart
Ex lover
Miss galak, I Love you
I Luffy duffy all of you
salam,
Eliz